
Sebelumnya....
Dia berjalan menuju sofa dan duduk memijat kepalanya. Angga melihat itu dan duduk disebelahnya, aneh bagi Angga karena dia tak lagi merasakan ketegangan seperti sebelumnya.
Dia merasa menemukan orang yang tepat yang bisa diajak ngobrol tanpa harus mengorbankan keperjakaanya.
"Soal aku akan melindungimu, aku serius." Ujarnya lagi memastikan.
"Kau membuatku pusing Tuan." Angga tersenyum ketika "Anda" tak lagi keluar dari mulutnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Ujarnya lagi dan membuat Angga bersemangat.
"Aku ingin......"
***
"50 juta!!" Angga tersentak ketika Ayahnya menggebrak meja di depannya. "Kau membayar 50 juta hanya untuk ******* itu?" Angga hanya tertunduk, "mati aku." Batinnya dalam hati. Angga mencoba melirik sepintas karena merasa Ayahnya hanya terdiam memijat keningnya.
"Baiklah, asal itu berguna dan jika kau yakin bisa berhasil mencarinya. aku tak masalah." Mendengar itu Angga menghela nafas lega. "Tapi! Jika kau gagal, aku akan tarik mobilmu dan menjualnya." Mendengar itu Angga menaikkan wajahnya dan membelalakkan matanya "Hah!” Ujarnya kaget.
"Lalu apa kau bisa mengembalikan 50 juta itu?" Angga hanya menggaruk kepalanya dan menggeleng.
"Lanjutkan penelitianmu dan ingat selalu hati - hati. Kamu bermain dengan hal yang berbahaya dan aku merasa bersalah karena harus memilihmu untuk melakukannya. Walau kami tahu hanya kamu yang bisa membantu kami." Angga menggeleng, dalam hati dia mencemooh ketika Ayahnya merasa bersalah memilih dirinya untuk misi ini, bukankah tiap hari dia selalu mengenyampingkan keselamatan anaknya demi urusan itu.
"Tidak Yah, Aku suka cita menerimanya. Aku benci tempat itu dan fakta banyak gadis yang menderita disana. Aku berharap Ayah dan rekan Ayah berhasil menangkap orang - orang dibalik itu semua dan menutup tempat itu."
Mendengar itu Ayah Angga mengangguk. "Ya sudah sana pergi kuliah." Dan Angga pun beranjak pergi.
***
Angga melamun menatap mahasiswa yang berlalu - lalang didepannya, beberapa hal mengganggu pikirannya. Dia mengusap wajahnya, tiba - tiba teringat obrolan dengan perempuan bayaran tadi malam.
kilas balik
"Apa yang harus aku lakukan?"
Angga mencoba menjelaskan rincian rencana, dimulai dari mencari Informasi awal tentang pemilik club. "Apa jaminan darimu agar aku percaya?" Ujar Keke masih menaruh rasa curiga. Angga berfikir sejenak dan jujur dia tak tahu apa yang harus dia lakukan agar Keke mempercayainya. "Aku tak tahu apa - apa tentangmu, kecuali mahasiswa kaya yang sedang merencanakan hal berbahaya." Lanjut Keke dan benar Angga belum membuka soal siapa dirinya dan siapa yang menjadi penanggung jawab dia menjalankan misi ini.
"Emmm..Apa aku perlu memberimu E-KTP ku?" Mendengar itu Keke tertawa dan Angga bingung melihatnya. "Aku bukan penyewaan kaset film Tuan mahasiswa kaya" ledek Keke masih tertawa "dan juga untuk apa?" lanjutnya lagi.
"Kau bilang butuh jaminan untuk percaya, lalu apa yang kau mau?" Ujar Angga. "Eemmm..." Kejora mencoba berfikir, memandang Angga yang memasang wajah bingung. "Mari mengobrol dulu, kita lihat apa aku bisa percaya dari caramu bicara." Angga menganggguk tanda setuju dengan usul Keke.
"Namamu Keke? Oh ina ni Keke.." Ujar Angga sembari menyanyikan lagu daerah Sulawesi Utara dan disambut Keke yang memutar bola matanya. "Kejora, Bintang Kejora, aku ingat Ayahku pernah berkata ketika aku lahir selepas maghrib, malam begitu tenang dan di ufuk barat bersinar bintang yang sangat indah. Walau sebenarnya itu bukan bintang melainkan planet venus. Tapi kami mengenalnya sebagai bintang, disanalah ayahku berharap, aku tumbuh menjadi sosok seterang bintang dan dikagumi oleh semua orang. Ya, ayahku benar, aku dikagumi ditempat ini, bahkan orang rela membayar mahal untuk menikmatiku." Jelas Kejora bernada sinis dan menghela nafas panjang.
"Aku merasa tak pantas menerima nama itu." Lanjutnya dan Angga melihat raut wajah sedih diwajah Kejora, jika dia bisa memilih, dia pasti tak ingin hidup seperti ini. Mereka memang baru bertatap muka sejam yang lalu tapi entah mengapa mereka merasa sudah lebih dari itu. "Boleh aku memanggilmu Kejora? Aku Angga," dia mengulurkan tangannya kearah wanita yang berada disebelahnya, "Angga Hadian Pratama." Dan untuk pertama kalinya mereka bersalaman dan bertatapan, senyum tertoreh dikeduanya.
"Kamu tinggal di sini juga? Bersama Madam itu?" Kejora hanya menjawab dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Kamu mau kuajak keluar? Mengobrol di luar? Sambil minum segelas kopi atau coklat panas?" Tawarnya, "sebab aku ragu bisa menjelaskan rencanaku di sini." Ujarnya kembali dengan nada lirih, mata mengamati sudut ruangan seolah ada kamera pengawas yang mengintai obrolan mereka, Kejora hanya tersenyum simpul melihat gerak gerik dari pria muda tersebut. "Baiklah, coklat panas terdengar enak." Ujar Kejora dan mereka beranjak dari ruangan itu.
Menuju ke pintu keluar mereka bertemu seorang wanita berusia 40 tahunan berpakaian mewah, gaun hitam membalut tubuh langsing semampainya. Kejora tersenyum "Tuan ini ingin bermain di luar, Mam." Jelasnya, Angga hanya mengamati dalam diam, dia berfikir apakah ini Madam Den? Biasanya seorang mucikari atau germo akan terlihat dengan ekspresi wajah yang garang, seperti difilm - film. Bukan wanita yang terlihat elegan dan berkarisma didepannya ini. Mendengar penjelasan singkat dari Kejora, wanita itu menatap Angga dan tersenyum lebar. "Oh, Tuan Angga ya, Anda sangat muda dan tampan. Saya Sandra maminya Keke, tapi disini mereka memanggilku Madam Den." Ujarnya mengulurkan tangan dan disambut Angga dengan senyum tipis dan anggukan, Angga melirik Kejora sesaat. Dia ingin mengatakan sesuatu kepada Madam Den. "Ah, Nyonya.." ujarnya, dia sempat berpikir apakah tepat bertanya tentang hal ini.
"Apakah diluar kontrak saya bisa bertemu dengan Keke?" Dia mengulum bibirnya pertanda gugup. Madam Den mengangkat kedua alisnya dan melihat kearah Kejora yang hanya diam.
"Dia yang memutuskan Tuan, bukan saya. Tapi semua itu harus dengan sepengetahuanku. Dia hanya bekerja denganku ketika malam, siang dia memiliki hidup sendiri." Mendengar itu Angga tak menyangka, mucikari ini tidak sekejam yang dia pikirkan, dia tidak mengeksploitasi kehidupan Kejora seperti difilm, atau ada sesuatu yang lain yang terjadi.
"Anda tampak kaget Tuan, ada apa?" Tanya Madam Den melihat ekspresi Angga. "Ohh tidak.." ujar angga tertawa ringan seraya mengibaskan satu tangannya.
"Baiklah, saya pergi dan selamat bersenang-senang. Mohon antar anakku sampai ke rumahnya dengan selamat." Madam Den mengedipkan sebelah matanya sebelum berlalu pergi, lalu memberikan senyuman dan usapan ringan dibahu Kejora.
Angga masih menatap kearah Madam Den yang menghilang pergi, dia menggelengkan kepalanya. "Woah!" Ujarnya ketika sosok Madam Den sudah tak terlihat. "Dia tidak seburuk yang kukira" ujarnya sambil bersedekap.
Mendengar itu Kejora hanya mendengus pelan "pernah dengar pribahasa srigala berbulu domba? Itulah dia." Jelasnya "jangan tertipu penampilannya, yang mana mobilmu?" Mereka kini berada di parkiran, Angga mengedarkan pandangannya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Oh itu." Tunjuknya kearah BMW silver keluaran lama, kemudian mereka berjalan beriringan kesana , "tampak tua, tapi ini mobil spesial." Lanjutnya membukakan pintu penumpang dan mempersilahkan Kejora masuk.
Dalam perjalanan mereka berdua hanya diam, Angga sedang berpikir banyak hal dikepalanya. Apalagi setelah bertatap muka langsung dengan Madam Den, dia semakin penasaran dengan wanita tersebut. Starynight Club nama club malam miliknya tidak terlihat mencurigakan dari luar, bahkan mereka sangat hebat menyembunyikan bisnis prostitusinya. Hanya even lelang yang digelar secara rahasia, Angga mengetahui itupun karena bantuan Dimas. Dimas sangat ahli dalam urusan tersebut, karena itu dipeserta lelang hanya mereka berdua yang dari kalangan mahasiswa. Mereka sempat dicurigai, tapi karena Dimas bisa memastikan informasi yang membuat mereka bisa menjadi peserta, terlebih latar belakang mereka yang adalah orang kaya. Tidak masalah lagi bagi petugas lelang dan akhirnya dipersilahkan gabung sebagai peserta lelang. Even lelang yang begitu ketat dan rahasia, hanya diketahui beberapa orang. Bahkan ada isu yang mengatakan jika even lelang tersebut hanya kedok, kegiatan sebenarnya lelang tersebut adalah sebagai jalan para mafia besar melakukan bisnis kotor dibaliknya, karena itu penampilan dan gerak tubuh Madam Den menaruh rasa penasaran. Dan mencari tahu hal itu adalah tugas yang diberikan Ayah Angga.
Sistem organisasi pemilik dan acara sangat rapi dan sulit untuk dicari tahu, mereka menyimpan kedok dengan kedok, jadi ketika kedok pertama mereka terbuka, mereka akan menghapus kedok utama mereka agar polisi dan kepemerintahan hanya mengusut kedok pertama mereka sebagai club prostitusi, dan tentunya bukan Madam Den yang tertangkap, karena Madam Den hanya pemegang kendali paling atas.
Pemilik Starynight club adalah bawahannya. Karena itu sedari awal Pak Wira meminta Angga untuk hati - hati dan waspada menjalani misi tersebut. Sepertinya Madam Den bukan orang sembarangan.
"Aku ingin lebih tahu banyak soal Madam Den." Ujar Angga, mereka saat ini berada di tempat makan, mereka memilih makan di balcony, sebuah tempat makan diatas atap sebuah mall. Mendengar pernyataan Angga, Kejora melihat kearah pemandangan kota yang berkelip dengan banyak lampu kendaraan yang melintas.
"Sampai batas apa kamu bisa melindungiku?" Tanyanya kemudian melihat kearah Angga.
"Bahkan aku berani bertaruh nyawaku." Mendengar itu Kejora mengerutkan dahinya, bahkan Angga sendiri tak menyangka dia mengatakan itu, itu terlontar begitu saja dari mulutnya.
Mereka berdua makan sambil mengobrol soal kehidupan mereka, Angga menceritakan beberapa tentang dirinya. Tapi dia tidak memberitahu Kejora tentang Ayahnya dan pekerjaanya. Dia hanya menceritakan soal kehidupannya sebagai mahasiswa dan kedua teman dekatnya. Kejora sendiri tidak begitu banyak menceritakan tentang dirinya, dia hanya mendengarkan Angga bercerita.
akhir kilas balik
“Hey yo!!! Jangan melamun! Awas kesurupan!” seseorang menggebrak meja dan membuat Angga kaget, memegang dadanya dan kemudian memasang muka marah kearah orang yang hanya menyengir kuda.
“Gimana semalam ‘na enanya' mantap?” Tanya orang itu yang tak lain adalah Dimas. Mendengar itu Angga hanya melirik tanpa bicara.
“opps.” Dimas menutup mulutnya “pasti masih perjaka.” ujarnya menyunggingkan senyum menyebalkan bagi Angga.
“Disamping pekerjaanya, dia cukup baik anaknya,” jelas Angga dan Dimas menatap heran. “Hati - hati dengan topeng” jelas Dimas mulai membongkar isi tasnya.
“Mohon sadar diri Tuan, Anda saat malam dan siang sangat berbeda sekali” tukas Angga dan Dimas menghentikan kesibukannya menatap Angga bingung.
“Lihat saja ketika siang, Anda adalah anak baik yang rajin bekerja membantu usaha orang tua, tapi jika malam berubah menjadi ******** yang haus wanita. Ciih, siapa yang bertopeng.” Mendengar itu Dimas memukul kepala Angga dengan gulungan majalah “Kalo kuliah, mulutnya juga dikasih pelajaran Tuan!” Ujar Dimas menghardik Angga dan mengacung - acungkan gulungan majalah tersebut ke dahinya.
“Sudah jangan berteman, silahkan baku hantam saja.” Ujar seseorang dan mendapatkan perhatian mereka berdua.
__ADS_1
“Kok diam, gak dilanjutin?” Orang tersebut duduk disebrang mereka, menopang wajahnya dengan kedua tangannya dan menonton mereka dengan wajah polos.
“Anak kampus swasta ngapain disini?” Ujar Dimas dan disetujui Angga dengan anggukan. “Wahai mas-mas yang bodoh, siapa yang mengirimiku pesan untuk datang kesini?” Tanyanya dengan santai dan Dimas seolah teringat sesuatu “oh iya, aku.” lanjutnya dan tertawa garing.
“Kamu sama Mila, Sat?” tanya Angga, tapi dia hanya menggeleng. “Kamu pacaran apa enggah sih sama dia?” tanya Dimas tiba - tiba “emang kenapa sih? Nanya itu terus” bingung orang itu. “ckckck, adik Satya, hubungan tanpa status enaknya apa sih?” Satya mengerutkan dahinya mendengar ucapan Dimas.
“Ini aku disuruh kesini cuma mau ditanya soal aku dan Mila?” Tanya Satya jengkel dan Angga cuma tertawa kecil. “Untuk anak baik seperti dia, kepala ******** sepertimu mana paham Dim.” Dimas terbelalak mendengar ucapan Angga “Hey Mulut! pemilikmu membuatku ingin sekali merobekmu! minta disobek ya Tuan!” Dimas berdiri dan menggebrak meja, mengacungkan jarinya kearah Angga yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak.
Satya bertepuk tangan melihat itu “gelut gelut gelut..yeay... Aku suka perkelahian!” ujarnya sambil bersorak kecil dan mendapat tatapan tajam dari Dimas. "Bocah!" Dimas melempar Satya dengan majalah ditangan kirinya, namun berhasil ditangkap oleh Satya dan dia menjulurkan lidah.
“ Gini lo Mas akan aku coba jelaskan lagi." Satya meniup udara sebelum merapikan beberapa kertas yang terhambur dari dalam majalah ketika Dimas melemparnya tadi, "aku sama Mila bukan pacaran, kami dekat tanpa melabeli. Aku sudah mendeklarasikan padanya. Apapun itu nama hubungan kita, akhirnya kamu nikah sama aku.” Ujar Satya dengan senyum penuh keyakinan dan Dimas hanya mendengus mengejek. “Gak takut diambil orang?” tanya Dimas dan membuat Satya menghilangkan senyumnya, menggulung majalahbyang sudah rapi tadi seraya menatap tajam lelaki yang kini terkekeh kepadanya. "Haha, liat mukanya Ang." Dimas menunjuk wajah Satya yang mendung.
Angga hanya diam mengamati mereka, dia memang yang paling pendiam diantara mereka, bahkan sangat penyendiri. Tapi walau pendiam, omongan Angga yang paling pedas dan tajam. Dimas adalah teman masa kecilnya sedangkan Satya, Angga mengenal Satya dari Dimas.
Melihat Satya yang tiba-tiba manyun, membuat Dimas semakin menggodanya “udah ciuman? Atau bahkan! Haaaaaaaah??” Dimas mengangkat tangan seolah membayangkan hal tidak - tidak. Tapi Satya menatap marah dan melempar gulungan majalah tadi kearah Dimas
“hei! Aku menghargai perempuan ya! aku tak akan melakukan hal seperti itu diluar garis nikah! Aku punya adik perempuan, aku masih percaya karma ya! Dan aku berharap dia tak bertemu lelaki sepertimu Mas, kamu ini perlu tobat!” Ujar Satya menggurui orang yang lebih tua darinya itu.
Angga mengangguk setuju “entah apa yang merasukimu!” imbuh Angga dan Dimas cuma mengangkat tangan “oke menyerah! Aku yang bayar makan siang!” Alih-alih melawan dia memilih menyerah sebab pasti akan berakhir membahas masa lalunya. Dan perkelahian sesungguhnya akan terjadi, sudah pernah terjadi dan Dimas akui tak ingin mengulangi hal konyol tersebut. Satya walau lebih muda, jika sudah tersinggung lupa jika kedua temannya 2 tahun lebih tua darinya.
Melihat gelagat Dimas dia tahu jika Dimas ingin menyudahi sesi ejek - mengejek ini, lalu dia teringat tujuannya. “Oh iya, aku sudah mendapatkan info yang kamu minta soal Madam Den Mas.” Ujar Satya membuka laptop dan menyerahkannya ke Angga. Angga menerima laptop itu dan membaca file yang Satya tunjukkan.
“Mantap!" Dimas menepuk-nepuk pucuk kepala Satya "si jenius kita memang terbaik.” Ujar Dimas mencondongkan tubuhnya kemudian ikut membaca.
“Loh..dia warga Filipina?” tanya Dimas kaget “Aku harus meretas menggunakan server kedutaan Filipina, dan dari sana aku mendapatkan info itu. Sandra Zei Tian, usia 45 tahun. Memiliki perusahaan besar berbasis farmasi di Filipina, tapi terkena skandal narkoba dalam ramuan obatnya. Dia menjual obat medis, tapi secara diam - diam juga menjual obat terlarang. Pemerintah disana sempat menutup bisnisnya, tapi tiba - tiba bukti kasus narkoba menghilang, sehingga perusahaannya masih bisa berjalan. Dia sudah mahir dalam berorganisasi, dia memakai sistem organisasi titik. Dan sepertinya dia berhubungan dengan organisasi mafia besar.” Jelas Satya secara rinci,
“tunggu, maksudnya titik?” bingung Dimas.
“Ya, itu sistem organisasi yang kompleks tapi rapi. Madam Den adalah titik teratas bersama komplotan besar mafianya, dia mengatur titik-titik yang dipegang oleh bawahan kepercayaanya. Titik itu disebar kembali kebawah kemudian bawahan kepercayaan Madam Den itu akan memilih orang kepercayaan meraka. Begitu terus sampai kebawah, itu yang menyebabkann mereka susah ditangkap. Ketika kasus narkoba itupun hanya bawahan dia yang dipenjara, dia masih bebas mengurus bisnis lainnya." Dimas dan Angga manggut-manggut mendengar penjelasan dari Satya
"Begitu banyak titik yang dibuat, yang paling atas mengenal dengan rinci pimpinan tiap titik dibawah, tapi pemimpin titik yang dibawah tidak akan pernah sampai ke Madam Den, mereka mentok hanya sampai ke bawahan langsung Madam Den yang berperan sebagai supervisor. Karena itu ketika ada penangkapan dan titik tersebut terputus, Madam Den lepas kontak dengan orang yang tertangkap. Jadi walau berhasil menangkap pimpinan suatu titik, dia dipaksa mencium celana dalammu yang bau pun, tidak akan bisa mengaku. Dan itulah sempurnanya Madam Den, dan supervisor tersebut yang berurusan dengan suap menyuap oknum pemerintah agar mempermudah bisnis mereka. Dan tentunya bukan orang sembarangan. Aku belum dapat infonya karena mereka sangat sulit ditemukan.” Jelas Satya begitu rinci.
Dimas dan Angga hanya terdiam mendengarnya, jauh dilubuk hati Angga merasa yang dia hadapi saat ini benar - benar berbeda. Ada rasa takut tapi dia bukan lelaki pengecut yang sudah berjanji tapi mengingkari.
Ayahnya mungkin akan memaklumi itu dan mencabut misi Angga. Tapi, dia teringat oleh Kejora. Entah alasan apa yang membuat Angga mengingat janjinya untuk melindungi Kejora.
“Ang, kamu serius mau lanjut?” Tanya Dimas ragu. Angga terdiam nasih mengamati informasi mengenai Madam Den dilaptop Satya.
“Sepertinya kali ini sangat berbahaya Mas.” Ujar Satya. Angga menghela nafas “Ini bisa aku laporkan keayahku dulu, selanjutnya akan kulihat apakah beliau pasti membantuku untuk melanjutkan misi ini.” Mendengar itu Satya menggeleng “ini seperti memancing ikan hiu Mas, jika kalah kau mati jika menang santapanmu besar.” Jelasnya “Pak Wira pun bukan lawan untuk mereka, jika adu kekuatan tentu saja kalian kalah. Madam Den ini udah kelas internasional loh!” lanjut Satya memastikan Angga, “koneksi Madam Den sudah pasti berada dikelas lain, bisa jadi juga komplotan yakuza.” Satya masih terus memberikan kemungkinan berbahayanya Madam Den itu, dan Angga tak bisa menolak kemungkinan itu. Dia menghela nafas panjang sedangkan Dimas dan Satya hanya menatapnya.
“Kita makan siang dulu aja deh, kamu jadi kan yang bayar ?” Dimas melotot melihat dirinya ditunjuk “hah?” bingungnya.
“Jangan sok pura-pura lupa! Kan tadi Mas Dimas bilang mau mentraktir makan siang.” ujar Satya mulai berkemas barang-barangnya. Dimas nyengir kuda, “hehe.. Pengalihan isu guys! Aku bayarin Satya aja, Ang kamu bayar sendiri ya, kau kan lebih kaya dariku.” Angga memicingkan matanya,
"kau pilih kasih hah?" Dimas mengangkat kedua tangannya, Angga merangkul Dimas tepat dilehernya, mengunci kepalanya seakan mau mencekiknya dari samping “iya iya! Aku bayarin semua.” ujarnya menepuk-nepuk lengan Angga terus menerus yang melingkar dilehernya.
"Aku belum makan dari pagi sih, Alhamdulilah." Dimas menoleh kearah Satya yang senyum menyengir kuda. "Wah..." Dimas mengantongi kedua tangannya, "alamat bayar banyak aku, mana lagi kere lagi." Keluhnya dan mengeluarkan isi kantongnya yang kosong membuat kain kantungnya menjuntai keluar.
"Sat, ke Wedarukso Mall aja yuk, lantai paling atas resto yang paling besar itu loh!" Angga mengusulkan ide dan seketika disetujui oleh Satya dengan tepuk tangan, sedangkan Dimas menghela nafas dan menatap kedua temannya tanpa perlawanan.
"Walau dia kere pun kita masih bisa makan puas disana Mas." Kekeh Satya mengacungkan kedua jempolnya kearah Dimas, "tunjukkan kartu saktimu Tuan!" Satya berseru membuat Dimas menepuk dahinya.
__ADS_1
Dia memilih berjalan mendahului mereka menuju mobilnya yang terparkir, kemudian membalikkan badannya dan sedikit membungkuk "monggo ndoro..." ucapnya dan kedua temannya tertawa seraya masuk ke mobil yang sudah terbuka pintunya.
-Bersambung-