
"Aku harap kamu selalu di sampingku. Tak peduli seberapa kuat takdir ingin memisahkan ragaku dengan ragamu. Mungkin kedengaran egois. Tapi inilah inginku." -Kejora Permata-
***
"Tante mau ngomong soal apa? Kok kayaknya serius banget. Sampek harus ketemuan di luar segala," ucapku membuka pembicaraan.
"Tunggu sebentar. Tante masih nunggu tamu Tante yang satu lagi." Ucap Tante Marisa datar.
Tamu satu lagi?
Aku pun hanya mengangguk kaku. Siang ini Tante Marisa memang mengajakku untuk bertemu di salah satu cafetaria. Hari ini adalah hari minggu. Jadi tidak heran jika Tante Marisa bisa ada waktu longgar di siang ini.
Selama dalam perjalanan menuju cafetariapun pikiranku terus dihantui banyak pertanyaan.
Pertama, aku penasaran kenapa Tante Marisa tiba-tiba mengajakku untuk bertemu di luar. Kedua, sebenarnya apa yang ingin Tante Marisa bicarakan? Kenapa wajahnya mendadak serius begini. Dan ketiga, siapa tamu yang sedang di tunggu oleh Tante Marisa itu?
Apa mungkin Bintang? Tidak. Pasti bukan dia. Hari ini Bintang sudah bilang ada kegiatan di kampusnya. Dan dia juga tidak tahu kalau saat ini aku sedang bertemu dengan Tante Marisa. Entah kenapa Tante berpesan padaku agar Bintang tidak mengetahui hal ini.
Sebenarnya apa yang terjadi?
"Hai Tante. Maaf ya aku telat datengnya,"
Suara itu. Bagaimana dia ada disini? Apa jangan-jangan dia yang dimaksud tamu oleh Tante Marisa tadi?
"Halo, Dara. Kamu nggak telat kok. Tante juga baru aja dateng."
Kejutan apa lagi ini? Kenapa Dara dan Tante Marisa bisa seakrab ini? Mereka bahkan baru saja cipika-cipiki layaknya dua orang yang menjalin hubungan sangat dekat. Entah kenapa aku menjadi tidak nyaman. Perasaanku mulai tidak enak sekarang. Aku semakin takut menghadapi apa yang akan terjadi.
"Tante, ini maksudnya apa ya? Kenapa ada Dara disini?" Tanyaku menyela.
"Dara ini adalah tamu Tante. Tante yang megundangnya untuk datang kesini."
Setelah mendengar itu reflek mataku tertuju pada Dara yang sedang duduk di depanku. Ditempatnya Dara sedang memasang senyum penuh kemenangannya. Senyuman macam apa itu!
"Sebenarnya apa yang mau Tante omongin?"
Aku bisa melihat raut wajah Tante Marisa kembali serius. Sorot matanya sama sekali tidak bisa terbaca. Aku tidak ingin menebak kemungkinan terburuk yang akan terjadi padaku. Aku hanya menunggu Tante Marisa bicara maksud dan tujuannya ini.
"Sebelumnya Tante yang mau tanya sama kamu. Apa kamu anak Clarissa Permata?" Tanya Tante Marisa langsung.
Kenapa Tante Marisa bawa-bawa nama mama? Emang ada hubungan apa mereka? Seingatku baru kali ini Tante Marisa membahas tentang orang tuaku.
"Iya. Clarissa Permata itu mama saya. Sebenarnya ini ada apa Tante? Kenapa Tante tiba-tiba menanyakan perihal mama saya?"
Tante Marisa lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Terlihat jelas sekali jika jawabanku tadi membuat wajah Tante Marisa seketika berubah.
"Liat baik-baik foto itu," ucap Tante Marisa memberikan selembar foto yang sudah usang.
Aku meraih selembar foto berukuran 4R yang disodorkan oleh Tante Marisa. Mataku menyipit untuk mencari tahu siapa orang-orang yang ada di foto itu. Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan di dalam foto seperti sedang tertawa lepas sambil merangkul bahu masing-masing.
__ADS_1
"Itu adalah foto kami berempat saat kuliah dulu."
Aku semakin mengamati foto itu secara detail. Sedikit demi sedikit aku bisa menebak 'kami' yang dimaksud Tante Marisa tadi siapa.
"Ini foto Tante, Om Dana, papa dan juga mama." Tebakku.
"Iya. Dulu kami berempat sangat dekat. Namun mama kamu selalu lebih beruntung dari Tante. Itu yang membuat Tante diam-diam iri pada mama kamu. Dia bisa mendapatkan segalanya. Dan bisa dengan mudah juga merampas segalanya."
Aku masih diam dan menunggu kelanjutan cerita dari Tante Marisa. Perihal Dara yang sejak tadi senyam-senyum seperti sedang mengejekku kini aku abaikan. Sebenarnya apa gunanya dia disini?
"Mama kamu bisa mendapatkan cintanya dengan begitu mudah. Sedangkan Tante saat itu harus berjuang mati-matian agar bisa mendapatkan orang yang Tante suka. Kamu harus tahu, dulu Mas Dana sangat mencintai mama kamu."
Mendengar itu tanganku yang tadi memegang foto menjadi sedikit bergetar. Aku tidak tahu jika Tante Marisa menyimpan luka sedalam ini.
"Mas Dana tidak pernah menganggap Tante ada. Yang ada di matanya hanya mama kamu. Tapi saat Mas Dana menyatakan cintanya, mama kamu justru menolaknya. Karena mama kamu sudah menjalin hubungan dengan papa kamu. Mas Dana pun merelakan mama kamu saat itu. Dia juga tidak pernah membenci papa kamu. Pertemanan kami masih terjalin baik sampai kami berempat lulus kuliah. Tapi tidak dengan Tante. Tante sangat membenci mama kamu. Sampai sekarang."
Sorot mata penuh luka itu kini perlahan menetesan air mata. Pandangan Tante Marisa kosong. Seperti sedang menerawang kisah masa lalunya yang kelam.
"Tapi kenapa Tante masih membenci mama saya? Bukankah mama saya sudah menolak Om Dana waktu itu? Dan pada akhirnya Tante bisa bersatu dengan Om Dana sampai sekarang."
Entah kenapa suaraku ikut bergetar. Mungkin aku juga sudah larut dalam cerita Tante Marisa tadi.
"Memang benar. Tapi Tante tidak suka dengan cara mama kamu. Jika dia tidak mempunyai rasa dengan Mas Dana harusnya dia menolak segala kebaikannya. Bukan malah memberikan harapan palsu semata. Bahkan dia tahu saat itu jika Tante menyukai Mas Dana. Kenapa dia justru terus mendekatinya? Kenapa dia tidak memberikan Tante celah untuk mendapatkan hati Mas Dana?"
"Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya hati Tante saat itu. Bahkan sampai sekarang mungkin Mas Dana belum bisa melupakan mama kamu. Tante tidak pernah ada di hatinya. Tante hanya sebuah pelarian."
"Mungkin di luar kamu hanya bisa melihat keharmonisan keluarga Tante. Tapi semakin mengenal lebih dekat, maka kamu akan mengetahui seberapa banyak luka yang sedang Tante tutupi."
"Saya minta maaf Tante. Tolong maafkan segala kesalahan mama saya di masa lalu. Mungkin dulu mama kurang peka dan tidak perduli dengan perasaan Tante."
"Kedatanganmu di rumah Tante sudah menjawab semua pertanyaan Tante, Kejora. Ternyata Mas Dana memang tidak bisa melupakan Clarissa. Tante yang bodoh. Bisa-bisanya Tante percaya begitu saja dengan ucapannya. Membiarkan anak dari sahabat penghianat Tante sendiri justru masuk di kehidupan Tante."
"Tante juga tidak tahu dulu Mas Dana mengaku sebagai siapa kepada kamu. Sekarang Tante sudah mengetahui semuanya. Maaf Kejora. Tante sebenarnya tidak akan sejahat ini sebelum Tante mengetahui kebenaran bahwa kamu adalah anak Clarissa."
Air mataku kembali tumpah. Ternyata Om Dana selama ini menutupi kebenaran dariku. Dan aku juga yakin jika yang mengirim kartu ucapan permintaan maaf di makam mama kemarin adalah Om Dana.
"Kalau keluar dari rumah Tante bisa membuat hati Tante lebih baik, saya akan keluar dari rumah Tante."
Sebenarnya sangat berat mengatakan hal itu. Namun sepertinya Tante Marisa memang sudah sangat membenciku sekarang. Mungkin ini juga salah satu keinginan Tante Marisa.
"Bukan hanya itu yang Tante mau. Tante juga mau kamu keluar dari kehidupan Bintang. Tante tahu kamu sangat mencintai dia. Tapi Tante tidak akan mengizinkan kamu untuk melukai anak Tante untuk yang ke dua kalinya. Cukup Langit aja yang hatinya kamu buat hancur."
Deg.
Mataku membelalak. Tidak pernah terpikir olehku jika permintaan Tante Marisa akan seberat ini. Meninggalkan rumahnya saja rasanya aku masih belum siap. Kenapa harus ditambah lagi keluar dari kehidupan Bintang?
"Ternyata sifat kamu tidak jauh beda dengan Clarissa. Jika kamu tidak memiliki perasaan kepada Langit, kenapa dulu kamu menerimanya? Kenapa kamu memberi harapan palsu padanya? Kamu tahu alasan sebenarnya Langit pergi dari Indonesia? Itu karena dia tidak bisa melupakan kamu. Kamu pasti tidak tahu itu kan? Omong kosong jika dia mau mengejar cita-citanya disana sedangkan dia sangat menyayangi Tante. Dia tidak pernah mau jauh dari Tante."
Nafasku seperti tercekat. Ternyata Langit hanya menipuku dengan senyum palsunya. Ternyata dia masih menyimpan luka itu.
__ADS_1
"Tante kasih kamu waktu dua hari untuk memikirkan semua ini. Tante rasa semuanya sudah jelas sekarang. Permintaan Tante hanya satu. Tante mau kamu pergi dari kehidupan Bintang."
Suara berat Tante Marisa kembali terdengar. Apa aku sanggup mengabulkan permintaan itu?
"Tapi Tante, saya sangat sayang dengan Bintang. Saya tidak mungkin akan menyakiti hatinya, Tante. Saya mohon. Kasih saya satu kesemapatan. Setidaknya, saya akan menebus kesalahan saya. Saya janji akan membuat Bintang bahagia."
Aku meraih tangan Tante Marisa dan menggenggamnya. Berharap dia akan memberikanku kesempatan sekali lagi. Berharap dia akan merasa kasihan kepadaku untuk kali ini. Karena meninggalkan Bintang memang hal paling tersulit untukku saat ini.
"Sebagai seorang ibu rasa sayang Tante jauh lebih besar. Saya ingin yang terbaik buat anak-anak saya. Kamu punya waktu dua hari untuk bersama Bintang. Setelah itu kamu bisa pergi dari hidup dia. Dan jika kamu tidak sanggup memenuhi permintaan Tante, Tante tidak akan segan untuk mengirimkan Bintang keluar Negri. Kamu tinggal pilih."
Ini adalah pilihan yang sangat sulit. Apa lagi-lagi aku sedang dipermainkan oleh takdir hidup? Apa ini semua adalah karma yang harus aku terima karena sudah melukai perasaan Langit dulu?
"Jika ini memang kemauan Tante, saya akan menjauh dari Bintang. Tapi tolong jangan buat Bintang ke luar Negri. Setidaknya izinkan saya melihat Bintang bahagia dari kejauhan."
Terkadang hati dan ucapan memang tak sejalan. Hatiku tidak berbicara seperti itu. Namun pilihanku tadi sepertinya memang yang terbaik. Aku juga tidak ingin Bintang ke luar Negri.
"Tante harap kamu bisa pegang ucapan kamu. Kamu juga harus tahu, Bintang sudah Tante pilihkan calon yang cocok dan terbaik. Dara lah yang akan menjadi pasangan Bintang."
Hatiku kian mencelos. Jadi ini maksud dari kedatangan Dara disini. Hanya untuk dipamerkan kepadaku jika dia adalah calon pasangan Bintang? Aku jadi mengerti sekarang, siapa orang dibalik tameng Dara selama ini. Pasti adalah Tante Marisa.
"Maaf Kejora. Tapi luka Tante seperti tersiram alkohol ketika mengetahui kebenaran ini. Maaf kamu yang harus menerima pembalasan atas kesalahan mama kamu."
Tante Marisa mengusap sisa-sisa air matanya. Beberapa detik kemudian deritan kursi terdengar, disusul dengan hentakkan kaki Tante Marisa yang ingin melangkah pergi.
"Tunggu, Tante." Cegahku.
"Terima kasih selama ini Tante sudah sayang sama saya. Tante sudah menganggap saya sebagai anak Tante sendiri. Saya harap Tante mau memaafkan kesalahan saya dan mama saya. Saya tahu Tante sebenarnya orang yang sangat baik."
Aku bisa melihat Tante Marisa meneteskan air matanya lagi. Namun wanita itu tidak lagi menanggapi ucapanku. Tante Marisa memilih untuk tetap pergi.
Aku masih berdiri mematung sambil memandangi punggung Tante Marisa yang sudah menghilang di balik pintu cafetaria.
"Well, nggak sia-sia gue dateng kesini cuma buat dengerin cerita hidup lo yang menyedihkan ini. Ternyata gue dapet imbalan yang sangaaaat dahsyat. Bintang," ucap Dara yang sejak tadi hanya diam.
Untuk kali ini aku tidak akan meladeni Dara lagi. Hatiku masih sangat hancur. Aku juga tidak siap jika harus berdebat dengannya sekarang.
"Lo udah paham kan? Waktu lo cuma dua hari buat bersama Bintang. Abis itu lo bisa jauh-jauh dari hidup dia!"
Aku membiarkan Dara terus mengoceh. Jujur saja. Sebenarnya aku sangat ingin menampar dia dengan tanganku. Namun aku urungkan niatku barusan. Aku sudah ditampar terlebih dulu dengan kenyataan.
"Kemarin-kemarin lo boleh menang, Ra. Tapi sekarng lo bisa liat sendiri kan? Lo udah kalah banyak sama gue. Bintang udah bukan punya lo lagi."
Lagi-lagi Dara mengungkapkan kebenaran yang tidak bisa aku elakkan.
"Ucapin selamat tinggal buat kisah cinta lo yang ngenes itu."
Aku hanya menatap Dara dengan senyumnya yang mengejek. Perempuan itu lalu melangkahkan kakinya untuk pergi setelah puas membuatku membisu.
"Sekarang gue harus apa, Bintang? Apa dengan dua hari itu gue harus membuat kenangan manis bersama lo? Atau gue harus belajar menjauhi lo?" ucapku lirih.
__ADS_1
***