
Tok.. tok.. tok
"Masuklah!" Lisa yang sedari tadi sibuk, menoleh sebentar.
"Maaf, Nona! Apakah anda memerlukan bantuan?" tanya pelayan itu.
"Ratna! Panggil saja aku,Lisa. Kita kan seumuran," pinta Lisa.
"Maaf, tapi anda majikan saya dirumah ini.Saya tidak ingin melanggar peraturan," sambil menundukkan kepala, kedua tangannya tersimpul didepan perut.
"Ah! sudahlah, terserah kamu saja! Bisakah kamu membantuku melepaskan baju ini, aku sudah tidak betah. Rasanya gerah sekali!" celoteh lisa panjang lebar.
"Iya, Nona!" dengan cekatan Ratna mulai beraksi membantu Lisa. "Selamat, Nona! Sekarang anda sudah resmi menjadi istri Tuan Dalfi Winata, saya turut berbahagia untuk anda". Ratna mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan selamat.
" Terima kasih! Sepertinya mulai sekarang kita bisa berteman" melirik Ratna dari cermin rias nya.
"Tentu saja, Nona! Dengan senang hati".
Ratna dengan hati-hati mulai melepaskan satu persatu kancing baju yang dipakai Lisa. Memang susah jika harus membukanya sendiri, apalagi kancingnya terletak dibelakang.Tetapi baru saja berganti baju, tiba-tiba pintu terbuka. Nampak Dalfi masuk kekamar.
" Biar aku yang membantunya.Kamu selesaikan pekerjaan yang lain!" berbicara tanpa memandang Ratna sedikitpun.Karena fokusnya hanya tertuju pada Lisa.
"Saya permisi, Tuan!" menundukkan kepala lalu keluar menutup pintu.
Perasaan khawatir dan cemas mulai menyerang Lisa. Jujur saja, dia tidak pernah berada di ruangan tertutup bersama seorang lelaki.
"Awas ya! Jika anda berani berbuat macam-macam!" reflek Lisa menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"ihh! gemasnya aku".Batin Dalfi
"Hahaha!"
Dalfi tak dapat menahan ketawanya. "Tenang saja, Nona Lisa! Aku tahu apa yang ada dipikiranmu? Aku hanya ingin membantumu!" berjalan mendekati Lisa.
"Kan,sudah ada Ratna tadi yang membantu?" tutur Lisa sembari memberikan tatapan penuh waspada.
"Hah! Siapa dia?".
" Pelayan tadi, Yang Anda usir keluar!".
"Oh! Biar aku saja yang membantumu. Lagipun aku sudah tidak ada kerjaan".
" Cih, Modus! Bilang saja kalau mau curi kesempatan, Tuan!" ketus Lisa.
"Iya.. iya terserahlah! Dan mulai sekarang aku mau kamu memanggilku, Mas!" tegas Dalfi.
"Tapi.. "
" Ini pe.. rin.. tah! Aku tidak suka penolakan".Tegas Dalfi sekali lagi sambil menekankan kata-katanya.
Lisa memuncungkan dan mengangkat bibirnya sebelah. Berdebat dengannya pun tidak ada gunanya. Mau tak mau, suka tak suka,Lisa harus menuruti kemauannya.
__ADS_1
"Baiklah,Massssss!". Lisa sengaja memperjelas kata terakhirnya.
Dalfi yang mendengarnya menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
"Awas ya! Kalau berani macam-macam!" Sekali lagi Lisa memperingatkan Dalfi.
"Iya, iya! Janji nggak ngapa-ngapain! Bawel amat!"
Tapi apalah daya, janji tinggalah janji. Gairah Dalfi timbul membara saat melihat leher jenjang Lisa yang putih bersih. Dengan susah payah Dalfi mencoba menahan diri, meneguk salivanya dan memejamkan mata. Mencoba dengan segala cara menahan hasrat yang bergejolak. Hawa panas menyerang dengan cepat, memenuhi ruangan yang ber-AC. Keringat dingin sebiji jagung mulai bermunculan membasahi dahi.
"Mas, kamu kenapa?". Tanya Lisa memastikan keadaan Dalfi.
" Nggak apa-apa!"
Yang ditanya sibuk menenangkan diri. Dengan gelagapan Dalfi menjawab "Sudah sini! Kamu diam saja!". Tanpa aba-aba langsung saja melancarkan aksinya.
"Mas, tunggu apa yang kamu lakukan!" Lisa takut melihat perubahan wajah orang yang baru saja menjadi suaminya itu.
" Aaaaaa, Massss!". Tiba-tiba Lisa berteriak kencang.
"Sudah tenang saja! Aku akan melakukannya dengan hati-hati. Kamu nggak perlu takut!"
"Mas, sudah hentikan! Aku nggak mau!"sambil menarik paksa tangan Dalfi.
" Ini sudah tanggung, Lisa! Sebentar saja!"
"Sakit, Mas! Aaaaaa!" teriakan Lisa semakin kencang. Hingga menarik perhatian beberapa orang pelayan yang sedang lewat depan kamar Dalfi. "Pelan-pelan bisa nggak sih!"
" Mass, sakit! Aduh hati-hati,nanti berdarah!" rintih Lisa.
Para pelayan yang tadi tidak sengaja mendengar teriakan Lisa,sekarang malah berkerumun didepan pintu kamar. Rasa penasaran mereka mendadak muncul. Cekikikan sambil tersenyum malu ketika mendengar teriakan pengantin baru.
"Mas, sudah! Aku sudah tidak tahan!"
"Tunggu sebentar lagi! Ini masih kaku!" ucap Dalfi mempertahankan posisinya.
"Awwww! "
Ibu yang baru saja datang langsung berdehem. "Ehem..ehem! Sedang apa kalian?"
"Maaf, Nyonya! " semuanya langsung kabur membubarkan diri.
"Mas, sakit! Sudah gantian sini aku saja!" teriak Lisa lagi.
Samar-samar Ibu mendengar suara Lisa. Seakan mengerti apa yang sedang terjadi didalam. Melihat tingkah anak dan menantunya,mengingatkan Ibu pada jaman mudanya. "Dasar kalian ini!" batin Ibu.
"Jangan dekati kamar ini!" perintah Ibu kepada para pelayan.
Padahal yang terjadi bukan seperti yang ada dipikiran mereka.
"Mas, sudah sini! Biar Lisa saja!" merebut paksa sisir dari tangan Dalfi.
__ADS_1
"Lagian ini,siapa juga yang membuat rambutmu jadi begini? Kebanyakan hair spray ini!" timpal Dalfi sambil menaburkan bedak ditangannya.
"Yang salah itu bukan penata rambutnya.Tapi,Mas yang salah! Yang di kasih bedak itu rambutnya, Mas! Bukannya tanganmu!" marah Lisa.
"Hehehe Maaf!" Dalfi terkekeh dengan tingkahnya sendiri.
"Gimana nggak kaku coba! Harusnya bedaknya ditabur di rambut Lisa, habis itu baru disisir naik turun, pelan! " Lisa menjelaskan kepada Dalfi sambil mempraktekkan gerakan tangannya.
"Eh! Ini masih ada jepitnya, tertinggal satu" langsung saja ditariknya cepit kecil warna hitam. Hingga lagi-lagi beberapa helai rambut Lisa ikut tercabut.
"Awwwww, gila ya! Sakit tau! Sudah minggir sana! Kalau nggak ikhlas nolong mending keluar aja!" usir Lisa penuh emosi. Sudah kesekian kalinya Lisa mengajari cara melepaskan cepitan, tetapi tetap saja langsung ditarik oleh Dalfi.
Setelah beberapa menit, drama rambut Lisa akhirnya selesai juga.Rambutnya sudah seperti sedia kala. Walaupun kepala agak berdenyut dibuatnya.
Dengan memegang kedua lengan Lisa, Dalfi mencoba membantunya berdiri. Mengambilkan tongkatnya, dan membantu Lisa berjalan.
"Mas, mau ngapain lagi sih! Sudah keluar sana, Lisa mau mandi!" Lisa juga nampak berkeringat, jubah mandi yang sedari tadi dipakainya membuatnya semakin tambah gerah.
"Aku akan keluar, setelah mengantarmu kekamar mandi!"
"Tutup matanya! Awas aja kalau mengintip!". Ancam Lisa sambil mengepalkan salah satu tangannya.
" Ngapain tutup mata? Kita kan sudah muhrim, Sayang!" sengaja memasang senyuman menggoda.
hufffttt
Lisa menghela nafas panjang, dia tidak akan pernah menang jika melawan Dalfi. Pikirnya.
Setelah memastikan Lisa sudah diposisi yang aman didalam kamar mandi, Dalfi pergi ke ruang ganti. Mengambil beberapa helai bajunya. Dia berencana akan mandi juga tapi di ruang tamu yang dulu ditempati Lisa.
Para pelayan yang tadi berkerumun,menatap Dalfi dengan tersenyum malu melihatnya keluar dari kamar. Sambil saling berbisik dan terkekeh. Dalfi yang tidak tau menahu tentu saja tidak memperdulikannya.
"Tolong pergi kekamar Lisa! Mungkin sebentar lagi dia membutuhkan bantuan kalian!" tegasnya memberikan perintah kepada seorang pelayan.
"Baik, Tuan!" sahut pelayan itu.
Lisa yang sudah selesai mandi, terperanjat kaget ketika melihat pelayan berdiri didepan pintu.
"Mau apa kalian! Aku tidak memanggil kalian, kan?" ucap Lisa.
"Tuan Dalfi yang menyuruh kami untuk membantu Nona!" terang salah satu pelayan.
"Oh! Tolong ambilkan bajuku dikamar bawah!" pinta Lisa.
Para pelayan nampak kebingungan. "Untuk apa, Nona? Mari saya antarkan ke ruang ganti".
Lisa yang tak tahu maksud para pelayan, hanya pasrah mengikutinya. Mulutnya dibuat menganga saat tiba di ruang ganti.
" Ini, Nona! Semua baju dan keperluan lainnya sudah ada disini".
"Hah!" Lisa terkejut melihat beberapa lemari yang isinya pakaian semua. Dan beberapa rak aksesoris untuk menyimpan tas dan sepatu.
__ADS_1
"Kapan mereka menyiapkan ini semua. Baju sebanyak ini untukku semua".