
Tahun ajaran baru SMA Bhakti Mulya
Tahun ajaran baru dimulai. Hari baru, semangat baru, dan cinta yang baru. Aku memandangi wajahku di pantulan cermin kamar sebelum memutuskan untuk berangkat sekolah.
Sudah seminggu lebih aku melewatkan hari-hariku tanpa hadirnya Langit lagi. Tidak ada antar jemput. Tidak ada perlakuan manis. Tidak ada perhatian. Semua memang sudah berakhir.
Rasanya masih teringat dengan jelas di kepalaku bagaimana sikap Langit yang berubah sedrastis itu. Sekarang Langit tidak pernah mau makan bersama. Langit juga tidak mau keluar kamarnya kecuali jika ingin pergi. Pernah suatu malam Langit pulang-pulang sudah mabuk dan meracau tidak jelas.
Untungnya malam itu Om dan Tante masih lembur di kantor. Bintang pun juga tidak ada dirumah. Jadilah aku yang harus susah payah menuntun Langit menuju kamarnya. Aku masih mengingat malam memilukan itu.
"Kenapa lo nggak bisa cinta sama gue, Ra? Gue udah lakuin semuanya asal lo bisa bahagia. Gue rela lakuin apapun, Ra. Apapun." Langit semakin meracau tidak jelas.
Aku berhasil membawnya susah payah ke kamar dan membaringkannya di ranjang. Melepas sepatunya, mengganti bajunya dan juga menyelimuti Langit agar dia bia cepat tertidur.
"Kejora. Gue sayang sama lo. Gue udah nolak banyak cewek di kampus cuma demi jaga perasaan lo, Ra. Gue nggak mau nyakitin lo. Tapi balasan lo ke gue apa? Lo hancurin hati gue."
Aku semakin dihantui rasa bersalah ketika mengingat kejadian malam itu. Apalagi penyebab Langit seperti itu adalah aku. Dan itu sukses membuatku menangis lagi pagi ini.
Aku menghela nafas berat dan menyeka air mataku sendiri. Bagaimanapun caranya aku harus meluruskan kembali hubunganku dengan Langit.
Sekarang aku harus fokus belajar dulu karena tahun ini aku sudah menginjak kelas XII. Aku berharap dengan adanya banyak tugas di sekolah bisa sedikit melupakan semua pikiran-pikiranku tentang cinta. Tentang rasa sakit yang tak pernah ada ujungnya.
Setelah selesai bersiap-siap aku turun dari kamar dan berniat untuk berangkat sekolah. Rumah om Dana kelihatan sepi padahal masih jam 06.35 pagi. Mungkin om dan tante sudah berangkat ke kantor. Sampai akhirnya aku menemukan Bintang yang bersender pada mobilnya di halaman rumah.
"Lo mau berangkat naik apa?" Bintang menyapaku yang berjalan menuju gerbang tanpa peduli dengan keberadaannya.
Aku menghentikan langkahku. Kemudian membalikan badan dan menatap Bintang yang sudah berpakaian rapi lengkap dengan tas ransel yang dia gendong sebelah. Mungkin Bintang akan mengunjungi kampus barunya. Dan aku baru sadar jika kita sudah tidak bisa berangkat dan pulang sekolah bareng lagi. Meskipun itu sudah jarang Bintang lakukan kepadaku.
Aku masih belum menjawab, hingga Langit tiba-tiba datang dari arah pintu utama. Dia berjalan menuju garasi mobil sambil melewati aku dan Bintang dengan acuhnya. Aku menatap miris punggungnya dari belakang.
Dia masih membenciku.
"Lo nggak buru-buru, kan? Anterin Kejora sekolah dulu dong!" seru Bintang kepada Langit hingga cowok itu sekarang menghentikan langkahnya.
Aku menoleh kaget ke arah Bintang. Demi apapun aku tidak menyuruh Bintang berkata seperti barusan. Lebih baik aku menunggu taksi sekalipun nanti harus terlambat sampai di sekolah dari pada harus satu mobil dengan Langit, orang yang saat ini aku hindari. Mungkin dulu hal yang biasa, tapi sekarang aku merasa canggung berada di dekatnya.
"Taksi kan banyak. Nggak usah manja." Langit menjawab dengan nada acuh.
"Lo bisa nggak jadi cowok yang gantel? Kemarin Kejora lo buat nangis. Sekarang lo ngebiarin dia berangkat sendirian. Kenapa sih lo? Putus cinta nggak buat lo jadi banci kan?" celetuk Bintang yang sukses membuat emosi Langit terpancing.
"Kalo lo nggak tahu masalahnya apa, nggak usah sok ikut campur!"
Lagi-lagi aku hanya mampu menangis melihat mereka yang saling menatap tajam. Rahang Langit mengeras. Tapi dia masih bisa mengendalikan emosinya.
"Emang bener kan? Dari dulu setiap ada masalah lo bisanya cuma lari doang. Ternyata lo nggak berubah. Masih jadi seorang pengecut."
Langit sudah maju selangkah. Tangannya mengepal kuat. Namun dia tidak lepas kendali untuk menghajar Bintang langsung. Beberapa detik dia menatap Bintang nyalang, lalu dia memilih meninggalkan Bintang dan berjalan menuju mobilnya kembali.
Dia mengurungkan niatnya.
"Gue aja yang nganterin lo, Ra."
Setelah Langit pergi, Bintang menarik pergelangan tanganku menuju mobilnya.
"Masuk." Perintah Bintang setelah membuka pintu mobil.
"Gue bisa naik taksi kok, Bint."
"Lo mau telat? Gue bilang masuk sekarang."
Akhirnya aku yang mengalah dan menuruti kemauan Bintang karena berdebat hanya akan menambah Bintang semakin jengkel padaku.
***
Setibanya di sekolah aku berpapasan dengan Keisha di gerbang. Begitu Bintang melajukan mobilnya kembali aku memutuskan untuk berjalan memasuki halaman sekolah bersama Keisha. Tidak ada ucapan hati-hati atau ucapan lainnya yang keluar dari mulut Bintang. Mungkin aku yang terlalu banyak berekspetasi.
"Ra," tegur Keisha seraya menyenggol lenganku.
"Hm?"
"Sebenarnya hubungan lo sama Bintang tuh gimana sih sekarang?"
Hubungan aku sama Bintang? Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaan yang jawabannya sendiri sendang ku pertanyakan dalam hati. Entah sekarang bagaimana perasaanku padanya. Apakah masih sama seperti dulu atau mungkin akan pudar seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
"Gue, Bintang dan Langit. Kita udah menjalani hidup masing-masing, Kei. Dan gue mau kehidupan tenang kayak dulu lagi. Tanpa hadirnya mereka."
"Tunggu dulu deh. Lo sama Langit masih pacaran kan?" tanya Keisha kebingungan.
Aku menghela nafas panjang. Menceritakan artinya siap untuk mengingat kembali kejadian yang menyakitkan itu.
"Saat acara promnight kemarin Langit marah sama gue. Lo inget dulu pernah bilang ke gue, jika kita tidak bisa menceritakan isi hati kita ke orang lain, lo nyuruh gue buat ungkapin semuanya dalam bentuk tulisan. Inget gak?"
"Terus? Apa hubungannya?"
"Gue coba saran lo itu. Dan kertas yang berisi curahan hati gue yang sebenarnya itu dibaca sama Langit. Intinya dia tahu kalau selama ini gue suka sama Bintang, bukan sama dia. Dia kecewa sama gue. Dia berpikir selama ini gue udah bohongin dia dan menganggap dia cuma pelarian doang. Padahal kenyataannya nggak gitu, Kei. Gue udah coba buat cinta sama dia tapi emang nggak bisa." panjangku menceritakan.
Air mataku tak terbendung lagi. Memang kenyataannya masih teramat sakit melihat Langit yang sekarang. Langit yang tidak lagi aku kenal seperti dulu. Langit yang sekarang justru suka emosional dan berkata kasar. Aku baru sadar jika sakit hati bisa mengubah sifat pribadi seseorang.
"Lo yang sabar ya, Ra. Pasti di balik masalah lo saat ini akan ada kebahagiaan yang di rencanakan sama Tuhan nantinya. Lo jangan nangis lagi dong," hibur Keisha menenangkan.
Aku merangkul tubuh Keisha untuk meredam tangisku. Rasanya terlalu berat jika menghadapinya sendirian.
"Gue pengen memperbaiki hubungan gue sama Langit biar nggak kayak sekarang. Tapi gimana? Langit udah terlanjur benci sama gue, Kei."
Keisha melerai pelukanku. "Gue bakal bantuin lo, Ra. Dengan senang hati. Sekarang lo nggak usah nangis lagi ya. Pasti ada caranya bikin Langit balik lagi kayak dulu."
Aku tersenyum. Sedikit lega karena Keisha sudah sangat baik kepadaku.
"Gimana kalo hari ini kita nonton? Gue punya dua tiket bioskop. Dan gue jamin lo bakalan bisa sedikit melupakan masalah lo itu," lanjut Keisha seraya menghapus air mataku.
"Kei, gue males." jawabku lesu.
"Ayolah, Ra. Mau ya, ya, ya?" Keisha masih ngotot memohon.
Karena malas untuk meladeni drama yang dia buat semelas mungkin itu akhirnya aku mengangguk menyetujui ajakanya. Lagian kalau di rumah aku juga bingung mau ngapain.
***
Tak butuh waktu lama, kini mobil milik Keisha sudah terparkir di sebuah mall kota. Hari ini kegiatan belajar megajar memang belum efektif, karena itu kami bisa pulang lebih cepat dari sebelumnya.
Keisha menarik tanganku menuju pintu masuk mall tersebut. Setelah menaiki dua eskalator, dia mengajakku menuju sebuah penjual es krim. Aku hanya mengikuti setiap kemauannya dengan langkah malas-malasan.
"Coklat aja deh."
"Oke, bentar yah."
Aku menunggu Keisha di salah satu meja yang letaknya di luar toko es krim tersebut sambil memainkan ponselku. Melihat-lihat room chat yang sekarang menjadi sepi semenjak aku putus dari Langit.
"Yah, Ra! Tiketnya ketinggalan di mobil. Lo yang ambil ya, biar gue yang nunggu antrian es krimnya."
Tiba-tiba Keisha muncul dengan wajah paniknya. Aku memutar bola mataku malas, membayangkan berjalan lagi menuju parkiran mobil yang letaknya berada di lantai paling dasar. Dengan malas aku bangkit dari dudukku.
"Ck. Ya udah sini kunci mobilnya. Emang kebiasaan lo tukang pikunan," ucapku dengan kesal.
"Hihi. Makasih Kejora Permata yang cantik."
"Giliran ada maunya aja lo muji gue."
Keisha hanya nyengir menanggapi perkataanku. Dengan langkah yang ogah-ogahan aku berjalan menuju parkiran mobil.
Tapi setibanya di parkiran, aku melihat seorang laki-laki yang sangat aku kenali. Aku maju selangkah ingin menghampirinya, tapi niatku aku urungkan kembali karena mengingat hubunganku dengannya masih kurang baik akhir-akhir ini. Yang sedang aku pikirkan, ngapain Langit berada di tempat ini juga?
Aku masih mengamati gerak-geriknya dari tempatku yang tak jauh darinya. Sepertinya Langit sedang menuggu seseorang karena sedari tadi dia terus saja clingukan dan sesekali melihat arlojinya.
Dan benar dugaanku barusan. Seorang laki-laki berperawakan jangkung menghampiri Langit dan menyerahkan sesuatu padanya. Mereka sedang sibuk membicarakan entah apa. Aku tidak bisa mendengar obrolan mereka. Sampai aku merasakan seseorang menepuk bahuku yanh membuat jantungku rasanya ingin meloncat.
"Ngapain lo berdiri kayak patung disini? Nggak tau es krim gue leleh gara-gara nungguin lo."
Setelah mengetahui orang yang datang itu Keisha aku menghembuskan nafas lega.
"Kenapa sih, Ra? Lo liat gue kayak liat setan aja. Dan lo ngapain lama banget ambil tiket doang?" Suara yang mirip toa itu membuatku spontan membungkam mulut Keisha.
Keisha memberontak ingin protes karena ulahku. Namun aku langsung mengarahkan kepala Keisha ke arah dimana Langit berada sekarang. Keisha membulatkan matanya. Seperti kaget juga melihat Langit berada di sini.
"Anjir. Itu beneran mantan lo? Ngapain dia disini?" tanya Keisha setelah aku melepaskan bungkaman tanganku.
"Gue juga nggak tau. Gue aja kaget."
__ADS_1
Keisha mengikuti tatapan mataku yang tertuju pada Langit kembali. Sepertinya teman Langit tadi sudah pergi. Yang aku lihat sekarang hanya Langit yang masih memainkan ponsel sambil bersandar pada mobilnya.
"Samperin, yuk." Keisha menarik tanganku. Dia mengajakku untuk menghampiri Langit. Tentu saja aku menolak ajakan barusan.
"Kei! Gila ya lo. Gue nggak mau. Langit masih benci banget sama gue." Aku memberontak.
Namun tarikan Keisha lebih kuat dari yang aku duga. Sudah terlambat rasanya untuk menghindar karena sekarang Langit sudah melihat kedatanganku dan Keisha.
"Hai, Langit. Kebetulan banget ya ketemu disini. Lagi ngapain?" Dengan kepercayaan diri yang tinggi Keisha menyapa Langit dengan ramah.
Langit hanya tersenyum sekilas menanggapi Keisha. Ketika tatapannya beralih kepadaku, aku hanya berani menunduk.
"Boleh gue pinjem temen lo?"
Pertanyaan itu sukses membuatku mendongak. Terkejut.
"Hah? Kejora maksud lo?" Keisha masih bertanya bloon.
"Boleh lah. Boleh banget malah. Nih, ambil aja." Lanjut Keisha seraya mendorongku agar lebih dekat dengan Langit.
Bukan cuma itu saja, Keisha juga merampas kunci mobil yang tadi aku bawa, kemudian dia mengambil dua tiket bioskop dan saat kembali langsung menyerahkannya kepada Langit.
"Gue ada tiket nganggur dua nih. Lo sama Kejora aja yang nonton. Gue mau pulang, tadi nyokap nelfon suruh jagain toko."
Dan aku yakin itu hanya akal-akalan Keisha saja. Aku juga heran kenapa Langit mau saja menerima tiket itu. Artinya dia mau nonton berdua denganku kan?
"Lo mau baikan sama Langit kan? Jangan sia-siain kesempatan ini. Gue udah relain tiket film kesayangan gue asal lo tau." Keisha berbisik lirih. Dan setelah itu dia meninggalkan aku dan Langit di parkiran.
Kepergian Keisha membuat kecanggungan ku kembali muncul. Aku tidak tahu harus bicara apa dan bersikap bagaimana. Aku menunggu Langit bersuara. Tapi sepertinya Langit juga menungguku.
"Maaf, Ra."
Suara Langit yang terdengar lembut justru membuatku terkejut. Bagaimana bisa dia yang meminta maaf? Bukankah akar masalahnya adalah aku?
"Harusnya gue nggak nyalahin lo. Perasaan emang nggak bisa paksa. Gue nggak seharusnya bikin lo ketakutan." sesal Langit.
Entah apa yang membuat Langit berubah pikiran begitu cepat dan mengatakan hal barusan. Padahal tadi pagi dia masih sangat acuh terhadapku. Sekarang tatapannya sudah biasa. Tidak menyeramkan seperti kemarinn.
"Gue yang harusnya minta maaf, Lang. Maaf karena hati gue nggak bisa mencintai lo. Tapi gue nggak pernah buat lo sebagai pelarian gue." Aku meyakinkan Langit kembali dengan suara bergetar.
Langit tersenyum singkat. Lalu beberapa detik kemudian wajahnya kembali serius.
"Besok pagi gue mau ke London, Ra. Jadi sebelum gue pergi, gue mau semuanya clear. Gue mau ngejar cita-cita gue disana. Lo masih inget kan, dulu gue pernah nunjukin dua foto hasil jepretan gue pas di kamar lo? Gue terpilih sebagai pemenang fotografi itu."
Aku membungkam mulutku. Sedikit tak percaya mendengar ucapan Langit belum lama tadi. Antara rasa senang dan juga sedih menjadi satu. Aku ikut senang karena akhirnya dia bisa mewujudkan impiannya, tapi aku juga sedih karena pada akhirnya dia akan meninggalkanku.
"Selamat ya, Lang. Gue ikut seneng dengernya. Tapi kenapa secepat itu? Besok? Nggak bisa di tunda lagi sampai lusa?" tanyaku berharap.
Langit menggeleng. "Lebih cepet lebih baik, Ra. Tadi gue juga udah minta bantuan sama temen gue buat urus tiketnya. Dan kebetulan bisa ketemu lo disini. Gue takut besok nggak sempet ketemu lo dan minta maaf."
Aku mengangguk pasrah. Kenapa tiba-tiba dadaku teramat sesak. Ini begitu sangat mendadak. Setelah aku dan Langit baru saja memperbaiki hubungan kita, kenapa harus secepat ini juga dia pergi meninggalkanku.
Langit menangkup ke dua pipiku yang sudah basah karena air mata.
"Makasih ya, Ra. Lo udah buat gue menjadi sedewasa ini. Makasih lo udah memberi warna di hidup gue. Lo masih menjadi cewek yang berarti di hidup gue sampai detik ini, Ra."
Aku memeluk Langit tanpa meminta izin terlebih dulu. Kalimat yang diucapkan Langit hanya membuat rasa bersalahku semakin menumpuk. Apakah rasa sakit ini yang bisa aku berikan untuk Langit?
Langit melerai pelukanku. Dia masih memaksakan senyumnya untukku.
"Udahan ya melownya. Gue cuma mau ada tawa di sisa waktu yang masih gue punya. Jadi sebelum gue pergi besok, lo mau kan tertawa bareng gue?"
***
**Abis nonjok kaca kemarinš¤£š¤£
Jangan lupa ramein vote dan komentarnya yaa seyengā¤
Follow IG aku juga : ciciitdha
Aku buat trailer Bintanh kejora di sana**
__ADS_1