Bintang Kejora

Bintang Kejora
Bintang Malam


__ADS_3

Kejora berdiri menatap langit malam di balkon depan kamarnya, bimbang..dia bimbang tidak tau harus melakukan apa. Dia teringat percakapannya dengan Madam Den kemarin ketika dia menginginkan dirinya untuk mengorek informasi tentang Pak Wira lewat Angga. Kejora menatap jauh kedepan mengamati pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin malam. "Aku harus bagaimana?" Dia mendesah lalu bersandar di pembatas balkon. "Apa aku akan tetap dengan rencana? Tapi, aku tak ingin terjadi sesuatu padanya."


Jujur dia takut langkah yang diambil memiliki resiko untuk keselamatannya juga keselamatan Angga. Jika dia menuruti perintah Madam Den, maka wanita itu akan semakin mudah melancarkan aksinya, sedangkan bisnis yang dilakukan wanita picik itu sangat berbahaya. Pemerintah begitu kualahan mengatasi kasus popiv yang sudah melumpuhkan sistem pendidikan dan tenaga medispun dibuat tak berdaya.


Tapi, jika dia menolak dia tak mau terjebak ditangan Pak Bas lagi, bahkan kesempatannya untuk keluar dari neraka itu hilang. Kejora menakup wajahnya dan kemudian menyisir rambutnya kebelakang karena terterpa angin. "Haaah.. aku harus bagaimana?"


***


Pada akhirnya Kejora memilih meminta Angga untuk bertemu dengannya. Mereka berdua kini berada di sebuah taman kuliner yang menyediakan booth makanan dan tempat nongkrong yang digemari mahasiswa maupun keluarga.


“Kau tahu? Aku begitu senang ketika kau yang mengajakku duluan untuk pergi.” Ujar Angga tersenyum kearah gadis yang kini berjalan disebelahnya, “aku.. aku bosan.” Jelas Kejora menatap langkahnya.


“Kau ingin pergi kemana?”


“Emm... kemana saja, terserahmu.”


“Mall?” Kejora berpikir sesaat “arkade?” Angga tersenyum mengiyakan. "Ayo.."


“Kau terlihat bahagia sekali?” Angga hanya tersenyum lebar ketika Kejora mendapatinya senyum-senyum menatap Kejora, “entahlah, rasanya seperti mimpi” jawabnya seraya menatap ke Kejora yang sedang berdiri membeli koin permainan.


Angga menahan tangan Kejora dan menyerahkan kartu miliknya “biarkan aku yang membayar” “heemm.. Baiklaah Tuan Jurnalis.” Ledek Kejora menerima koin dan berlalu, Angga sedikit panik ketika ditinggal Kejora, segera berlari kecil mengejarnya setelah menerima kembali kartunya.


“Kau bilang tak pernah bermain seperti ini! Tapi kenapa kau hebat sekali.” Grutu Angga ketika berulang kali karakternya K.O, Kejora hanya tertawa, pemandangan yang indah bagi Angga.


Dia terpukau ketika melihat gadis disebelahnya tertawa begitu semangat karena berhasil mengalahkannya “aku tak tahu kau punya lesung pipi, manis sekali.” Puji Angga membuat Kejora terdiam dan tersipu malu mendengarnya. "Mungkin karena aku tak pernah tertawa selebar ini." Ujar Kejora melebarkan bibirnya sampai-sampai sebuah lesung terlihat dipipi kanannya.


"Aku mau melihatnya terus, bahkan aku rela bermain ini dan kau kalahkan berkali-kali asalkan aku bisa melihat kembali lesung itu.” Ujar Angga penuh harap, tapi dianggap godaan bagi Kejora.


“Ehh loh mau kemana?” Bingungnya kemudian karena Kejora malah berbalik dan pergi. Angga tak pernah sebahagia ini ketika bermain arkade, dia tak ingat kapan terakhir dia begitu bersemangat dan bahagia hanya karena seorang wanita. Sepertinya tak pernah, kecuali dengan ibunya.


“Wah, kau tahu? aku bakal tidur nyenyak malam ini.” Ujar Angga seraya menyedot minuman dingin ditangannya, “tanpa harus dikagetkan sedan hitam untuk membawamu.” Kerucutnya mengingat kenangan buruk itu,


Kejora tersenyum dan mengangguk. “Kau tahu, kurasa aku tak perlu lagi obat tidur.” Kejora menoleh dan menatap heran “karena kamu hadir sudah membuat semua masalah itu hilang, dan aku bisa tidur nyenyak.” Kejora berdecak “berhenti ngomong aneh.” “asal kau tahu ya, 2 bulan kau menghilang, disini...” Angga menepuk dadanya dengan tangan kirinya “terasa kosong...”


Kejora mendengus mendengar itu, “duduk disana aja yuk” Angga menunjuk kursi bundar ditaman tersebut. “Angga..” “Hmm” “aku harap, aku seperti ini tidak membuatmu berharap, jangan lihat seolah aku memberimu peluang.” Angga menatap bingung “aku hanya ingin profesional dengan misi kita.”


“aa..hh.” sahut Angga mengangguk seraya membuka mulutnya, memahami maksud Kejora.

__ADS_1


“Aku tak memaksamu membalas perasaanku kok, cukup seperti ini, aku sudah senang Ke, yang penting kau tak menghindariku atau mengabaikanku.” Senyum Angga membuat Kejora menatap wajah Angga yang begitu menenangkan ketika tersenyum.


“Dan juga...” Kejora menggigit bibir bawahnya, dia ragu apakah dia harus mengatakan hal ini atau tidak. “Kenapa?” bingung Angga melihat Kejora nampak ragu-ragu “Madam Den....” Kejora memainkan jari-jarinya, Angga mengamati kegelisahan Kejora kemudian menepuk pelan punggung tangan Kejora “katakan...” Senyumnya membuat Kejora menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya “dia memintaku mendekatimu dan mencari info tentang ayahmu.”


Angga menaikkan kedua alisnya karena tak menyangka tentang hal itu.


“Untuk apa?”


“Dia ingin tahu apa rencana ayahmu untuk mengatasi kejadian anak sekolah itu.” Angga diam sejenak untuk berpikir, dia memajukan badannyan sedikit agar Kejora bisa mendengar suaranya walau pelan.


“Ini malah menjadi mudah sih, kita bisa bebas untuk bertemu dan kau bisa menyampaikan informasi sesuai dengan apa yang aku katakan.” Kejora nampak bimbang “tak apa kah?” Angga mengangguk mantap.


“Jika kau menyampaikan informasi ini ke mereka, maka mereka akan mencoba mencari cara sebagai rencana cadangan atau bahkan menjadikannya rencana inti. Jadi kita bisa menyetir rencana kami agar mereka bisa mengikuti sesuai rencana kami. Kau bisa sampaikan kepada mereka jika Pak Wira sedang mencari permasalahan dan mencurigai mobil dinas kesehatan yang pernah datang kesekolah, tapi itu nanti jika kau sudah mendapatkan perintah dariku, aku ingin mengatur sesuatu bersama ayahku.”


Kejora menghela napas “Hei.. Kau ingat apa yang pernah aku katakan?” Kejora menatap Angga yang memberinya tatapan yang sangat meneduhkan “aku akan melindungimu, jadi jangan khawatir.” Kejora tersenyum dan mengangguk, dia tak menyangka jika bisa semudah itu untuk jujur kepada Angga, bahkan memihak Angga yang baru dikenalnya, menghianati Maminya yang sudah memberikan tempat hidup untuknya.


Suatu hal yang sangat berbeda untuk dibandingkan, ketika Kejora merasa sangat aman jika bersama Angga walau dia baru mengenalnya tak bisa disamakan dengan dia yang selalu merasa terancam bahkan membenci dirinya sendiri ketika bersama Madam Den, Angga benar-benar memberikan titik cahaya untuk hidup Kejora, sepertinya Angga adalah penyelamat yang dikirim Tuhan untuknya.


“Aku boleh tanya sesuatu?” Kejora menaikkan kedua alisnya “kapan ulang tahunmu?” “kenapa?” Angga menggaruk belakang kepalanya seraya tersenyum nyengir “cuma ingin tahu.. Hehee..”


“Kalau kamu?”


“28 Maret.” Kejora menatap kaget.


“Woah serius..?"


Angga bingung mendengar ucapan Kejora, "kenapa gitu?" Tanyanya.


"Sama seperti tanggal lahir ayahku!”


“Oh ya?” Angga nampak kaget juga mendengar apa yang Kejora katakan.


“Aku akui yang lahir tanggal 28 Maret pasti orangnya keren.” Kekeh Angga karena sudah pasti Kejora akan menyetujuinya “Ayahku sih sudah pasti iya, gak tau yang lainnya.” Sahut Kejora dengan nada meledek, lalu tertawa kecil.


“Eh.. Akui saja..” Kejora mengangkat bahunya “Kau tahu? Saat ini ada 5 orang yang aku ingat dengan baik tanggal lahirnya.” Kejora menoleh ke arah Angga yang menunjukkan 5 jarinya.


“Ibu, Ayah, Dimas, Satya dan... Kamu.” Jelas Satya menunjuk Kejora dengan jari terakhirnya yang berdiri.

__ADS_1


“Kamu gak menghitung tanggal lahirmu sendiri?” Angga menggeleng “bukan tugasku untuk mengingatnya, hahaha..”


Kejora mengerutkan dahinya “tapi kau bisa memberitahuku barusan tanggal lahirmu.” Angga menghela napas “itu karena menjadi kebiasaan ketika mengisi formulir.”


Kejora tertawa kecil mendengarnya “tugasku adalah mengingat tanggal lahir kalian dan bersyukur kepada Tuhan karena telah lahir dan hadir disisiku.” Jelas Angga menengadah menatap langit.


Kejora tersenyum tipis, “lalu menjadi tugasku untuk mengingatnya, karena kehadiranmu mengubah caraku melihat hidupku.” Ujar Kejora dalam hati, dan tersenyum menatap pria yang masih asyik menatap langit.


"Kau tahu Kejora? Jika melihat bintang kita sama saja seperti melihat masa lalu." Jelas Angga masih melihat langit malam yang dipenuhi taburan bintang seperti glitter dn manik-manik kaca yang tertabur di kain hitam, terlihat berkilau dan indah.


Kejora pernah mendengar apa yang diucapkan oleh Angga, dia mengangguk pelan. "Jarak mereka dan bumi sangat jauh sampai ratusan satuan cahaya, bisa jadi cahaya yang bersinar saat ini, disananya dia sudah padam." Angga terpukau ketika gadis disebelahnya mengetahui hal itu juga.


"Tapi, bintang tak pernah lelah bersinar dan dia selalu sanggup menghiasi malam." Kejora menoleh sepintas kearah Angga yang kini menatapnya, pandangan mereka bertemu.


"Kau... bintang paling terang yang pernah kulihat, Ke." Ucapnya pelan masih dengan menatap Kejora. Gadis didepannya tak sanggup menyembunyikan senyum kecilnya, dia menggeleng pelan. "mbal..gombal.. sejak kapan kau suka berkata manis seperti ini? ckckck.." Cibir Kejora dan Angga terkekeh mendengarnya.


"Eh tapi bener lo, malam ini aja bintang banyak banget, tapi mataku gak bisa berpaling darimu... asek!" Angga kembali terkekeh dengan ucapannya. Kejora menaikkan sebelah alisnya "ini serius Angga yang aku kenal bukan sih?" Angga terbahak lalu bergidik "ughhh.. berkata seperti itu seperti bukan diriku." Kikiknya dan Kejora ikut tertawa.


"Angga, kau mau bercerita sedikit tentang ibumu? aku teringat saat kita di toko ibuku?" Angga terdiam sesaat, dia memperbaiki posisi duduknya lebih santai. Dia bingung harus menceritakan yang mana? karena dunia taunya dia hanyalah anak pembantu yang diangkat oleh Pak Wira. Sedangkan aslinya dia adalah anak wanitan yang diusir oleh ayahnya ketika ia berusia 8 tahun.


"Aku diasuh oleh seorang yang juga adalah kepala pembantu di rumah Gubernur itu, melihat aku yang memiliki potensi beliau mengangkatku jadi anak, aku sendiri tak tahu ibuku, karena beliau pergi ketika aku berusia 8 tahun." Jelas Angga menatap ujung sepatunya yang memainkan rumput.


"sepertinya aku lahir dari wanita yang dikecewakan oleh seorang lelaki, karena aku pun tak mengingat seperti apa ayahku." Kejora menatap iba mendengar cerita Angga, dia merasa sama, merasa seperti melihat dirinya yang juga kehilangan keharmonisan keluarga sejak usia kecil. Apakah ini juga yang membuat Tuhan mempertemukan mereka?


Angga melambai tangannya kewajah Kejora yang menatapnya kosong. "Jangan melamun." "Enggak..." Jawab Kejora pelan dan menarik wajahnya menatap kedepan. "Aku juga teringat keluargaku, aku lahir dan besar di Jakarta, lalu ketika ibuku sakit dan meninggal, disusul ayahku yang beberapa tahun kemudian sakit dan meninggal. Aku dibawa pamanku ke kota ini, tinggal dibelakang pasar beringharjo dengan lingkungan preman, pengamen, pemulung dan lainnya. Aku tak mengenyam pendidikan yang layak jadi aku hanya belajar menghitung dan membaca dari kakak mahasiswa yang sering jadi relawan belajar. Sampai pada suatu ketika, pamanku dikejar rentenir dan membuatku bertemu dengan Madam Den." Kali ini Angga merasakan perih didadanya, "jika kau bersamaku, akan kupastikan membuat kenangan indah untuk menggantikan kenangan buruk itu." Batin Angga seraya menatap Kejora.


"kau sudah tahu kabar tentang pamanmu dimana?" Kejora mengangguk pelan. "Dia dipenjara, aku tahu beberapa saat yang lalu dari Madam Den."


"Woah! di kota ini?"


Kejora menggeleng "Di Jakarta."


Mereka kembali mengobrol ditemani semilir angin malam yang menggerakkan daun pepohonan. Malam ini mereka lebih saling mengenal satu sama lain, mereka lebih memiliki kepercayaan untuk saling percaya.


Angga percaya Kejora adalah wanita baik begitu juga Kejora, dia percaya didunia ini masih ada lelaki yang baik dan tulus seperti Angga.


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2