Bintang Kejora

Bintang Kejora
Hari Terakhir


__ADS_3

Malam harinya.


Lagi-lagi hujan turun begitu deras. Aku memandang ke luar rumah dari balik jendela kamar. Aku melirik jam tangan yang berada di pergelangam tanganku. Sudah jam sepuluh malam. Apa Bintang masih menungguku di bukit?


Semoga saja tidak. Aku berharap dia tidak akan sebodoh itu.


Perasaan gelisah kini mulai menghantui. Aku benar-benar ingin tahu dimana Bintang sekarang dan bagaimana keadaan dia. Terakhir dia hanya menghubungiku ingin bertemu di bukit jam tujuh malam. Dan hujan terus saja tidak mau berhenti sejak tadi.


Entah kenapa hati kecilku terus saja memikirkan Bintang. Hingga sebuah ketukan pintu utama samar-samar terdengar dan menyadarkanku dari lamunan. Aku berlari cepat menuruni tangga. Penasaran ingin melihat siapa yang datang disaat hujan lebat begini.


"Maaf, gue udah ganggu lo malam-malam."


Suara berat seseorang menyapaku. Aku langsung membelalak kaget. Tentu saja. Seseorang yang baru saja aku pikirkan tadi kini sudah datang di depan mataku. Dengan tubuhnya yang sudah basah kuyup.


"Salah gue apa Ra? Kenapa tiba-tiba lo ngehindar dari gue? Kalo ada masalah nggak kayak gini caranya. Setidaknya lo ngomong gue harus gimana. Nggak dengan cara diam dan ngehindar gini Ra," ucap Bintang tanpa basa-basi.


Aku tahu situasi ini pasti akan terjadi. Aku hanya tidak habis pikir kenapa ini harus terjadi di hari yang seharusnya aku sedang bahagia.


"Tiba-tiba lo mutusin tinggal di rumah lo sendiri. Lo juga nggak ada satupun bales pesan dari gue. Asal lo tahu, gue nungguin lo tiga jam di bukit. Kalo lo nggak bisa dateng kenapa nggak jujur dari awal?"


Aku bisa melihat tatapan Bintang yang penuh dengan rasa kecewa.


"Gue bukan nggak bisa. Gue emang nggak mau dateng nemuin lo," jawabku   dengan nada setenang mungkin.


"Gue nggak tahu maksud lo apa," Bintang menatapku dengan penuh tanya. Seperti tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan barusan.


"Hari ini gue ulang tahun. Gue cuma minta satu permintaan sama lo,"


Aku menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapanku yang bisa saja membuat Bintang semakin kecewa nantinya.


"Mulai hari ini, detik ini, jangan pernah lo ngehubungin gue lagi. Anggap aja kita nggak pernah saling kenal sebelumnya."


Bintang teetawa hambar sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali.

__ADS_1


"Lo bercanda kan? Lo lagi ngeprank gue? Sumpah ini mulai nggak lucu!"


"Gue serius. Selama ini lo minta jawaban gue kan? Ini jawabannya, Bintang. Gue mau lo pergi dari hidup gue,"


Bintang kembali menggelengkan kepalanya kuat. Rasanya aku tidak bisa lagi untuk melanjutkan ucapanku yang semakin jahat saja.


"Gue nggak percaya. Lo pasti bohong kan? Bilang kalo ini cuma buat ngerjain gue Ra!" Ucap Bintang seraya mengguncangkan ke dua bahuku.


"Selama ini gue cuma mainin perasaan lo. Terserah lo mau percaya atau enggak. Tapi emang ini kenyataannya."


Bintang menjatuhkan ke dua bahunya lemas. Sebelum akhirnya meraup wajahnya dengan kasar.


"Cuma mainin perasaan gue lo bilang?" Tanya Bintang sekali lagi, mencari kebenaran di ke dua mataku.


"Gue yakin lo punya perasaan yang sama kayak gue Ra. Gue bisa baca itu semua dari mata lo. Kalo ada hal yang bikin lo jadi kayak gini, lo bilang sama gue."


Aku menundukkan kepalaku. Tidak berani untuk melihat Bintang secara langsung.


"Apa ada seseorang yang ngancem lo dan nyuruh lo buat ngejauhin gue?" Bintang menilik wajahku yang masih menunduk.


"Nggak ada yang ngancem gue. Lo nggak usah sok tau." Jawabku mengelak.


"Gue udah mutusin buat hidup tenang kayak dulu. Dan setelah lulus nanti gue juga akan ambil kuliah di luar Negri." Lanjutku lagi.


Bintang menumpukan ke dua tangannya di bahuku. "Gue bisa pacaran jarak jauh Ra. Kita juga bisa backstreet kalo lo emang mau tenangin diri dulu. Jika ada jalan lain buat kita bersama kenapa lo justru milih buat pergi dari hidup gue Ra?"


"Gue nggak pernah ada perasaan apapun sama lo, Bintang." Kataku menunduk.


Aku baru sadar, membohongi diri sendiri ternyata jauh lebih sulit daripada membohongi orang lain.


"Lo tatap mata gue, bilang kalo lo emang nggak ada perasaan apapun sama gue."


Bintang menarik daguku. Menatapku lekat dalam keterdiaman. Dia masih menungguku bicara.

__ADS_1


Lama dalam keterdiaman aku justru menikmati tatapan hangat Bintang malam ini. Sampai aku lupa dengan titahannya barusan.


"Lo nggak bisa bilang kan?" Tuntutnya lagi.


Mataku kian memanas karena menahan air mataku yang sudah ingin jatuh. Rasanya aku ingin menyudahi semua ini dan menangis dengan puas di dalam kamar tanpa ada  seorangpun yang tahu.


"Gue nggak ada perasaan apapun sama lo, Bintang."ucapku dengan nada penuh penekanan.


Bintang melepaskan tangannya dari daguku. Dia mengacak rambutnya yang basah dengan frustasi. Langkahnya menjauh, dia meninjukan tangannya sendiri ke tiang saka rumah.


"Bodoh banget ya gue. Kenapa gue bisa percaya kalo lo punya perasaan yang sama ke gue. Cuma karna lo udah cium gue malem itu. Ternyata itu cuma bagian dari permainan lo doang," ujar Bintang dengan kekehan.


Cukup lama aku dan Bintang saling diam dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang sedang Bintang pikirkan sekarang.


"Kalo ini emang keputusan lo, gue nggak bisa maksa juga kan Ra?" Tanya Bintang sudah pasrah. Posisinya masih membelakangiku.


Aku diam tak menjawab. Bagian yang aku takutkan sekarang jika perkataanku yang keluar nanti justru semakin menyakitinya.


Bintang kembali mendekat ke arahku. Dia berdiri di depanku dengan senyum yang penuh luka.


"Ini hadiah dari gue. Selamat ulang tahun ra. Semoga lo selalu bahagia nantinya," ucap Bintang sembari memberikan kotak kecil berwarna merah di tanganku.


"Kalo dengan gue menjauh bisa buat lo bahagia, gue bakal lakuin itu. Gue akan cari jalan lain yang lo nggak akan pernah lalui nantinya."


Aku masih berusaha tenang. Memasang wajah sedatar mungkin meski itu bukan keahlianku.


"Lucu ya Ra. Kemarin lo adalah alasan gue buat tersenyum. Tapi sekarang lo jadi alasan gue buat nangis juga." Kekeh Bintang menutupi air matanya yang jatuh.


Beberapa detik kemudian Bintang mendekat, dia menarik kepalaku menuju dada bidangnya. Meninggalkan sebuah kecupan di sana.


"Lo akan selalu menjadi yang terindah di hidup gue Ra. Lo cewek pertama yang sukses buat gue jatuh cinta." Ucap Bintang lembut.


Pada akhirnya takdir yang memegang kendali atas bahagia. Tidak bisa dipungkiri, mencintai sekaligus merelakan adalah hal paling tersulit. Mungkin aku dan Bintang memang hanya ditakdirkan untuk saling mencintai tanpa harus memiliki.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2