Bintang Kejora

Bintang Kejora
Darurat!


__ADS_3

"Jadi bagaimana Kris?" Tanya Bu Widi ingin membahas alasan Pak Krisna membawanya ke tempat itu.


"Baskara menemui Pak Wira dan bertanya padanya apakah ada hubungan antara klan dengan dirinya, saat disana apa kalian melihat sesuatu di TKP?"


"Mereka berteriak 'amankan!' Aku tak tahu itu yang jelas tempat itu mereka gunakan untuk menyelundupkan bahan popiv" Jelas Dimas, "dan aku rasa pria yang kabur itu yang melapor ke Baskara."


"Lalu mereka yang kalian sandra ada dimana?"


Pak Krisna menunjuk pintu yang selalu tertutup dan dijaga dua orang di depan pintu. "Ada 14 orang disana, dan mereka bungkam semua. Aku tak tahu bagaimana mengorek informasi pada mereka." Jelas Pak Krisna ke Bu Widi.


"Oke." Bu Widi berdiri dan berjalan menuju pintu itu diikuti oleh merek secara serempak, "Bintang, ada baiknya kau menunggu diluar, karena kemungkinan kau tak kuat melihat apa yang akan aku lakukan." Jelas Bu Widi lembut namun tegas, dan dipatuhi oleh Kejora yang kemudian memilih untuk masuk kedalam kamar dimana dia beristirahat.


Mereka berempat masuk dan melihat tangga yang mengarah ke bawah. "Wuah.." Ucap Dimas melihat itu, "aku tak menyangka ini sebuah ruangan bawah tanah." Mereka menuruni tangga yang selebar bentangan tangan orang dewasa itu perlahan, bunyi langkah mereka yang tertumpu pada tangga kayu terdengar menggema diruangan yang cukup lebar itu, bau khas ruangan tertutup membuat Dimas mengerucutkan bibirnya "aku berpikir mungkin bau tanah itu mirip seperti ini ya?" Bisiknya kepada Angga, tapi tak digubris olehnya.


Mereka berhenti di deoan dua pintu yang tertutup, Pak Krisna membuka pintu itu dan ada ruangan besar dimana beberapa orang terikat dengan mata tertutup di kursi saling membelakangi.


"Apa yang kalian sembunyikan disana? Jawab."


"Bunuh saja kami!"


"Aku lebih menikmati untuk menyiksa kalian." Ujar Bu Widi menarik salah satu dari mereka sehingga terjatuh dengan wajah yang mendarat duluan.


Dimas meringis melihat itu, "kenapa tak membawa mereka ke polisi?" Pak Krisna menggeleng, "kami mau mengorek informasi terlebih dahulu baru menyerahkan mereka. Kami juga curiga ada oknum di kepolisian."


Angga tak kuasa ketika melihat orang yang diintrogasi tersebut mendapat perlakuan menyakitkan dari Bu Widi, "Apa gunanya menjaga rahasia? Toh jika kalian kembali ke atasan kalian, kalian tetap akan mati." Ujar Bu Widi menyulut jari-jari orang itu dengan api ditangannya, teriakan kepanasan dan kesakitan menggema diruangan, "kalian tahu, aku bisa mengakhiri nyawa kalian dengan mudah, jangan pikir aku wanita aku akan berbelas kasih, kalian tidak tahu sudah berapa ratus nyawa yang berakhir ditanganku."


"Ampun..ampun..ampun.." Bu Widi menghentikan sesaat lagi meminta seseorang membantunya untuk kembali duduk.


"Katakan.. aku tahu diantara kalian semua, kau paling  berpengaruh disini, kalian bertiga bersama temanmu yang kabur dan kuledakkan kepalanya itu." Bu Widi duduk menyilangkan kakinya.


"Siapa kau sebenarnya? Apa kau anggota Klan Sembrani?"


"Aku ingin kau menjawab bukan bertanya."

__ADS_1


Sahut Bu Widi mendekatkan wajahnya, "lepas ikatannya dan letakkan kedua tangannya dimeja." Perintah singkat yang segera dipatuhi anak buah Bu Widi yang tadi berjaga dipintu.


Dimas dan Angga bertukar pandangan ketika melihat sosok tegap itu, benar dugaan Angga, itu adalah orang yang sama di penyergapan itu. Meja khusus yang terdapat tali kuat yang memasung tangan tawanan itu kini dipasang sebuah gergaji bermata tajam oleh anak buah Bu Widi.


"Ini serius, wah aku bisa tak tahan melihatnya." Angga hanya menelan ludah melihat itu dan sangat setuju dengan apa yang diucapkan oleh Dimas, ya walau mereka berada di ruangan berbeda dan suara mereka tidak terdengar oleh para tawanan karena mereka berada dibilik pengamat yang kedap udara. Tetap saja mereka akan menyaksikan hal yang entah akan terjadi atau hanya ancaman semata


Tubuh tawanan itu menegang, karena walau tak melihat dia mendengar suara mesin gergaji sangat dekat di dekat tangannya.


"Jika kau menjelaskan bertele-tele aku sangat senang memotong tanganmu."


"AKU JELASKAN! AKU JELASKAN!"


"Matikan."


"Pak Baskara beberapa minggu yang lalu mengimpor sebuah barang aku tak tahu apa itu! Kami hanya ditugaskan untuk menjaganya sampai ke gudang utama untuk diolah oleh tim farmasi."


Bu Widi menaikkan sebelah alisnya, "tim farmasi?"


"Gudang utama, dipabrik gula yang saat ini berada. Jangan bunuh aku! Kumohon!"


"Tidak, jika kau menurut dan membuat semuanya mudah." Bu Widi berdiri dan melihat tawanan lainnya.


"Kalian semua akan aku kirim ke kantor polisi, jangan katakan apa yang kalian dengar diruangan ini, karena aku tahu ada boneka yang bekerja di kepolisian di bawah boss kalian. Tapi, jika kalian mau mengatakan, katakan saja, mungkin kalian akan mati." Ujar Bu Widi memberi pilihan seolah itu pilihan yang mudah.


"Antar mereka ke kantor polisi, atas kasus penculikan." Anak buah Bu Widi kembali mengikat mereka dan memanggil rekan-rekannya untuk membawa tawanan itu. Setelah itu mereka kembali keruang utama tempat pertama mereka mengobrol.


"Aku harus pergi mengurus sesuatu." Ujar Bu Widi dan dihentikan oleh Kejora yang bergegas menghampirinya.


"Kau tetap disini ya, bahaya akan datang kapanpun"


"bagaimana denganmu Bu?"


"Emm..mereka tidak mengetahui wajahku, hanya klanku yang tahu wajahku, sekalipun aku ditangkap, aku yakin mereka tak akan segera membunuhku." Bu Widi melihat keraguan dan ketakutan begitu jelas diwajah Kejora.

__ADS_1


"Apapun yang terjadi, aku melakukan yang terbaik dan aku ingin kau percaya padaku." Kejora memeluk erat dan mencoba menerima semua dengan ikhlas, menerima kemungkinan dia akan kehilangan ibu asuhnya itu.


"Aku tetap berharap kau baik-baik saja."


"Aku tak bisa berjanji karena aku tak yakin bisa menepati."


Kejora terisak, "Angga, jaga dia untukku ya." Angga mengangguk cepat, "sebagai balasan jasa telah menolongku, aku akan berusaha sebaik mungkin menjaganya." Bu Widi tersenyum lega mendengarnya.


Kejora menangis ketika Bu Widi melepas pelukannya, Angga berjalan perlahan dan mencoba untuk menenangkan Kejora, tangannya bergerak perlahan untuk meraih tubuh Kejora. "Aku disini." Kejora berbalik dan memeluk erat tubuh pria itu, mendekapnya erat Angga mengusap pelan bahu Kejora.


***


"Kau yakin akan kesana?" Tanya Pak Krisna menatap Bu Widi yang menatap kosong seraya memijat dahinya.


"Lalu harus bagaimana lagi? Aku harus membuat pria itu mantap dan tak ragu-ragu dengan rencananya! Lihat saja anaknya begitu jantan dan berani bahkan dia bisa menepati janji untuk melindungi wanita sesuai janjinya itu."


Pak Krisna menipiskan bibirnya, "Pak Wira mungkin memikirkan hal lain, kepergian Bu Anita meninggalkan luka besar untuknya."


Bu Widi tertawa mendengus mendengarnya, "kenapa pria selalu lemah karena cinta." Bu Widi menatap layar ponselnya "ada apa Geni?" Tanyanya kepada salah satu rekan klannya yang mengantar tawanan tadi, sebuah nama samaran yang dipakai, ketiga rekan Bu Widi bernama Geni yang memiliki tato dilengan, Banyu dan Watu.


"APA!!!" Kaget Bu Widi dan mengejutkan Pak Krisna serta Watu yang sedang menyetir, "tetaplah sembunyi jangan kembali ke markas."


"Ada apa?" Tanya Pak Krisna ketika Bu Widi menutup sambungan telponnya, "mereka diserang! Beberapa tawanan mati bersama orang-orangmu! Hanya Geni yang berhasil menyelamatkan diri." Pak Krisna membelalakkan matanya.


"Dan orang itu yang selamat, dibawa kabur oleh mereka, aku yakin ini ulah Baskara!"


"Kita harus bagaimana?"


"Bergegas temui Wira! Watu percepat, kau menyetir seperti nenek-nenek!" Kesal Bu Widi masih dengan telpon ditelinganya berusaha menghubungi seseorang.


"Banyu! segera kemasi barang dan sembunyi di bunker belakang. Aku yakin mereka akan mencari lokasi markas, SEGERA!" Ujar Bu Widi tanpa basa-basi dan menutup telponnya.


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2