
"Eh Ra, ntar malem lo diajak ke acara kampus Bintang juga nggak?" Tanya Natalie di sela makannya.
Tadinya meja ini hanya ada aku dan Keisha yang tengah sibuk dengan makanan kita masing-masing. Namun di karenakan bangku kantin penuh dan hanya ada satu yang tersisa di sebelahku akhirnya Natalie ikut gabung juga.
"Emang ada acara apa di kampusnya? Bintang nggak ada bilang apapun sama gue."
Natalie memandangiku dengan tatapan tak percaya.
"Masa sih? Gue aja tadi disuruh temenin Adira. Tapi ya gue tolak. Ya kali gue jadi anak SMA satu-satunya di acara itu."
Keisha yang tadinya sibuk dengan makanannya kini mendongak ke arahku.
"Mencurigakan banget nih si Bintang. Adira aja ngajakin Natalie, masa lo nggak diajakin sama tuh cowok?"
Natalie menyenggol lengan Keisha dengan cepat. Merasa seperti tidak enak denganku.
"Jangan ngompor gitu dong lo. Siapa tau aja Bintang emang nggak dateng ke acara itu. Atau Bintang cuma belom bilang aja sama Kejora."
"Lo nggak paham aja sih sama situasinya. Hubungan Bintang sama Kejora itu lagi di terjang badai sekarang," tukas Keisha.
"Hah? Badai gimana maksud lo?" Tanya Natalie semakin kepo.
"Silahkan bertanya pada yang bersangkutan." Jawab Keisha tak mau ambil pusing. Dia memilih untuk kembali melanjutkan aktivitas makannya.
Entah kenapa nafsu makanku mendadak hilang seketika. Mungkin karena perkataan Natalie tadi sukes mempengaruhi pikiranku saat ini.
"Eh, ada apaan sih Ra sebenarnya? Cerita dong sama gue," Natalie kini menatapku penuh tanda tanya.
Aku meghela nafas lelah. Sebelum akhirnya menceritakan semua yang telah terjadi beberapa hari ini.
Tentang munculnya seorang perempuan bernama Dara Alexi, teman sekampus Bintang yang mengaku sebagai calon pacarnya. Mengingat itu rasanya hatiku semakin memanas lagi.
"Jadi perempuan yang gangguin lo sama Bintang itu namanya Dara? Temen sekampus Bintang?" Ulang Natalie setelah aku menceritakan semuanya.
"Mie burung dara, orangnya cari mampusss!" Sahut Keisha melagukan kalimatnya tadi seperti iklan di TV.
Mendengar itu aku langsung menoyor kepala Keisha ke samping. Benar-benar tidak bisa diajak serius.
"Sebenarnya gue juga lagi cari tahu, sebenarnya Dara itu siapa?" Ucapku menerawang.
"Gue mau sih bantuin lo, tapi gimana caranya? Secara Dara itu anak kuliahan. Bakalan susah kita ngorek info tentang tuh cewek," timbrung Keisha setelah menelan makananya.
"Eh tunggu deh. Gue jadi punya ide," Natalie tersenyum sambil mengerlingkan matanya penuh arti.
Aku dan Keisha melempar tatapan bingung.
"Gimana kalo ntar malem kita dateng ke acara itu tanpa sepengetahuan Bintang dan temen-temennya?" Tanya Natalie antusias.
Keisha menautkan ke dua alisnya. "Gue masih nggak ngerti. Maksudnya gimana sih?"
Natalie berdecak di tempatnya. Memutar bola matanya malas.
"Gini deh, kita bantuin Kejora buat cari info tentang si Dara, Dara itu. Tapi jangan sampek Bintang Cs tau rencana kita ini."
Aku yang tadi menyenderkan punggung di kursi dengan lesu akhirnya ikut mencondongkan wajah ke depan juga.
"Apa ini nggak berresiko?" Tanyaku tak yakin.
"Kesempatan kita cuma ntar malem doang Ra." Ucap Natalie berusaha meyakinkan.
"Gue jadi pengen tau juga, kira-kira gimana ya tingkah Adira di kampusnya. Apa dia berani main mata sama cewek lain kalo nggak ada gue," sambung Natalie disertai senyum sinis.
__ADS_1
"Anjir! Sambil menyelam minum air itu mah namanya." Keisha memprotes.
Natalie tak menggubris Keisha. Dia justru menatapku, seperti menunggu jawaban.
"Gimana Ra? Lo setuju?"
"Kita liat ntar malem." Jawabku kemudian.
Natalie dan Keisha hanya mengangguk saja. Mereka juga tidak memprotes ataupun berkata-kata lagi.
Sebenarnya aku masih ragu dengan rencana yang dibuat oleh Natalie tadi. Aku cukup bersyukur karena dia sekarang sudah benar-benar berpihak kepadaku, bahkan dia mau membantuku dalam masalah ini.
Memang rasa penasaran ini harusnya segera dipecahkan. Namun aku juga masih takut. Takut jika nanti kebenaran akan menyakitkan lagi. Belum siap rasanya jika harus menghadapi masalah baru kembali.
"Gue duluan ke kelas ya," pamitku pada Natalie dan juga Keisha yang masih sibuk dengan makanan mereka.
"Lah, makanan lo nih abisin dulu." Keisha mengingatkan.
"Gue udah kenyang."
Aku segera bangkit dan melangkah pergi meninggalkan area kantin. Bagaimanapun juga aku harus menanyakan hal ini kepada Adira. Setidaknya dia pasti akan memberikan informasi lebih.
Sesampainya di kelas aku langsung mengeluarkan ponselku dan mengetikkan sebuah pesan.
Kejora Permata
Emang bener ntar malem ada acara di kampus lo?
Setelah pesan itu berhasil terkirim aku memasukkan lagi ponsel itu di kolong meja dan menunggu balasan dari Adira.
Tak butuh waktu lima menit ponsel itu tiba-tiba bergetar. Aku langsung cepat-cepat mengambilnya.
Adira Leonardo
Kejora Permata
Emang Bintang juga ikut?
Adira Leonardo
Jelas lah. Dia kan satu fakultas sama gue.
Kejora Permata
Emang acara apa?
Adira Leonardo
Party sederhana gitu sih. Biar lebih akrab dan saling kenal aja sama anak-anak lain. Nggak formal juga kok.
Kejora Permata
Selain mahasiswa emang boleh ikut?
Adira Leonardo
Setau gue yang mau dateng bawa pasangannya sih boleh.
Tepat setelah membaca pesan terakhir dari Adira aku meremas ponselku dalam pangkuan. Kenapa Bintang tidak cerita soal ini? Dan bagaimana jika dalam acara itu Dara juga ikut?
***
__ADS_1
"Bint, ntar di depan ada taman berhenti sebentar ya," pintaku sambil mencondongkan sedikit wajahku ke depan agar Bintang bisa mendengarku.
Setelah motor Bintang melintasi lampu merah, akhirnya dia menepikan motornya juga di sebuah taman yang aku tunjuk tadi.
"Kita mau ngapain Ra?" Tanya Bintang yang sudah melepas helm.
Setelah turun dari motor aku berdiri di samping Bintang dan menatapnya yang masih duduk di atas jok motornya. "Kita duduk disini bentar yuk."
Raut wajah Bintang mendadak gelisah. Sebenarnya ini hanya akal-akalanku saja untuk mengulur waktu agar lebih lama lagi bersama Bintang.
Jika dia memang ingin pergi ke acara kampusnya itu pasti dia akan nolak ajakkan ku ini.
"Kita langsung pulang aja ya Ra," ajaknya masih dengan gelagat gelisah.
"Kenapa? Ini juga masih sore. Baru setengah lima. Aku pengen liat sunset disini," rengekku mencari alasan.
"Lo ada urusan lain?" Tembakku langsung. Melihat Bintang yang hanya diam tidak cukup untuk membuatku sabar.
Bintang menunduk. "Enggak. Gue cuma capek aja, mau langsung istirahat."
Orang yang jujur akan menatap lawan bicaranya, Bintang. Itu kan yang lo ajarin ke gue dulu. Dan gue tau lo bohong sekarang. Batinku penuh dengan rasa kecewa.
"Lo nggak lagi nyembunyiin sesuatu kan?" Tanyaku untuk memancingnya lagi.
Bintang mendongak lalu menggeleng pelan. "Gue emang pengen cepet pulang aja Ra. Liat sunsetnya bisa besok-besok aja kan?"
Aku menunduk tertegun. Kenapa Bintang harus bohong? Kenapa dia tidak jujur jika memang ingin pergi ke acara itu? Apa karena ada sesuatu yang sedang ia sembunyiin dariku? Apa semua ini ada hubungannya dengan Dara?
"Yaudah terserah." Jawabku pasrah.
Bintang membelai rambutku yang tertiup angin. "Lo marah?"
"Gue nggak akan marah kalo nggak ada sebabnya, Bintang."
Bintang lagi-lagi hanya bergeming. Rasa amarah yang sejak tadi aku tahan perlahan semakin menguat. Namun aku tidak bisa mengeluarkannya sekarang.
"Kalo gue kasih lo satu kepercayaan, apa lo bakalan bisa jaga itu buat gue, Bint?" Pertanyaan itu seperti sudah menohok Bintang. Kegelisahannya masih tercetak jelas di wajahnya.
"Gue nggak akan ngrusak kepercayaan lo Ra." Jawab Bintang.
Dia menyelipkan beberapa helai rambutku di belakang telinga ketika lagi-lagi menutupi wajah karena tiupan angin.
Helm yang tadinya masih aku pegang sudah Bintang ambil. Dia lalu memasangkan helm itu di kepalaku.
"Kita pulang sekarang."
Aku menaiki motor Bintang kembali. Dan saat Bintang sibuk mengendari motornya, aku mengeluarkan ponselku dari dalam saku baju dan mengirim pesan kepada Natalie dan Keisha. Sepertinya mengikuti rencana Natalie tidak ada salahnya.
Kejora Permata
Ntar malem kita dateng ke acara itu!
***
Terimakasih sudah baca sampai part iniš„°
Oh iya temen-temen, aku buat trailer iseng-iseng Bintang Kejora di IG aku, kalo penasaran boleh mampir dan ramein ya. Makasihh gaessā¤
IG : Ciciitdha
Yang mau ajak follback DM yaa
__ADS_1