Bintang Kejora

Bintang Kejora
Perpisahan Termanis


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Aku sengaja izin untuk tidak mengikuti jam pertama pelajaran karena ingin mengantarkan Langit ke bandara. Ya, di sinilah aku sekarang, bersama om Dana, tante Marisa dan juga Bintang. Keputusan Langit untuk pergi hari ini memang sudah bulat. Bahkan ketika om Dana memintanya untuk tinggal beberapa hari lagi di rumah terus saja di tolak olehnya.


"Jaga diri kamu di sana ya. Jangan lupa kasih kabar setelah sampai," ucap om Dana seraya memeluk anak pertamanya dengan sayang.


"Pasti, pa. Papa jangan khawatir." Langit meyakinkan.


"Anak mama yang satu ini emang udah dewasa. Semoga impian kamu bisa tercapai disana. Mama pasti akan merindukanmu," timbal tante Marisa serta merangkul Langit. Mencium kedua pipi putra pertamanya.


"Mama jaga diri baik-baik ya. Langit akan sering-sering telfon mama disana."


Langit melepas pelukan tante Marisa. Sekarang dia menatap Bintang yang berdiri tak jauh dari tempatku.


"Lo nggak pengen meluk kakak lo yang mau pergi jauh ini, hah?" Sindir Langit yang melihat Bintang hanya diam seperti biasanya.


Mendapat sindiran itu Bintang memilih untuk berjalan menghampiri. Mereka lalu saling berpelukan. Saling menepuk punggung masing-masing.


Aku tersenyum haru melihat mereka berdua bisa akur kembali. Meskipun Langit tahu aku menyukai Bintang, tapi dia tidak memperpanjang masalah. Dia tidak membenci Bintang hingga berlarut-larut, apalagi sampai dendam. Langit sepertinya sudah merelakan perasaanya. Entahlah. Aku bisa menebak itu dari tatapan matanya yang sudah berbeda. Tidak menyeramkan seperti saat itu.


Aku juga tidak tahu sejak kapan mereka bisa mendadak akur begini. Apakah Langit yang memulai perdamaian? Atau malah justru Bintang?


"Pesan gue, ikutin apa kata hati lo. Jangan takut merjuangin sesuatu. Laki-laki harus berani ambil keputusan," ucap Langit seraya melepas pelukan Bintang.


Bintang hanya terdiam tanpa ekspresi, namun detik berikutnya dia mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. Mungkin setelah kepergian Langit semua akan kembali normal. Langit yang sudah memutuskan untuk tinggal di London, dan Bintang yang memulai hidup baru di lingkungan kuliahnya. Sedangkan aku, aku akan menjalani aktivitasku seperti dulu. Tanpa hadirnya siapapun dalam hidupku.


Kini Langit berhenti di hadapanku. Menatapku dengan lekat. Tatapan macam apa ini? Kenapa aku tidak bisa membaca sesuatu dibalik tatapannya?


"Jaga diri baik-baik, Ra. Makasih atas segala kenangan indah kita selama ini. Gue cuma mau bilang, semoga kelak lo dapetin orang yang sayang sama lo lebih dari gue."


Kalimat perpisahan itu membuat air mata yang aku tahan jatuh juga. Aku masih mengingat memori bagaimana pertama kali aku bertemu Langit saat itu. Laki-laki ceria yang penuh dengan kejutan. Yang tidak pernah kehabisan akal untuk membuatku tertawa.


"Lo juga harus jaga diri disana. Gue yakin lo bisa dapetin cewek yang lebih dari gue. Gue, gue boleh meluk lo nggak?"


Langit tersenyum, lalu ia memelukku dengan eratnya. Entah kapan waktu akan mempertemukan kita lagi. Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, aku merasa sangat kehilangan sosok kakak laki-laki di hidupku.


"Gue pasti bakal dapetin cewek bule di sana."


Tangisku seketika berubah menjadi tawa. Langit sepertinya juga ikut tertawa dengan perkataannya barusan.

__ADS_1


"Cewek bule tipenya bukan kayak lo." cibirku.


"Cowok romantis kayak gue nggak ada yang mau nolak, kecuali lo." balasnya.


Aku berdehem sebentar untuk menetralkan hatiku lagi. Apa maksudnya itu tadi?


Langit tersenyum sambil mengacak rambutku pelan. "Bercanda doang kok."


Senyum itu menular padaku. Akhirnya lengkungan itu terukir kembali di bibirnya, meskipun tidak tulus seperti dulu. Aku yakin semua hanya masalah waktu. Langit orang yang baik. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik juga. Di tempat baru nanti tentunya.


Tepat di jam 07.00 pesawat Langit diberangkatkan. Aku masih tak habis pikir dia akan pergi. Langit telah mengajarkanku banyak hal. Dari dia lah aku bisa belajar, seharusnya kita mengikuti apa kata hati kita. Kita harus berani mengambil keputusan dan menerima segala resiko yang akan terjadi. Berani memperjuangkan sesuatu yang kita inginkan.


Terkadang, Tuhan memang sengaja menghadirkan seseorang di hidup kita sekedar untuk saling mengenal dan berbagi pengalaman hidup. Rasa nyaman tidak bisa menjamin seseorang itu bisa tetap ada untuk menemani kita.


Memang takdir tidak bisa di pungkiri. Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Kata-kata itu memang nyata ada. Dan aku tak pernah berpikir perpisahan ku dengan Langit bisa secepat ini. Aku tidak akan pernah melupakan kenangan bersamanya saat itu, dimana raga kita pernah bersama namun hatiku tak pernah ada untuknya. Meski tak pernah ada rasa suka, tapi aku selalu menghargai bagaimana caranya untuk berusaha membuatku tertawa.


Makasih atas semua kebaikanmu selama ini. Batinku saat melihat pesawat yang Langit naiki perlahan menjauh.


***


"Tumben kalian istirahat bareng?" serobotku yang ikut duduk di meja mereka.


"Eh Ra! Gue tadi nyariin lo. Gak taunya lo izin nganterin kakaknya Bintang ke bandara." jawab Natalie.


"Ada apa lo nyariin gue, Nat?"


"Jadi gini, gue mau ngajak lo ngerayain ultah Adira di salah satu villa di Bandung. Lo ikut ya?" ucap Natalie sambil membenarkan posisi duduknya menghadapku.


"Ultah Adira? Kapan?"


"Besok lusa kita berangkat. Pas banget kita bisa libur dua hari karna tanggal merah. Jadi kita bisa nginep." Natalie kelihatan begitu antusias.


"Bertiga doang?" tanyaku lagi.


"Ya enggak lah. Beval, Abel, Bintang juga ikutan kok."


Pikiranku kembali melayang memikirkan ajakan Natalie. Kalau mau nolak, tapi ini ulang tahun Adira. Orang yang udah berjasa banget saat aku lagi butuh bantuan. Tapi di sisi lain, Bintang juga ikut dalam acara itu. Rasanya aku belum siap jika harus terlibat dengan Bintang lagi.

__ADS_1


"Udah ikut aja, Ra. Gue sih tadi mau aja di ajak, cuma lo tahu sendiri toko gue gak ada yang jagain." sahut Keisha yang melihatku melamun.


"Iya ikut aja yuk, Ra. Pasti bakalan tambah seru kalo rame-rame." bujuk Natalie lagi.


Aku menghela nafas pasrah. Semoga acara besok lusa tidak akan terjadi hal-hal yang di luar dugaanku lagi. Seperti acara promnight tempo hari. Perlu di garis bawahi lagi kalau Bintang orang yang tidak bisa di tebak maunya apa.


"Ya udah gue ikut." jawabku final.


"Nah gitu dong. Thanks ya, Ra." Natalie kelihatan begitu sumringah.


Aku mengulum senyum. Beberapa menit kemudian bel masuk terdengar, siswa-siswi yang berada di kantin mau tidak mau harus meninggalkan tempat itu. Tak terkecuali denganku. Sebelum beranjak dari tempat duduk, aku mengeluarkan ponselku dan memgirim Line pada Adira tanpa sepengetahuan Natalie. Aku ingin menanyakan beberapa hal padanya berkaitan dengan acara dadakan besok lusa yang harusnya dia sendiri yang mengundangku.


Kejora Permata


Kenapa harus ngrayain ulang tahunnya di Bandung sih? Dan lo nggak ngundang gue langsung?


Sambil menunggu balasan dari Adira, aku dan Keisha berjalan menuju kelas setelah berpisah dengan Natalie di koridor. Tak lama, ponselku berbunyi tepat sebelum aku memasuki kelas. Dan itu notif balasan dari Adira.


Adira Leonardo


Kan yang ulang tahun gue, kok lo yang ngatur tempatnya? Pokoknya lo harus dateng. Gue udah banyak berkontribusi dalam hidup lo. Ingat!


Kejora Permata


Bukan gue nggak mau dateng. Perasaan gue belum netral kalo ada di deket Bintang.


Adira Leonardo


Itu urusan lo sama hati lo. Yang gue mau lo harus dateng. Titik!


Aku membuang nafas kasar. Adira memang menyebalkan! Lebih menyebalkan dari Bintang. Padahal aku tidak ingin terlibat apapun lagi dengan mereka. Aku ingin fokus belajar, menjalani masa putih abu-abu tanpa adanya cinta. Cinta memang rumit. Jatuh cinta sendirian cuma membuang tenaga.


"Lo kenapa, Ra?" tanya Keisha melihat wajahku yang kesal.


"Nothing."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2