Bintang Kejora

Bintang Kejora
Diintai Bahaya


__ADS_3

3 hari kemudian.


 


“Tim investigasi mencurigai kemungkinan awal dari sakitnya anak sekolah karena vitamin palsu yang sengaja ditukar oleh oknum dimobil petugas kesehatan, dokter dan para ahli sedang mencari penawar dari efek vitamin palsu ini. Gubernur sendiri sudah mengambil langkah untuk melacak siapa gerangan oknum dibalik ini, beliau mengerahkan beberapa polisi untuk melacak keberadaan oknum tersebut.”


--


Suara berita dari televisi masih menyiarkan tentang polemik vitamin palsu yang membuat beberapa siswa sekolah menderita sakit yang tak jelas.


Diruang santai itu, Dimas sedang menonton berita yang masih membahas bencana sakitnya anak sekolah yang hampir meliburkan beberapa sekolah di Jawa Tengah terutama Kota Semarang.


Ada hampir 10 sekolah dasar, 6 sekolah menengah pertama dan 2 sekolah menengah atas.


Kini beberapa mahasiswa dari kampus negri dan swasta pun sebagian juga mengalami efek yang sama ketika ada even kampus dan mereka meminum minum energi yang menjadi sponsor, saat ini perusahaan minuman tersebut sedang diintrogasi oleh pihak kepolisian, bahkan mereka menarik merk minuman mereka dari pasaran.


Dimas berdecak dan menggelengkan kepalanya “benar-benar jahat sekali wanita itu.”


--


“Masih menjadi misteri sebenarnya siapa dan apa tujuan orang dibalik bencana ini, mengapa harus generasi muda? Kemungkinan ini berkaitan dengan aksi terorisme.” Jelas pembawa berita di televisi.


“Mau kemana?” tanya Dimas melihat Satya tergopoh-gopoh membawa barang-barangnya “Sial...sial...sial....” bukannya menjawab, Satya malah mengumpat seraya terburu-buru mengancingkan bajunya, Dimas hanya menonton dengan wajah bingung.


“Mas, anterin aku cepetan!” pinta Satya seraya mencari-cari sesuatu di meja ruang santai “Nyari ini? nih..” Dimas menyerahkan tag nama milik Satya yang mungkin semalam terjatuh ketika dia pulang dari kerjanya saat larut malam dan ditemukan Dimas ketika dia bangun dan berencana nonton berita pagi.


Satya saat ini bekerja di perusahaan game yang cukup terkenal di Jogja, perusahaan tersebut membuat game mobile di smartphone. Perusahaan tersebut berkepemilikan oleh warga Amerika yang berkantor pusat di Jakarta tapi memiliki cabang kantor di Jogja.


Satya termasuk pengembang game yang mendapat prestasi baik di perusahaan tersebut, bahkan dia mendapat tawaran pelatihan di Amerika, dimana sebelumdia mendapat tawaran di Jepang, tapi ditolak oleh Satya karena biaya hidupnya yang begitu besar dan dia tak punya uang, dia tak mungkin meminta orang tuanya yang hanya bekerja sebagai petani.


Pak Wira menawarkan untuk membiayainya tapi kembali ditolak oleh Satya karena alasan klasik, tidak mau merepotkan. Aslinya semua itu karena Satya memang tidak tertarik dan dia sedang mengincar negara impiannya “Jepang” negara yang memiliki teknologi maju dan apik untuk pengembang game.


Bahkan dia mengidolakan seorang perancang game yang memiliki perusahaan game besar di Jepang yang sedang membuka pelatihan dan kerja sama dengan pengembang pemula dan berniat membuat proyek game besar di sana.


Karena itu Satya berusaha keras agar bisa lolos untuk itu, selain karena itu adalah mimpinya, itu juga bisa menjadi jalan terbaik untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya, menyekolahkan adik-adiknya.


“Aduh gimana nih..” Satya nampak bingung “Bung.. Berdiri tegak, santai, tenang.. Ada apa?” tanya Dimas mencoba membuat kepanikan Satya berkurang.


Satya menjambak rambutnya sendiri dan memasang wajah panik. “1 bulan lagi aku berangkat, tapi program betaku masih belum rampung, kemarin aku meminta bantuan Mas Bhanu di kantor, lalu kemudian ada rekan buleku yang tiba-tiba menawarkan diri bisa membantu, dia yang ngaku pintar itu bisa membantuku menyelesaikan beberapa bug di program. Ternyata pagi ini, dia mengacaukau programku dengan alasan ingin melihat akar programku, aku sama aja mulai lagi tahap itu, seharusnya aku udah maju ketahap lain, program betaku yang harusnya bisa kuselesaikan sebulan ini, KACAU BALAU MAS!” Satya mengacak-acak rambutnya “dan bule itu gak tau dimana! Mas Bhanu sampai kesa."


“Laah..emang gak ada cadangannya? Tumben amat kamu bisa seceroboh itu gak buat cadangan?”


“Ya ada, tapi kan yang aku buat sudah lumayan jauh, masa ngulang lagi.”


“Tak bisa dikembalikan?” Satya menghela nafas dan menggeleng “kok bisa kaya gitu sih?!” Dimas jadi ikut-ikutan kesal mendengarnya.


“Aku tahu hal ini agak sulit untuk dipercaya,.. Aihhh...” Satya kembali mengacak-acak rambutnya, “yaudah kau minta aku antar kemana? Ke kantor?” Satya mengangguk.

__ADS_1


Dimas segera melajukan mobilnya, sementara teman disebelahnya tak berhenti menggoyangkak kakinya seraya menggigit kukunya, Dimas mengamati itu dan memukul tangannya. "What?" Satya memasang wajah jengkel.


"Jorok, kau tahu Pak Ustad pernah bilang, menggigit kuku itu bukan perbuatan bagus."


Satya hanya mendesis mendengar penjelasan Dimas.


***


“KEJUTAAANNNNN........” Sorak beberapa rekan kerja Satya ketika dia dan Dimas berada di lobby kantor, Satya hanya memasang wajah bingung.


“Selamat ulaaaangg tahuunnnn.. Selamat ulaaangg tahuunn... Selamat ulang tahun Satya blo’on... Selamat ulang tahun..” Sorak beberapa teman Satya, Satya tertawa miring tak menyangka pagi-pagi dia kalang kabut karena berita program gamenya yang kacau ternyata hanya sebuah kejutan.


Dia menoleh kearah Dimas yang juga ikut tertawa dan minta maaf karena lupa tanggal.


“Aku tebak kau pasti kaget, terlihat dari penampilanmu.” Ledek salah satu temannya dan Satya melihat penampilannya yang bahkan tak mandi dan tak kepikiran hal lainnya selain segera ke kantor agar bisa segera menyelesaikan masalah.


Dia tertawa “manusia setan kalian.” “woow..wow.. Remaja Islam Masjid kita mengumpat.” Ledek mereka kemudian tertawa.


“aku jadi ikutan panik” guman Dimas menghela nafas dan menepuk pundak Satya, “aku pulang, aku juga harus bersiap untuk ke kantor.” Satya mengangguk dan permisi sebentar ke teman lainnya untuk mengikuti Dimas.


“Kau mau kubawakan apa untuk kado? Apapun kau bisa memilih apapun yang ada di mall ku.” Satya membulatkan bibirnya “Kartu saktimu itu, boleh kupinjam 1 bulan, aku mau makan gratis di lantai paling atas, resto tengah yang makanannya enak itu.” Satya menunjukkan deretan giginya.


“Hei! Itu resto mahal!” Satya terbahak, kemudian mengerucutkan bibirnya “Mas Adimas kan bilang apapun..” dengan nada merengek membuat Dimas menatap jijik apalagi ketika Satya memanggilnya begitu. “Stop! Menjijikkan oughh..” Ujar Dimas bergidik ngeri dan pura-pura muntah.


“1 bulan ya, untuk perpisahanku dengan Mila.” Dimas menghela dan mengangguk pasrah, “Nih..” dia menyerahkan kartu platinum berlogo perusahaanya  bertuliskan “free pass, ditanggung Adimas Danurwendha, CEO Wedarukso Mall.” Lengkap dengan cap resmi dan tanda tangan Dimas, kartu yang hanya dimiliki keluarga Dimas.


“Astaghfirullah... kok tahu rencanaku?” Ujar Satya mengelus dadanya secara dramatis seolah kaget dengan ucapan Dimas. “Haha.. Yaudah balik sana ke teman-temanmu” Satya melambaikan tangannya dan kembali berkumpul dengan teman-temannya.


 


***


“Hari ini Satya ulang tahun.” Jelas Angga kepada Kejora, “malam ini mau kan ikut kumpul dengan kami?” Kejora nampak ragu


“Acaranya sederhana, dia memang tak suka ulang tahunnya dirayakan, tapi karena sekaligus acara perpisahaan terhitung dia bakal 2 tahun menetap di negara itu, jadi kami rayakan diluar.”


Kejora mengerutkan dahinya “dia mau kemana?”


“Jepang, mengejar impiannya yang selama ini dia impikan.”


“Woah..” Kejora terpukau mendengarnya.


“Gimana? mau?”


“Emmm...”


“Tak ramai, hanya kami bertiga, dan Mila serta kamu kalau kamu mau ikut.” Mendengar hanya beberapa orang Kejora menyetujui ajakan itu.

__ADS_1


***


Mereka mengadakan acara makan bersama, kumpul dan tertawa disebuah tempat makan bernuansa desa dipinggir sungai, tempat makan yang ditata seperti bale yang mengapung diatas kolam adalah suasana yang semakin cocok untuk mereka berkumpul.


“Ahh... Geli banget sumpah liat kalian berdua, tanganmu nganggur jangan sok manja gitu deh, jiwaku meronta ingin mengobrak-abrik tempat ini.” Ungkap Dimas secara berlebihan melihat Satya yang disuapi oleh Mila.


“Makanya bawa cewek, lagipula kenapa Indri tak ikut?” Sahut Satya sedikit tak jelas karena sembari mengunyah makanannya.


“Indri apaan? dia bukan siapa-siapaku! aku sengaja gak bawa, sebab aku bingung mau mengajak yang mana.” Dimas melihat kesepuluh jarinya seraya mengguman beberapa nama.


Angga hanya berdecak karena tingkah Dimas yang benar-benar playboy. Melihat kondisi Dimas dimana dia yang kaya, tampan, menjadi pemilik Mall keluarganya diusia muda, apalagi yang kurang? Yaah.. cinta.


“Aku mau merokok dulu. Jujur aku gak kuat melihat kalian, hatiku tergelitik.” Jelasnya seraya bangkit dan menggidikkan badannya, bagaimana tidak dia datang sendiri sedangkan kedua temannya membawa teman perempuannya.


Dimas duduk ditaman  tak jauh dari bale tempat mereka kumpul, dimana disana mereka berempat terlihat mengobrol dan tertawa, masih terdengar topik apa yang dibicarakan ditelinga Dimas, terkadang dia menyunggingkan senyumannya ketika merasa hal itu lucu dan terkadang menyahut dari kejauhan.


“Apa dia merokok jauh disana karena ada Mila?” Tanya Kejora karena tahu dari cerita Mila, jika perempuan yang menjadi kekasih Satya itu lemah dengan asap rokok.


“Iya, tapi lebih tepatnya karena Satya.” Jawab Angga singkat, Kejora menoleh kearah Satya “Kamu ada riwayat sakit paru-paru juga kah?” “Hah?” Bingung Satya karena tiba-tiba Kejora bertanya kepadanya lalu kemudian menggeleng, “ tidak..aku cuma benci asap rokok” jawabnya. “Lagipula jika dia berani merokok didekat Mila, kubuat dia menelan abu rokoknya.” Dengus Satya seraya mengunyah, yah begitulah. Ketika yang lainnya sudah selesai makan, Satya masih sibuk dengan makanan lainnya.


“Sangat langka menemui laki-laki yang tak merokok” Mila menyetujui ucapan Kejora, “itu alasannya aku mau sama dia.” Ungkap Mila manggut-manggu seraya membantu Satya memilah duri di makanan Satya.


“Kamu tak suka perokok?” Kejora memiringkan kepalanya menatap Angga disebelahnya yang terlihat kikuk,


“kenapa gitu?”


“Jika kau tak suka perokok, aku akan mulai berhenti merokok.” Kejora tertawa kecil.


“Pfft... bucin..” Ledek Satya melihat Angga yang khawatir jika Kejora tak menyukai perokok.


“Maaf Mas..” dari kejauhan mereka mendengar seorang wanita mendekati Dimas, “Aku hamil.” Mereka berempat sontak kaget bahkan Satya sampai tersedak makanannya dan buru-buru menerima minum yang diberikan Mila.


Dimas hanya melotot kearah wanita yang tak dikenalnya itu, nafasnya seolah berhenti karena mencoba mengingat apakah pernah dia meniduri wanita tanpa pengaman.


“Aku hamil dan asap rokok milik Mas menuju kearahku.” Dimas masih menatap kaget dengan mulut terbuka, melihat Dimas yang hanya menganga tanpa bicara, wanita hamil tersebut memahami jika pria yang merokok didepannya salah menanggapi maksudnya, dia berdeham sebelum berbicara kembali.


“Tolong pindah, atau tidak matikan rokonya, terima kasih.” Ujar wanita itu pergi, Dimas menghela nafas beratnya, lalu dia menatap keempat orang yang tertawa kearahnya.


Dia menginjak puntung rokoknya dan melangkah menuju teman-temannya.


“Aku sudah kaget, aku kira dia hamil denganku.” Ujar Dimas duduk bersila seraya mengelus dadanya, kedua temannya masih tertawa terbahak-bahak dan dia hanya melihat satu persatu temannya dengan tatapan kesal.


***


“Kau terlihat begitu bahagia hah.. Lihat saja Ke, aku tak akan menbiarkanmu bahagia dengan orang lain.” Tanpa disadari mereka, ternyata sejauh ini Pak Baskara sering mengamati Kejora, walau dia tunduk dan takut terhadap larangan Madan Den, dia tetap tidak bisa membiarkan wanita yang dianggap miliknya itu jatuh ketangan orang lain.


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2