
Musik disko membuat hampir semua orang berjoget dilantai dengan cahaya lampu disko yang membuat suasana semakin hip.
Semua tertawa bahagia juga mungkin karena dipengaruhi oleh alkohol yang menyebabkan mereka melupakan sesaat siapa diri mereka.
Mereka hanya ingin melepas semua dengan ekspresif tanpa terpikir alasan untuk apa mereka seperti itu.
Angga berjalan gontai dan tiba-tiba naik kepanggung dimana seorang DJ sedang memainkan musik.
Dia menendang meja DJ dan menarik mic yang tersesia disana. Sontak semua orang disana menjadi berbisik dan berguman karena tindakan Angga.
Seorang penjaga naik dan mencoba membawa Angga tapi Angga malah memukul penjaga itu sampai jatuh dari atas panggung.
“Dimana Kejora! Bawa dia padaku! Sandra atau Madam Den atau siapapun itu! keluar kau!” Mic mengeluarkan suara yang memekakkan telinga membuat pengunjung menutup telinga mereka karena teriakan Angga.
Tiba-tiba beberapa orang datang dan mencoba menarik tubuhnya, tapi Angga memberika perlawanan. Terjadilah perkelahian yang membuat suasana club menjadi rusuh dan kacau.
Beberapa wanita berteriak dan keluar dari club, Eric yang melihat itu dia melihat dan mengingat wajah Angga, dia mencari kartu kecil yang dulu pernah dipakai Dimas untuk menggoda gadis cantik disana.
“Halo.. dengan tuan Dimas ya? Ini aku Eric, bartender starynight club.” Ujar Eric ketika telponnya tersambung, “temanmu, pria yang pernah datang bersamamu, tengah berkelahi dengan beberapa penjaga disini” Eric menjauhkan telponnya, sepertinya Dimas berteriak kaget disebrang sana, sampai-sampai mengalahkan suara ricuh yang saat ini terjadi.
“Angga! Berhenti! Kau sudah gila.” Seseorang mendekap tubuh Angga dan temannya yang lain mengelilingi Angga agar para penjaga club tidak lagi menyerang Angga.
"Siapa kalian?"
"Dia temanku." Ujar orang itu memasang wajah tegas.
“Bawa dia keluar dari tempat ini! Atau kalian akan kami hajar juga!” Perintah salah satu dari penjaga, dan mereka bubar seraya membopong tubuh Angga yang lemas.
“Bawa dia kemari.” Ujar Eric mempersilahkan mereka masuk kesebuah ruangan dibelakang meja bar, ruang yang lumayan besar biasa dipakai Eric untuk ganti baju, atau istirahat sejenak, mereka merebahkan tubuh Angga disofa kecil tapi pas untuk tubuh jangkung Angga.
“Kalian temannya? Aku sudah memanggil Dimas temannya, mungkin sebentar lagi dia tiba.” Salah satu dari mereka mengangguk dan berdiri disamping Eric.
“Bukan teman dekat, tapi kami saling mengenal.” Jawabnya singkat, “oh sebentar..” ujar Eric ketika melihat Dimas menelpon, kemudian Dimas datang bersama Eric dibelakangnya.
Dimas kaget ketika melihat dengan siapa Angga diruangan itu, dia masuk dan meraih kerah orang itu “kau yang memukulinya?!” tanyanya dengan nada menggertak tapi hanya ditanggapi santai oleh orang itu, melihat itu Eric mendekat dan memisahkan mereka “dia yang menolongnya, Mas.” Dimas menaikkan sebelah alisnya dan menatap heran.
“Kau?” tanyanya tak percaya. “Apa yang menjadi alasan seorang musuh menolong musuhnya?” Cibir Dimas menatap orang itu sinis "aku tak tahu jika kalian menganggapku musuh." Sahutnya tak kalah sinis.
"Lalu kau ingin ku anggap teman? Dih! Manusia sepertimu yang selalu mengusik ketentraman dia selama masa sekolah? apa seperti itu teman?" Orang itu membuang wajahnya tak meladeni Dimas.
“Setidaknya aku tahu apa yang membuat temanmu ini menggila disini, dia seperti itu karena dia mencari Keke dan aku tahu dimana Keke?” Ucapnya santai tanpa memandang Dimas.
__ADS_1
“Apa maksudmu Barra?” Barra menghela napas, “dia bersama ayahku dan sepertinya dalam bahaya.”
Angga yang sedari tadi terbaring lemas mendengar penuturan Barra dia mencoba bangkit untuk duduk “di...di..dimana dia?” tanyanya merintih, Dimas duduk disebelahnya membantu duduk.
“Ada apa Ang?” Angga menahan napasnya karena sakit yang dia dapat ketika penjaga itu memukul berkali-kali bagian abdomennya.
“Kejora dalam bahaya?” tanyanya lagi mengabaikan pertanyaan Dimas. “Aku tak peduli apa yang terjadi dengan wanita itu, aku hanya tak mau ayahku melakukan perbuatan buruk.” jelas Barra, “dia bersama ayahku dan aku tahu itu dimana.” lanjutnya “kita harus segera menyelamatkannnya Dim.”
Dimas masih bingung dengan apa yang terjadi, terlebih ketika melihat Angga yang babak belur didepannya.
“Kau gila? Lihat dirimu! Kita pulang dahulu, kita obrolkan ini dan buat rencana.” Dimas mencoba mengangkat tangan Angga dan merangkulkannya ketubuhnya, Eric menghampiri dan membantu Dimas.
“Apapun itu, aku pinta kalian bisa menolong Kejora jika benar dia dalam masalah.” Ujar Eric ketika berhasil mendudukkan Angga dikursi penumpang.
Dimas menggaruk kepalanya, “akupun tak begitu tahu apa yang terjadi, tapi tanpa kau minta, anak ini bahkan rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menolong wanita itu.” Jelas Dimas kemudian menghadap ke Barra dan beberapa temannya “nanti aku hubungi lagi. Kau punya nomorku?”
Barra menggeleng “untuk apa menyimpan nomor orang sepertimu?” Ujarnya memasang wajah jijik, Dimas memercingkan matanya “saat ini kuharap kau mau menyimpan nomorku, hubungi aku segera.” Jelasnya memberikan kartu namanya dan diterima Barra dengan terpaksa.
“Euwhh.. kenapa homo sekali.” Ujar Dimas bergidik tak percaya karena tersadar jika tindakannya barusan seolah sedang miminta Barra untuk menghubunginya seperti ketika dia meminta seorang gadis untuk menghubunginya.
***
Pak Wira menonton video itu dan terperajat ketika melihat pemuda divideo itu benar adalah Angga. “Apa anak ini sudah gila!” Ucap Pak Wira, “antar aku kerumahnya, sekarang!”
***
“Astaghfirullah!!! Apa yang terjadi Mas?” Satya kaget ketika membuka pintu melihat Dimas kesusahan membopong tubuh Angga yang babak belur dan tak berdaya.
“Bantu aku..berat..” Dimas hanya mengerang, Satya seketika mengambil tangan Angga lainnya dan merangkulkannya kepundaknya, mereka menuntun tubuh Angga dan merebahkannya ke sofa ruang santai.
“Ada apa?” Dimas mengehela nafas karena kelelahan “aku juga tak tahu, aku tiba dia sudah disana bersama Barra dan teman-temannya.”
“b
Berkelahi dengan Barra?” Dimas menggeleng “Kata Eric sih bukan, dia dihajar sama penjaga club karena mengacau di sana” Satya kaget “kenapa?” Dimas mengangkat bahunya “cuma dia yang bisa menjelaskan.” Ujarnya menunjuk Angga yang terkulai lemah tak sadarkan diri.
“Pertama-tama kita rawat dulu dia.” Satya mengangguk, beranjak pergi mengambil kebutuhan tersebut, beberapa saat dia kembali dari kamar Angga membawa pakaian bersih dan beberapa obat ditangannya sementara Dimas datang dari dapur membawa baskom berisi air hangat dan handuk.
__ADS_1
“Aku tak menyangka pengalaman cintanya harus berjalan seperti ini.” Tutur Dimas membantu Satya membuka bajunya, mereka kaget bersamaan ketika melihat memar besar di perut Angga.
“Wah gila, panggil Mas Danu aja deh.” Ujar Dimas melihat memar parah ditubuh Angga.
***
“Thanks Bro, kamu memang dokter terbaik yang pernah aku kenal.” Danu hanya tertawa mendengar pujian Dimas itu. “Aku pamit, kalian bisa juga mengoleskan salep ini untuk meringankan nyeri dan mendinginkan perutnya.”
Sepulangnya Dokter Danu, Angga tersadar dan mencoba berdiri.. “Wo..wo.wooo...kau mau kemana dengan keadaan begini?” Dimas menangkap tubuh Angga yang hampir jatuh.
“Aku harus menyelamatkan Kejora.”
“Aku tahu kau mencintainya Mas, tapi jelaskan dulu ada apa?” Sahut Satya, Angga kembali duduk dan menjelaskan apa yang terjadi dengan Kejora saat mereka di taman TK.
Mereka terdiam dan berpikir, “aku bisa melacaknya.” ujar Satya “Barra juga tahu keberadaan mereka, dia hanya memberi pesan untuk tak gegabah karena tempat itu dijaga, kemungkinan orang-orang seperti yang memukulimu itu.” Jelas Dimas.
“Sat, aku tahu kau peduli denganku, tapi aku tak ingin kau memikirkan ini. Kau harus menyelesaikan pekerjaanmu itu, ada Barra yang sudah mengetahui keberadaan mereka.”
“Kau gila Mas, kau pikir aku akan diam saja dan bisa konsentrasi?” Sanggah Satya mendengar itu. Satya mendengar bunyi bel dan berjalan membukakan pintu, tanpa menunggu lama seorang itu segera menerobos masuk ketika mendengar suara kunci terbuka.
Satya hanya bisa mengekor dibelakang pria yang merupakan ayah Angga.
Pak Wira kaget mereka berduapun kaget, “kenapa kau sampai babak belur begini?” Pak Wira menghampiri dan melihat lebih dekat wajah Angga.
“Kau sudah gila? Kau ingin terkenal?” Angga menunduk “ada apa?”
“Wanita itu mengetahui jika Kejora membantuku untuk mencari informasi, Pak Bas membawanya dan sepertinya dia dalam bahaya. Maukah kau menolongnya Yah?” Pak Wira menatap heran “apa urusanku dengan perempuan itu?”
“Dia sudah banyak membantu Yah.”
“Apa aku memintanya?”
Angga mendengus kesal “Setidaknya dia berani mengambil resiko melawan Madam Den itu!” Sergahnya, Pak Wira mengamati sekujur tubuh Angga “aku tahu, kau tak mungkin begini terhadap wanita, jika kau tak ada apa-apa dengannya. Katakan! Apa hubungan kalian, sudah lama aku mencurigai gelagatmu.” Dimas dan Satya hanya bisa diam tak berani masuk kedalam percakapan ayah dan anak itu.
“Jawab!” Pak Wira menarik baju Angga agar dia menatap mukanya. “Apa kau kira aku akan menolong pelaccur itu agar dia bisa bersamamu? Kau pikir aku hilang akal?” Angga tak bergeming dalam tatapan tajam ayahnya.
“Dia manusia Yah, dia seumuran denganku, dia perempuan dan ada lelaki kejam yang bisa melakukan apapun diluar bayanganku kepadanya, Ayah pasti tahu sebejat apa Pak Baskara itu.” Tutur Angga pelan mencoba menjelaskan dengan baik, dia tau walau ayahnya keras tapi masih ada sisi kemanusiaan dihatinya.
Pak Wira melepaskan cengkraman dibaju Angga. “Akan aku minta Krisna membantumu, tapi!” Pak Wira memberikan syarat, “setelah itu aku tak ingin mendengarmu bersamanya.” Angga dia meragukan untuk menjawab “paham!” kaget dengan bentakan ayahnya, seketika dia mengangguk walau dia tak meyakini persetujuan itu.
-bersambung-
__ADS_1