
“Ada siapa ya?” Heran Satya ketika mereka tiba dirumahnya dan melihat sepatu seorang wanita berada dirak teras rumah mereka, Angga, Satya dan Dimas tinggal bersama di Rumah milik Angga, awalnya hanya Angga dan Dimas tapi karena ada kamar kosong Dimas berencana menyewakannya dan datanglah Satya yang merupakan kenalan Dimas ketika Satya membantu Dimas merancang model grafik dari Mall cabang keduanya. Mereka menyebut rumah temoat tinggal mereka tersebut sebagai basecamp.
“Eh.. Ayo masuk, sepertinya ada temannya Mas Angga yang tadi kita omongin.” Ajak Satya dan agak berbisik dikalimat akhir.
“Weh! Dari mana? Pagi-pagi udah pacaran.” Mila tertawa kecil mendengar sindirian dari Dimas yang terlihat sudah rapi dan bersiap untuk pergi, “rapi amat, mau nikah?” Ledek Satya karena Dimas memakai setelan jas dengan tatanan rambut yang tersisir begitu rapi, “woo! minta ditampar.” Ujar Dimas berancang-ancang dan Satya hanya tertawa keras.
“Bagaimana? Sudah ganteng kan?” Tanyanya seraya merapikan dasi dan rambut dispion motor Satya yang baru terparkir.
“Gak.” Jawab Satya singkat, “yee... aku gak tanya kamu, aku tanya cewekmu.” Ujar Dimas menatap bayangan Satya lewat spion, Dimas tertawa kecil melihat muka Satya yang terlihat kesal.
“Mil, cowokmu ini takut banget aku ngambil kamu dari sisinya, setiap aku ledek, coba lihat mukanya. Merenguuuutt terus.” Ledek Dimas berdecak heran, "aku terlalu tampan sampai-sampai dia begitu khawatir." Timpalnya geleng-geleng kepala.
“Enggak ye.. Lagian kamu bukan tipenya Mas, maaaf..ya!” Satya menekankan dikalimat tipe membuat Dimas memanyunkan bibirnya, “terus tipemu seperti apa Mil? Seperti dia? Serius?”
“Ya iyalah!” Jawab Satya lantang dan mendapat sikutan dari Mila yang tersipu malu.
“Udah ah, pagi-pagi ketemu pasangan bucin bikin aku lupa sama materi presentasi.” Dimas membuka pintu mobilnya, “Mas..” Panggil Satya dan berjalan mendekat “hmm..” Sahut Dimas berhenti untuk masuk ke mobil, menunggu Satya mau membicarakan apa.
“Di dalam ada Kejora?” Dimas hanya mengangguk kecil kemudian masuk dan menutup pintu mobilnya.
“Kenapa?” Mila menghampiri Satya yang seolah diam memikirkan sesuatu.
“Ahh..tidak, masuk yuk. Aku mau mandi baru mengantarkanmu ke kos dan kita pergi.” Mila mengangguk menyetujui.
“Darimana? Tumben banget Sat?” Tanya Angga ketika melihat Satya dan Mila masuk ruang tamu memakai pakaian training, Satya cuma memanyunkan bibir mendengar kata tumben dari Angga, “kenapa sih semua yang melihatku keluar pagi selalu tanya tumben.” Kesal Satya memengotkan bibirnya dengan nada dibuat-buat membuat Angga terkekeh.
“Yaa..Habisnya kamu jarang banget keliatan on dipagi hari, shubuh pulang dari masjid pasti molor, terus bangun-bangun pas makan siang.” Satya memberi kode kearah Angga untuk berhenti karena ada Mila disebelahnya, Angga merapatkan mulutnya perlahan memahami maksud dari kode Satya, sedangkan Mila melirik tajam kearah pria disebelahnya yang kini berdiri kaku.
“Kau menipuku dengan percakapan bot?” Mila menatap kesal tapi Satya cuma nyengir seolah tidak berbuat salah.
“Selamat pagi, jangan lupa sarapan. Ketemu di kampus ya.” Ujar Mila menirukan isi pesan Satya yang hampir tiap pagi ia dapatkan, dan tak pernah membuat Mila curiga karena memang Satya tipe laki-laki yang tidak mengetik pesan begitu panjang.
“Pantes, setelah ku bales, pasti jarang dibalas. Kamu ih! Kaya gitu tu gak sehat lo! Kamu mau mati muda?” Mila memukul bahu Satya, “berapa kali kamu terlewat sarapan! jawab!” Ujar Mila melotot kearah Satya yang meringis mengusap bahunya.
“Aduh Mil, malu ih! Ada temen Mas Angga, tuh lihat..” Ujar Satya seraya menahan tangan Mila dengan menggenggamnya dan membuat Mila sadar jika selama ini ada orang lain selain mereka, bahkan belum dikenalnya.
Mila hanya tersenyum kaku, Angga tertawa menonton mereka berdua, entah kenapa bagi Angga walau hubungan antara Satya dan Mila memang bukan pacaran, lebih terlihat seperti hubungan tanpa status tapi baginya, interaksi mereka sangat menyenangkan untuk dilihat.
“Oh iya, Satya, Mila, ini Kejora, temanku.” Mila meraih tangan Kejora dan menjabatnya “Aku Mila Nurhadi, panggil saja Mila.” Ujar Mila tersenyum, “Aku Satya Eka Nurgaha” Ujar Satya juga menjabat tangannya, “Aku Bintang Kejora, bisa dipanggil Kejora atau Keke.” Mereka berdua mengangguk mendengarnya.
"Lihat mereka cocok sekali, nama belakangnya sama-sama ada Nurnya." Satya memiringkan bibirnya. "Mas, semua karna disdukcapil yang salah mengetik namaku, kau tahulah." Angga tertawa kecil, "salah ketik?" Tanya Kejora "Iya Mbak, harusnya namaku Satya Eka Nugraha, R nya pindah mungkin takdir kali ya, biar sama dengan nama calon jodohku, Nurgaha dan Nurhadi..ihir!" Satya cengengesan setelah mengucapkan kalimat tersebut.
"Apaan sih!" Mila menepuk bahu Satya yang bergoyang karena tertawa.
__ADS_1
Kejora melihat kearah Angga dan berbisik “apa mereka tau siapa aku sebenarnya?” Kejora menatap seolah ragu “Satya membantuku soal misi itu, dia tau kamu, tapi pacarnya sepertinya tidak.” Jawab Angga pelan.
Satya hanya memandang mereka dan melirik kearah Mila lalu menyenggol pelan lengannya, Mila menoleh dan mengangkat kedua alisnya. Satya mengode dengan ekor matanya yang menunjuk kearah kamarnya. “Hah? Ogah!” Jawab Mila singkat karena Satya mengajaknya masuk ke kamarnya, Satya mengernyitkan dahinya bingung.
“Kenapa kalian?” Tanya Angga melihat gelagat kedua pasangan didepannya saling lempar pandangan aneh. “Anak ini ngajak aku ke kamarnya.” Ujar Mila seraya mendengus, membuat Satya kaget dan membulatkan matanya.
“Hah! Apaan! Bukan itu! Ihh.. kamu pasti mikir yang aneh-aneh ya? Lama-lama aku nikahin juga deh besok!” Kesal Satya menepuk dahinya, Mila terkekeh karena berhasil menggoda Satya, dia menoel pelan pinggang Satya yang seolah merajuk dan memunggunginya.
“Mereka memang sering begitu, pasangan yang menggemaskan kan?” Bisik Angga ke Kejora dan disetujui dia yang juga tertawa kecil melihatnya.
“Oh, mereka sudah pergi?” Tanya Angga ketika keluar kamar dan mendapati ruang santai cuma ada Kejora yang sedang menonton televisi. Kejora mengangguk tanpa melihat kearah Angga, “acaranya jam berapa tadi, aku lupa?” Tanya Kejora tentang pentas seni di gedung Satra Budaya yang sedang mengadakan even tahunan lomba seni tari.
Angga melihat jam dinding “2 jam lagi.” Ujarnya kemudian duduk di sofa yang berbeda dengan Kejora. “Kedua temanmu itu lucu ya?” ungkap Kejora tentang Satya dan Mila yang tadi menemaninya ngobrol ketika Angga pamit mengangkat telpon dan sekalian bersiap.
Angga tersenyum setuju, “ya kau benar, mereka seperti dua anak kecil yang selalu ceria, diantara kami. Jika ada mereka suasana pasti asyik dan ceria." Jelas Angga.
"Dia memanggilku mbak, dan gak mau memanggilku hanya nama, gak sopan katanya." Ucap Keke sedikit tertawa.
"Satya memang yang paling muda, karena itu terkadang kami menganggapnya sebagai adik, kau tahu? walau begitu, dia punya kecerdasan yang tak dimiliki orang lain loh.”
“Maksudnya?” Kejora mengecilkan volume televisinya “Satya itu sangat cerdas tapi kecerdasannya adalah kelemahannya, aku juga tak paham apa yang terjadi dengannya, semacam *sindrom savant, tapi bukan itu. Dia pernah cerita jika setelah kecelakaan besar saat dia usia 6 tahun, dia pernah amnesia dan hilang ingatan. Tapi, secara ajaib dia justru memiliki fungsi otak yang menakjubkan.” Angga melihat Kejora memasang wajah bingung atas penjelasannya.
“Dia mampu mempelajari suatu hal bahkan mampu menguasainya dengan singkat. Dia lulus SMP 2 tahun, lulus SMA 2 tahun dan sekarang dia hanya menempuh strata 1 dalam tempo 2 tahun dimana aku yang lebih tua 2 tahun darinya menjadi adek tingkatnya, karena dia lulus tahun lalu.” Kejora terpukau mendengarnya, fenomena yang langka, dia memang tak paham soal pendidikan perkuliahan tapi mendengar seorang bisa lulus strata 1 dalam 2 tahun itu hal yang menakjubkan.
“Belajar bahasa baru adalah aktifitas terberat untuk otak, karena itu Satya kehilangan memori masa kecilnya.”
“Wah! Gampang move on dong?” Angga tertawa karena ketika awal mengetahui keadaan Satya itu yang ia katakan kepadanya.
“Tidak juga, aku pernah bertanya soal itu dan dia menjawab ‘yang terlupa hanya memori yang diingat dikepala, tapi tidak untuk yang dihati’ seperti itu.” Kejora terkekeh karena Angga seolah memiripkan dirinya seperti saat Satya berbicara.
“Dia anak yang berbakat, karena itu kami sangat mendukungnya, dia seperti adik kami, walau faktanya dia memperlakukan kami sebaliknya.” Angga menggelengkan kepalanya, “dia yang membantuku menggali info tentang Madam Den. Ahh, kenapa jadi cerita soal dia, padahal aku ingin mendengar kisahmu.” Rutuk Angga seraya menipiskan bibirnya, Kejora hanya mengangkat bahunya.
“Kau tak pernah mendengar istilah? Kau bisa mengenal pribadi seseorang dari bagaimana teman-temannya." Jelas Kejora membuat Angga tertawa kecil, “Dimas?” tanyanya kemudian tertawa.
Kejora memiringkan kepalanya, “kurasa dia tak seburuk itu, yang aku lihat dari cara dia menolongku saat diganggu Barra, dia tetap memperdulikan untuk menolong seseorang walau dia membencinya.”
Angga mengangguk dan mengingat saat masa kecilnya “dia pernah menghajar kelompok anak nakal yang merundungku dan mengejekku karena aku anak pembantu.”
“Hah?” Angga menatap bingung karena ucapan Kejora yang tiba-tiba “pembantu?”
“Oh..” Angga membuka mulutnya menyadari ucapannya “kau belum tau ya? Aku anak seorang pembantu, dan diangkat oleh seseorng yang cukup terkenal di Indonesia terutama Jawa Tengah, perlahan kau akan mengetahuinya jika kau sering bersamaku.” Kejora melengos ketika Angga mengedipkan matanya “ish..” desisnya dan disambut gelak tawa oleh Angga.
Malam setelah dari acara pentas seni dan budaya, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan seraya menikmati udara malam. Melewati beberapa kedai penjualan makanan ringan seperti sosis bakar, jagung bakar atau kudapan ringan murah meriah ala pedagang kaki lima.
__ADS_1
"Setelah mengenalmu, kamu berbeda ya." Angga memiringkan kepalanya mendengar ucapan Kejora.
"Emang aku bagaimana?" Tanyanya, Kejora tersenyum kecil, "dulu kukira kamu anak yang menyebalkan, kaku, dan sedikit sombong. Ternyata jauh di dalam hatimu, kamu sosok yang.." Kejora berhenti sembari berfikir "eemmm... lumayan baik." Lanjutnya dengan suara lirih, Angga mengerutkan dahinya.
"Lumayan? Semacam tempat makan bakso favorit Satya." Tiba - tiba Angga tertawa, membuat Kejora bingung. "Kenapa tertawa?"
"Enggak, jadi ingat Satya dan Bakso Lumayan."
"Kenapa?" Kejora semakin bingung karena Angga masih saja tertawa.
"Satya pernah makan di warung bakso namanya Bakso Lumayan, lalu dia bertanya kepemilik warung bakso tersebut mengapa memilih Lumayan, kenapa tidak Bakso enak, bakso mantap atau apa. Kau tau jawaban abang baksonya?" Tanya Angga menatap sekilas Kejora yang berjalan di sampingnya, Kejora menggeleng pelan.
"Kalo ada pelanggan yang kecewa dengan rasanya, kan saya bisa jawab. Namanya juga Bakso Lumayan Pak, bisa lumayan enak atau lumayan tidak enak." Jelas Angga tertawa kecil.
"Terus apa yang lucu?" Bingung Kejora karena merasa hal itu bukan hal yang lucu. Angga membisu menatap datar Kejora yang masih memasang wajah bingung.
"Yang membuat lucu ya si Satya. Dia pernah mengajak kami bertiga ke warung bakso tersebut, jujur bagiku bakso itu jauh dari kata enak. Entah apa yang membuat anak itu sering ke warung bakso itu bahkan gak bakal lupa membungkus untuk dibawa pulang. Dia pernah kutanya dan dia jawab memang rasanya gak enak, tapi semangat abang bakso tetap berjualan walau sepi perlu dikasih penghargaan. Mau nyoba baksonya?” tanya Angga menawarkan.
“Katanya gak enak?” Heran Kejora, “itu setahun yang lalu, karena Satya kerap beli, si abang bakso heran dan dari sana dia belajar memperbaiki rasa, dan asal kau tau ya Ke, Bakso yang lagi hits di pertigaan stasiun sebelum jalur satu arah. Itu bakso yang dulu namanya lumayan.” Kejora spontan menoleh kearah Angga dengan wajah kaget “serius? Itu tenar banget lo!” Angga mengangguk dan tertawa melihat ekspresi Kejora.
“Tapi, aku penasaran dengan apa yang lucu?” Angga menghela nafas, “hey Nona, aku gak tahu selera humormu yang tinggi atau aku yang gak lucu.” Ujarnya melanjutkan langkah dan Kejora hanya mengerutkan dahinya, menatap punggung pria yang berjalan didepannya.
“Baik sih, tapi garing juga orangnya.” Kejora terkekeh dan mempercepat langkahnya mengejar Angga. Mereka menyusuri trotoar yang biasanya jika pagi dipenuhi oleh mahasiswa yang sibuk lalu-lalang dengan muka serius dan ngantuk tapi jika malam menjadi tempat nongkrong mereka dengan wajah yang tentu sangat berbeda.
Biasa, sudah bawaan tipikal mahasiswa yang menyukai nongkrong daripada bangun pagi untuk kuliah. “Kamu kuliah disini?” Tanya Kejora melihat deretan gedung kampus yang terlihat menyeramkan ketika malam hari, Angga mengangguk “beda fakultas, ini fakultas olah raga, aku kuliah di fakultas teknik sipil.”
Kejora menoleh heran, "kenapa?" bingung Angga karena tatapan dari Kejora, "anak teknik sipil tapi menyukai bidang fotografi dan jurnalis?"
"Ayah angkatku yang mau aku begitu, aku merasa beliau sudah berjasa membiayai hidupku dan pendidikanku, jadi aku turuti saja kemauannya." Jelas Angga menatap bangunan yang masih diamati oleh Kejora.
Kejora mengangguk “kalau malam seram ya..” Ungkapnya melihat kearah gedung fakultas, Angga menepuk bahu kiri Kejora membuat Kejora kaget menoleh kekiri lalu kearah kanan dimana Angga berdiri seraya menahan senyum sambil menatap kearah gedung.
“Dasar usil, membuatku kaget saja.” Dengusnya membuat Angga tertawa, “muka kagetmu lucu sekali.” Ujarnya seraya menunjuk wajah gadis yang kini memanyunkan bibirnya seraya menyipitkan matanya.
“Sudah jam 8, kau pulang apa bekerja?” Kejora melihat jam tangannya, dia terdiam karena hari begitu cepat berlalu dia lupa jika malam ini dia harus bertemu Pak Baskara, dia tertunduk menatap ujung kakinya, Angga merasa bingung dengan perubahan Kejora yang tiba-tiba “kenapa?” dia terlihat begitu khawatir, “malam ini ada klien.” Ujarnya pelan dan membuat Angga mendatarkan ekspresinya.
Lalu tiba-tiba sebuah mobil sedan mercedes benz hitam mengkilap berhenti disamping mereka. Angga menatap kearah jendela hitam yang perlahan terbuka kebawah, dia kaget ketika melihat siapa yang duduk dikursi belakang. “Keke, masuk.” Ujar orang itu tanpa melihat kearah mereka.
Kejora hanya berdiri menatap datar tangannya yang kini digenggam Angga. Pria tua itu kemudian mengomando supirnya, sesaat kemudian pintu penumpang terbuka dan pria besar yang sudah berusia tua tersebut turun menemui mereka berdua.
"Masuk." Tegasnya.
-bersambung-
__ADS_1
*sindrom savant adalah kondisi seseorang yang mampu memperlihatkan kapasitas yang ajaib dan mendalam atau kemampuan yang jauh melebihi batas normal. Manusia dengan sindrom savant bisa jadi memiliki kelainan dalam perkembangan saraf, terutama gangguan spektrum autisme, atau bahkan cedera pada otak. Contoh paling dramatis dari sindrom savant adalah individu yang angka tes IQ nya sangat rendah, namun memperlihatkan keahlian istimewa dan brilian dalam area tertentu, misalnya hitung cepat, seni, mengingat, atau musik.