
Setelah kejadian promnight kemarin malam aku belum bertemu Langit lagi di rumah. Bahkan sampai pagi hari ini juga, saat kami tengah menikmati sarapan bersama di hari libur. Di meja makan hanya ada tante Marisa, om Dana, Bintang dan juga aku.
"Bintang, mana kakak kamu?" tanya tante Marisa di sela makan.
Bintang hanya mengangkat kedua bahunya acuh, seakan dia tidak perduli lagi dengan keadaan kakaknya. Aku takut jika tante Marisa nanti juga akan menanyakan hal yang sama padaku. Memikirkan itu membuatku menjadi gugup.
"Kejora, coba kamu lihat ke kamarnya Langit. Tumben jam segini dia belum kelihatan."
Aku mendongak. Menatap tante Marisa karena sedari tadi aku hanya menunduk. Bukanya aku tidak mau menemuinya saat ini, aku hanya takut jika dia belum bisa memaafkanku dan tidak mau membukakan pintu kamarnya begitu tahu aku yang datang. Pasti tante Marisa dan om Dana belum tahu jika aku dan Langit sudah tidak ada hubungan lagi. Meskipun Langit tidak mengatakan kata putus malam itu, tapi aku yakin jika dia sudah mengakhiri hubungannya denganku.
Belum sempat aku beranjak dari kursi, tiba-tiba suara benda pecah terdengar keras dari kamar Langit yang berada di atas. Kami saling melempar tatapan satu sama lain, penasaran apa yang terjadi dengan Langit. Tante Marisa kemudian memutuskan untuk menaiki anak tangga berniat untuk mengecek apa yang sudah terjadi. Aku mulai cemas. Entahlah kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak. Tak pikir panjang lagi, aku mengekor di belakang tante Marisa menuju kamar Langit.
Tante Marisa membuka pintu kamar itu dengan gerakan cepat. Setelah pintu terbuka lebar aku mendapati Langit sedang berdiri di depan cermin besar di kamarnya yang sudah pecah. Ruangan itu sangat berantakan. Banyak barang yang berserakan dan pecahan kaca bercecer dimana-mana. Sedangkan tangan kanannya sudah mengeluarkan darah segar yang menetes ke lantai.
"Astaga! Kamu kenapa sayang?! Ada apa sama kamu?" teriak mamanya histeris.
Langit menjatuhkan dirinya ke tepi ranjang dengan raut wajah frustasi. Dia duduk di sana sambil menunduk, membiarkan tangannya dengan bebas meneteskan darah. Seakan tidak perduli lagi jika dia bisa saja kehabisan banyak darah nantinya.
"Kejora! Bisa kamu ambilin kotak P3K sebentar," perintah tante Marisa panik.
Aku yang masih tercengang di ambang pintu langsung tersadar. Setelah memberanikan diri untuk memasuki kamar Langit yang berantakan, aku mulai mencari kotak P3K itu di setiap laci-laci kamarnya. Tante Marisa masih saja panik, apalagi wajah Langit berubah pucat sekarang.
"Kamu obatin Langit dulu ya, tante mau telfon dokter."
Dengan keputusan sepihak tante Marisa langsung berlari meninggalkanku yang masih mematung di dekat Langit tanpa menunggu persetujuanku.
Sebenarnya aku begitu trauma dengan darah. Sejak kecelakaan yang terjadi kepada keluargaku waktu itu. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak segera di perban darahnya pasti akan mengalir terus.
Aku mengumpulkan segala nyaliku untuk duduk di samping Langit dan meraih tangannya. Mataku sudah berkaca-kaca. Aku tahu Langit seperti ini karena ku. Dia bukan tipe orang yang tidak bisa mengendalikan emosi dan amarahnya. Aku tahu hatinya sangat hancur.
Ingin aku memarahinya dengan berbagai kalimat. Seperti saat aku masih berstatus sebagai pacarnya. Tapi aku sadar semua telah berbeda. Bodohnya dia jika melakuakan ini hanya karenaku. Rela menyakiti dirinya sendiri hanya karena perempuan sepertiku. Bahkan mungkin bisa saja dia dengan gampang menemukan perempuan lain yang lebih dariku tanpa harus berbuat konyol seperti ini.
Awalnya aku mengira Langit akan menolakku saat aku ingin mengobati lukanya. Namun saat aku meraih tangannya dia hanya diam dan menurut. Aku tidak berani menatapnya. Aku hanya diam dan terus diam sambil membersihkan darah di sela jemarinya dengan kapas dan sedikit alkohol.
Langit tidak seperti layaknya orang normal yang lukanya di tetesi dengan alkohol akan menjerit kesakitan. Dia hanya terdiam. Aku merasakan air mataku sudah membasahi pipi. Bahkan sempat juga menetes di tangan Langit karena posisiku yang terus menunduk.
"Yang sakit hati gue, Ra. Bukan tangan gue."
Aku menghentikan aktivitasku yang mengobatinya. Perban itu hampir saja selesai aku balutkan di tangannya jika saja dia tidak mengucapkan kalimat barusan.
"Lo bisa obatin tangan gue. Tapi apa lo bisa obatin hati gue? Rasa sakit di tangan ini nggak sebanding sama apa yang telah lo perbuat ke gue,Ra." lanjutnya lagi.
__ADS_1
Aku memberanikan diri untuk menatap ke arahnya. Wajahnya sayu dan pucat. Pancaran matanya penuh kekecewaan. Matanya memerah. Apa semalaman Langit sudah menyiksa dirinya seperti ini?
Langit menyadari ketakutanku sekarang. Dia mencengkeram kedua lenganku dan menuntunku untuk berdiri, mendorongku melangkah mundur sampai punggungku sudah menyentuh dinding kamarnya.
Entah apa yang akan dilakukannya sekarang. Tiba-tiba saja kedua tangannya menangkup wajahku. Padahal tangannya yang terluka tadi belum sempat aku perban dengan sempurna. Aku bisa melihat darah Langit merembes disana. Membuat perban putih itu kini berubah warna.
"Kenapa harus cewek yang gue sayang? Kenapa harus lo sendiri yang buat gue sehancur ini? Hati gue sakit banget, Ra. LO UDAH HANCURIN HATI GUE, RA!"
Mataku memejam mendengar Langit yang berteriak semarah itu. Tangan kanannya yang terluka tadi justru dia gunakan untuk meninju dinding tepat di sebelah wajahku.
Aku memekik kaget. Tangisku pecah saat itu juga. Apa Langit sudah gila? Melihat lukanya tadi saja sudah membuatku ngilu. Bagaimana jika ditambah dengan tinjuan barusan?
"Lang, gue mohon jangan kayak gini. Jangan siksa diri lo sendiri. Lo boleh pukul gue kalo lo benci sama gue." pintaku sambil menangis di depannya. Reflek aku memegangi lengannya kuat, berharap Langit tidak membuat luka di tangannya semakin parah.
"Gue minta lo pergi dari sini. Gue nggak mau liat lo," usirnya sambil menepis kasar tanganku.
"Tapi Lang,"
"GUE BILANG PERGI SEKARANG!" kerasnya sambil menunjuk ke arah pintu.
"Oke, gue bakalan pergi. Tapi dengerin dulu penjelasan gue. Asal lo tau, gue sama sekali nggak berniat buat ngebohongin lo. Itu semua gue lakuin karena gue nggak mau melukai perasaan lo, gue nggak mau kehilangan lo. Gue udah berusaha mencintai lo selama ini, tapi gue tetap nggak bisa. Gue juga bingung kenapa perasaan gue seperti ini. Kenapa orang baik seperti lo justru yang harus merasakan sakit hati. Please, jangan berbuat hal konyol kayak gini lagi," isakku di sampingnya.
Langit tetap memalingkan wajahnya acuh. Melihat reaksi dia yang seperti tidak menginginkan aku lebih lama di tempat itu lagi, aku langsung berdiri dari dudukku dan meninggalkan dia yang masih diam. Di satu sisi, perasaanku lega sekarang karena Langit sudah mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Tapi di sisi lain, aku juga tidak tega melihat dia seperti orang frustasi.
"Lo kenapa?" tanyanya setelah berhadapan denganku kembali.
"Bukan urusan lo."
"Gue nanya baik-baik, lo kenapa?" Bintang justru semakin ingin tahu.
"Peduli apa sih lo sama gue? Urusin aja urusan lo sendiri!"
Aku menepis tangannya kasar, lalu meninggalkan Bintang yang terpaku.
Tidak menyerah sampai di situ, Bintang tetap mengejarku sampai kita berhenti di taman halaman rumahnya. Aku duduk di kursi panjang berwarna putih yang berada di taman itu sambil sesenggukan.
"Lo berantem sama pacar lo?"
"Gue baru putus sama Langit." Isakku lagi.
Belum pernah aku dibentak Langit seperti tadi. Selama ini aku hanya mendapat perlakuan manis darinya. Langit yang sabar. Langit yang romantis. Sekarang dia benar-benar membenciku. Langit yang sekarang justru membuatku takut.
__ADS_1
Bintang menatapku dengan sinis. "Segitu cintanya ya lo sama dia? Sampek lo nangis meraung-raung kayak gini?"
Kali ini aku memilih diam. Aku tidak ingin berdebat lagi dengan siapapun termasuk Bintang yang tidak tahu apa-apa. Andai aja Bintang tahu jika masalahnya juga menyangkut dirinya. Apa masih bisa dia sesantai ini? Rasanya hatiku masih belum tertata dengan sempurna.
***
Siangnya aku menemui laki-laki di sebuah kafe yang tak jauh dari taman kota. Sudah ada sepuluh menit kami duduk berdua dan saling diam. Aku mengatur nafasku sesaat. Menyeka air mataku yang terus saja mengalir karena rasa bersalah yang terus menghantui.
"Lo sebenarnya mau cerita apa sih, Ra? Dari tadi lo cuma nangis. Gue bingung," ucap Adira yang sudah jengah melihat ku menangis di depannya sedari tadi.
"Gue putus sama Langit, kak."
"Bagus dong." Adira menjawab dengan santainya.
Aku mendelik ke arahnya sekarang. Sepertinya aku sudah salah jalan karena memilih Adira untuk tempat curhat.
"Kak, gue lagi serius. Gue mau curhat." Rengekku kepada Adira.
"Gue dua rius malah. Lagian lo nangisin apa sih? Bukannya lo sebenarnya nggak suka sama dia?" tanya Adira yang heran melihat keadaanku sekarang.
"Dia nyakitin dirinya sendiri kak, dan gue yakin itu penyebabnya karena gue. Gue ngerasa bersalah sekarang."
Adira menghela nafas, lalu menatapku sesaat. "Wajar dia begitu, Ra. Mungkin dia udah sayang banget sama lo. Makanya dia belum bisa nerima kenyataan. Tapi semuanya hanya masalah waktu. Gue yakin dia begini karena masih sakit hati aja."
"Terus gue mesti gimana? Kayaknya Langit benci banget sama gue sekarang. Dia mungkin nggak akan maafin gue." Ucapku yang sudah pasrah.
Semua yang terjadi melebihi apa yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Sekarang masalahnya justru menjadi semakin rumit. Belum lagi aku dan Langit tinggal satu rumah. Aku hanya tidak mau Langit berbuat hal konyol lagi yang bisa membahayakan dia.
Aku juga kasihan melihan Tante Marisa yang mencemaskan kondisi Langit. Apa jadinya jika tante Marisa tahu jika penyebab Langit begitu adalah aku? Apa mungkin Tante Marisa akan membenciku juga karena telah menyakiti hati anaknya?
"Biarin dia sendiri dulu. Kalo udah ada waktu yang tepat, baru lo bicara sama dia. Karna percuma juga lo jelasin semuanya ke dia kalo dia aja belum bisa berdamai dengan hatinya." Ucap Adira menasehati.
"Gue jahat banget ya kak?" tanyaku yang sudah berkaca-kaca sekarang.
"Lo nggak jahat. Dalam sebuah percintaan, sakit hati dan patah hati hal yang wajar. Tinggal bagaimana kita menyikapinya."
"Gara-gara gue hubungan Langit dan Bintang jadi renggang sekarang."
"Berhenti nyalahin diri lo sendiri, Ra. Sekarang berpikir aja ke depan. Cari solusi gimana semuanya bisa teratasi. Gue bakalan bantuin lo."
Aku tersenyum simpul pada Adira. Kalimatnya barusan seakan menghidupkan kembali energi positif dalam tubuhku. Adira memang mempunyai sikap dewasa dibalik tingkah konyolnya selama ini.
__ADS_1
***