
“Jika kau tak mau patuh kepadaku, akan kuhancurkan keluargamu, apalagi anak perempuanmu itu. Kau mau video panasmu itu tersebar diinternet? Seorang pemilik PT Wijaya Farma bersenang-senang dengan gadis seumuran anaknya?” Jelas Madam Den dengan wajah serius membuat pria didepannya mengepalkan tangannya merutuki dirinya yang begitu mudahnya terkena jebakan dari manusia licik itu.
“Tapi kenapa harus popiv? Itu merusak generasi kami.” Madam Den tertawa sinis “cih.. Apa peduliku? Generasi bodoh tak pantas dipedulikan.” Ejeknya, “mereka adalah ladang uang, generasi bodoh dan manja itu akan sangat mudah membuat orang tuanya yang kaya itu mengeluarkan hartanya untuk menyelamatkan anaknya.” Lanjutnya dengan santai.
“Besok Baskara akan mengurus masuknya opiumZ lewat pelabuhan di Surabaya, kau sediakan tenagamu untuk mengolahnya menjadi popiv di gudang milik Baskara.” Pak Wisnu hanya bisa mendengus menghadapi kenyataan dia tak bisa menolak keikutsertaannya.
“Popiv sangat berbahaya!” Ujarnya dan hanya ditanggapi oleh Madam Den dengan cuek “karena itu kumanfaatkan mereka yang sudah masuk fase kecanduan untuk membeli obatku yang mahal.” jelasnya membuat Pak Wisnu mengerutkan dahinya, “kau menggunakanku sebagai tameng untuk menyebar popiv!” Marahnya menduga rencana busuk Madam Den “karena itu bekerjalah dengan baik dan hati-hati.” Jelasnya tersenyum bak dewi berhati lembut tapi Pak Wisnu tak terima hal itu,
“aku tak mau! Sebarkan saja video itu, aku tak peduli.” Ujarnya penuh emosi, “baiklah.... jika kau bersikeras.” Ujar Madam Den melempar sebuah foto dan membuat Pak Wisnu mendelik “jangan kau sentuh putriku!” Pak Wisnu melihat foto putrinya yang duduk bersama dengan Madam Den sembari mengobrol.
Madam Den hanya mengangkat bahunya “dia yang datang padaku diclub ku, bertanya soal vitamin agar bisa membantunya melupakan masalah keluarganya. Kenapa ya? Anak orang kaya selalu memiliki masalah yang sama dengan orangtuanya.” Sindir Madam Den, “untung saja aku menolak, karena sepertinya dia masih peduli kepada ayahnya yang keras kepala ini.”
Pak Wisnu menggebrak meja “kau dasar wanita licik!” tapi hanya ditertawai oleh Madam Den. “Menurutlah saja padaku, agar kau dan keluargamu selamat.” Ujar Madam Den dengan nada santai seraya memainkan ujung kukunya, mengabaikan ekspresi Pak Wisnu yang sudah terbakar amarah.
“Persetan denganmu! Kau pun pada akhirnya hanya akan menjadikanku tumbal! Jangan pikir aku tak tahu!” Terlihat urat leher begitu nyata di leher Pak Wisnu, begitu marahnya dia kepada Madam Den.
“Lalu?” Madan Den menaikkan sebelah alisnya “apa itu bisa mengubah keputusanku? TIDAK!” Ujarnya tegas “lakukan sesuai rencanaku atau aku bisa dengan mudah menghancurkanmu bagaikan lalat buah ini.” Ujarnya memperlihatkan lalat buah yang mati dinampan buah dihadapan mereka, Pak Wisnu mendengus kesal, ia meninggalkan ruangan pertemuan tersebut, menutup pintu dengan kuat sampai mengeluarkan suara hantaman keras.
“Tetap awasi dia” ujar Madan Den keorang suruhannya. "Sampai dia menyetujui bergabung, selalu awasi dia dan anak perempuannya itu." Lanjut Madam Den meraih gelas anggur dan menuangkan sedikit cairan berwarna merah gelap tersebut ke gelasnya. "Baik, Nyonya." Pesuruh Madam Den membungkuk mematuhi perintah atasannya tersebut.
Didalam mobil, Pak Wisnu masih dipengaruhi oleh kemarahannya. "Wanita gila! Wanita sinting!" Kesalnya seraya melonggarkan balutan dasi yang melingkar dikerah kemejanya.
“Jika itu cara mainmu, lihat saja! Aku akan mengikuti rencanamu, tapi jangan kira aku akan bodoh membiarkan diriku menjadi tumbal, aku hancur kaupun hancur dasar wanita sialan.” Ujarnya mencoba mengatur emosinya, dadanya masih terlihat naik turun karena rasa kesal dan marah barusan.
***
Kejora sedang menikmati udara pagi di balkon kecil depan kamarnya, dia melihat ponselnya berbunyi penanda ada pesan yang masuk
Mau sarapan bareng?
Pesan singkat dari siapa lagi kalau bukan dari Angga, dia berdecak kecil. Ingin rasanya menolak ajakannya tapi separuh dirinya juga ingin bertemu Angga, dia menghela napas berat lalu mengetik balasan singkat menggunakan sebuah stiker animasi beruang putih yang membulatkan tangannya dengan tulisan OK diatasnya.
Beberapa saat kemudian, dia melihat sosok tinggi berjalan dari ujung gang kearah rumahnya, rumah Kejora masuk kedalam gang dan jika dari balkon lantai dua kamarnya dia bisa melihat ujung gang dengan jelas, karena posisi rumahnya yang menghadap utara, maka dia bisa melihat dengan jelas matahari terbit dan tenggelam dari balkon itu.
Dia terpaku ketika melihat sosok pemuda yang entah mengapa begitu mempesona ketika berjalan, rambut lurusnya yang pendek dengan poni terbelah pinggir tersebut bergerak mengikuti arah angin, baju kasual yang dipakainya hanya kaos semi abu-abu dan celana hitam, tapi tetap memberikan kesan baik karena postur tubuh tingginya dan warna kulitnya yang sawo matang.
__ADS_1
Tak dipungkiri, Kejora terpesona hanya dengan melihat gaya minimalis Angga, mungkin bukan karena gayanya tapi karena siapa orangnya, karena walau berpakaian maksimal jika dia bukan Angga, mungkin saat ini, Kejora tak akan tersenyum sendirian seraya menatap pemuda yang melangkahkan kakinya menyusuri gang rumahnya.
Kejora masih tersenyum ketika melihat pria itu berada tepat dibawahnya, dia tak sadar jika sedari tadi Kejora mengamatinya. Angga nampak fokus dengan layar ponselnya, mungkin sedang mencoba menelpon dirinya, pikir Kejora. Benar saja, selang beberapa menit ponsel ditangan Kejora berbunyi.
“Lihat keatas.” Angga menengadah dan tersenyum menunjukkan deretan gigi putih nan rapi seraya melambaikan tangannya. “Hai..Ayo turun.” Kejora mengangguk “kita mau kemana? Apakah hanya sekedar sarapan?" Tanya Kejora masih lewat telpon walau saat ini mereka saling tatap. "Berpakaianlah senyaman mungkin, kalau kau tak keberatan, aku ingin mengajakmu pergi."
"Kemana?"
"Kuceritakan nanti."
" Oke, tunggu sebentar ya.” sahutnya meninggalkan balkin dan menutup pintu.
“Aku mau mengajakmu menonton pentas seni di gedung sastra budaya dekat balai kota.” Jelas Angga seraya menikmati kudapan sederhana di warung nasi kuning langganannya, “tapi aku pulang dulu untuk ganti baju dan mengambil peralatan, lagipula, acaranya masih nanti jam 10 pagi.” Terang Angga.
“Hmm.. Kerumahmu?” Angga mengangguk, "tak apa-apakah aku datang kerumahmu?" Angga kembali mengangguk, “aku tinggal bersama kedua temanku, yang satunya kau sudah kenal, dia Dimas dan yang satunya Satya yang pernah aku ceritakan.” Kejora membulatkan bibirnya, “sepertinya, temanmu Dimas itu, dia tidak menyukaiku. Aku pernah bertemu dia di club ketika anak Pak Bas menggangguku. Yah aku berterima kasih karena dia menolongku.” Angga berhenti mengunyah untuk menyimak cerita Kejora.
"Dia menolongmu?"
"Hemm, karena dirimu dia mau menolongku. Setelah itu dia berkata jika dia mengetahui kau menyukaiku tapi dia tak menyukai hak itu." Angga menggeleng, "Dimas menolongmu bukan karena aku, dia hanya malu mengakuinya, bahkan ketika dia melihat musuhnya terluka pun, dia tetap akan menolongnya." Kejora hanya berdeham seraya menganggukkan kepalanya pelan.
Angga terdiam dan menghentikan suapannya, dia menatap Kejora. “Jangan pikirkan apa yang dikatakan Dimas, dia hanya bertingkah selayaknya dirinya. Tapi, sebelum ini apa Barra sering mengganggumu?”
Kejora menatap Angga kaget “yah, ayahku dan ayahnya teman kuliah dan juga teman bisnis sebelumnya, namun terjadi cekcok dan hal itu membuat mereka jadi rival sampai sekarang.” Angga terdiam sejenak “jangan sebut nama pria tua itu jika bersamaku, hatiku rasanya tak enak.” Ungkap Angga membuat Kejora hanya diam menatapnya “tapi kita akan selalu menyebutnya karena dia berhubungan dengan Mami.”
Angga meletakkan sendoknya, meneguk minumannya dan mendesah kasar. “Kau benar, tapi...tetap saja rasanya...." Angga mencoba mengutarakan maksud hatinya namun sulit menemukan kalimat yang pas. "Rasanya tak nyaman.” Hanya itu yang berhasil keluar setelah Angga terdiam mencoba mencari kalimat yang pas.
Angga memberikan tatapan sendu kearah Kejora. Dia merasa beruntung karena mendapatkan cinta dari sosok Angga, ada ketulusan terpancar di matanya, dia bisa menerima keadaan dirinya yang mungkin dimata orang lain dipandang sebagai wanita rendahan. Tapi tidak bagi Angga, dia melihat Kejora lewat sudut pandang lain yang membuatnya bisa menemukan sisi indah dari Kejora yang membuatnya jatuh cinta, tapi sayang cinta yang dirasakan Angga untuk pertama kalinya harus berjalan tidak sesuai harapannya.
***
“Hari ini cuacanya bagus banget ya.” Satya menghirup dalam-dalam udara pagi, lokasi tambak yang menjadi tempat jogging yang pas ketika pagi hari, udara yang masih segar dan orang-orang yang tak begitu ramai.
Lokasi tersebut jika pagi hari menjadi tempat jogging yang pas dan juga menjadi tempat santai ketika sore hari, jika ingin berjalan santai bersama peliharaan, atau jika dilihat disudut tambak terdapat beberapa pengunjung dengan alat pancingnya menjadikan tempat tersebut spot memancing karena tambak tersebut memang terdapat beberapa ikan yang sengaja dibudidayakan oleh pemerintah setempat.
“Tumben banget kamu ngajak jogging pagi-pagi begini, jam setengah 6 loh?” Heran Mila menatap Satya yang masih merentangkan tangannya seraya menikmati udara pagi. Satya menoleh sedikit menatap Mila yang bersedekap kearahnya, “aku kan ingin sehat bersamamu.” Ujarnya lalu mengedipkan sebelah matanya, Mila menyengir aneh melihatnya sebab hal itu sangat tak biasa untuk dilihat.
“Jujur deh, kamu kenapa?” Satya terdiam dan Mila hanya mengamati kesunyian lelaki itu “aku tak bisa tidur.” Ujarnya setelah lama diam dan mengamati ikan-ikan kecil yang berenang di tepi tambak.
Mila mendekat dan berdiri tepat disebelah Satya kemudian mengusap dan sedikit memberikan pijatan dibahunya, “ada apa?” tanya Mila lembut.
__ADS_1
Satya hanya mengangkat bahu dan memandang perempuan yang kini sangat dekat didepannya “jika aku pergi, apa aku tetap ada jaminan memilikimu sampai akhir?” Tanya Satya tiba-tiba membuat Mila menatap aneh kepadanya “kamu ngomong apa sih Sat? Jangan ngada-ngada deh.”
Satya tersenyum simpul. “Aku tak melabeli hubungan kita, Mas Dimas kerap membuatku takut jika kemungkinan kau lelah dengan hubungan ini, apalagi...” Satya berhenti menjelaskan, hanya menatap datar kearah Mila yang masih menampakkan ekspresi aneh kearah Satya.
Satya menggerakkan tangannya meraih tangan Mila “aku mendapat penawaran untuk pelatihan di perusahaan game dibawah naungan perancang game terkenal. Mereka melihat sample game yang aku rancang waktu itu. Mereka tertarik untuk proyek itu, kemudian mengajakku untuk kerjasama, dan itu..." Satya menghirup nafas panjang.
"Di Jepang.” Lanjut Satya sempat kikuk untuk menjelaskan maksudnya mengajak Mila pagi-pagi untuk jogging di tambak dekat komplek kampusnya.
Mila hanya diam mendengar penjelasan Satya, dia mengalihkan pandangannya ke penjuru air tambak yang tampak berkilau karena memancarkan cahaya matahari yang mulai terbit. Satya menggigit bibirnya melihat Mila hanya diam. “Kapan?” Tanya Mila sesaat kemudian, “eemm.. aku masih harus banyak menyiapkan hal disini dan menyelesaikan program beta dari gameku, jadi perkiraan 3 bulan lagi.”
Mila hanya menghela nafas pelan “kamu masih bisa hadir diwisudaku kan?” Satya mengangguk dan memberikan senyum untuk menenangkan hati Mila. Mereka memang terlihat seperti tak pacaran tapi, mereka sudah berjalan cukup lama dengan hubungan itu.
Satya yang memiliki kecerdasan yang berbeda dengan anak lainnya bisa melewati program akselerasi ketika dia SMP dan SMA. Dan masuk ke sebuah kampus yang sama, ketika ospek dan disanalah Satya mulai menaruh pandangannya kepada Mila, seorang gadis yang memiliki senyum cantik dengan deretan gigi yang imut seperi kelinci.
Karena itu Satya dan Mila terpaut usia 2 tahun dan saat ini Satya sudah lulus dari strata 1 dengan tempo waktu 5 semester saja. Satya bukan dari golongan orang mampu seperti kedua temannya, dia hanya anak dari seorang petani dan harus bekerja sambil kuliah untuk membiayai sekolah kedua adiknya dan dirinya.
Karena itu hanya beasiswa dan kecerdasannya yang membuat dia mampu melewati semua itu. Dia ingin segera lulus cepat agar bisa segera bekerja dan membantu orang tuanya yang sudah tua itu.
“Mas Angga membiayai programku dan tempat tinggalku disana, aku gak tahu bisa membalasnya dengan apa, ketika aku menolaknya dia selalu berkata jika itu adalah balasan untuk tugas yang selama ini dia berikan padaku, padahal aku melakukannya sukarela karena bagaimanapun mereka sudah banyak membantu dalam hidupku.” Ujar Satya kemudian memecah sunyi yang menyelimuti mereka, Mila hanya merespon dengan anggukan kecil.
“Kau tau? Kemarin mas Angga dan Mas Dimas berkelahi.” “hemm..bukannya udah biasa?” Tanya Mila heran, Satya menggeleng “Gak Mil, kau tau? Mas Angga nonjok wajah Mas Dimas loh!”
Mila kaget mendengarnya “sampai seperti itu? Karena apa?” “Kurasa Mas Angga menyukai wanita malam yang membantu misinya, dan Mas Dimas gak suka hal itu.”
“Angga suka dengan seorang wanita malam, maksudmu..” Satya mengangguk “yup, wanita penghibur, dia seusia kalian.” Jelasnya singkat, “seusiaku!” Kaget Mila dan Satya kembali mengangguk “aku tak tahu sih cerita lengkapnya, aku hanya menuruti apa yang diminta Mas Angga, tapi sepertinya misi dia kali ini sangat berbahaya, sebab...Berhubungan dengan beberapa petinggi dan pengusaha besar, jaringan prostitusi bahkan ada kemungkinan ada kaitannya dengan obat terlarang.”
Mila terperajat dan menatap Satya kaget “kamu ikut andil?” Satya menggeleng “Mas Angga gak ngijinin. Karena ini diluar kuasanya, jadi ada kemungkinan dia tak bisa melindungi kami. Jadi hanya dia yang bergerak di lokasi, aku hanya membantunya jika dia butuh informasi seperti biasanya... Aku hanya bisa menurut, selama itu masih dizona aman untuk dia, jika terjadi sesuatu yang buruk akupun tak bisa menolongnya. Kau tahu aku hanya kuat diotak, ototku lemah..” Keluh Satya seraya merengut dan mendapat sentilan kecil diujung bibirnya.
“Kok disentil sih? Dicium doong” “yakin mau?” Tantang Mila tapi Satya hanya mendelik kaget merapatkan kedua bibirnya.
“Enggg, nanti deh, kamu belum hallal..” Mila terkekeh mendengarnya. Mila menyandarkan kepalanya dipundak Satya.
“Sejauh apapun kau pergi, aku dan kamu masih di bumi yang sama, melihat langit yang sama dan menghirup udara yang sama. Tapi jangan lama-lama aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.” Suara Mila mulai parau dan sedikit mengaggetkan Satya.
“Hey, kamu nangis?”
“gak yooooooo... Aku gak cengeng kaya kamu.” Manyun Mila, Satya mencubit gemas pipi Mila. “Pulang yuk, tapi makan dulu ya di lontong sayur Mbak Yani.” Mila memutar kedua bola matanya “jadi percuma banget lari pagi, dasar kamu ini otak makanan. Makanya aku heran kamu ngajak joging pagi-pagi sekali.”
Satya merangkul tubuh kecil Mila dan sedikit mengangkatnya. “yuuuuk lah... aku udah lapar.” Mila hanya menghela nafas “baru juga satu putaran.” Cibirnya seraya menggeleng-geleng kepalanya, Satya hanya nyengir kearahnya.
__ADS_1
-bersambung-