
1 bulan kemudian...
“Kopi?” Tawar Dimas menyerahkan secangkir kopi dimug putih kepada Angga yang sedari tadi dia amati duduk diam didepan televisi, dia memang terlihat sedang menonton acara televisi tapi ketika Dimas mengamati Angga masih tetap di kanal acara yang sama walau sedang menampilkan iklan. Dimas yakin jika bukan Angga yang menonton televisi, tapi dialah yang ditonton oleh televisi tersebut.
“Masih belum bertemu dia?” Tanya Dimas kemudian duduk disebelah Angga seraya menyeruput perlahan minumannya, Angga hanya menatap gelas kopinya “kata orang rindu itu indah, namun bagiku ini menyiksa.” tuturnya pelan, Dimas hanya melirik dan berdecak “Melly Goeslaw, bimbang.” gumannya dan tertawa kecil, Angga hanya diam mengabaikan gumanan Dimas, faktanya sudah berapa kali dia memutar lagu yang Dimas sebutkan tadi.
Sesaat kemudian terdengar pintu utama terbuka dan suara salam Satya terdengar dan kemudian dibalas mereka berdua.
“Lagi pada santai nih?” Tanya Satya kemudian tertawa ketika melihat 2 mug putih diatas meja.
“Mama Papa” Tawa Satya menunjuk ke cangkir keramik diatas meja.
Dimas dan Angga hanya bingung menatap Satya yang tertawa seraya menunjuk kearah mug minuman mereka, kemudian tersadar jika mug mereka adalah mug pasangan bertuliskan mama papa, Dimas mendelik melihat itu sedangkan Angga hanya menatap terserah kearah Satya yang masih terkekeh.
"Romantis sekali Mama Papaku menonton televisi dengan mug pasangan." Ledek Satya masih dengan tertawa yang begitu menyebalkan, sontak Dimas mengambil gelasnya dan pergi ke dapur lalu kembali dengan mug lainnya. "Kok diganti Mas, romantis loh. Kalian ingat dulu aku sempat mengira kalian berdua homo." Dimas menghampiri Satya dan menendang betisnya.
"Aw! Sakit bujang!" Umpat Satya seraya mengusap tulang keringnya. "Salah sendiri masih membahas dirimu yang mengiraku pacarnya. Haaaah, bagaimana bisa kau berpikir demikian." Satya tertawa kecil.
"Berita terkini! Terjadi kasus yang menggemparkan publik dikarenakan maraknya siswa sekolah yang berjatuhan sakit." Televisi dibelakang Satya menampilkan berita terkini dan menangkap perhatian mereka.
“Eh besarin dikit volumenya, kamu minggir jangan menghalangi aku nonton!” Satya duduk disebelah kiri Angga karena diusir Dimas.
“Beberapa siswa sekolah dilaporkan oleh petugas kesehatan setempat mengalami penurunan kesehatan, penyebab masih tidak diketahui. Laporan dari petugas medis masih berupa kondisi penurunan imun karena flu, tapi bukan flu **** ataupun flu burung, masih menjadi misteri. Aktifitas sekolahpun menjadi tertunda karena beberapa siswa banyak yang ijin tidak masuk sekolah.” Jelas pembawa berita distasiun televisi tersebut.
“SARS kah?” tanya Dimas “kayaknya bukan deh, sebab hanya anak sekolah, jika SARS pasti sudah menular ke lainnya.” Jelas Angga kemudian termangu mengusap ujung dagunya dengan jari telunjuknya.
“Aneh..” guman Angga, "jika ini virus penyakit mengapa hanya menyerang anak muda? ada para orang tua disana tapi mengapa penderita semuanya anak sekolah." Lanjut Angga bingung menatap kedua temannya.
"Aku merasa familiar, tunggu sebentar aku punya info baru mengenai wanita Filipina itu." Satya mengeluarkan isi tasnya berupa laptop kecil. "Coba lihat kasus ini, terjadi tahun 2010 di Filipina. Sebentar aku artikan dahulu artikelnya."
"Dia pindah ke Indonesia bukannya tahun 2000 ya?" Satya menggeleng, "bukan pindah, dia hanya melakukan perjalanan bisnis, kewarganegaraannya pun masih Filipina, yang membuatku masih heran, dia memiliki banyak kasus dinegara asalnya tapi dia masih bisa bebas keluar masuk suatu negara, tak kena deportasi atau semacamnya dari Indonesia." Satya geleng-geleng kepala.
"kau tau, sepertinya banyak pihak penting yang melindungi dirinya."
Mereka kembali membaca dan kaget dengan isi artikel tersebut, persis dengan apa yang diberitakan barusan. "Apa jangan-jangan ini rencana dia sesungguhnya, jadi benar dugaanku pasti tak jauh dengan narkoba." Ujar Angga.
“Wah jahat sekali jika ini benar ini rencana dia, apalagi target mereka generasi muda." Dimas menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Ang, apa kau benar-benar belum bertemu wanita itu?” Angga menaikkan kedua alisnya, "wanita siapa?" "yaelah pake tanya dia, ya wanita itu yang lagi kamu rindukan saat ini, aku tak mau menyebutnya aneh-aneh yang ada kau memukulku lagi nanti." Dimas mengusap bagian dimana Angga pernah memukulnya keras sampai lebam dan menjadi pertanyaan tak kunjung berakhir dari orang-orang di kantor dan di rumahnya.
"Oh.." Angga hanya menjawab pertanyaan Dimas dengan gelengan kepala, “kenapa memang?” tanya Satya mencoba mencari alasan dari Dimas.
“Kita bisa tanya kepadanya, apakah ada aktifitas mencurigakan dari Maminya itu.” Satya menipiskan bibirnya dan menelan ludah, dia bermaksud untuk mengatakan pada Angga jika selama ini dia tahu keberadaan Kejora.
“Mas, jangan marah ya.” Ujarnya membuat kedua orang disebelahnya menatap bingung.
Lalu Satya menceritakan jika sudah 2 bulan ini dia bertemu Kejora di sebuah toserba perbatasan desa dan kota yang sudah berbeda kabupaten, daerah yang tak begitu padat penduduk dan jauh dari keramaian kota.
"2 bulan yang lalu, dan kau diam aja?! Bahkan baru bercerita sekarang?!" Satya menelan ludah dan menggosok tengkuknya ketika Angga terlihat marah kepadanya.
"A..Aku...hanya menuruti permintaan Mbak Kejora." Ujarnya kemudian tertunduk karena tak menyangka Angga akan marah seperti itu. "Makanya kubilang jangan marah." Ucapnya pelan.
"Kau jangan marah gitu hey! dia tak salah loh." Angga tersadar akan perbuatannya dan melihat kearah Satya yang masih menatapnya takut.
"Heemhh, Maaf Sat.. Seharusnya aku tak marah seperti itu.." ucap Angga kemudian, "sekarang katakan padaku, dimana dia."
Angga berdiri menatap Kejora yang sedang bercanda dengan rekannya yang baru saja datang, Angga tahu itu rekannya karena mereka memakai seragam yang sama, senyum manis tertoreh diwajah Kejora, senyum yang membuat hati Angga merasa nyaman dan tak akan pernah bosan jika harus melihatnya setiap hari.
Kejora membenarkan jaketnya dan pamit kepada rekan kerjanya, Kejora hari ini mendapatkan shift siang, sehingga dia sudah bisa pulang jam 7 malam. Dia melambaikan tangan sebelum membuka pintu toko untuk pulang.
__ADS_1
Baru 3 langkah dari pintu toko, dia berhenti dan tertegun ketika melihat sosok yang hampir 2 bulan tak dia temui, sosok yang tiap malam menghantuinya dan memberinya rasa aneh dan sesak didadanya, sosok yang sangat sulit dia akui jika dia sangat merindukannya.
Sosok pria itu kini tersenyum ketika melihat Kejora menyadari keberadaanya.
“Hai, apa kabar?” Tanya Angga berjalan mendekat kearah Kejora yang hanya diam membisu menatap kearahnya.
“Aku Angga, bukan hantu.” Candanya menatap gadis didepannya yang sedikit mendongak karena perbedaan tinggi mereka.
"Kenapa kau bisa berada disini?"
“Kenapa kau menjauh dariku?”
"Kenapa kau tak memberi kabar padaku?"
"Kenapa kau menghilang?"
Angga menghujani Kejora dengan berbagai pertanyaan. Kejora hanya menghela napas dan menyadarkan pikirannya yang tadi mengawang.
“Kenapa kau mencariku?”
“Aku merindukanmu.” Kejora memalingkan wajahnya tak kuasa melihat tatapan Angga yang begitu dia rindukan.
“Aku mencarimu, bahkan aku bertanya ke Pak Baskara tentangmu, tapi dia hanya menghinaku. Aku ingin menemui Madam Den tapi sulit sekali bertemu dengannya, aku tanya ke Eric, kau bisa bertanya padanya sudah berapa kali aku pergi menenuinya untuk memastikan kabarmu.” Kejora masih memalingkan wajahnya walau dia sedih mendengar penjelasan Angga.
"Kenapa mencariku? Apa karena misimu itu? Jika iya, aku tak mau lagi membantumu, aku lebih memilih terjebak dikehidupan seperti itu selamanya."
"Jangan... jangan berkata seperti itu Kejora." Angga melihat Kejora yang masih membuang pandangannya kearah lain.
"Aku mencarimu karena setiap tidur aku dihantui rasa tak nyaman karena brgitu banyak pikiran yang hanya ada kamu didalamnya, kau sedang apa, apa kau baik-baik saja. Itu selalu menghampiriku tiap malam." Jelas Angga, "seperti itukah rindu?" Lanjutnya, "aku hanya mencoba mencari obat dari perasaan itu, yaitu dengan mencarimu."
“Aku tak pantas untukmu Ang, kau anak seorang terpandang bahkan jauh dari dugaanku.”
“Maksudnya?”
“Lalu kenapa?” Kejora menatap mata Angga “carilah wanita lain Ang, yang lain.. Jangan orang sepertiku.”
“Memangnya kamu kenapa?”
“Aku pelacuur, aku wanita hina, aku menjijikkan kau tahu?!”
Angga menatap nanar “terus? Apa aku pernah mengeluhkan hal itu? aku tahu itu sedari awal Ke, dan apakah aku salah jika hatiku jatuh padamu?”
Kejora menghela napas panjang mengatur gemuruh tak menentu dihatinya, “Angga setengah dari isi dunia ini wanita, carilah wanita yang lebih baik dariku, yang pantas bersanding denganmu.”
Angga masih tetap menatap gadis didepannya. “Kejora, untuk apa isi setengah dunia? Jika mereka tidak ada yang sepertimu? Yang aku inginkan itu kamu.”
Kejora tertegun mendengar ucapan Angga, dia menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya.
“Pulanglah, aku lelah.” Ujarnya kemudian setelah mereka lama terdiam.
“Madam Den mulai melancarkan aksinya.” Jelas Angga dan menghentikan langkah Kejora yang berniat meninggalkannya.
“Jika kau lihat berita tadi siang, itu adalah salah satu rencananya.” Kejora mengerutkan dahinya “lalu apa hubungannya denganku? sudah kubilang aku tak mau lagi bekerjasama dengan misimu itu.”
Angga menatap Kejora “Ke, aku datang dengan keyakinan penuh untuk menyelamatkanmu dari sana, tak hanya itu, wanita itu berencana merusak generasi muda negara ini, apa kau tetap tak ingin membantuku?”
Kejora tak bisa berkata apa-apa, entah apa yang harus dia lakukan, hampir 2 bulan dia mencoba mengendalikan apa yang ada dihatinya tapi lelaki didepannya ini mengacaukan semuanya dalam waktu hitungan menit.
Profesional? Bahkan dia sendiri tidak bisa mengimplementasikan apa yang pernah dia minta kepada Angga.
Mereka kini duduk berdua didepan toserba tempat Kejora bekerja, toserba sudah tutup bahkan rekan kerja Kejora sempat kaget ketika melihat Kejora masih berada disana.
__ADS_1
Sedari tadi mereka hanya saling diam dengan keramaian beberapa kendaraan dari pengunjung toko yang datang dan pergi hingga kini suasana menjadi sepi karena toko yang sudah tutup tadi.
Tapi yang beda, tanpa sadar mereka menikmati suasana diam mereka. Setidaknya mereka sudah bertemu dan menjadi obat perasaan rindu yang mereka miliki.
“Pak Baskara berkata kepadaku jika kau sudah tak bersamanya, kenapa?”
“Aku meminta Madam Den, Pak Bas kasar kepadaku dan Madam Den tak menyukai itu, jadi dia mendapat pengganti lain, dan aku meminta untuk libur beberapa waktu memulihkan kondisi psikisku.”
“Apa yang dia lakukan kepadamu?” Angga merasa marah mendengar penuturan Kejora, melihat itu Kejora hanya mengalihkan pandangannya ke hamparan sawah yang berada tepat disebrang jalan raya depan toko itu berdiri.
“Aku tak apa-apa aku masih hidup.”
“Cih!” umpat Angga marah, “Aku pastikan Baskara tua itu berakhir dan membusuk di penjara.” Kejora tak menggubris itu, dia hanya berpikir jika Pak Bas hanya alasan lain, karena alasan sesungguhnya siapa lagi kalau bukan karena Angga.
Semenjak dia datang dan memberikan sebuah harapan bagi Kejora untuk gelapnya kehidupan yang sudah lama dia rasakan, semenjak itu Kejora menyimpan perasaan lain, terlebih lagi ternyata Angga juga memiliki perasaan itu.
Hanya saja, Kejora merasa tak pantas untuk bersanding dengannya, Angga terlalu baik bahkan hal yang tak mungkin untuk dia miliki. Dia mencoba untuk profesional dengan rencana, sampai pada suatu ketika dia bisa bebas dan menjalani kehidupan normal, saat itu dia memutuskan untuk benar-benar pergi dan menghilang dari apapun yang berhubungan dengan Angga.
“Esok aku dijemput Madam Den, aku akan kembali bekerja dengannya.”
“Aku penasaran, bolehkah aku bertanya?” Kejora menoleh sepintas kearah Angga dan mengangguk pelan.
“Dia memperbolehkanmu pergi sampai selama ini, lalu apa sebenarnya tugasmu?”
Kejora tersenyum simpul, “prostitusi dan club malam hanya kedok, bisnis dia sebenarnya lebih besar dari itu, dia menggunakan club untuk pemasaran bisnisnya dan prostitusi untuk memancing dan menaklukkan pihak yang dia butuhkan. Itulah kerja para escorter seperti aku." Jelas Kejora tanpa menatap Angga, "Pekerjaan Escorter lebih hina daripada pelaacur itu sendiri." Jelasnya tertawa sinis.
"Walau sejauh ini aku dimanfaatkan Madam Den sekedar untuk mengontrol Si Baskara itu, agar tetap berada dibawah kuasa Madam Den." Jelasnya berdecak sinis meratapi tugas hinanya.
"Pengadaan lelang hanya permainan mereka untuk menggelar acara pertemuan mereka, setiap ada acara lelang pasti ada pertemuan besar dilantai paling atas." Angga mengingat tangan kanan mantan guberbur yang berada disana ketika acara lelang itu, semakin membuatnya yakin jika mantan gubernur saat itu.sedang bersama Madam Den.
"Saat itu Pak Bas tak bisa hadir, karena itu aku kaget ketika ada yang orang lain yang berani menawarku setinggi itu, biasanya jika Pak Bas sudah bersuara menyebutkan nominal angka, tak akan ada lagi yang berani menawar.” Angga hanya mendengus pelan.
“Hanya ketika lelang kau bisa bertemu Madam Den, dan jika kau sadar, kau akan melihat beberapa orang yang merupakan komplotannya disana, beliau sangat sulit ditemui jika bukan hari lelang.”
Kejora terdiam sesaat, “saat aku usia 18 tahun, aku digunakan untuk menaklukkan Pak Bas dan menjadi escorternya selama 5 tahun agar Pak Bas tetap solid dengan Madam Den. Aku pernah hampir putus asa dan berencana bunuh diri, lalu disana ada Bu Widi datang menolongku.” Angga tertegun mendengar cerita baru tentang Kejora “aku tak bisa menyerah, aku ingin bertemu kedua orang tuaku ditempat yang baik.” Kejora menoleh dan tersenyum tipis kearah Angga.
‘deg’ ada denyutan tak menentu yang Angga rasakan ketika melihat senyum itu. “Pak Bas sudah berkali-kali selalu memaksaku untuk bertemu diluar jam kerja bahkan menyakitiku, beruntung Madam Den mau membelaku dan beberapa hari yang lalu, itu adalah kesempatan terakhirnya dan aku terlepas dari pria tua itu walau dia tak mau.”
Ada perasaan gembira mendengar hal itu tapi Angga juga merasakan sakit karena Kejora harus melewati rasa sakit itu diusia mudanya. “aku tetap harus berhati-hati kepadanya, dia terlalu maniak terhadapku, bahkan Ibu sangat membencinya jika aku bercerita tentang Pak Bas.”
“Ijinkan aku melindungimu Kejora, ijinkan aku berada disisimu, aku akan melindungimu.” Kejora menggeleng pelan “kehidupan kita berbeda Angga, aku tak bisa masuk ke kehidupanmu.”
Angga sangat sedih mendengar hal itu “katakan sekali saja, apa kau juga menyukaiku?” Angga menunggu jawab Kejora dengan penuh harapan, Kejora hanya menatap datar pemandangan didepannya, melihat itu Angga tertunduk lesu.
“*Tentu aku juga menyukaimu*.” Batinnya dan menoleh “aku tidak tahu.” Jawabnya singkat, Angga mengangkat wajahnya dan hanya bisa tersenyum tipis, senyum yang dibaca Kejora sebagai senyum kecewa.
“Boleh aku menemuimu besok?” Kejora menggeleng “jangan, esok Madam Den menjemputku pagi. Hari ini adalah hari terakhir aku bekerja di toko, bahkan aku sudah berpamitan.” Jelas Kejora ketika mereka sampai sebuah rumah dimana Kejora sementara tinggal.
“Kau sudah berkemas?” Kejora mengangguk, “pulanglah, ini sudah larut.” Ucap Kejora meminta Angga pulang, Angga mengamati rumah kecil tempat mereka berdiri saat ini, rumah yang kata Kejora adalah milik Madam Den.
“Kau tak butuh teman? Sepertinya agak berhantu.” Angga menunjuk rumah itu, Kejora mengenyitkan dahinya “gak usah modus deh.” Angga terkekeh “tidak, aku hanya berpendapat dan memberimu saran jika takut aku mau menemanimu, jangan berpikiran aneh. Aku tak akan berbuat apa-apa. Hanya melihatmu saja aku sudah bahagia.” Angga menunjukkan deretan giginya, melihat senyum ceria Angga ada perasaan hangat dihati Kejora, dia hanya memutar bola matanya dan berbalik membuka pagar.
“Aku sudah tinggal disini 2 bulan dan sendirian ya mas-mas modus.” Angga tertawa lebar mendengar sebutan untuknya.
“Pulanglah...” Angga memberikan kode oke dengan tangannya dan melangkah mundur seraya melambaikan tangan.
“Kumohon angkat telponmu jika aku menelpon!” seru Angga “sttt...” Kejora menutup mulutnya dengan telunjuknya sebagai isyarat ke Angga untuk jangan berisik.
Seperginya Angga, Kejora bersandar dipintu setelah melangkah masuk kedalam rumah. Dia memegang dadanya dan tersenyum namun mendapati kenyataan jika mereka tak bisa berada dimasa depan yang sama, tanpa sadar bulir air mata menetes dipipinya
“Tuhan, ini menjadi sangat sulit untukku.” Badannya terperosot jatuh dan terduduk.
__ADS_1
-bersambung-