
Setelah mereka menghilang aku berlari menuju pintu. Beberapa kali aku mencoba membukanya namun usahaku terus gagal. Sepertinya mereka benar-benar sengaja mengunci pintunya.
"Bintang. Pintunya di kunci sama mereka. Gimana dong?" Tanyaku khawatir.
"Tunggu sampai mereka buka pintunya." Bintang justru masih terlihat santai.
"Tapi sampek kapan?" Keluhku yang sudah mulai panik karena harus berada dalam satu kamar dengan Bintang.
"Besok pagi."
"Apa? Mereka gila ya?" Aku membulatkan mata tak percaya.
Bintang berdiri dan menghampiriku. Menatapku dengan alis terangkat. "Lo belom paham juga kalo mereka lagi ngerjain kita?"
Aku hanya diam dan memalingkan tatapanku dari Bintang. Si kurang ajar Adira itu memang harusnya di kasih pelajaran.
Tidak ingin berada di samping Bintang lebih lama, aku memutuskan untuk berjalan ke arah jendela kamar yang tirainya masih terbuka. Melihat pemandangan luar angkasa yang terpampang jelas dari sana.
Malam ini langit begitu cerah. Hingga bintang-bintangnya ikut bersinar memperindah.
"Lo percaya nggak sama kata-kata semua akan indah pada waktunya?"
Suara Bintang menginterupsi kembali. Langkah kakinya terdengar beradu dengan lantai dan berhenti tepat di sampingku. Aku menoleh ke arahnya dan dia menatapku dalam.
Ditatap seperti itu olehnya membuatku selalu kehabisan oksigen tiba-tiba. Tatapan Bintang selalu sukses memompa jantungku lebih cepat dari biasanya.
"Bisa iya bisa enggak."
Bintang langsung mengalihkan pandangannya sambil bergumam.
"Lo sendiri?" tanyaku penasaran dengan jawabannya juga.
"Awalnya gue nggak percaya. Tapi setelah lo dateng ke hidup gue, gue baru percaya, kalo indah memang akan datang di waktu yang tepat."
"Gu- gue? Kenapa bisa gue?" tanyaku dengan jantung yang semakin tak normal lagi.
"Karena kedatangan lo membawa keindahan di hidup gue. Gue nggak tau seandainya lo nggak datang di hidup gue saat itu, mungkin gue udah menikah sama cewek yang nggak pernah gue cintai. Gue nggak bisa bayangin gimana hidup dalam pernikahan tanpa ada dasar cinta di dalamnya." jawab Bintang sambil menoleh ke arahku, Lagi.
"Jadi, lo dan Bulan-"
"Bulan sama keluarganya udah batalin pertunangan itu. Sekarang mereka kembali ke London dan menetap disana." potong Bintang.
"Terus hubungannya sama gue apa?" tanyaku semakin penasaran.
Percaya atau tidak rasanya jantungku sudah ingin meledak di dalam sana. Apalagi membahas hal seperti ini dengan orang yang pernah aku suka sebelumnya. Antara rasa penasaran, gugup dan deg-degan menjadi satu.
"Apa lo belum paham juga? Apa lo belum paham kalo gue itu suka sama lo sejak lo dateng ke rumah gue!" jawab Bintang dengan gemas. Tatapannya menusuk sampai ke manik mataku.
Udara yang tadinya dingin perlahan mulai menghangat. Beberapa kali aku mengerjapkan mataku karena masih belum yakin jika ini memang nyata. Aku mencubit lenganku sendiri agar bisa segera bangun jika memang ini hanya sebuah mimpi.
Rasanya sakit. Ternyata ini memang bukan mimpi. Bintang baru saja mengatakan dia menyukai ku.
"Lo-, lo suka gue?" ulangku sekali lagi dengan ragu-ragu. Jangan tanya lagi bagaimana hatiku saat ini. Mungkin sudah tidak bisa lagi di deskripsikan.
__ADS_1
"Dari awal saat papa nyuruh gue buat jagain lo, gue udah suka sama lo. Tanpa gue sadari kita menghabiskan waktu dengan hal-hal sederhana. Gue nggak pernah senyaman ini dengan cewek manapun sebelumnya. Tapi gue nggak berani jujur sama lo karena gue sadar posisi gue udah jadi calon tunangan Bulan. Gue sempet hancur saat denger lo jadian sama kakak kandung gue sendiri. Pikiran gue kacau, gue kecelakaan saat itu." Bintang memberi jeda ceritanya.
"Lo tau kenapa sekarang gue punya keberanian buat ungkapin perasaan gue ke lo? Itu karena kakak gue bilang sama gue waktu di bandara, dia udah kalah sama gue karena lo nggak pernah cinta sama dia. Dan Bulan juga membatalkan pertunangannya saat dia nemuin gue di sekolah untuk pamitan sebelum berangkat ke London. Dia udah tau kalo gue nggak cinta sama dia. Itu alesannya kenapa gue bilang lo adalah keindahan yang hadir di waktu yang tepat di hidup gue."
Jadi itu alasan Bulan dan Bintang berpelukan di sekolah beberapa hari yang lalu.
"Sekarang lo udah tau kan perasaan gue. Gue mau jaga lo lagi, dan juga jaga hati lo. Gue teramat sayang sama lo, Kejora. Gue tau ini adalah hari penting Adira. Gue nggak mau merusak harinya dia karena hal ini. Lo boleh memikirkan jawaban dari kata-kata gue barusan. Gue bakalan nunggu sampai kita pulang dari sini. Dan gue harap lo menjawab sesuai isi hati lo, Ra."
Bintang memutar tubuhku agar bisa menghadap kepadanya. Dia menangkup wajahku dengan ke dua tangannya. Mensejajarkan wajahnya agar bisa menilik mataku yang sekarang sudah ingin menitikkan air mata bahagia.
"Gue sayang sama lo Kejora Permata." pungkas Bintang penuh arti.
Speechless. Aku udah kehabisan kata-kata untuk menanggapi ungkapan Bintang. Aku hanya diam sambil membalas tatapan matanya. Ada rasa lega yang luar biasa di dalam sana.
Ketika Bintang membawaku ke dalam pelukannya, saat itu juga lah air mataku tak bisa aku tahan lagi. Aku memeluk Bintang erat. Mencium aroma wangi dari bajunya yang selalu bisa menenangkanku.
"Sori, ya. Gue nggak seromantis kakak gue. Gue juga nggak bisa pilih kata-kata indah buat nyatain rasa sayang gue." Ucap Bintang lirih sambil mengelus rambutku.
Aku terkekeh dalam pelukan Bintang. Meskipun dulu aku pernah terpesona dengan sebuah pemandangan indah dari ketinggian dan juga gemerlap cahaya kembang api, namun tidak ada yang lebih mengesankan dibandingkan dengan terkunci dalam satu kamar bersama orang yang aku sayang.
Jangan lupa ucapkan terimakasih kepada Adira setelah ini.
***
"Nat, ini kurang apa lagi? Lo cobain dulu deh." ujarku sembari menyerahkan sendok yang berisi nasi goreng.
Memang saat ini aku Natalie dan Abel sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Sedangkan anak-anak cowok sibuk menyiapkan taman belakang villa untuk persiapan acara ulang tahun Adira nanti malam.
"Serius udah enak? Gue nggak jago banget sih. Cuma dulu pernah belajar sama seseorang."
Aku jadi mengingat kembali saat dulu Bintang pernah memasak nasi goreng untukku. Diam-diam aku memperhatikan dia dan aku belajar juga darinya.
"Udah mateng semua ya?" tanya Abel yang baru saja kembali dari ruang makan menyiapkan piring.
"Udah kok." jawab Natalie.
"Ya udah lo panggil anak-anak deh, Ra." perintah Abel kemudian.
"Loh, kok gu-gue." jawabku mendadak gugup.
"Yaelah, masa lo nggak mau? Biar gue gantiin lo disini."
"Ya udah deh." Aku akhirnya mengalah pasrah.
Aku melangkah menuju taman belakang villa. Bukannya aku tidak mau menuruti permintaan Abel, aku hanya bingung mau bersikap bagaimana terhadap Bintang setelah kejadian semalam. Kalau di tanya berbunga-bunga apa enggaknya, pasti aku bakalan jawab iya.
Mendengar nama Bintang saja rasanya membuat ku semakin senyum-senyum sendiri. Jadi gini rasanya jatuh cinta yang sebenarnya? Sekarang aku tidak perlu menutupi apapun lagi. Rasa sesak yang dulu perlahan sudah memudar.
"Kak Adira! Sarapannya udah siap tuh!" teriakku dari ambang pintu penghubung villa dan taman.
Adira mengacungkan jempolnya ke udara. Aku lihat mereka sedang mendekorasi meja dan kolam renang yang akan dibuat untuk nanti malam. Aku denger-denger sih bukan cuma kita aja yang di undang, ternyata orang tua Adira dan beberapa teman kampus mereka hadir ke sini juga. Pasti mereka bertiga sudah punya teman-teman baru juga sekarang. Pasalnya, Adira, Beval dan Bintang sekarang menjadi satu kampus.
"Enak nih nasi gorengnya. Siapa yang buat?" tanya Adira saat kita sarapan bareng.
__ADS_1
"Kejora yang masak." sahut Natalie antusias.
"Eh, nggak kok. Di bantu Natalie sama Abel juga tadi." sergahku malu.
"Tapi emang enak kok, ya nggak Bint?" tanya Beval sambil menoleh Bintang yang duduk di sebelahnya.
Bintang hanya diam menikmati sarapannya tanpa menjawab pertanyaan Beval. Mungkin dia takut jika teman-temannya akan memojokkannya lagi.
"Hargain yang masak dong. Puji kek, apa kek." protes Beval melihat reaksi Bintang yang cuek.
"Percuma lo ngomong sama balok es batu." tukas Adira sambil melirik Bintang.
"Ngomong-ngomong semalem terjadi apaan, Ra? Bintang nggak ngapa-ngapain lo kan?" Beval bertanya menyelidik.
Setelah Bintang menyatakan perasaannya semalam, dia memang langsung menyuruhku untuk tidur. Awalnya Bintang sudah akan tidur juga. Bintang memilih tidur di lantai tanpa alas apapun karena di kamar itu memang tidak ada sofa dan karpet. Namun aku segera menyuruh Bintang untuk naik ke atas ranjang. Aku tidak tega melihat Bintang tidur di bawah apalagi suasana di sini memang begitu dingin.
Akhirnya aku dan Bintang tidur satu ranjang semalam. Aku tidak tahu kapan Bintang memelukku. Yang pasti, saat pagi menjelang dan aku terbangun Bintang sudah memeluk erat pinganggku dari belakang.
Apa mungkin semalaman Bintang tidur memelukku begitu?
"Ih, ih. Kok pipi Kejora merah sih? Pasti udah terjadi apa-apa nih. Yakin gue," Beval menunjuk wajahku dengan nada histeris. Membuatku semakin menunduk malu dan menyembunyikan semburat merah itu.
"Lo bisa makan dengan bener aja nggak sih?" Bintang yang dari tadi diam sekarang melotot tajam ke arah Beval.
"Anjir lah. Main rahasia-rahasia tai kucing segala. Muka lo tuh udah merah kayak kepiting rebus," cibir Beval.
Adira ikut terkekeh. "Keren kan ide gue semalem?"
Beval mengangguk menyetujui. "Bener gila sih. Coba gue yang di kunciin semalem."
"Ntar giliran lo ada, santai aja. Gue kunciin di kamar mandi ntar lo sama Abel," Adira tertawa lebar.
"Dih. Kok jadi bawa-bawa gue sih?" Abel menyahut sewot.
Aku sangat bersyukur karena mereka tidak memojokkan ku lagi sekarang. Diam-diam aku menahan senyumku karena mengingat kejadian semalam.
"Gimana persiapannya kak? Udah clear semua?" tanya Natalie mengalihkan topik pembicaraan.
Semua anak-anak pun menatap Adira ikut menunggu jawaban karena menginggat alasan kita disini untuk merayakan ulang tahunnya.
"Baru sebagian sih. Property sama catringnya udah ontheway ke sini. Paling bentar lagi sampek."
"Anak-anak kampus lo undang semua, Dir?" Tanya Beval menimbrung.
"Sebagian doang. Yang kita kenal-kenal aja gitu."
Sambil mendengarkan pembicaraan mereka sesekali aku melirik Bintang yang duduk di hadapanku. Gaya makannya masih stay cool. Tanpa sadar aku mengulum senyum saat dia menyadari aku sedang memperhatikannya.
Ketika semua anak-anak fokus membicarakan acara, Bintang justru mencondongkan wajahnya ke arahku sambil tersenyum manis. "Nasi gorengnya enak."
Dan aku rasa pipiku semakin memerah saat ini.
...****************...
__ADS_1