
Esoknya..
“Kejora” Panggil seseorang, merasa namanya dipanggil, ia menoleh ke arah pria yang memanggilnya. Dia tersentak karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Angga?" Gumannya melihat Angga kini melangkah perlahan mendekatinya. Kejora mencoba memasang ekspresi dingin ketika lelaki itu kini berada didekatnya.
“Hai.” Sapa Angga duduk dan tersenyum.
“Hai juga.” Mendengar nada dingin dari Kejora, Angga menggigit bibirnya. “Kau masih marah? karena kemarin malam?” Tanya Angga hati-hati, Kejora tersenyum simpul.
“Kau mau kemana?” tanya Angga lagi karena Kejora tak menjawab pertanyaannya.
“Kemana aku pergi, apakah aku perlu memberitahumu?” Angga terdiam sejenak, “apa, bertemu klien?” Kejora hanya diam menatap jalanan didepannya tanpa mengindahkan ucapan Angga.
"Kau marah padaku karena aku jujur?" Lagi dan lagi Kejora tak menjawab hanya diam melihat jalanan dimana kendaraan berlalu-lalang. Angga menghela nafas berat, "aku minta maaf jika itu membuatmu tak nyaman." Kejora melihat Angga dari sudut matanya, lelaki itu tak salah seharusnya Kejora biasa aja tapi kenapa dia harus berlaku dingin kepadanya.
Melihat Kejora tetap tak menjawab, Angga mendesah pelan, "kau mau bertemu klien kah?" Kali ini Kejora melihat kearahnya "aku tak bisa menjawab, maaf." Angga mengangguk karena mendengar itu, jika dugaanya benar Kejora akan menemui klien, Angga ingin sekali marah dan menyuruh Kejora untuk tidak usah bertemu pria lain atau bahkan melayaninya, itu sangat menyakitinya tapi apa daya, dia tak bisa melontarkan uneg-unegnya, karena permintaan Kejora untuk profesional.
“Kejora?” Angga memanggil karena hanya melihat orang didepannya terdiam. “Jika kau mau minta maaf, aku tak menerima maafmu Tuan Jurnalis, karena Anda tak bersalah.” Kejora berdiri dan melambaikan tangan, lalu kemudian sebuah taksi berhenti.
“Tuan? Anda? Hmmm..” Angga mengerucutkan bibirnya lalu menghela nafas kasar, menatap mobil biru berplat kuning yang perlahan menjauh. Sedangkan di dalam taksi Kejora melihat ke arah spion dimana bayangan Angga terlihat semakin mengecil.
“Aku tidak boleh begini.” ujar Kejora pelan, Angga memang tidak bersalah, keadaanlah yang salah, dan perasaan ini tak seharusnya ikut campur pada misi mereka.
“Kau semakin dekat ya dengan dia?” Angga menoleh kearah seseorang yang tiba-tiba berbicara disampingnya, ikut menatap kearah taksi yang dinaiki Kejora pergi, Angga membalikkan badannya ketika mengetahui Dimas adalah orang itu, dia kembali duduk di kursi halte tersebut, diikuti Dimas.
“Ang..” Panggil Dimas karena Angga tak menjawab. “Kan sudah kujelaskan Dim, aku ada misi dengannya, jadi ya mau tak mau aku terus bertemu dengannya.” Jelas Angga dan Dimas memanyunkan bibirnya seraya mengangguk “bukan lebih nih?” Angga menoleh kearah Dimas, dia berencana akan memarahinya jika saat seperti ini dia sedang meledeknya, tapi menatap wajah Dimas yang tak memasang wajah menyebalkannya itu, Angga memalingkan wajahnya.
Dimas tertawa sinis “kau menyukai dia kan?” Angga tak menjawab “Ang..” Angga menghela nafas “kamu ngomong apa sih Dim?” Ucap Angga menahan emosinya dan Dimas semakin menatapnya dengan lekat.
“Selasa malam, aku melihat kalian berdua dibelakang gedung starynight, aku mendengarnya.” Angga kaget dan melotot kearah Dimas yang hanya menatapnya tajam.
“Aku tak suka kau bersama ******* itu Ang.” Angga tersenyum sinis, “apa kau begini karena sebelumnya kau ingin menidurinya? Ketika bertemu dia di club itu?” Jawaban Angga justru membuat Dimas kaget, karena Angga berkata dengan nada dingin seolah menyimpan sebuah amarah kepadanya.
"Kok kamu malah ngomong begitu?" Dimas tak terima dengan ujaran Angga. “Aku memang lelaki brengsek Ang, tapi aku tak seburuk itu.” Jelas Dimas masih mengatur emosinya “lalu kenapa?” Angga melirik kearah Dimas “berhati-hatilah dengan perempuan seperti itu, kau tak pernah tahu mereka bisa melakukan apa, apalagi dia tahu kau orang yang berada.” Dimas bangkit dari duduknya, karena merasa sepertinya Angga dalam keadaan tak baik untuk diajak ngobrol.
“Akupun tak terpengaruh buruk ketika berteman denganmu.” Dimas berhenti melangkah ketika mendengar ucapan Angga, marah, dia merasa marah.
__ADS_1
“Aku punya salah apa kepadamu? Aku tak tahu apa yang terjadi padamu! Tapi mulutmu sudah melewati batas! Aku hanya memperingatkan tapi kau malah memandangku rendah?!” Dimas menarik kerah Angga yang masih terduduk dan menatapnya tajam, Angga tersenyum kecut dan meregangkan cengkeraman Dimas, “apa aku salah jika menyukai wanita yang kau anggap murahan itu?” Angga berdiri menyamai pandangan mereka.
Dimas mengerutkan dahinya “kau sungguh menyukai ******* itu?” tanya Dimas tak percaya dan Angga hanya membuang wajahnya kearah lain. Suasana halte sepi. Hanya ada mereka berdua, karena siang terik tak begitu banyak orang menggunakan bis, halte ramai ketika anak sekolah dan ketika para pekerja kantoran berangkat dan pulang dari kerja.
“Jangan sebut dia ******* didepanku.” Ujar Angga dingin tanpa menatap Dimas disebelahnya. "Kau pikir aku akan diam saja dan mendukungmu ketika aku tahu kau menyukai perempuan seperti itu? Kau gila! aku banyak kenalan cewek dari kalangan baik-baik, mitra bisnis di Mallku atau teman Satya."
Angga tersenyum sinis "Kau kenapa Dim? Tumben... Apa kau begini karena kau tak terima ketika aku berhasil mendapatkannya? Atau... karena kau tertarik padanya juga?" Dimas berdecak tak percaya ketika Angga malah berfikir kearah sana.
“Ini bukan soal aku Ang! Tapi soal kamu dan siapa kamu sebenarnya. Kalian tidak akan berjalan lancar! Kau pikir ayahmu akan terima? Jika beliau tahu, besokpun kau bisa segera dikirim ke Jerman seperti rencananya itu.” Angga hanya mendengus seolah tak memikirkan itu.
“Dan bukan soal aku pernah berpikir untuk menidurinya Ang! Apalagi setelah tahu kau menyukainya, aku hanya ingin kau tak mudah percaya wanita, apalagi wanita malam seperti dia atau lainnya.” Ujar Dimas kali ini dengan intonasi yang melembut, bahkan menuruti Angga untuk tak menyebut kata *******, “tak semua wanita memuakkan Dim, sama halnya seperti mereka yang menganggap semua pria itu brengsek. Mereka hanya kerap bertemu pria sepertimu, dan belum bertemu pria seperti Satya. Kau hanya belum bertemu yang baik tapi sudah menghakimi seluruh wanita sebagai makhluk memuakkan dan munafik.” Jelas Angga, Dimas mengepalkan kedua tangannya mengingat memori lama yang mengubahnya sampai sejauh ini, menjadi pria brengsek yang kerap pergi ke tempat hiburan malam.
“Tak mempercayai wanita, bukan berarti kau jadi semena-mena dengan mereka, mempermainkan mereka sesuka hati, menidurinya kemudian pergi meninggalkannya, tak semua wanita seburuk yang kau pikirkan Dim.” Dimas hanya terdiam tak bergeming, dia hanya berharap Angga tak menyebut nama wanita yang sangat dibencinya itu.
Dimas mendengus sinis setelah mereka terdiam beberapa saat. “Tak pernah ada sisi baik dari wanita di hiburan malam. Dan kau! Aku hanya memintamu untuk berhati-hati, bukan menggurui apa yang terjadi padaku.” Ujar Dimas mengacungkan jarinya kearah Angga, “lalu apa kami tak boleh peduli padamu? Ketika teman kecilku dan orang yang sudah dianggap kakak oleh Satya terjerumus makin dalam karena masa lalunya?”
“Cukup Ang!!” Marah Dimas, “jangan buat aku mengingat wanita laknat itu! Aku mau muntah! Aku muak! Sekarang terserah kau! Tapi jangan paksa aku untuk menerima kehadiran dia disisimu! Aku tetap tak setuju!” Dimas beranjak pergi meninggalkan Angga, melihat Dimas pergi Angga hanya bisa menghela nafas.
Dimas melangkah dengan langkah gontai setelah jauh dari pandangan Angga. Dia memijat kepalanya lalu mencengkeram rambutnya “Aiishh sialan!!” teriaknya dan membuat beberapa pengemudi motor kaget karena ulahnya, mungkin dia dianggap gila saat ini.
Satya melihat kesamping kanan dan kirinya, dua orang yang duduk bersebrangan tapi diliputi aura dingin yang tak mengenakkan, hampir 1 jam setelah dia datang dan bergabung duduk dengan mereka tapi, tak ada sepatah katapun keluar sebagai bahan obrolan.
“Ada apa dengan mereka berdua?” Guman Satya mengamati Angga dan Dimas. Angga sedang sibuk membaca bukunya sedangkan Dimas sedang sibuk bernain dengan ponselnya. “Apa mereka bertengkar? Perasaan tadi malam kami masih sempat ngobrol sebelum tidur. Apa ketika aku belum datang tadi?” Satya masih bergelut dengan pikirannya seraya mengamati kedua pria didepannya yang duduk di sofa bersebrangan.
“Mas.” panggil Satya kemudian.
“Hmmm..” kedua lelaki itu menyahut bersamaan. Membuat Satya tertawa kecil “kalian seperti pasangan suami istri yang bertengkar dan diam-diaman didepan anaknya.” Mereka hanya menatap Satya tanpa ekspresi sebelum kembali sibuk dengan aktivitas mereka sebelumnya. Satya menggelengkan kepalanya, kemudian teringat sesuatu, mungkin bisa menjadi bahan obrolan dan memecah aura dingin diantara mereka.
“Aa.. Mas..Mas Angga, kau pernah memintaku mencari tahu pemilik starynight club kan? Aku sudah menemukannya.” Angga segera menutup bukunya dan duduk menghadap Satya, “katakan padaku.” ujarnya, dan Satya segera beranjak untuk mengambil ponselnya di kamar.
Dimas hanya mengamati mereka lewat ekor matanya. Bohong jika dia tak tertarik dengan informasi yang akan disampaikan oleh Satya, dia hanya merasa sedikit malas karena perdebatannya dengan Angga siang tadi.
Satya kembali dan menyerahkan ponselnya dimana ada foto seseorang disana, Angga mengerutkan dahinya. “Aku masih belum yakin, tapi aku akses beberapa dokumen sebelum starynight berdiri, gedung itu adalah sebuah tempat salon & spa, aku tanya RT disana dan ditujukan ke notaris & PPAT terdekat, karena pihak notaris menutupi jadi aku tracking lalu lintas penerimaan pajak penjualan dan pembelian dari gedung itu, dan disana tertera nama Bambang Haryono, mantan Gubernur sebelum Om Wira menjabat.” Angga melihat foto-foto di ponsel Satya, “dan aku mengamati gerak-gerik orang itu lewat kamera CCTV club.”
Dimas meraih ponsel Satya yang ditaruh Angga, Dimas yang sedari tadi diam langsung berdiri ketika melihat foto diponsel Satya, seolah teringat sesuatu. “Ang, kamu sama sekali tidak ingat sesuatu?” Angga bingung dengan pertanyaan Dimas dan hanya memasang wajah tak paham.
__ADS_1
“Haishh... Peserta lelang no 10, pria tua itu! yang kau amati terus itu. Lihat pria yang bersama dengan Pak Bambang di foto ini.” Dimas menyerahkan kembali ponsel Satya, dan Angga seketika teringat sosok yang saat itu baginya sangat familiar, ternyata itu adalah tangan kanan Pak Bambang, dia pernah bertemu ketika kampanye saat ayahnya menjadi kandidat calon gubernur.
Jika tangan kanan Pak Bambang disana maka ada kemungkinan juga Pak Bambang ada disana, hanya saja tidak terlihat atau memang tidak menunjukkan diri, tidak mungkin juga secara terang-terangan beliau menampakkan diri di tempat seperti itu.
“Dan satuhal yang belum aku ceritakan, kemarin Kejora menceritakan tentang adanya hubungan antara Madam Den dengan Pak Wisnu pemilik PT Wijaya Farma.” Jelas Angga kemudian “Kejora siapa?” tanya Satya dan membuat Dimas tersenyum sinis, Angga hanya melihatnya sepintas “Orang dalam yang bekerja disana” jelas Angga singkat “oh wanita yang itu namanya Kejora.” Satya mengangguk, Angga memang sudah pernah menceritakan soal wanita yang bekerja di club malam tersebut, hanya saja Angga tak memberitahukan nama wanita tersebut.
“Kenapa Mas Angga gak mencoba mencari tahu lewat Amanda? Bukannya Pak Wisnu ayah dari Amanda?” Usul Satya, mendengar nama Amanda yang tak lain mantan pacarnya dulu membuat Angga mendelikkan matanya.
“Hah! Kau gila, aku gak mau lagi berhubungan dengan perempuan itu.” Ujar Angga terus menggelengkan kepalanya. “Tapi sepertinya Amanda jauh lebih baik daripada dia Ang.” ujar Dimas sinis membuat Angga menatap tajam kearahnya.
“Kau tahu apa hah!” Bentak Angga sedari tadi tak tahan dengan gelagat Dimas yang selalu berkata sinis kearahnya, Satya yang menyadari perubahan situasi diantara mereka hanya bisa diam menonton. Ya, memang biasanya dia suka menonton ketika kedua temannya berdebat tapi kali ini dia menonton karena tidak tahu apa yang terjadi diantara keduanya.
“Yang jelas yang satu perempuan dari keluarga baik dan terpandang, dan yang satu kau tau sendiri kau tak ingin aku menyebutnya seperti itu.” Jelas Dimas enteng seolah hal itu hal yang biasa untuk didengar Angga.
Angga menghampiri Dimas dan memukul Dimas sampai tersungkur membuat Satya kaget dan berdiri menghampiri keduanya, menahan Angga yang sudah siap memberikan pukulan kedua. Satya suka menonton mereka bertengkar, tapi bukan yang seperti ini.
“Mas! Stop!” Bentak Satya mendorong Angga menjauh dari Dimas yang berusaha kembali bangkit dibantu oleh Satya “ada apa dengan kalian?”
“Tanya saja dia, yang menjadi pemarah semenjak jatuh hati pada wanita malam itu.” Satya bingung dengan ucapan Dimas dan menatap Angga yang masih menatap Dimas dengan marah.
“Makanya punya mulut dijaga, agar tidak bicara sembarangan, kau seolah tahu keduanya padahal kau hanya lelaki yang menilai wanita karena perannya diranjang.”
Dimas berdecak “serendah itu aku dimatamu.” ucap Dimas tersenyum sinis “apa menurutmu tiap hari aku meniduri wanita? Dan apa menurutmu yang kau pikirkan tentang aku yang selalu tidur dengan wanita itu benar?”
“Kau sendiri yang bilang seperti itu!” Balas Angga dengan intonasi yang sama seolah tak mau kalah. “Kau pikir aku sebrengsek itu? Dengan mudah mendekati wanita untuk menikmati tubuhnya?” Dimas menggeleng pelan dan tersenyum sinis.
“Aku begitu agar tak ada lagi yang memanfaatkanku, agar mereka tahu aku ********!” jelas Dimas. “Tetap saja kau tak bisa seenaknya menilai Kejora seperti itu! Kau bahkan belum mengenalnya!”
“Gak sudi!” potong Dimas “dan jangan kira Amanda lebih baik dari yang kau pikirkan, jadi jangan sok tahu!” Dimas tertawa mendengar itu, “ya setidaknya Amanda bukan *******." Cibirnya dengan wajah menyebalkan itu
Angga kembali ingin menyerang Dimas tapi ditahan oleh Satya yang sedari tadi berada diantara mereka. “Lihat dirimu Ang! Kau sudah dibutakan cinta! Sampai-sampai tak melihat kemungkinan dia memanfaatkanmu.” Ujar Dimas kepada Angga yang dipeluk oleh Satya, tangan Satya mendorong tubuh Dimas sementara yang satunya menahan Angga.
“Mas! Udah deh! Jangan bikin suasana semakin buruk! Jika tidak akan aku ambilkan pisau atau akan kubiarkan kalian saling hajar sampai puas.” Ujar Satya kesal dan membuat mereka diam. Satya menghela nafas ketika melihat keduanya lebih tenang.
Satya berdiri berkacak pinggang menatap keduanya dimana yang satu sedang mengusap wajahnya dan yang satu sedang mencoba mengatur emosinya, terlihat dari dadanya yang masih naik turun menatap kesal kearah Dimas. Satya menghela nafas panjang. "Begini jika aku pergi siapa yang akan melerai kalian? Apa kalian akan tetap berkelahi? Kalian ini lebih tua dari aku, bertindaklah sesuai usia kalian dan maaf jika aku berlagak menggurui, aku cuma tak ingin kalian menyelesaikan masalah seperti ini." Satya memegang keningnya dan menggosoknya perlahan. Angga dan Dimas hanya diam mendengarkan Satya yang sedang mengomel kepada mereka.
__ADS_1
-bersambung-