
Jangan lupa ramein komentarnya❤
......................
Entah kenapa suasana di meja makan pagi ini terasa sangat berbeda. Bukan hanya kursi Tante Marisa yang tampak kosong, namun raut wajah Om Dana yang sepertinya sedang banyak pikiran itu membuatku sedikit heran. Sepertinya Bintang juga merasakan kejanggalan.
"Papa kenapa?"
Om Dana tersentak. Mungkin beberapa detik tadi beliau melamunkan sesuatau. Hingga pertanyaan Bintang membuat Om Dana mendongakkan kepalanya sekarang.
"Tidak. Papa cuma lagi kepikiran soal pekerjaan papa yang belum selesai di kantor," jawab Om Dana.
Bintang hanya mengangguk mengerti. Dia seperti tidak ingin membahasnya lebih lanjut lagi dan memilih fokus kepada makanannya.
Lain halnya degan Bintang, aku justru semakin melihat bahwa ada yang Om Dana sedang tutup-tutupi. Aku bisa melihat dari gelagatnya, dan juga sorot matanya. Baru kali ini aku melihat Om Dana bisa segelisah ini hanya karena masalah kantornya.
Sepertinya memang ada hal lain yang sudah terjadi. Mungkin Om Dana dan Tante Marisa sedang ada masalah pribadi. Bukannya aku ingin ikut campur dengan masalah mereka, tapi aku sempat mendengar pertengkaran mereka di kamar tanpa sengaja tempo hari, saat aku sedang ingin mengambil minum ke dapur.
Dan aku yakin Bintang tidak mengetahui masalah ini. Aku sendiri tidak tahu mereka sedang meributkan apa malam itu. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas, dan tidak ada niatan untuk menguping.
"Tante Marisa kemana Om? Kok nggak ikut sarapan bareng kita?" Tanyaku memecahkan kesunyian yang tadi tercipta.
Om Dana mengalihkan pandangannya padaku. "Dia sudah berangkat subuh tadi. Katanya ada urusan mendadak yang harus diselesaikan."
Sepertinya aku memang harus berpikir positif dan menghapus semua kecurigaanku tadi. Mungkin saja Om Dana dan Tante Marisa memang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka di kantor.
Sebenarnya aku juga sangat merindukan Tante Marisa. Akhir-akhir ini Tante Marisa sudah jarang sekali ke kamarku. Entah itu cuma perasaanku saja yang berlebihan atau bagaimana, tapi yang jelas aku merindukan Tante Marisa yang dulu.
"Bintang, papa berangkat ke kantor dulu ya. Nanti tolong kamu anterin Kejora ke sekolah," pamit Om Dana yang sudah beranjak. Meninggalkan nasi gorengnya yang masih setengah.
"Iya pa."
Om Dana lalu menoleh ke arahku sambil tersenyum. "Kejora, Om berangkat dulu ya."
"Iya Om. Hati-hati di jalan."
Sepeninggal Om Dana beberapa menit tadi meja makan kembali hening. Aku masih bergelut dengan pemikiranku. Yang tidak lain memikirkan Om Dana dan juga Tante Marisa.
"Lo mikirin apa?" Tanya Bintang menyadarkanku.
Tentu saja aku tidak akan berkata jujur padanya tentang apa yang sedang aku pikirkan sekarang. Secepat mungkin aku mencari alasan yang bisa masuk akal agar Bintang mempercayaiku.
"Enggak kok. Gue baru inget aja kalo ada PR yang belum aku kerjain semalem," jawabku dengan wajah yang berusaha aku tutupi dari rasa gelisah.
"Kenapa nggak bilang? Dan kenapa nggak dikerjain?"
Seperti harapanku tadi, Bintang mempercayai kebohonganku.
"I-iya maaf. Soalnya susah semua. Gue nggak bisa," ucapku menunduk.
"Lain kali bilang sama gue kalo ada yang nggak ngerti. Gue pasti ajarin. Nggak ada yang susah selama kita mau usaha,"
Dingin tapi perhatian. Itulah penjabaran dari seorang Bitang Pradana. Yang berkali-kali membuatku jatuh cinta kepadanya.
__ADS_1
"Siap bos!" Jawabku sumringah. Senang rasanya bisa mendapat perhatian Bintang seperti ini.
"Gue ambil kunci mobil dulu."
Aku memandangi Bintang yang menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sambil menunggu dia kembali aku merapikan meja makan yang tadi digunakan untuk sarapan. Menumpuk piring kotornya menjadi satu.
Namun ada sesuatu yang sekarang menyita perhatianku. Sepertinya ini lebih penting dari membereskan piring-piring kotor tadi. Pandanganku berhenti pada sebuah map berwarna biru muda yang tergeletak di meja. Sepertinya itu milik Om Dana yang baru saja tertinggal.
Aku mengambil map itu. Bagaimana jika itu adalah dokumen penting kantor? Pasti Om Dana kebingungan mencarinya sekarang.
Karena rasa penasaran aku membuka map itu. Membaca halaman pertama yang isinya hanya sebuah tulisan ketik komputer. Disana tertulis sebuah surat perjanjian kontrak kerja. Merasa kurang informasi, aku kembali membuka lembar ke dua. Sekilas memang isinya hampir sama dengan yang pertama, tidak ada yang menarik. Hingga setelah meneliti sampai akhir mataku langsung menyipit. Ada sebuah tulisan tangan yang menurutku tidak asing dilihat.
Aku masih diam dan mengamati tulisan itu lebih detail lagi. Aku memang seperti pernah melihat tulisan tangan ini sebelumnya. Tapi dimana kira-kira?
***
Seperti Tuhan tidak memihak kepadaku hari ini. Setelah tadi di rumah dibuat pusing dengan berbagai pertanyaan yang membuatku janggal, jam terakhir kali ini entah kenapa juga harus memeras otak. Pasalnya tiga jam terakhir pelajaran harus menghadapi rumus-rumus fisika.
Setengah mati aku memperhatikan Pak Wanto yang masih sibuk menuliskan rumus di papan tulis meski mataku sudah mengantuk dan kepalaku terasa pusing.
"Gue kira naik kelas XII bisa terbebas dari si pantat bohay itu! Nggak taunya malah dia lagi guru fisika kita. Kan kampret!" Gerutu Keisha yang berada di sebelahku.
"Kalo bahasa gaulnya anjay kan Kei?" Ucapku menanggapi juga dengan kesal.
"Coba aja bapak gue dukun. Kelar idup tuh guru!"
"Lo mau pelet Pak Wanto?" Tanyaku melotot heran.
Aku hanya tertawa geli menanggapi perkataan Keisha barusan. Hingga tak lama bel pulang berbunyi nyaring disusul sorak gembira dari anak-anak.
"PR-nya kalian kerjakan soal latihan di buku paket dari halaman 105-110 ya! Nanti kita bahas di pertemuan selanjutnya. Selamat siang!"
Dan kalimat dari Pak Wanto sebagai penutup itu seperti sebuah musibah. Hampir semua anak mengumpat secara bersamaan.
"Kampret!"
"Anying lah!"
"Fucek!"
"Daebak!"
***
Aku memikirkan sebuah kartu ucapan yang kemarin sengaja aku bawa dari pemakaman mama. Dugaanku semakin kuat jika seseorang yang menulis permintaan maaf kepada mama tempo hari pasti adalah Om Dana. Ya. Aku baru saja ingat setelah berpikir keras seharian.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya kenapa Om Dana meminta maaf kepada mama dan memberikannya bunga mawar putih? Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui sampai sekarang? Apakah dulu Om Dana dan mama sempat dekat?
Tentu saja aku akan menanyakan hal ini langsung kepada Om Dana. Namun entah kapan aku akan berani untuk menanyakan ini, sedangkan Om Dana saja setiap hari sangat sibuk. Apalagi saat mengigat raut wajah Om Dana tadi pagi. Aku jadi berpikir dua kali.
"Sampai sini paham?"
Suara itu terdengar samar-samar di telingaku. Entah kenapa suara itu seperti mirip dengan Bintang. Apa aku sedang menghayal?
__ADS_1
"Ra!"
Aku tersentak kaget begitu ada yang mengguncang bahuku. Ternyata sedari tadi aku melamun dan tidak memperhatikan Bintang yang sedang menerangkan rumus-rumus kimia.
"Eh, i-iya Bintang. Sampek mana tadi?" Tanyaku linglung.
Bintang menghela nafasnya lelah. Malam ini aku memang sedang belajar bersama di kamar Bintang. Minta diajarin sih lebih tepatnya. Gara-gara PR dari Pak Wanto yang setumpuk itu yang membuat aku mau tidak mau mendatangi kamar Bintang untuk minta bantuan.
"Lo lagi mikirin apa sampek gak fokus gue nerangin?" Tanya Bintang heran.
Aku gelagapan sendiri. "Gue fokus kok. Gue udah paham."
Bintang hanya mengerutkan dahinya. Lalu beberapa detik kemudian dia tersenyum jahil. "Kalo gitu coba gue tanya. Kalo mau ngerjain soal yang ini, lo harus pakek rumus yang mana?"
Mampus gue!
Bintang menyodorkan buku catatan yang berisi rumus lalu menunjuk salah satu soal di buku paket. Oke. Kali ini aku hanya memakai metode ngawur dan berharap keberuntungan memihakku sekarang. Karena demi apapun aku tidak tahu Bintang tadi jelasin apa.
"Gampang! Pakek rumus yang ini kan?" Ucapku dengan percaya diri.
Bintang tersenyum sebentar sebagai jawaban. Tapi dari senyum itu aja aku bisa tahu jika jawabanku tadi pasti benar. Lega rasanya.
PLAK!!!
Sebuah pukulan kecil dari buku tulis mendarat di kepalaku. Aku meringis antara kaget dan juga sedikit merasakan sakit. Baru saja aku ingin bangun dari posisiku yang tidur tengkurep.
"Kok gue dipukul sih?" Protesku kesal pada Bintang.
"Karena jawaban lo salah." Sahut Bintang enteng.
"Ih. Nggak pakek mukul juga dong Bintang," ucapku masih tak terima.
"Salah siapa nggak fokus!"
"Ih! Kok jadi rese sih sekarang! Gue bales nih pakek buku yang lebih gede, mau?"
Aku meraih buku paket tebal yang ada di lantai lalu memukulkannya ke arah Bintang yang sedang duduk di bawah. Memang tadi Bintang menyuruhku untuk diatas kasurnya sedangkan dia memilih untuk duduk di bawah.
Masih dengan posisiku yang tengkurep di kasur aku mencoba untuk memukul Bintang. Tapi karena dia ingin menepis pukulanku tadi tangannya kini justru mencekal tanganku dan tiba-tiba saja aku jatuh terjungkal ke bawah karena tarikan tangan Bintang.
Sungguh posisi jatuh yang sangat tidak etis. Bagaimana bisa aku berada di atas tubuh Bintang sekarang? Susah payah aku menahan tubuhku agar tidak ambruk menimpa Bintang. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafas Bintang yang beraroma mint menerpa wajahku. Aku bisa menatap mata indah miliknya yang juga menatapku. Jika aku sedikit saja lengah maka aku pastikan tubuhku akan menempel dengan tubuhnya.
"Lo mau belajar dengan posisi gini?"
Spontan. Aku langsung menarik tubuhku untuk bangun dan menjauh dari Bintang. Rasanya pipiku sudah merah padam karena malu.
Benar-benar malu-maluin!
"Muka lo kenapa merah?"
Dari sekian banyak pertanyaan entah kenapa Bintang justru memilih kalimat itu sebagai pertanyaannya.
***
__ADS_1