
Lisa masih tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Berdiri tertegun, melihat ruangan Dalfi yang kacau bak kapal yang habis terhempas ombak besar. Matanya sudah disuguhi dengan sesuatu yang membuat hatinya bertanya-tanya.
"Kemarilah Sayang!" pinta Dalfi dengan menengadahkan salah satu tangannya.
Melangkah masuk dengan hati-hati agar tidak menginjak serpihan Vas yang pecah. Lisa menghampiri Dalfi yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Berdiri tepat disampingnya, seraya memasang mimik wajah penuh tanda tanya.
"Mas, apa yang sudah terjadi?"
"Duduklah dulu!" ujar Dalfi sambil menepuk pahanya, menyuruh Lisa untuk duduk di pangkuannya.
"Tidak mau, aku malu!" tolak Lisa cepat.
"Sayang, aku paling tidak suka dibantah!" dengan intonasi datar, serta raut wajah yang sulit ditebak, membuat Lisa merinding.
Dalfi mengeratkan tangannya dipinggang Lisa, menyandarkan bahunya dan memberikan sedikit ciuman di leher Lisa yang putih jenjang. Memamerkan kemesraan dihadapan semua orang yang berada didalam ruangan.
"Pipi... maluuu!" bisik Lisa manja.
Bukannya merenggangkan pelukan, Dalfi malah semakin mengeratkan pelukannya. Tersenyum melihat wajah Lisa yang bersemu merah.
"Kenapa malu, aku kan mencium istriku sendiri!" sanggah Dalfi dengan senyuman yang mengembang.
"Katakan apa yang sudah kamu lakukan kepada mereka? Dan juga kenapa ruanganmu menjadi berantakan seperti ini!" tanya Lisa dengan penuh selidik.
"Aku tidak melakukan apapun, itu karena ulah mereka sendiri!" Lagi-lagi Dalfi membantah tuduhan yang diberikan oleh Lisa.
Lisa masih tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Dalfi. Matanya menelisik kekacauan yang berada didepannya, kertas-kertas berhamburan, serpihan vas berserakan, bantal sofa dan beberapa pasang heels bertebaran kemana-mana, sungguh tidak habis pikir apa yang baru saja terjadi.
Dilihatnya Ria, Reni dan Dina dengan rambut dan pakaian yang acak-acakan. Duduk berlutut dengan wajah yang tertunduk. Nampak ada bekas cakaran dan luka lebam diwajah ketiganya. Tidak mungkin kan jika Dalfi yang melakukan itu semua, sungguh tidak punya hati jika dia berani memukul seorang wanita. Suara hati Lisa berkecamuk.
"Kim.. " perintah Dalfi.
Sekretaris Kim melangkah menuju meja, menyalakan laptopnya dan menekan file yang berisi rekaman, yang terhubung langsung pada layar proyektor.
Lisa beserta ketiga gadis yang sedang tertunduk itu, langsung terperanjat kaget saat melihat rekaman CCTV yang disertai dengan audio yang sedang diputar dihadapan mereka.
Nampak tiga orang sedang membuat minuman dipantry, terdengar sedang asyik membicarakan Lisa dengan dibumbui hinaan dan cemooh. Setelah rekaman selesai diputar, Sekretaris Kim segera mematikannya.
__ADS_1
"Maafkan kami, Tuan!" ucap Dina mendahului dengan sesenggukan.
"Seharusnya kalian meminta maaf kepada istriku!" ketus Dalfi marah. "Aku ingin mereka semua dipecat dan membuat permintaan maaf!"
"Ini semua karena ulahmu!" Reni menunjukkan kemarahannya kepada Ria. Menuding nya sebagai penyebab semua kekacauan ini.
"Kalian saja yang terlalu menggemborkan ucapanku!" bantah Ria berusaha membela diri.
"Kau!"
Reni sudah mengangkat tangannya hendak menjambak rambut Ria.
"Sudah hentikan!" suara bentakan dari Sekretaris Kim membuat nyali mereka menciut. Dan membuat mereka bungkam seketika.
Pertikaian mereka terjadi karena adu mulut, dan saling menyalahkan, tidak terima dengan tuduhan yang mereka lontarkan sendiri. Akibatnya tampar menampar dan adu kekuatan tangan dalam menarik rambut terjadi antara ketiganya. Dan berakhir saat Sekretaris Kim dibantu dengan dua orang satpam memisahkan ketiganya.
"Aku ingin permintaan maaf dilakukan secara lisan dihadapan semua orang!" perintah Dalfi.
"Sayang, sudahlah! Itu tidak perlu, jangan pecat mereka, aku tidak apa-apa, sungguh!" ucap Lisa seraya mengelus pipi Dalfi, berusaha meredam emosi suaminya.
"Tidak! itu hukuman yang pantas karena sudah menghina istriku!" Dalfi kekeh dengan keputusannya.
"Untuk apa berkompeten jika tidak memiliki attitude yang baik. Bersainglah dengan cara yang benar!" tegas Dalfi lagi.
"Sayang.... " ucap Lisa yang masih duduk dipangkuan Dalfi.
"Keputusan ku sudah bulat, keluar sekarang dan buatlah permintaan maaf." Dengan sorot mata tajam melihat ketiganya sekilas. "Kim, berikan hak mereka sebelum keluar dari perusahaan ini!" Dalfi masih berusaha untuk berbaik hati.
"Ini semua gara-gara kamu!" pekik Ria sambil berdiri, menuding kan jari telunjuknya kehadapan Lisa. Emosinya sudah tak terbendung lagi.
"Kenapa Dalfi harus menikah dengan wanita sepertimu, apakah kau tahu, aku sudah lama memendam perasaan ku padanya, aku sangat senang saat tahu Vania putus dengannya, dan berharap aku memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengannya. Tapi apa ini, kenapa kamu muncul tiba-tiba dan sudah menjadi istrinya, Hah!" teriak Ria membabi buta.
Selama ini usahanya untuk mendekati Dalfi terasa sia- sia. Ria merasa jauh lebih baik dari segi manapun ketimbang Lisa.
"Pasti kau dengan sukarela menyerahkan tubuhmu untuk menarik perhatian Dalfi. Dasar wanita ja*ang!" ucap Ria lantang.
"Seret dia keluar dari sini!" Dalfi menggebrak meja dengan salah satu tangannya, membuat Lisa sontak terjingkat dari duduknya.
__ADS_1
"Aku menyukaimu sejak kita kuliah dulu, apakah kau tidak menyadarinya!" Teriak Ria dengan membabi buta, menyambar sepatu yang berada disebelahnya.
Beruntung kedua satpam yang berdiri tak jauh dari ketiga orang itu, langsung mencekal kedua tangan Ria. Sehingga sepatu itu terjatuh sebelum sempat dilemparkan kearah Lisa. Dengan tangkas menyeret Ria yang masih berteriak memaki Lisa, keluar dari ruang CEO.
Dalf menarik tangan Lisa, membawanya kembali kedalam pangkuannya. Digenggamnya tangan Lisa yang sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Maafkan kami, Lisa! Kami benar-benar minta maaf, sudah menuduh mu sembarangan!" ucap Reni dan Dina yang sudah berdiri dengan kaki yang kesemutan.
Dalfi mengibaskan tangannya, menyuruh agar mereka segera menghilang dari hadapannya.
"Sayang..?" ucap Dalfi mengambil tissu, menyeka keringat dingin yang mengalir di kening Lisa. Wajah Lisa yang pucat membuat kekhawatirannya muncul.
"Apakah kau baik-baik saja?"
"He'em, aku tidak apa-apa!" memiringkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya yang pusing kepundak Dalfi.
"Tapi wajahmu pucat sekali, aku akan panggilkan dokter!" ucap Dalfi seraya meraih gagang telepon.
Lisa meraih tangan Dalfi, mencegahnya untuk menghubungi dokter. "Mas, sebenarnya semua ini anugerah ataukah musibah!?"
Dalfi mengerutkan kening, tidak mengerti maksud dari pertanyaan Lisa.
"Kenapa banyak sekali orang yang tidak menyukaiku sebagai istrimu? Apa mungkin aku memang tidak pantas menjadi pendamping mu?" tanya Lisa lagi.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Layak tidaknya, aku yang memutuskan. Kita yang menjalaninya bukan mereka! Aku mencintaimu, hanya kamu!" tegas Dalfi dengan mantap.
"Tapi tidak kah kau lihat tadi, begitu banyak orang yang diam-diam menyukaimu, mereka jauh lebih baik segalanya daripada aku!" Lisa merasa rendah diri.
"Tapi tidak ada yang memiliki hati secantik dirimu! Kedepannya jangan mudah percaya dengan hanya melihat penampilan mereka semata!" ucap Dalfi sambil membenamkan sebuah kecupan dibibir.
"Setelah ini, apalagi yang akan terjadi?"
"Entahlah, Mas juga tidak tahu. Berdoa saja, semoga author tidak mempersulit kehidupan rumah tangga kita!" ucap Dalfi tersenyum.
Kemudian membuka kotak bekal berwarna pink yang berisi makan siang dan beberapa camilan. Perutnya sudah sangat lapar karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk marah-marah. "Enak sekali, Sayang! Terima kasih!" sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulut Lisa.
"
__ADS_1
"