
Hari ini aku mengumpulkan segala keberanianku. Dua hal yang harus aku selesaikan dan sama-sama sangat beresiko. Pertama aku harus bolos sekolah saat ulangan harian berlangsung. Ke dua aku harus memberanikan diri untuk bertemu dengan Dara. Mau bagaimana lagi? Aku tidak punya pilihan lain. Aku juga sudah memikirkan semuanya dan konsekuensinya apa.
Setelah mendengar rencana jahat Dara di kafe hari itu pikiranku menjadi tidak tenang. Bagaimana bisa aku tenang jika ada seseorang yang ingin mencelakai keluarga Bintang. Aku benar-benar tidak bisa tinggal diam karena keluarga Bintang lah yang sudah membantuku sejak orang tuaku meninggal dulu. Mungkin ini saatnya aku balas budi ke mereka.
Dan di sinilah aku sekarang. Berdiri di depan gerbang kampus Bintang untuk menemui Dara dan memperingatkan dia. Tidak ada yang tahu jika sekarang aku sedang berdiri di tempat ini. Berbagai tatapan mahasiswa yang sedang lalu-lalang ingin memasuki gedung sudah sejak tadi aku abaikan. Mataku tetap fokus mencari dimana keberadaan Dara.
Satu jam menunggu akhirnya sebuah mobil yang ciri-cirinya sangat aku kenali melewati gerbang utama kampus. Aku masih sangat ingat jika mobil itu adalah milik Dara karena aku sempat melihatnya saat ulang tahun Adira hari itu. Mobil yang ia pergunakan untuk menjebak Bintang.
Sebelum kehilangan jejaknya aku langsung memutuskan untuk menerobos masuk dan menemui Dara yang kebetulan parkir di halaman utama gedung. Begitu dia keluar dari mobil aku langsung berdiri tepat di depannya.
"Wow, wow, wow! Apa-apaan nih?!" ujarnya angkuh sambil menutup pintu mobilnya.
"Ngrencanain apa lo buat keluarga Bintang?" tanyaku to the point. Untuk apa berbasa-basi dengan manusia macam dirinya.
Dara melipat tangannya di dada sambil tersenyum meremehkan.
"Berani banget ya lo bocah SMA ngelabrak gue di sini? Mau cari mati lo sama gue!"
Dara mendorong bahuku kasar. Namun sebisa mungkin aku menahan diriku agar tetap seimbang dan tidak jatuh. Aku tidak ingin lagi menjadi bahan tertawaannya.
"Gue masih tanya baik-baik sama lo. Gue udah denger semua yang lo omongin di telfon saat di kafe kemarin. Jadi lo nggak bisa ngelak lagi,"
Dara kembali tertawa sinis. Dia sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh kalimatku barusan. Tatapannya kini justru semakin nyalang.
"Kalau iya kenapa? Lo mau ngadu sama keluarga Bintang kalo gue ini orang jahat? Percuma *****! Nggak ada yang percaya lagi sama lo," cibir Dara.
Sebenarnya aku tidak yakin akan rencanaku ini. Seperti dugaanku, Dara pasti tidak akan mengakui apapun. Mana ada maling yang mau ngaku? Lalu bagaimana caranya aku mengetahui apa yang Dara rencanakan?
"Gue saranin sama lo. Dari pada lo capek-capek ngurusin orang yang udah gak peduli lagi sama lo, mending lo tuh banyak doa buat lo sendiri," ujar Dara sambil menujuk bahuku.
Aku mengernyit tidak mengerti dengan perkataannya dan masih menunggu Dara yang agaknya ingin mengatakan sesuatu kembali.
"Karna buat nyingkirin tikus kecil kayak lo gini gue bisa lakuin dalam hitungan detik, NGERTI LO!" lanjut Dara dengan nada mengancam.
"Siapa lo sebenarnya? Kenapa lo tiba-tiba muncul di kehidupan keluarganya Bintang?"
Ancaman Dara tak membuatku menyerah untuk terus mengajukan pertanyaan yang membuatku semakin penasaran.
__ADS_1
Dara kian meradang. Dia masih menampilkan wajah tak bersahabatnya dengan tatapan khas tajamnya.
"Dan lo siapa berani banget ikut campur urusan gue? Lo emang minta di singkirin ternyata,"
Kali ini Dara mendorongku lebih kuat lagi hingga tubuhku terjungkal ke belakang jika saja tangan seseorang tidak cepat menahanku.
"Kak Adira."
Adira membantuku untuk berdiri tegap kembali sebelum akhirnya menatap Dara yang juga menatapnya dengan sinis.
"Apa-apaan sih lo? Masih aja hobi cari masalah sama Kejora," tegur Adira.
Dara terkekeh. "Gue? Lo pikir gue kurang kerjaan banget pagi-pagi gini ribut sama nih cewek. Nggak penting."
Adira kini berganti menoleh ke arahku. Seakan menunggu penjelasan tentang semua ini. Aku yakin Adira juga bingung karena melihatku berada di kampusnya sepagi ini.
"Lo ngapain ke sini sih Ra? Bolos ya lo?" tuding Adira.
"Nanti gue jelasin semuanya sama lo,"
Adira tak berniat menanyakan sesuatu lagi. Mungkin dia menyadari jika situasinya lagi genting. Jadi dia memilih untuk menuruti perkataanku.
Dara berlalu pergi. Aku tak berniat untuk mengejarnya hingga ke dalam gedung karena aku rasa itu juga akan sia-sia. Dara tidak akan mengakui apapun.
Adira yang masih berdiri di sampingku menataku bingung.
"Ada apaan sih lo nyamperin Dara sampek kampus segala?"
Aku menghembuskan nafas gusar. Seharusnya Dara tidak di lawan dengan cara terang-terangan begini. Bukankah dia sangat licik?
"Dara punya rencana jahat buat keluarga Bintang kak," ungkapku.
Adira kaget. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya masih tak percaya.
"Gue pikir cewek gila itu ngincernya elo. Nggak taunya ngincer keluarga Bintang juga? Tapi untungnya buat dia apa coba?"
Aku menggeleng pelan. Adira sendiri masih mengelus-elus dagunya tampak sedang berpikir keras. Lalu terdengar lengkingan nyaring darinya tengah memanggil seseorang.
__ADS_1
"Bintang!"
Reflek aku membalikkan badan dan melihat kemunculan Bintang dengan wajah datar. Dia hanya memandang Adira sekilas dengan malas. Bahkan dia seperti acuh melihat kedatanganku di kampusnya.
Mungkin Bintang sudah tidak peduli denganku.
"Eh lo harus dengerin berita ini deh. Masa si Dar____"
Adira baru saja ingin menghampiri Bintang namun Bintang justru melengos tanpa ingin mendengar ucapan Adira lebih lanjut. Seperti tidak menganggap Adira ada di depannya.
"Anjir gue di kacangin! Woy!"
Teriakan Adira tak membuahkan apa-apa. Nyatanya Bintang semakin melangkah menjauh tanpa memedulikan Adira yang meneriakinya.
"Bintang kenapa lagi sih Ra? Padahal di sini kan juga ada lo, kok dia jadi dingin gitu?"
Mataku masih memandangi punggung Bintang yang kini sudah menghilang. Tidak heran jika Bintang bersikap seperti itu. Mungkin hatinya masih ada rasa kecewa yang mendalam. Tentu saja. Bintang kali ini pasti sangat kecewa. Sampai-sampai dia acuh melihatku.
"Kejora!"
Aku mengerjap dari lamunanku. Panggilan dari Adira telah menyadarkanku kembali. Bagaimanapun aku harus memperbaiki semuanya.
"Gue udah buat Bintang kecewa kak," ujarku melemas.
Adira mengernyit lagi. "Kecewa gimana? Bukannya kalian baru aja ngrayain ultah bareng?"
Aku menggeleng lesu. "Gue nggak datang nemuin Bintang malem itu,"
Adira melongo. Benar-benar tak percaya dengan pengakuanku barusan.
"Serius lo nggak dateng? Ini ada masalah apa sih sebenernya? Gue jadi bingung,"
Mendapat pertanyaan seperti itu membuatku menunduk bingung. Aku juga tidak tahu harus menceritakan dari mana. Semuanya seakan menjadi rumit.
"Gue minta maaf karna nggak bisa bahagiain Bintang kak. Gue udah bikin dia kecewa,"
Adira hanya mendengarkanku tanpa memberikan respon apapun.
__ADS_1
"Gue udah nolak Bintang kak," lanjutku kemudian.
***