
Angga menelan ludah sebelum mencoba mengambil obrolan dengan Kejora “emm.. kau sudah makan?” Tanya Angga kemudian lalu dijawab gelengan kepala oleh Kejora.
“Kita sambil makan aja, bagaimana?” Kejora mengangguk menerima tawaran Angga dan mereka beranjak menuju mobil Angga yang terparkir tak jauh dari sana.
“Apa kau tidak kerja?” Tanya Angga, karena ini adalah jam kerja Kejora dan baru pertama kalinya Angga menemui Kejora di malam hari seperti saat ini.
“Aku tidak bekerja seminggu penuh lo.. aku..” Jawab Kejora seraya menyantap makanannya, lalu terdiam sejenak dan menatap lelaki yang juga sedang makan didepannya, Angga menatap bingung karena menyadari Kejora berhenti bercerita "kamu apa?"
Kejora menggigit bibir bawahnya, “aku hanya melayani khusus untuk 1 orang jika diluar even lelang. Jadi, selama tak ada lelang dan orang itu tak datang, maka aku free.” Lanjutnya pelan dan membuat Angga tersedak karena mengingat bayangan yang merasukinya tadi sebelum bertemu Kejora.
Meneguk air minum dia berusaha mengatur nafas membuat Kejora menatap khawatir. Angga berdeham sebelum bicara, dia menatap Kejora yang masih memberinya tatapan khawatir “woah..ini..pedas juga.” bohongnya seraya menatap makanan dipiringnya dan mengibaskan tangan didepan mulutnya, “lanjutkan ceritamu” ujarnya mempersilahkan Kejora bercerita.
“Saat lelang pun, aku akan selalu diletakkan diurutan terakhir dan tentunya dengan harga mahal. Dan kau juga pernah membayarku sampai 50 juta kan?” Angga termenung sesaat mengingat memori itu. Saat itu mungkin dia sudah merutuki kebodohanya yang membuang budget sebesar itu untuk misinya, tapi kini dia merasa semua itu pantas karena ada Kejora yang datang ke hidupnya dan mengetuk pintu hatinya.
“Em..dari 50 juta itu, kamu dapat berapa?” Tanya Angga, mengaduk perlahan minuman dinginnya dan mengeluarkan suara es yang bertabrakan dengan dinding gelas.
“30%” jawab Kejora singkat dan membuat Angga berhenti meneguk minumannya “itu tidak adil, dia mendapatkan 70% sendiri.” heran Angga kembali menyendok makanannya dan Kejora hanya menghela nafas “Aku harus membayar hutang pamanku. Pamanku kabur membawa uang dan barang berharga milik Madam Den. Sebenarnya aku mendapat 50%, 20%nya aku pakai untuk mencicil hutang itu.”
Angga terdiam mendengar itu, dia mencengkeram sendok ditangannya menahan perasaan yang terasa membakar dirinya. Kejora mengangguk menikmati makan malamnya, Angga hanya menatap gadis itu. “Tuhan, kenapa kau buat dia melewati kehidupan nista ini.” batinnya masih menatap Kejora sendu.
“Hei..” Angga tersentak ketika Kejora memanggilnya “apa?” tanyanya kaget “kau melamun.” Angga menggeleng cepat “aku hanya tak habis pikir, dia menjualmu lalu membuatmu harus hidup seperti ini, bahkan harus melunasi hutangnya.” Tutur Angga dengan nada kecewa membuat Kejora tersenyum tipis.
“Oh ya, kemarin aku mendengar mereka membicarakan soal Wijaya Farma yang harus segera menyetujui rencana mereka, aku tak tau detailnya karena Madam Den segera pergi setelah itu.” Angga mengangguk pelan mendengar penjelasan Kejora, dia berpikir sesaat seolah tak asing dengan Wijaya Farma.
“Hah! Wijaya Farma!” ucapnya terkaget setelah menyadari nama itu, membuat Kejora menatap bingung.
"Apakah Wijaya Farma perusahaan farmasi itu?" Kejora mengangkat bahu dengan tatapan ragu, "mu..mungkin." jawabnya
“Apa hubungan Pak Wisnu dengan Madam Den?” Gumannya pelan “kau tahu Wijaya Farma?” tanya Kejora dan Angga mengangguk “ya..itu adalah perusahaan farmasi besar di Jawa Tengah, beberapa rumah sakit di kota ini memasok obat medis dari sana. Mereka juga sudah memiliki cabang di 3 kota besar termasuk Semarang, Surabaya dan Yogyakarta. Pemiliknya adalah teman Ayahku, Wisnu Cahyadi.” Jelas Angga “lalu apa hubungannya dengan Madam Den, masa iya Om Wisnu komplotannya?” Heran Angga kemudian mencoba menelaah kemungkinan hubungan antara Madam Den dan pemilik PT Wijaya Farma.
"Kau tahu?" Kejora menyudahi makannya dan meminggirkan piring makannya. "Apa?" Tanya Angga yang sudah selesai makan juga. "Aku mulai mempercayaimu." Angga sempat diam sebelum tersenyum "kau harus." ucapnya kemudian.
"Aku harap kau bisa mengeluarkanku dari jeratan wanita itu." Kejora menghela nafas berat. "Kejora.." panggil Angga pelan dan Kejora menatapnya "jika aku sudah berucap, aku tak pernah ragu dengan ucapanku, aku akan menyelamatkanmu dari mereka." Kejora tersenyum "terima kasih."
Kejora menatap pemandangan sekitar mereka "Kau tahu? aku seolah menemukan harapan atas keputusasaanku." Ujarnya datar menatap samping kanannya dimana ada pemandangan lampu kota dan lampu kendaraan yang seolah merayap perlahan seperti kunang-kunang.
Mendengar perkataan Kejora, entah mengapa ketika dirinya dianggap sebagai harapan yang datang untuk menyelamatkan Kejora, seolah menjadi suntikan semangat bagi Angga. "Aku harap aku berhasil, kita berhasil." Batin Angga menatap gadis yang kini sedang menikmati pemandangan kota, Angga ikut menoleh kesamping kirinya dan ikut mengamati lampu-lampu dibawah mereka.
“Em, besok kau ada waktu luang?” Tanya Angga ketika mereka keluar dari tempat makan dimana dulu Angga pernah membawa Kejora kesana ketika mereka pertama kali bertemu. Kejora sejenak berpikir kemudian menggeleng, membuat Angga sedikit kecewa.
“Aku mau menemui seseorang sebelum berangkat ke club” jelasnya “seseorang?” batin Angga penasaran dengan seseorang yang Kejora sebut. “Emm...baiklah.” Ujar Angga menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
“Ada apa?” tanya Kejora “Ahh..tidak, aku hanya ingin bertemu denganmu.” Jelasnya seraya menundukkan kepala, melihat itu Kejora timbul ide. “Bagaimana jika kau ikut denganku, kalau kau tak keberatan.”
Angga langsung mengangkat kepalanya menatap Kejora, “boleh?” tanyanya memastikan dan disambut anggukan oleh Kejora membuat Angga tersenyum senang. "Oke, aku ikut!" Ujar Angga menunjukkan deretan gigi pada senyumnya, membuat Kejora ikut senang melihatnya.
__ADS_1
***
Esoknya mereka sampai di sebuah tempat tak jauh dari batas kota, sebuah toko barang antik yang menjual hal-hal unik. Angga terperangah melihat toko tersebut, bertahun-tahun melewati jalan ini tapi dia tak pernah tahu ada toko seperti ini.
“Ini tempat siapa?” tanya Angga masih mendongak mengamati tempat itu. “Aku memanggilnya Ibu.” Angga kaget menoleh kearah Kejora “bukannya kau bilang sudah tiada?” heran Angga. Kejora mengajak Angga masuk “bukan kandung” ujar Kejora langsung menyapa wanita paruh baya yang sedang duduk membaca buku.
Wanita tersebut tersenyum melihat kedatangan Kejora, dan sedikit kaget ketika melihat Angga datang bersamanya. Angga hanya mengamati kedua wanita itu berpelukan. “Kamu punya pacar? Kenapa tak cerita sama Ibu?” tanya wanita itu dan membuat Kejora menggeleng “bukan, dia rekan kerjaku, Angga namanya.” Angga segera mengulurkan tangannya melihat wanita itu mendekat kearahnya.
Wanita itu tersenyum melihat Angga dari atas sampai bawah. Angga bingung mendapati dirinya ditatap begitu lekat oleh wanita itu, seolah mata itu memiliki sinar x yang dapat memindai seluruh isi tubuhnya, Angga menggaruk tengkuknya sambil tersenyum kikuk.
Melihat itu Kejora berdehem dan menghentikan aktifitas ibunya. “Angga, kamu mau menunggu disini sebentar? Aku mau mengobrol sebentar dengan Ibu.” Angga mengangguk lega karena ucapan Kejora mengalihkan perhatian wanita tersebut.
Seperginya mereka, Angga menghela nafas “gila! Cuma ditatap seperti itu aku merasa terintimidasi.” Dia lalu melihat sekeliling kearah barang-barang yang dipajang di toko tersebut. Tak begitu besar tapi banyak sekali hal unik yang sudah jarang dipasarkan di luar.
Aksesoris jaman 80 an, kamera film, sepatu jadul, alat makan jadul dan beberapa elektronik yang mulai ditinggalkan kaum milenial seperi walkie talkie, mini compo dan walkman yang masih menggunakan kaset pita, disana juga terpajang kaset-kaset musisi senior yang masih memiliki peminat walau sedikit.
Smartphone, mengubah segalanya itu adalah hal pertama yang terbesit dipikiran Angga. “Woaaah” Angga sedikit kaget ketika melihat kearah sudut ruangan ada sebuah turntable antik disana, dia berjalan mendekat dan mengamati turntable atau gramophone yang memutar musik di piringan hitam. “Masih bagus banget!” pukaunya mengelus permukaan alat tersebut, “aku tak tahu ada tempat yang keren seperti ini.” Ujarnya mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.
“Apa dia benar hanya teman kerjamu?” tanya ibu Kejora setelah menutup pintu, Kejora hanya menjawab dengan anggukan, lalu menatap Ibunya yang bersedekap sembari menyandarkan badannya didinding dan menatap kearah Kejora yang duduk dikursi belajar.
“kenapa? Jangan berpikir yang lain, lagian dia bukan hal yang pantas untuk itu, dia terlalu baik.” Ujarnya pelan seraya memainkan miniatur kelinci yang terbuat dari keramik ditangannya, Wanita itu mendekat dan mengusap bahu Kejora “kau ada masalah apa?”
Kejora meletakkan minuatur itu kembali ketempatnya, kemudian meraih tangan wanita yang berada dipundaknya, melingkarkan kelehernya dan dia menenggelamkan wajahnya kepelukan wanita yang sudah dianggap seperti ibunya. Wanita itu hanya mengelus pelan kepala Kejora membuatnya makin mempererat pelukannya.
“Dia mengajakku bekerja sama untuk melawan Madam Den” jelas Kejora pelan dan wanita itu mendorong tubuh Kejora untuk menatapnya, “bukannya itu bagus? Kenapa kau bersedih?” ucapnya meraih pipi Kejora yang menatapnya muram, Kejora hanya menghela nafas dan kembali membenamkan wajahnya ke pelukan Ibunya.
“Dengar nak.” Ujar wanita itu menarik kursi kecil dan duduk didepan Kejora, menggenggam kedua tangan Kejora sambil menatapnya lembut. “Apa yang terjadi pada hatimu, kamu tak bisa mengontrolnya, kamu tak bisa memilih, menahan atau bahkan mengabaikannya. Aku tak bisa membantumu untuk lepas dari jeratan wanita iblis itu, mendengarmu bercerita sudah membuatku paham kondisimu. Tapi jika soal seseorang yang kini bertamu dihatimu itu, jangan mengabaikan perasaan itu, biarkan perasaan itu alami tumbuh disana." Ujarnya menunjuk dada Kejora.
Kejora terdiam “dia begitu hangat dan memperlakukan wanita dengan baik, aku tak pernah bertemu lelaki seperti itu setelah ayahku meninggal.” Jelas Kejora “aku..aku hanya tak ingin perasaan aneh ini makin tumbuh.” Lanjutnya menatap wanita didepannya.
“Nak, 5 tahun aku mengenalmu, menganggapmu seperti anakku sendiri dan tak pernah luput tiap malam aku berdoa agar kamu bertemu kebahagiaanmu, maka, ijinkan dia membantumu terlepas dari wanita sialan itu, soal perasaanmu itu biarkan berjalan apa adanya.”
"Aku harus melupakan perasaan itu Bu, dia juga tak mungkin menyukai aku yang hina ini." Kejora tertunduk. "Hei!" Kejora kaget ketika Ibunya menghardik kearahnya "jangan pernah berkata demikian." Ujarnya ketika Kejora menatap kearahnya, "hanya Tuhan yang berhak menilai hambaNya." Kejora kembali menunduk "maaf.." Wanita itu mengusap kepala Kejora dan meraih ujung dagu Kejora agar melihat kearahnya. "Chin up sayang." Ujarnya "kau cantik tak hanya parasmu, tapi hatimu juga sangat cantik, siapa yang tak akan menyukaimu?"
Kejora tersenyum kemudian memalingkan wajahnya "biarkan dia membantumu, biar kalian sama-sama untung kan? dia berhasil menjalankan misinya dan kau berhasil lepas dari jeratan wanita itu."
Kejora mengangguk “iya aku sudah setuju untuk membantunya, tapi...” Kejora berhenti sejenak “tapi apa?” bingung Ibunya lagi “aku tetap akan membuang semua hal yang mengarah keperasaan aneh itu.” Ujarnya dan hanya membuat sang ibu mengelus pelan kepala Kejora.
“Semua keputusan ada di kamu nak, satu hal yang tak pernah bosan aku sampaikan. Jangan menilai dirimu serendah itu. Disamping pekerjaan kotor itu, kamu adalah gadisku yang sangat cantik dan baik.” Kejora menatap wanita itu dan tersenyum “coba lihat dirimu seperti aku melihatmu.” ujarnya lagi dan Kejora hanya terdiam menatap wanita paruh baya yang masih nampak bugar dan awet muda itu walau sudah berusia 40 tahunan.
“Kamu suka barang antik?” Angga tersentak karena suara Ibu Kejora tepat disampingnya ketika dia sedang fokus mengamati lampu duduk yang terlihat kuno namun menarik. Ibu kejora tertawa melihat reaksi kaget dari Angga “ya sepertinya sangat suka, sampai-sampai kau tak sadar aku disampingmu.”
Angga tersenyum kikuk “turntable itu, masih terlihat bagus. Serinya lebih tua dari yang dimiliki ayahku, tapi terlihat masih bagus sekali.” Ujar Angga menunjuk turntable pemutar piringan hitam vinyl tersebut. Ibu Kejora mengangguk setuju “itu keluaran tahun 60an, koleksi mendiang kakekku. Bahkan aku masih sering memutar lagu kesukaannya.”
Ibu Kejora membuka laci dan jemarinya menyisir beberapa album tipis didalam laci tersebut, Angga terbelakak tak percaya ketikamelihat koleksi album vinyl milik Ibu Kejora.
__ADS_1
Dia menyetel sebuah piringan dan alunan musik genre Jazz jaman dulu bergema. “Anda suka lagu Ermy kulit juga? Aku tahu lagu ini, Kasih kan? Dari album Kasih tahun 1986?” Ibu Kejora menoleh kearahnya karena kaget anak seusia dia mengetahui lagu yang bahkan disaat itu dirinya belum lahir.
“Kau tahu? Wah bahkan ketika lagu ini rilis, kupastikan kamu belum lahir.” Angga tertawa kecil “walau aku tak begitu ingat, tapi ketika aku kecil ibuku sering mendengarkan lagu milik Ermy Kulit ini, Ayah dan Ibuku akan berdansa diiringi lagu ini.” Ujar Angga tersenyum mengingat momen tersebut.
“Apa terjadi sesuatu pada ibumu?” tanya Ibu Kejora ketika melihat perubahan ekspresi Angga, Angga menoleh sekilas kesampingnya dimana Ibu Kejora dan Kejora berdiri disebelahnya, “ibuku menghilang, sejak tahun 2005, ketika aku usia 8 tahun.” Jelasnya “dan tak ada yang tahu apakah beliau masih hidup atau tidak.”
Ibu Kejora terdiam begitu juga Kejora yang tak menyangka akan mendengar hal ini dari Angga. “Maaf” ucap Ibu Kejora kemudian, Angga menggerakkan kedua telapak tangannya “Tidak Nyonya, tidak perlu minta maaf.” ucapnya tersenyum. "Wah..Aku juga suka album ini." Tunjuk Angga mencoba mencairkan kecanggungan tersebut. Dan akhirnya mereka menikmati alunan lagu dari album yang disarankan oleh Angga.
***
“Terima kasih sudah mengantar.” Ucap Kejora ketika mereka tiba di starynight club tempat Kejora bekerja dan kemudian menjadi tempat yang dibenci Angga, dia hanya terdiam menatap Kejora yang berkemas, matanya yang menatap Kejora kini beralih menatap gedung tempat itu. Bayangan aneh berputar dikepalanya, bayangan aneh ketika Kejora bersama pria mesum atau melakukan hal intim lainnya membuat Angga merasakan sesuatu yang berat dan panas didadanya.
Tangan kanannya mencengkram erat kemudi, dia menghela nafas kasar dan mendapat perhatian Kejora. “Aku merasa tak rela melepasmu masuk ke gedung itu.” Ujarnya lirih namun tegas, dia kemudian menoleh ke arah Kejora “bisakah kau kabur? Aku akan menemanimu.” Ucapnya tulus membuat Kejora terhenyak, mereka hanya saling tatap beberapa saat, kemudian Kejora mengalihkan pandangannya.
“Jika bisa sudah kulakukan sejak dulu.” Kejora meraih tasnya untuk bersiap keluar, tapi tangan Angga tiba-tiba meraih pergelangan tangannya, Kejora kaget dan menoleh kearah Angga “Kejora...” ucapnya pelan, Kejora menatap bingung karena tindakan tiba-tiba Angga tersebut.
“Kurasa...kurasa aku menyukaimu, sejak festival seni budaya itu, aku mulai menaruh perasaan aneh kepadamu, perasaan marah ketika kau masuk kedalam sana. Perasaan senang ketika kau mengajakku bertemu, dan aku begitu senang ketika bisa melihatmu. Aku menyimpulkan jika, aku menyukaimu Kejora.” Lanjut Angga dan membuat Kejora membulatkan matanya.
“Dan aku, akumerasa sakit disini jika kamu pergi bersama klienmu itu.” Ujarnya menunjuk dadanya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih menggenggam pergelangan tangan Kejora. Terdiam sesaat karena tak menyangka dengan apa yang diucapkan Angga, Kejora sedang berperang dengan hatinya, ini akan terasa semakin sulit, jika hanya Kejora yang merasakan perasaan aneh itu, mudah bagi Kejora untuk melupakannya perlahan, tapi jika ternyata Anggapun merasakan hal yang sama, maka dengan kebersamaan mereka dalam misi ini akan mempersulit Kejora mengendalikan hatinya, Kejora menghela nafas dan menatap Angga.
“Jangan Ang..” tutur Kejora melepas genggaman tangan Angga. “Jangan permainkan hatiku, jangan beri aku harapan lain yang bisa menyakitiku, aku memang wanita rendahan, tapi jangan merendahkanku dengan mempermainkan perasaanku.” Angga sontak kaget mendengar perkataan Kejora.
“Tidak, bukan begitu.. Kejora.. Kejora..!” Angga segera membuka pintu mobilnya ketika Kejora bergegas keluar, berjalan mengitari mobil dan mencoba meraih Kejora yang mulai memasuki gedung lewat pintu belakang.
Kejora berbalik ketika Angga berhasil meraih tangannya. “Aku tidak mempermainkanmu, aku hanya jujur dengan perasaanku.” Kejora dapat melihat sorot mata yang berbeda dari Angga sudah banyak lelaki yang menggapainya tapi Angga memiliki tatapan yang berbeda, ada ketulusan didalamnya, yang semakin mengacaukan perasaan dihatinya.
Kejora hanya menatap dingin kearah pergelangan tangannya, lalu menatap Angga. “Maaf...” ucap Angga seketika melepas genggaman tersebut. “Jika masih ingin bekerja sama dengan rencanamu itu, profesional lah Tuan.” Ujarnya tegas dan meninggalkan Angga, membuka pintu dengan kartu khusus dan menutupnya. Meninggalkan Angga yang diam mematung disana.
Kejora bersandar dipintu, memegang dadanya dan mencoba mengatur nafas, dia masih shok dengan apa yang barusan terjadi, pengakuan Angga terhadap perasaannya padanya, hal yang membuat hatinya terasa hangat tapi sakit secara bersamaan. Kejora meraih telponnya dan terdapat pesan singkat didalamnya.
Maaf, baiklah aku akan profesional.
Tetap dengan rencana kita.
Jangan mengabaikanku dan menolak bertemu setelah pengakuanku ini.
Tetap profesional aku akan mencobanya
Tapi, bukan berarti aku bisa melupakan perasaan ini.
Kejora menghela nafas panjang kemudian menghapus pesan tersebut.
Angga termenung menatap lautan lampu kota dibawahnya, dia terduduk dikap mobil menikmati momen sendirinya. Dia mendongak keatas menatap bintang di langit, “kau seperti bintang, bersinar dimalam hari, bercahaya dan cantik. Dari sekian banyak bintang seperti namamu, kau yang paling terang.” Angga membuang nafas mencoba meringankan sesak didadanya, mungkin karena baru saja ditolak pernyataan cintanya.
Disisi lain ada sepasang mata yang menyaksikan kejadian dibelakang gedung tersebut. "Kau menyukainya..." Ujar orang itu kembali masuk kedalam club.
__ADS_1
-bersambung-