Bintang Kejora

Bintang Kejora
I'll Save You


__ADS_3

Melihat Kejora terlihat bahagia bersama orang lain, Membuat Pak Baskara mencoba membuat Madam Den yakin jika rencananya salah.


“Anda harus waspada kepada bocah itu Bu Sandra!”


“Ada apa lagi Baskara? Sudah berapa kali aku katakan? Jangan membuat skenario agar Keke kembali padamu.” Pak Bas mendesah kesal.


“Bukan itu Bu Sandra, apa Anda tak membayangkan adanya kemungkinan Kejora berpaling dan meminta Angga menolongnya? Atau malah memberikan informasi tentang kita?” Madam Den terhenyak dan memahami kemungkinan itu, dia menatap Pak Bas yang begitu yakin menjelaskan seandainya itu terjadi maka rencana ini gagal dan menjadi batu sandungan terjatuhnya mereka.


Melihat Madam Den terdiam, Pak Baskara tersenyum licik merasa ucapannya berhasil mempengaruhi wanita didepannya itu.


“Akan aku lihat sendiri dengan mata kepalaku.” Ujar Madam Den, "dan urusi tugasmu jangan memikirkan Keke terus menerus, apa penggantinya tak cukup?"


Pak Baskara menggeleng, "aku cinta anakmu ktu."


Madam Den tertawa sinis, "cintai istrimu yang sakit-sakitan itu. Kau berkata ke Keke begitu karena dia muda dan cantik, gak usah munafik." Ujar Madam Den berlalu meninggalkan Pak Bas diruangannya.


"Aku masih berhati, tak seperti kau." Sinis Pak Bas ketika Madam Den sudah hilang dari ruangan itu.


***


 


“Sudah sampai tuan putri.” Angga segera turun, berjalan memutar kearah pintu penumpang dan membukakan pintu untuk Kejora, membuat wanita itu hanya tersenyum ketika Angga bergaya seolah mempersilahkan tamu besar untuk turun dari mobil.


“Kau begitu berlebihan Tuan Jurnalis.” Angga terkekeh karena Kejora selalu meledeknya dengan sebutan tuan jurnalis.


“Emm...” Kejora menipiskan bibirnya dan terlihat ragu untuk berbicara, Angga memiringkan kepalanya dan menunduk sedikit agar bisa melihat wajah Kejora dengan jelas.


“Ada apa?”


“Setelah ini kau mau kemana?” Angga manyun dan berpikir menaikkan bahunya dia berkata, “entah, pulang mungkin.” Jawabnya, “Kenapa?”


“Emm.. mungkin kau mau makan eksrim sambil duduk di taman TK disana.” Tawar Kejora menunjuk minimarket dimana tak jauh dari sana ada TK.


Angga tersenyum lebar dengan deretan giginya yang rapi, “Aku bakal senang sekali.” Sahutnya dan berjalan duluan “Ayo.” Ajaknya dengan riang karena Kejora sedikit tertinggal langkah dan menunggu dia untuk segera menyusulnya.


Kejora hanya senyum menanggapi tingkah Angga yang seolah tak sabar untuk segera mendapatkan es krimnya, dia tetap berjalan santai walau Angga sudah sedikit jauh didepannya yang sesekali menoleh belakang dan menghentikan langkahnya untuk meminta Kejora mempercepat langkahnya.


Mereka duduk diayunan TK seraya menikmati eskrimnya, “Kau tahu? Terakhir aku makan eskrim itu SMA.” Kejora kaget tak percaya, “karena setiap aku makan eksrim aku selalu mengingat ibuku.”


Kejora menoleh sedikit dan mendapati Angga menatap eakrimnya nanar “tapi, tak masalah karena sekarang perasaan itu sedikit hilang dan tergantikan kenangan indah.” Angga seketika tersenyum dan menoleh kearah Kejora yang masih menatapnya “karena ketika aku makan eskrim, aku pasti mengingatmu.” Jelasnya masih menatap Kejora.


Ada desiran hangat yang Kejora rasakan, dari tatapan Angga solah melayangkan beberapa anak panah yang menbuat jantungnya merasakan sensasi seakan mau meledak.


Dan ini pertama kalinya Kejora merasakan hal aneh bergemuruh didadanya hanya karena mendapat tatapan dari seorang lelaki, bukan tatapan nafsu tapi sebuah tatapan hangat penuh keteduhan.


Beberapa saat saling tatap, Kejora berdeham dan mengalihkan pandangannya dari tatapan Angga, dengan kikuk dia kembali memakan eskrimnya.


Angga tertawa kecil karena melihat sekilas rona merah dipipi Kejora, “jika kita bertemu dalam keadaan berbeda, apa ada kemungkinan kau mau bersamaku?”

__ADS_1


“Ughuk..” Kejora tersedak merasakan cairan eskrim mengalir di rongga hidungnya, Angga menatap khawatir. Kejora menerima tisu ditangan Angga dan mengusap hidup dan mulutnya.


Angga melihat ada sedikit eskrim yang tertinggal diwajah Kejora yang belum disapu dengan tisu tadi. Dia mendekatkan tubuhnya dan mengusap pipi Kejora dengan ibu jarinya, Kejora tersentak atas perlakuan manis Angga.


Dia menatap Angga yang begitu dekat dengannya karena berusaha menghapus noda eskrim barusan, keduanya kini sedang beradu tatapan.


Mungkin tidak ada yang tahu, atau hanya perasaan Kejora saja karena dia merasa wajah Angga semakin dekat. Pipinya bersemu merah karena bukan hanya perasaanya, tapi Angga memang mendekatkan wajahnya kearahnya. Kejora segera menutup mata, selain malu, tak munafik Kejora juga membayangkan hal lain yang seharusnya tak ia bayangkan. Jika hak itu sungguh terjadi, maka Angga akan menjadi pemilik ciuman pertama dari orang yang dia sayangi.


Melihat Kejora menutup mata, Angga sadar apa yang barusan akan dia lakukan. Dia terbelalak dan segera kembali ke posisi awalnya. "Ma...maaf.." Ungkap Angga membuat Kejora membuka matanya sedikit kecewa.


“Eemm..eghemm.." Kejora berdeham gugup dan menggaruk pipinya yang tak gatal.


"Kita bahas yang lain saja." Ujar Angga tak kalah gugup.


"Iya.. kita fokus ke misi kita saja.” Sahut Kejora mengalihkan topik seraya mengusap bekas eskrim ditangannya.


“Yah.. Aku akan segera menyelamatkanmu dan membebaskanmu dari wanita jahat itu.” Kejora hanya mengangguk pelan.


“Oh.. Begitu ternyata?”


Mereka berdua kaget ketika mendengar suara yang sangat tak asing bagi Kejora, mereka membalikkan badan dan sontak kagek karena ada Madam Den berdiri dibelakang mereka menyilangkan tangan didadanya.


“Apa maksudnya menyelamatkan dia anak muda?” Lidah Angga kelu karena apa yang dia lihat jauh dari apa yang dia harapkan.


“Kejora, masuk mobil.” Perintah Madam Den, sorot mata takut terlihat jelas dimuka Kejora, Angga melihat itu dan seketika meraih tangan Kejora, menarik dia untuk berdiri dibelakangnya.


“Ingat janjiku, aku akan melindungimu.” Bisiknya, Madam Den melihat mereka berdua dengan aura dingin penuh dengan kebencian.


“Hei! Dia anakku, kau yang tak ada hak apa-apa.”


“Anak?” Angga mencibir dan mengdengus “Menjualnya ke pria tua”


“Aku tak menjualnya anak muda!” Tegasnya


“Oh ya? Tapi mengapa aku bisa bertemu dengannya ditempat lelang?” Selidik Angga menatap kecut kearah wanita itu.


“Kejora.” Madam Den memanggil dengan intonasi tinggi.


“Takkan kubiarkan kau membawanya.”


“Memangnya kau bisa apa?” Madam Den mengangkat tangannya dan 3 orang bertubuh tegap keluar dari mobil yang terparkir dibelakangnya.


Angga sedikit berjalan mundur melihat 3 orang itu mendekat kearahnya, sepertinya dia harus babak belur malam ini.


Kejora melangkah dan kini berada didepan Angga “Mami, jangan..” Madam Den tersenyum sinis, “ini yang kau sembunyikan Ke? Aku mengurusmu, memberimu makan, lalu kau mencoba mengkhianatiku?”


Kejora menggeleng “bukan begitu, aku mengikuti rencanamu dengan taktiku. Sungguh! Aku tak ada rencana apa-apa kepadamu Mam.” Salah satu pria tegap menarik Kejora, Angga mencengkram tangan pria itu.


“Jangan kau berani menyakitinya didepanku.” Ujar Angga tegas, mereka bertiga hanya menatap seolah merendahkan Angga.

__ADS_1


“Paksa dia, bawa ke mobil.” Perintah Madam Den.


“Hei!” Angga mau melangkah menahan orang itu tapi sebuah kepalan menghantam perutnya, membuat dia membungkuk menahan nyeri seketika itu.


Kejora berteriak “Jangan..aku mohon jangan sakiti dia Mam!” Mohon Kejora sebelum dipaksa masuk kedalam mobil, “sebenarnya aku tak ingin melukainya, tapi dia begitu sok dan banyak gaya.” Ujar Madam Den meminta kedua orang suruhanya berhenti memukuli Angga, mereka melepaskan tubuh Angga kemudian terjatuh ketanah. Kejora hanya bisa menangis melihat pemandangan itu dari mobil.


“Menyelamatkan dia? Kau lemah begitu bisa apa? Ini baru dua orangku, belum lainnya, apa yang bisa kau lakukan? Sepertinya kau tak tahu siapa aku dan apa yang mampu aku lakukan untuk kutu lemah sepertimu.” Cibir Madam Den dan mendekat kearah Angga.


“Kau tak tahu aku siapa sebenarnya anak muda, bahkan aku bisa menghilangkanmu dari dunia ini dengan mudah.” Madam Den tertawa sinis menatap Angga yang merintih memegang perutnya “biarkan dia.” Madam Den berbalik dan menuju ke mobilnya.


“Akkhh..sial..sial..sial..” Rintih  Angga berusaha bangkit.


“Kejora! Dengarkan aku! Aku akan menolongmu!” Teriak Angga mencoba mengejar, dan melihat kedua mobil itu mulai meninggalkan lokasi.


*** 


PLAK!


Tamparan keras membuat Kejora terjatuh bersimpuh dilantai “anak gak tahu diri, aku selalu menuruti maumu, bahkan mengabulkan permintaanmu untuk lepas dari Baskara yang keras kepala itu.” Madam Den begitu marah, Kejora hanya bisa bersimpuh dan menangis, “kau akan menerima hukumanmu! Aku sudah tak peduli denganmu.”


Selang beberapa lama Pak Baskara masuk dengan wajah bahagianya “apa kubilang?” sombongnya, “bawa dia denganmu, tak usah kau bayar! Aku sudah tak peduli denganya.” Kejora memohon ampun seraya bersujud dikaki Madam Den. "Kau salah paham Mam, ampuni aku.." Rujuk Kejora memohon dikaki Madam Den namun diabaikan.


“Sudahhh.. Kau milikku..” Pak Bas menarik lengan Kejora.


“Mam, maafkan aku..maam...” Madam Den kembali mengabaikan Kejora, dia kembali duduk santai dikursinya.


Kejora berupaya keras melawan tarikan tangan Pak Bas. “Ikut!” Pak Bas semakin menguatkan tenaganya untuk melawan penolakan Kejora.


“Masuk!” Kejora terjatuh dikursi belakang mobil Pak Bas. “Kita akan bersenang-senang malam ini, kau tau aku sangat merindukan tubuh indahmu itu.” Jelas Pak Bas tertawa menyeringai.


***


“Kau bawa pelaccur ini kerumah? Kau sudah gila!”


“Jaga mulutmu Barra!”


“Jika dia disini, aku yang pergi!”


"Pergilah aku tak peduli, bawa juga ibumu yang sakit itu, aku juga tak yakin kau bisa hidup diluar fasilitasku." Ejek Pak Bas, Barra mendesis kesal menatap ayahnya.


“Aku hanya mengambil alat-alatku! Tak mungkin juga aku biarkan dia disini denganmu.” Barra menatap wanita yang terikat dan mulutnya terplaster lakban hitam.


“Apa yang akan kau lakukan kepadanya?” Tanyanya lagi ketika melihat ayahnya kembali membawa koper berisi senjata api, Pak Bas hanya tertawa “bukan urusanmu! Urusi saja Ibumu yang sekarat itu.” Barra mengepalkan tangannya, dia menatap penuh kebencian kearah ayahnya.


Jika saja dia tak membutuhkan uang untuk merawat ibunya yang sakit, dia pasti menolak ketika ayahnya memintanya menjadi wakil direktur di perusahaan ayahnya.


Barra mungkin anak yang nakal dan dikenal memiliki riwayat pergaulan yang buruk, tapi dia sangat menyayangi ibunya.


Melajukan kembali mobilnya, Pak Bas membawa Kejora pergi dari tempat itu, sementara Barra masih menatap mobil tersebut yang keluar dari pagar rumahnya.

__ADS_1


Dia sempat menatap mata wanita yang bersama ayahnya itu, walau dia membencinya bahkan ingin membunuhnya, tapi ada perasaan iba karena ayahnya yang psikopat itu pasti akan melakukan hal gila kepadanya.


-bersambung-


__ADS_2