
Hanya karena ingin menghindari Bintang aku harus rela sampai di sekolah sepagi ini. Belum lagi menghadapi tatapan anak-anak yang tampak heran melihat mataku yang sayu dan sembab.
Setelah pulang dari acara ulang tahun Adira kemarin aku hanya mengurung diri di kamar sambil menangis. Untuk kesekian kalinya hatiku kembali di patahkan oleh orang yang sama. Aku terkadang juga heran, kenapa orang yang sering menyakiti yang harus kita cintai?
Begini rasanya dibawa terbang tinggi lalu dihempas ke bumi. Dikecewakan saat kita mulai percaya bahwa dia memang pantas untuk diperjuangkan.
Aku menghela nafas berat. Harusnya aku tadi memilih untuk bolos sekolah saja. Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehku sejak tadi?
"Kejora,"
Panggilan itu berasal dari ambang pintu kelas. Ternyata itu suara Keisha yang baru saja datang.
"Lo kenapa? Tunggu-tunggu! Tuh mata lo juga merah gitu. Ada apa sih? Lo abis nangis? Cerita ke gue," cerocos Keisha yang sudah heboh seperti biasa.
Aku menghela nafas lelah. "Gue males mau cerita. Hati gue sakit. Sakittt banget,"
Keisha semakin menautkan alisnya heran. "Bukannya lo abis pulang dari party ya? Kenapa lo malah nangis?"
Aku tidak lagi menjawab pertanyaan Keisha. Aku bahkan tidak ingin membahas hal ini lagi dan berusaha melupakannya. Namun sekuat apapun niatku untuk lupa ujung-ujungnya adegan itu masih kembali berputar di kepalaku, membuatku ingin menangis sekali lagi. Aku masih tidak percaya Bintang bisa sejahat ini.
"Gue tebak deh. Ini semua gara-gara Bintang kan? Berulah apa lagi sih tuh cowok sama lo? Nggak ada bosennya dia bikin lo nangis." tebak Keisha dengan raut wajah yang sudah kesal.
Aku mengangguk sebagai jawaban. Keisha yang sudah duduk di sampingku lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Sumpah ya tuh cowok! Emang dia ngapain lagi sih Ra? Gregetan juga gue sama dia."
Belum sampai menjawab air mataku sudah lolos membasahi pipi. Bahkan beberapa anak-anak yang baru saja masuk kelas sempat melirikku juga. Mungkin mereka heran denganku yang sepagi ini sudah menangis tak jelas.
"Malam sebelum acara ulang tahun Adira dimulai Bintang dengan manisnya bilang sama gue kalo dia sayang sama gue. Gue udah seneng banget denger itu darinya. Gue seneng ternyata dia juga punya perasaan sama seperti gue, Kei,"
Keisha tampak serius mendengarkan ceritaku. Dia masih menunggu kelanjutan kalimatku yang masih menggantung tadi.
"Tapi saat malam acara ulang tahun Adira tiba, gue dapet sms dari nomor tak di kenal. Dia ngaku sebagai Bintang dan dia minta gue untuk ke halaman depan villa. Bintang bilang dia mau nunjukin sesuatu sama gue,"
Tangisku semakin pecah sekarang. Keisha yang merasa kasihan padaku berusaha untuk menenangkanku. Dia mengelus lenganku beberapa saat.
"Lo tau Kei, apa yang gue liat saat gue udah sampai di halaman? Gue liat Bintang lagi ciuman sama perempuan lain di dalam mobil. Hati gue sakit banget Kei. Gue kayak orang bodoh malem itu."
Keisha yang mendengar itu lalu memelukku. Aku menangis di pelukannya meski anak-anak satu kelas semakin melihat ke arahku dengan tatapan yang berbeda-beda. Mungkin sebagian dari mereka ada yang merasa iba. Mungkin sebagian lagi ada yang sedang mencibir, apalagi geng Lolita Cs yang bangkunya tak jauh dariku. Secara, mereka dulu adalah salah satu fans Bintang yang tidak menyukaiku.
"Tega banget sih Bintang giniin lo Ra? Lagian gue juga heran, kenapa sih lo bisa suka sama tuh cowok yang udah jelas-jelas nyakitin lo dari dulu?" komentar Keisha setelah mengurai pelukanku.
__ADS_1
Kalau sudah ditanya seperti itu aku sendiri juga tidak bisa menjawab lagi.
"Lo sadar gak sih Ra, selama lo suka sama Bintang ada berapa aja cewek yang juga deket sama dia? Dulu Natalie, trus Bulan, dan sekarang dateng perempuan lain lagi? Lo yakin mau bertahan sama Bintang? Lo kuat emangnya di sakitin terus kayak gini? Nggak cuma sekali dua kali loh Bintang bikin lo nangis. Mending lo pikirin lagi deh Ra. Saran gue, lo lupain aja Bintang."
Aku terdiam karena masih mencerna kalimat yang Keisha ucapkan tadi satu per satu. Semua yang Keisha bilang memang benar. Apa mulai sekarang aku harus melupakan Bintang? Tapi bukankah dari dulu aku sudah mencobanya namun selalu saja gagal.
"Gue nggak tau harus ngapain lagi sekarang. Gue juga bingung mau bersikap gimana kalo misalnya gue ketemu Bintang. Gue mau pulang ke rumah gue sendiri untuk sementara waktu, Kei. Gue pengen sendiri."
Keisha hanya mengangguk pertanda setuju. Dia meraih tanganku kemudian tersenyum. "Gue bakalan nginep di rumah lo dan nemenin lo buat malem ini. Gue nggak mau sahabat gue ini sedih terus,"
Aku pun tersenyum kepada Keisha. "Makasih ya, Kei. Lo selalu ada buat gue, dan lo selalu mau jadi tempat curhat gue selama ini."
"Iya, sama-sama. Itu kan gunanya sahabat. Coba gue bisa ketemu Bintang. Gue bakalan bikin perhitungan sama dia," ucap Keisha sambil mengepalkan tangannya di depanku.
Aku hanya mengabaikan ucapan Keisha. Sebenarnya bukan adegan menyakitkan itu saja yang membuatku kecewa pada Bintang. Dalam hati aku juga masih bertanya-tanya kenapa dia tidak menemuiku malam itu dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Sampai sekarangpun Bintang juga tidak ada mengabariku.
Apa semua yang lo ucapin ke gue kemarin nggak ada artinya sama sekali, Bintang?
***
Malam ini tiba-tiba hujan turun begitu derasnya. Aku sangat bersyukur karena Keisha bisa menemaniku di rumah ini. Aku selalu takut jika harus menghadapi hujan sendirian.
Jam sekarang menunjukan pukul 7 malam. Aku dan Keisha sejak sore tadi sibuk dengan drama korea yang masih kita tonton. Hingga dering ponselku tiba-tiba saja berbunyi dan mengalihkan fokusku pada panggilan itu.
"Sini, biar gue yang angkat!"
Tiba-tiba Keisha mengambil ponselku secara paksa. Mungkin dia tadi penasaran kenapa aku tidak segera mengangkat telfonnya, hingga dia memilih untuk melihat sang penelfon.
"Halo?"
Suara Keisha terdengar sama sekali tak bersahabat. Bahkan terkesan membentak. Aku juga sudah pasrah dan membiarkan Keisha yang berbicara pada Bintang.
"Gue Keisha. Mau ngapain lagi lo nelfon Kejora? Belom puas lo nyakitin dia?"
Entah apa yang Bintang bicarakan disana, yang jelas raut wajah Keisha semakin marah sekarang.
"Gue rasa Kejora nggak bakalan sih mau ketemu sama lo lagi. Dan awas aja sampek lo berani bikin sahabat gue nangis lagi. Gue peringatin lo!"
Setelah kalimat itu Keisha lalu menutup sambungan telfonnya. Aku sendiri penasaran sebenarnya apa yang Bintang katakan barusan?
"Bintang bilang apa Kei?" Tanyaku yang sudah penasaran.
__ADS_1
"Jendela kamar lo ini bisa liat halaman depan rumah lo nggak?" Keisha justru bertanya balik dan bahkan keluar dari topik pertanyaanku barusan.
Aku mengerutkan kening tak paham. Namun akhirnya aku menjawab pertanyaan anehnya itu. "Bisa sih. Emang kenapa?"
"Bintang lagi ada di halaman rumah lo sekarang. Dia bilang mau ketemuan sama lo,"
"Lo nggak lagi bercanda kan Kei? Nggak mungkin lah. Di luar hujan deres gitu."
Keisha hanya mengedikkan bahunya. "Lo liat aja dari jendela kamar lo. Bener nggak si Bintang itu ada di luar."
Karena ingin membuktikan ucapan Keisha aku langsung berlari menuju jendela. Aku membuka tirai gorden jendela itu dan langsung melihat ke bawah.
Ternyata Bintang memang disana. Dibawah derasnya air hujan dan bahkan tanpa payung, dia berdiri sambil mendongak melihat ke arah kamarku. Hatiku rasanya seperti teriris kembali. Apalagi yang mau Bintang lakukan sekarang? Apa dia mau minta maaf? Apa dia mau menjelaskan siapa perempuan yang di ciumnya itu?
"Sekarang gue harus apa Kei? Gue bener-bener bingung harus ngadepin Bintang dengan sikap gimana,"
Keisha lalu bangkit dari tempat tidur. Dia juga mengintip Bintang dari jendela kamarku.
"Lo tenang dulu. Kita liat aja sampai berapa lama dia bakalan betah ujan-ujanan kayak gitu. Air mata lo juga harus dibayar mahal. Lo ikutin aja cara main gue,"
Dalam hati sebenarnya aku juga tidak tega melihat Bintang kehujanan seperti itu. Namun aku juga masih kesal dan sangat kecewa padanya. Rasanya semua ini membuatku semakin pusing.
"Tapi kalo terjadi sesuatu sama Bintang gimana? Di luar hujan deres banget,"
Keisha tampak memikirkan kalimatku barusan. Sekali lagi dia melihat Bintang yang masih setia berdiri di tengah derasnya hujan.
"Iya juga sih. Tapi, emang lo mau nemuin dia? Lo siap nerima apapun yang bakalan dia ucapin nanti?"
Aku sebenarnya tidak yakin. Dan jika di tanya siap atau tidak aku pasti bakalan bilang tidak. Aku takut Bintang akan mengatakan sesuatu hal yang membuat hatiku sakit kembali nantinya. Namun aku juga tahu menghindar bukanlah solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
Pikiranku kalut. Aku tidak tahu mana yang harus aku ikuti sekarang. Mengikuti kata hatiku sendiri atau mendengarkan saran Keisha untuk tidak menemui Bintang.
Aku menjatuhkan tubuhku di tempat tidur. Memikirkan segala hal yang semakin rumit ini. Mungkin aku akan menelfon Bintang saja dan menyuruhnya untuk pulang. Tanpa harus aku keluar dan bertemu dengannya.
Belum sampai aku mendial nomornya, Bintang justru sudah menelfonku terlebih dulu. Dengan pelan aku menempelkan ponselku di telinga lalu mendengarkan suaranya.
"Gue nggak akan pergi dari sini sebelum lo keluar dan nemuin gue. Kita perlu bicara, Ra. Lo harus dengerin penjelasan gue."
Hanya kalimat itu dan sambungan langsung terputus. Aku penasaran, apalagi yang akan Bintang jelasin kepadaku? Akankah drama seperti dulu akan terulang kembali?
Mencintai lo kenapa harus sesakit ini sih, Bintang?!
__ADS_1
***