Bintang Kejora

Bintang Kejora
Mengakhiri


__ADS_3

Adira menarikku paksa ke sebuah kafe di seberang kampusnya. Setelah mendengar aku dengan sengaja menolak Bintang membuat wajahnya berubah drastis. Tidak heran Adira seperti itu karena selama ini dialah yang sudah sangat berjasa dalam hubunganku dan Bintang.


"Kak, lo mau ngapain sih bawa gue ke sini? Lo harusnya kuliah," protesku setelah Adira menyuruhku duduk di kafe itu.


"Lo pikir gue bisa kuliah dengan tenang setelah lo bilang nolak Bintang kayak barusan, hah? Ada apa sih Ra sama lo?" tanya Adira tak sabaran.


Aku tahu Adira sangat kecewa kepadaku. Namun apa boleh buat? Tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaan tante Marisa.


"Maaf kak karna udah kecewain lo. Udah ngecewain temen-temen lo dan juga Bintang. Gue bener-bener nggak bisa lanjutin ini semua kak," ucapku lirih.


Adira terus menatapku dengan penuh tanda tanya. Aku tidak tahu isi kepala Adira saat ini apa. Yang jelas dia terus mengerutkan dahinya seperti di landa kebingungan.


"Alesan lo apa nolak Bintang? Bukannya semua udah beres? Kalian udah mengakui perasaan kalian satu sama lain kan?"


Aku menggelengkan kepala pelan.


"Lo inget ucapan Dara kemarin saat di kafe? Itu semua benar kak. Gue nggak bisa sama Bintang. Tante Marisa bahkan yang meminta gue langsung untuk menjauh dari kehidupan Bintang. Ada tembok penghalang di antara kami kak. Gue nggak bisa ngehancurin itu sekarang," panjangku menjelaskan. Tak terasa setetes air mataku jatuh kembali.


Adira seperti tak percaya dengan apa yang sudah aku ucapkan barusan. Pasalnya dulu tante Marisa sangat baik kepadaku bahkan memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Namun setelah aku menceritakan lebih detail lagi tentang masa lalu antara orang tuaku dan orang tua Bintang kini Adira menjadi iba. Dia sendiri juga bingung harus mengatakan apa. Wajahnya mendadak pias. Dia mungkin tidak bisa membela siapa-siapa.


"Lo nggak perlu merasa terbebani kak. Gue cuma mau ngucapin makasih buat kebaikan lo selama ini. Gue bisa laluin ini semua kok. Dan gue yakin Bintang pasti bakalan dapetin orang yang jauh lebih baik dari pada gue," ucapku sambil memaksakan senyuman.


"Kejora... Lo?"


"Gue akan baik-baik aja kak. Sekarang waktunya lo buat fokus sama kebahagiaan lo sendiri," potongku cepat.


"Gue tahu lo cewek yang kuat Ra. Gue selalu ada buat lo kalo lo butuh bantuan,"


Aku mengangguk kecil. Adira memang orang yang sangat peduli denganku selama ini. Dia sudah seperti kakakku sendiri.


"Jangan bilang tentang rahasia ini ke Bintang ya kak. Gue nggak mau dia bertengkar dengan tante Marisa nantinya," pintaku pada Adira.


"Lo tenang aja Ra. Gue nggak akan cerita apapun sama Bintang,"

__ADS_1


Setelah mengobrol hampir satu jam kini aku memutuskan untuk pulang kembali sedangkan Adira juga pamit untuk kembali ke kampusnya.


***


Jakarta di siang hari masih saja macet. Kini aku terjebak di dalam taksi saat ingin menuju perjalanan pulang. Aku menyenderkan kepalaku di kaca mobil, melihat kendaraan yang lalu-lalang di jalanan. Pikiranku menerawang jauh. Kemarin padahal aku sangat yakin jika ingin memperjuangkan Bintang. Namun entah kenapa hari ini rasanya keberanianku seperti menguap begitu saja.


Beberapa saat kemudian aku menajamkan pandanganku. Saat mobil taksi yang aku naiki tak sengaja melintas di depan kafe outdoor yang berada di seberang jalan. Sepertinya aku melihat om Dana dan tante Marisa sedang duduk di kafe itu. Karna rasa penasaran aku langsung berhenti dan membayar argo taksinya. Aku berjalan menerobos kemacetan dan berlari menuju kafe itu. Diam-diam aku menyelinap duduk di bangku tidak jauh dari mereka. Ya, ternyata itu adalah om Dana dan tante Marisa.


"Pikirkan kembali keputusanmu dan jangan egois. Mari belajar dari kesalahan kita di masa lalu Marisa,"


Samar-samar aku mendengar suara om Dana yang terdengar berat. Untung saja kafe ini tidak terlalu ramai jadi aku bisa diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka.


"Jangan bawa-bawa masa lalu di depanku. Sudah cukup kamu membohongiku mas. Akui saja jika kamu masih belum bisa melupakan Clarissa,"


Kini juga terdengar suara tante Marisa yang bergetar. Sepertinya tante Marisa baru saja menangis karena suaranya begitu serak. Aku semakin menunduk. Menyiapkan diri untuk mendengar apapun kepahitan yang akan mereka ucapkan nantinya.


"Aku membawa Kejora ke rumah kita bukan semata-mata karna dia anak Clarissa. Tapi karena aku berhutang budi dengan suaminya, itu saja. Maaf jika keputusanku sudah melukai kamu selama ini," ucap om Dana menjelaskan.


Sebisa mungkin aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Aku tidak ingin tangisku pecah dan membuat keberadaanku di ketahui mereka.


Tes.


Air mata yang sejak tadi aku tahan kini jatuh sudah. Dadaku terasa sesak. Namun aku tidak ingin beranjak sedikitpun dari tempatku saat ini.


"Kamu ingat kan Kejora yang sudah membuat Langit sakit hati sampai Langit memutuskan untuk pergi ke luar negri sekarang. Aku tidak ingin ini terjadi kembali pada Bintang,"


Kali ini aku menangis terisak. Namun dengan cepat aku membekap mulutku sendiri agar suara isakan itu tidak terdengar.


"Marisa... Mereka itu sudah cukup dewasa. Biarkan mereka memilih jalan masing-masing. Bintang dan Kejora saling mencintai. Jangan membuat mereka tersiksa hanya karna keegoisanmu,"


"Aku berhak egois untuk kebahagiaan anak-anakku. Jika Kejora masih berani mendekati Bintang, aku akan kirim Bintang ke luar negri sekalian. Aku akan tinggal di luar negri bersama mereka. Terserah denganmu,"


Deritan kursi kini terdengar. Sepertinya tante Marisa sudah bangkit dan melangkah pergi meninggalkan om Dana yang masih terdiam di tempat duduknya. Aku memberanikan diri untuk mendongak. Bisa aku lihat wajah om Dana yang begitu kacau. Beberapa detik kemudian pandangan om Dana tertuju ke arahku. Dia begitu terkejut melihat aku yang sudah menangis sesengukan.

__ADS_1


"Ke-Kejora..."


Om Dana menghampiriku dengan kalut. Aku langsung berdiri dan memeluknya. Kini tangisku semakin pecah di pelukan om Dana.


"Maafin saya om. Ini semua gara-gara saya,"ucapku sesengukan.


Om Dana mengelus rambutku dengan perlahan. Beliau menepuk punggungku beberapa kali.


"Kamu jangan bicara seperti itu ya. Ini bukan salah kamu. Tante Marisa hanya butuh waktu. Maaf jika ucapannya menyakiti hatimu,"


Aku melerai pelukan om Dana. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa memeluk om Dana.


"Om... Saya sudah membuat keputusan. Tinggal setahun lagi saya akan menyelesaikan masa SMA. Saya sudah cukup dewasa om. Saya akan baik-baik saja meskipun harus hidup sendirian. Om tidak perlu mengorbankan keluarga om,"


"Kejora..." tegur om Dana dengan cepat. Namun aku segera menggelengkan kepala ku kuat.


"Kasihan tante Marisa om. Sudah cukup om membantu saya selama ini. Saya pasti tidak akan melupakan kebaikan om dan tante Marisa kepada saya,"


Beberapa detik om Dana terdiam hingga akhirnya dengan berat hati dia menganggukkan kepala pelan. Aku tersenyum dengan lega. Pada akhirnya inilah waktu yang dulu sempat aku pertanyakan. Waktu dimana aku akan pergi dari rumah Bintang.


"Apa kamu dan Bintang baik-baik saja? Sejujurnya om tahu... Kalian saling mencintai kan?" tanya om Dana kemudian.


Entah kenapa kali ini perasaanku cukup lega meskipun aku harus melepaskan barang berharga sekalipun. Jika ini membuat hati tante Marisa jauh lebih tenang maka aku rela meski harus pergi dari kehidupan Bintang.


"Om... Jika Bintang dan saya di takdirkan untuk bersama, suatu saat pasti kita akan bersatu. Mungkin saat ini bukan waktu yang tepat," jawabku dengan tegas.


Om Dana tersenyum sambil mengelus puncak kepalaku dengan pelan.


"Om bangga sama kamu. Kamu adalah gadis kuat. Dan kamu sudah dewasa sekarang," pungas om Dana.


...****************...


TERIMAKASIH SUDAH MENEMANI SAMPAI DI TITIK INI😘

__ADS_1


CERITA INI AKAN TAMAT DALAM BEBERAPA PART LAGI, NANTIKAN SEASON KE 2 NYA YA!!!


__ADS_2