
"Nah, ini dia villa peninggalan oma gue." ujar Adira setelah kita berenam turun dari mobil.
"Gila! Gede juga ya villanya. Suasananya juga adem banget lagi. Boleh lah nanti gue sewa villa ini buat honeymoon sama bini gue." sahut Beval sambil menatap sekeliling, takjub.
"Bandung, man! Makanya jangan jomlo terus dong kayak Bintang." Celetuk Adira disertai tawa meledek.
"Ngapain gue?" Bintang bertanya acuh.
"Nggak usah pada debat deh. Ini kita mau masuk apa nggak?" tanya Abel sewot sambil menatap tajam Beval dan Adira.
"Yaudah kita masuk yuk."
Hari ini aku memang sedang bersama Bintang dan teman-temannya untuk merayakan ulang tahun Adira yang letaknya di luar kota.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, kami baru sampai di villa setelah sore hari menjelang. Aku tidak tahu jika hawa disini begitu sangat dingin. Meski begitu aku juga menyukai tempat ini.
Adira dan Natalie kini berjalan bergandengan tangan di barisan depan, disusul Beval dan Abel yang mengekori mereka. Sedangkan aku masih menikmati suasana di luar sambil menatap pemandangan di sore hari. Tidak begitu banyak rumah di sekitar sini. Udaranya juga sangat segar karena belum tercampur dengan polusi kendaraan. Tempat ini sungguh begitu nyaman.
"Udah tau dingin masih pakek baju kayak gini."
Aku tidak menyadari jika Bintang sekarang berdiri di belakangku entah sejak kapan. Dia memakaikan jaketnya dari belakang punggungku. Hingga bau wangi sekarang menyeruak memasuki indra penciumanku. Aku menyukai aroma ini. Rasanya menenangkan.
Dengan segera aku menarik jaket itu supaya tidak jatuh. Ku pandangi Bintang yang langsung berlalu mengikuti Adira dan yang lain. Tanpa sadar aku tersenyum ke arahnya. Menciumi lagi aroma parfum Bintang yang masih menempel di jaket miliknya ini.
Dia masih perhatian.
Tidak ingin larut dalam buaian, aku memutuskan untuk memasuki villa juga. Menyusul mereka yang sudah menghilang dari halaman villa.
"Kamar cewek ada di lantai atas ya, kalian bisa langsung istirahat. Yang cowok ada di bawah." Ucap Adira memberi intruksi.
"Kak, aku laper nih." ujar Natalie sambil merengek kepada Adira.
Adira tampak mengacak rambut Natalie dengan gemas. Lalu mengusap pipi cewek itu yang berdiri di depannya.
"Gimana kalau malam ini kita bikin ikan bakar buat makan malam," usul Adira.
__ADS_1
"Setuju gue." Beval menyahut cepat.
"Ck. Giliran makan ama cewek aja cepet banget lo nyahut!" Abel mencibir.
"Dih. Kenapa emang? Sewot aja lo jadi cewe," komentar Beval heran.
"Gue kawinin lo berdua kalo masih debat mulu kerjaannya." Ancam Adira karena sudah jengkel melihat mereka berdua selalu adu mulut.
"Ogah banget. Tipe gue minimal kayak Manu Rios tuh," jawab Abel bangga.
"Cih. Siapa tuh? Denger namanya aja gatel telinga gue." Beval meledek.
Adira menggelengkan kepalanya semakin heran melihat ke dua sahabatnya yang terus saja tidak berhenti debat. Dengan terpaksa Adira langsung menyeret ke duanya ke taman belakang villa. Natalie hanya tertawa melihat ulah pacarnya itu.
Setelah adegan berdebat Beval dan Abel tadi, kita langsung menata barang-barang di kamar masing-masing. Selesai menata barang semuanya bergegas menuju taman belakang villa milik Adira untuk memasak makan malam.
Di taman belakang villa tersebut ada sebuah kolam renang yang lumayan besar. Ada juga sebuah ayunan yang bercat putih dengan satu bangku yang panjang. Pas banget untuk bersantai karena arahnya menghadap kolam.
Sekarang kita saling bagi tugas. Adira, Beval dan Bintang yang membakar ikannya. Sedangkan anak-anak cewek yang menyiapkan tempat untuk makan malamnya.
"Cie, ada yang rela kedinginan demi sang pujaan hati nih, Bel," ujar Natalie pada Abel sambil menahan tawa.
"Maksud lo?" Tanyaku tak mengerti.
"Itu yang lo pakek jaket Bintang kan?" Natalie menunjuk jaket yang aku pakai dengan dagunya.
Aku menatap jaket berwarna hitam yang sekarang melekat di tubuhku. Memang agak kebesaran, tapi aku teramat nyaman memakainya. Bahkan jaket ini juga mampu menetralisir udara dingin di tempat ini. Aku baru menyadari jika Bintang sejak tadi hanya memakai kaos panjang tanpa lapisan apapun.
Aku melihat Bintang yang masih sibuk mengipas ikan bakarnya dari kejauhan.
Dia rela kedinginan demi gue?
Akhirnya setelah setengah jam semua ikan-ikannya matang juga. Kami makan bersama di sebuah tikar yang tadi sudah di siapkan. Sengaja memilih tempat out door agar bisa menikmati suasana di malam hari.
Semua terlihat begitu menikmati. Seperti Natalie yang sekarang duduk di samping Adira. Mereka sedang makan sepiring berdua. Beval dan Abel, mereka sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Sesekali mendebatkan ikan yang mereka makan. Katanya ikan Beval lebih besar dari punya Abel. Dan cewek itu tidak terima. Ada-ada saja.
__ADS_1
"Kalian pada ngerasa ada kambing congek nggak disini?" tanya Adira setelah menghabiskan makannya.
Semua terlihat bingung dan melempar pandang. Kecuali dengan Bintang. Dia hanya diam dengan muka datarnya seperti biasa.
"Kayaknya kita perlu kasih mereka ruang buat berduaan deh. Agak kayak malu-malu kampret gitu," sindir Adira lagi sambil tersenyum jail.
Adira mengedipkan sebelah matanya kepada Beval yang berada di depannya. Beval seperti langsung mengerti isyarat itu, terlihat cowok itu sekarang ikut tersenyum menyeringai.
Aku tidak tahu mereka membicarakan siapa dan tentang apa. Ditambah lagi sekarang Adira membisikan sesuatu kepada Natalie dan diangguki dengan senyum lebar oleh cewek itu. Natalie ikut membisikkan sesuatu juga pada Abel sekarang. Membuatku berpikir jika memang mereka sedang tidak beres.
"Hitungan ke tiga ya guys," ucap Adira memberi aba-aba.
Perasaan ku tidak enak. Adira sepertinya sudah merencanakan sesuatu.
"1,2,3!"
Tepat setelah kalimat itu terucap Natalie dan Abel berdiri serempak dan memegangi ke dua tanganku. Menarikku ke dalam villa.
"Eh, apa-apan sih kalian?" Aku tidak memberontak, hanya mengikuti langkah mereka yang semakin cepat.
Sedangkan di belakangku sekarang, aku melihat Adira dan Beval juga melakukan hal yang sama pada Bintang. Menggiringnya untuk mengikutiku.
"Mau pada ngapain sih lo?" Sinis Bintang pada Adira.
Sekarang Natalie membuka pintu kamar yang berada di lantai bawah. Mendudukkanku di sebuah ranjang besar di kamar yang terlihat luas itu.
"Mau ngapain sih, Nat?" Aku masih bertanya tidak paham. Namun Natalie dan Abel justru tertawa sambil bertos ria.
Adira dan Beval beberapa saat juga datang menyususl. Mereka melakukan hal yang sama. Mendudukan Bintang di sisi kananku dengan paksa.
"Selamat bersenang-senang, man. Malem ini kamar ini khusus buat lo sama Kejora," ucap Adira sambil tertawa puas.
"Kalo Bintang masih kaku lempar aja dari jendela, Ra." Beval menimpali.
"Jangan lo apa-apain dulu tuh si Kejora. Belum muhrim," peringat Adira sebelum meninggalkan aku dan Bintang berdua di kamar itu.
__ADS_1
Natalie, Abel, dan Beval juga ikut berlalu membuntuti Adira sambil tertawa puas. Aku yakin pasti mereka sengaja melakukan ini agar aku bisa berduaan dengan Bintang.
...****************...