Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 19 Aku ikut!


__ADS_3

Sekarang didalam ruangan Presdir. Pak Andre nampak sedang duduk dengan tenang. Tangannya sibuk membolak-balikan beberapa lembar kertas yang disusun rapi didalam sebuah map, dengan kaki kirinya yang disilangkan keatas kaki kanannya.


Diatas meja terdapat secangkir kopi yang masih panas, nampak belum diminum isinya sama sekali. Terdapat juga beberapa tumpukan majalah bisnis edisi terbaru dari rekan-rekan sesama pengusaha. Dan tak lupa beberapa map dengan sampul yang berbeda warnanya, menunjukkan dari divisi manakah map itu berasal.


Pak Andre meneliti dengan cermat, setiap baris kalimat yang tertulis didalam berkas tersebut. Sembari menunggu kedatangan Dalfi dan Sekretaris Kim.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Presdir pada sekretarisnya.


"Saya yakin, Tuan Dalfi bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik!" jawab sekretaris itu penuh dengan keyakinan.


Presdir hanya mangut-mangut mendengar jawaban sekretarisnya. Memang selama ini, Dalfi sudah berhasil membuktikan kemampuannya mengelola perusahaan dengan sangat baik. Kalau masalah pekerjaan, kualitasnya sebagai CEO sudah tidak diragukan lagi dan patut mendapatkan apresiasi.


"Sepertinya kau sangat yakin!" Presdir mengulangi pertanyaannya lagi.


"Tentu saja, Tuan! Saya sudah tidak perlu mempertanyakan kemampuannya lagi dalam urusan pekerjaan!" tukas Sekretaris itu.


Selang tak beberapa lama, orang yang dibicarakan tengah mengetuk pintu. Langsung saja masuk tanpa harus menunggu dipersilahkan.


"Maaf, Presdir! Apakah anda memanggil saya?" tanya Dalfi dengan mode serius. Duduk dihadapan Presdir dengan Sekretaris Kim yang berdiri disebelahnya.


"Aku ingin masalah ini segera diatasi. Se-ce-patnya!." Tanpa basa basi melemparkan map yang dibacanya tadi keatas meja. Tidak lupa sedikit menekankan kalimat terakhirnya. Terkesan jika masalah ini sangat penting.


"Aku tidak ingin masalah ini berdampak negatif pada perusahaan kita," lanjut Presdir.


"Baiklah, Pak!" menghela nafasnya panjang. Dalfi merasa jengah, Masalah justru datang silih berganti, disaat dia tengah berbahagia dengan pernikahannya.


"Dan ingat, jangan sampai ada pihak yang dirugikan! Dan juga jangan sampai pihak kompetitor mendengar masalah ini!" Ayah memberi peringatan.


"Iya, Ayah!" jawab Dalfi.


"Kenapa bisa sampai kecolongan seperti ini, Fi! Ayah rasa kinerjamu mulai menurun sekarang!" tukas Presdir.


"Mereka cukup pintar mencari celahku, Yah! Mereka memanfaatkan ketiadaanku sewaktu aku terkena musibah kemarin," jawab Dalfi yang sudah mengubah nada bicaranya dengan mode santai.


"Mungkin sudah lama mereka menyusun rencana ini, dan begitu ada kesempatan, mereka langsung merealisasikannya," imbuh Dalfi lagi.

__ADS_1


"Iya bisa jadi seperti itu, selama ini kita selalu mengawasi mereka dengan ketat. Sekalinya ada kesempatan, mereka langsung menjalankan rencananya."


Ayah dan anak ini akan berlaku seperti biasanya jika diruangan Presdir itu hanya ada dua orang saja. Terhitung empat orang dengan Sekretaris masing-masing.


"Kamu tidak boleh mengambil cutimu, jika masalah ini belum selesai!" timpal Ayah dengan tegasnya.


"Iya, aku tahu itu." Hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ayahnya akan sangat bertindak tegas dan keras jika bersangkutan dengan perusahaan.


Perusahaan yang sudah dibangun dengan susah payah dari nol oleh ayahnya, dan bisa sampai berkembang pesat seperti sekarang ini, tentu bukanlah hal yang mudah didapatkan. Perusahaan itu pula yang menjadi kebanggaan keluarganya.


******


Setelah seharian berkutat dengan berbagai laporan, akhirnya jam pulang kantor pun tiba. Para karyawan berbondong-bondong keluar dari kantor, dengan harapan bisa segera mengistirahatkan badannya yang lelah dengan segala rutinitas.


Begitu pun dengan Dalfi. Hari ini adalah hari yang amat melelahkan baginya. Dalfi yang pulang dengan wajah ditekuk, membuat Lisa merasa heran. Tidak biasanya suaminya itu pulang dengan wajah murung.


Setelah makan malam, dia bergegas mengajak Dalfi untuk naik keatas. Dan sekarang, mereka sudah berada dikamar dengan posisi Dalfi yang sedang memeluknya.


Dua minggu terakhir hubungannya sedikit memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Lisa sudah jarang sekali marah, jika dia melakukan kontak fisik ataupun sentuhan. Walaupun hanya sekedar memeluk dan mencium keningnya, itu sudah sangat membuat Dalfi bahagia.


"Hmmm," jawab Dalfi sekilas. Aroma shampoo yang dipakai Lisa bagaikan candu baginya. Daritadi hidungnga tak beranjak sama sekali dari rambut hitam legam itu.


"Padahal shampoo nya sama, kenapa wanginya jadi berbeda di rambut Lisa."


"Mas!" sungut Lisa.


Menepuk dada Dalfi pelan, karena merasa diabaikan. Lisa tidak puas dengan jawaban yang diberikan Dalfi, jawabannya masih membuatnya penasaran.


"Iya, Sayang! Semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," gumam Dalfi yang sudah sibuk berganti memainkan daun telinga istrinya.


"Tapi, kayaknya capek banget tadi pulang dari kantor," timpal Lisa.


"Hmmm,Sayang! Sepertinya bulan madu kita akan sedikit tertunda," menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. Memikirkan kata yang tepat agar Lisa tidak khawatir.


"Dua hari lagi aku akan keluar kota, ada sedikit masalah dikantor cabang yang disana dan aku sendiri yang harus menghandle semuanya. Kamu nggak apa-apa kan jika aku tinggal?" ucap Dalfi.

__ADS_1


"Berapa hari?" tanya Lisa sedikit melirihkan suaranya.


"Mungkin seminggu paling lama, tapi aku akan usahakan agar urusannya cepat selesai," menyelipkan anak rambut Lisa kebelakang telinga.


"Aku nggak masalah, jika kita tidak jadi keluar negeri, tapi.. " Lisa agak berat meneruskan ucapannya.


"Tapi apa, Sayang?" Dalfi sudah merubah posisi tidurnya, Badannya miring menghadap Lisa, kepalanya diangkat agak tinggi dan tangannya digunakan sebagai bantalan tumpuan.


"Apakah aku boleh ikut?" agak ragu mengutarakan niatnya. "Aku bosan jika harus selalu terkurung didalam rumah, setelah pulang dari rumah sakit sampai hari ini, aku belum pernah pergi keluar sama sekali. Walaupun hanya sekedar keliling komplek," gumam Lisa.


Dalfi yang sadar dengan kesibukannya akhir-akhir ini, ikut merasakan kesedihan Lisa. Karena ingin cepat menyelesaikan pekerjaan, dia selalu berangkat kerja pagi-pagi sekali, dan pulang pada waktu jam makan malam.


"Tapi kan kondisi mu belum memungkinkan, Sayang! Dokter kan sudah mengatakan untuk mengurangi aktivitas untuk sementara waktu," jelas Dalfi mencoba memberi pengertian. "Mas, janji! Nanti jika kakimu sudah sembuh, Mas akan mengantarkanmu kemanapun kamu ingin pergi."


"Sungguh? Kemanapun?" ucap Lisa dengan mata berbinar. "Aku sudah rindu sekali bergerak bebas, bisa kesana kemari sesuai yang aku mau," lirih Lisa.


"Maafkan aku! Aku akan menebus kesalahanku. Maafkan aku yang sudah membuatmu menjadi seperti ini!" ungkap Dalfi.


"Sudahlah, Mas! Mungkin kita tidak akan berjodoh, jika kecelakaan malam itu tidak terjadi," kata Lisa mencoba menghibur Dalfi.


"Sayang, setelah pulang dari luar kota, kita akan pindah ke apartemen, mau kan?" tanya Dalfi.


"Kenapa pindah,Mas! Kasihan ayah dan ibu pasti kesepian dirumah sebesar ini." Lisa membayangkan saat-saat pertama kali ketika dirinya menginjakan kakinya dirumah ini.


"Aku ingin kita membina rumah tangga yang mandiri, tanpa adanya campur tangan orang tua. Makanya, Ayo kita cepat buatkan cucu untuk ayah dan ibu," bisik Dalfi manja ditelinga Lisa. Matanya berbinar senang, seperti mendapatkan alasan yang tepat.


"Mas, Ih apaan sih," Lisa beringsut melepaskan pelukannya.


"Ayolah, Sayang! Katamu tadi biar rumah ini sedikit ramai, kasihan, kan, ayah dan ibu kesepian," ucap Dalfi seraya menarik Lisa kembali kedalam pelukannya. Bibirnya sudah mengeksplor ceruk leher Lisa.


"Hahaha! Nggak, jangan sekarang! Aku belum siap," teriak Lisa sambil tertawa terbahak-bahak. Karena tangan Dalfi sudah berpindah menggelitikinya.


"Ayolah, Sayang!" bujuk Dalfi sambil terus menggelitiki perut Lisa.


"Mas, sudah hentikan! Geli tau, aku tidak tahan!" ucap Lisa.

__ADS_1


Dalfi sudah berjanji dalam hatinya, tidak akan pernah memaksakan keinginannya kepada Lisa. Dia akan sabar menunggu, sampai Lisa benar-benar menyerahkan dirinya sendiri.


__ADS_2