
"Hari ini tidak ada kuliah, dan seperti biasa dia akan berada dikantor seharian!"
"Aku belum tahu lagi, nanti aku akan menghubungi mu jika ada kabar terbaru!" lanjut Ratna lagi.
Pagi ini hujan gerimis masih setia membasahi, setelah semalaman mengguyur bumi dengan derasnya air. Udara dingin pun terasa menembus hingga ke tulang. Ratna yang sudah bersiap akan berangkat bekerja, menghentikan langkahnya setelah mendapatkan panggilan masuk. Memasukkan kembali ponselnya kedalam tas, setelah menjawab panggilan itu dan menyambar tas selempang nya yang tergeletak diatas kasur.
"Astaga Ibu membuatku kaget saja!" Ratna terlonjak saat berbalik arah dan mendapati ibunya sudah berdiri didepan pintu dengan pandangan yang mengintimidasi. "Ibu kan bisa mengetuk pintunya dulu."
"Kau telepon siapa?" tanpa basa-basi Ibu melontarkan pertanyaan.
"Oh ini, bukan siapa-siapa!"
"Jangan bohong, Ratna!" bentak Ibu lagi.
"Ibu ini kenapa sih! Pagi-pagi sudah marah. Untuk apa aku berbohong pada Ibu!" bantah Ratna yang tidak terima jika dirinya dituduh sebagai pembohong.
Ibu Darmi melangkah masuk kedalam, duduk diatas kasur yang tidak begitu tebal. Ruangan sempit dengan cat berwarna krem itu menjadi kamar yang spesial bagi Ratna. Walaupun tidak begitu luas dan hanya berisi satu buah tempat tidur, sebuah lemari plastik dan meja rias yang kecil dengan jendela yang menghadap kearah sinar matahari namun nampak tertata dengan rapi dan terawat.
"Ibu yang sudah merawatmu dari bayi, ibu tahu kau sedang berbohong atau tidak!" telisik Bu Darmi lagi.
"Sungguh Bu, aku tidak berbohong!" Ratna masih kekeh dengan jawabannya.
"Ibu sudah memergokimu, beberapa kali kau menerima panggilan dari seseorang dan selalu saja kau melaporkan semua kegiatan Nona Lisa pada orang itu!" ucapan Ibu terdengar lembut tapi sangat tegas.
Deg
Raut wajah Ratna berubah pias, mendadak menjadi pucat pasi. Dia hanya diam saja terpaku mendengar bukti yang dilontarkan oleh Ibunya.
"Aku hanya...,"
__ADS_1
"Ratna, Ibu tidak mau jika kau sampai terlibat dalam masalah. Ingat Na, Nona Lisa itu adalah istri Tuan Dalfi, dan keluarga Tuan Dalfi sudah sangat berjasa kepada keluarga kita. Sudah banyak bantuan yang mereka berikan kepada kita, mereka adalah orang baik. Apakah kau tega mengkhianati orang yang sudah menolong keluarga kita!"
Panjang lebar Bu Darmi memberi peringatan kepada anak gadisnya. Dia tidak mau jika anaknya itu terjerumus dalam tindak kriminal yang akan membuatnya menyesal seumur hidupnya.
"Aku hanya memberi tahu kegiatan Nona Lisa sehari-hari, tidak lebih. Dan orang itu berani membayar mahal untuk informasi yang aku berikan!" Ratna yang sudah ketahuan, terang-terangan mengaku kepada ibunya.
"Sudah cukup, hentikan! Kau sangat tahu bagaimana watak Tuan Dalfi jika ada yang berani mengganggu keluarganya, terlebih lagi itu menyangkut Nona Lisa!" pekik Ibu.
"Orang itu sudah bilang tidak akan berbuat macam-macam! Kapan lagi aku bisa mendapatkan bayaran mahal untuk sekedar menjadi seorang informan!" Ucap Ratna yang sudah melangkah keluar kamar.
"Ibu mohon hentikan, Nak!" isak tangis Bu Darmi mulai terdengar. "Untuk apa kau melakukannya, kalau hanya demi uang, Ibu masih sanggup untuk membiayai mu walaupun harus banting tulang."
"Sudahlah Bu, jangan ikut campur urusanku!" kata Ratna tanpa menoleh sedikitpun kearah ibunya.
"Ibu tidak sudi punya anak seorang pengkhianat sepertimu. Lebih baik kau hentikan sekarang, jika tidak, pergi saja kau dari rumah ini!" dada Bu Darmi terasa sesak. Teriakannya bercampur dengan suara tangisan. Mengiringi kepergian putrinya di pagi yang mendung ini.
Ratna duduk termenung dihalte bus, setelah sebelumnya keluar rumah dengan membanting pintu. Sebenarnya hatinya ikut tersayat, melihat ibunya yang meneteskan airmata karena kelakuannya. Perasaan marah, kesal dan jengkel menyatu didalam hatinya. Akan tetapi perasaan iri lebih mendominasi hati Ratna saat ini.
Tin
Suara klakson motor berhasil membuyarkan lamunan Ratna, terlihat Ardan yang sedang mengendarai motor tersenyum kearahnya.
"Kau mau kemana? Ayo aku antar!" tawar Ardan sambil menyeka wajahnya yang terkena guyuran air hujan.
"Terima kasih Kak! Aku tidak mau merepotkan mu!" Ratna menolak ajakan Ardan dengan tatapan sinisnya. Suasana hatinya yang sedang kacau sama sekali tidak dapat disamarkan oleh senyuman palsunya.
Ardan turun dari motornya, tanpa aba-aba ataupun bicara, langsung saja memakaikan jas hujan ketubuh Ratna, diambilnya satu buah helm yang tersimpan dibagasi motor. "Pakai ini! Aku antar kau ketempat mu bekerja!.
" Terima kasih, tapi itu tidak perlu!" kata Ratna sembari menarik pergelangan tangannya dari genggaman Ardan.
__ADS_1
"Sudah, ikut saja!"
Adegan tarik menarik tangan terjadi diantara keduanya, hingga menarik perhatian beberapa orang yang sedang berteduh di halte itu.
"Mas.. mas.. jangan kasar dong sama pacarnya!" tegur salah satu calon penumpang bus disitu.
"Maaf!" ucap Ardan sekilas kemudian menarik Ratna mendekat kearah motor. "Naik, cepat!"
Bentakan Ardan membuat Ratna mengkerut ditambah perhatian sebagian orang kini tertuju kearah mereka berdua. Mau tidak mau akhirnya Ratna mengikuti perintah Ardan, karena malu sudah membuat keributan.
Dengan gesit Ardan mengendarai motornya, bersatu dengan rintikan hujan yang turun. Ratna yang takut dengan cara Ardan berkendara, tanpa sadar sudah melilitkan tangannya dengan erat diperut Ardan.
"Kenapa kita disini?" tanya Ratna bingung, saat melihat dimana mereka berada.
"Aku mau makan dulu, belum sarapan tadi, kau tidak apa-apa kan menunggu sebentar!" ucap Ardan dengan santainya, masuk kedalam warung makan, meninggalkan Ratna yang masih berdiri di tempat parkir.
"Hihh dasar orang gila! Tadi memaksa, sekarang seenak jidatnya sendiri meninggalkan orang. Hah hari ini sangat menyebalkan!" umpat Ratna dalam hati, terpaksa menyusul Ardan masuk karena gerimis yang semakin deras.
"Ini teh hangat, minumlah dulu!" tawar Ardan menyodorkan segelas teh ke hadapan Ratna yang sudah duduk disebelahnya.
"Cepat, aku tidak mau dipotong gaji karena terlambat datang!"
"Tenang saja, setelah selesai sarapan, aku akan segera mengantarkanmu!" senyuman tipis terukir dibibir Ardan, tak kuat menahan tawa melihat Ratna yang sedang dilanda emosi.
Sesaat kemudian, dua porsi nasi uduk yang masih mengepulkan asap putih sudah siap terhidang dihadapan mereka, lengkap dengan lauk ayam serundeng, telur bacem timun serta sambalnya. Tanpa banyak bicara, keduanya sudah sibuk menghabiskan isi piring mereka. Memindahkannya kedalam perut yang keroncongan.
"Enak kan? Ini tehnya biar tubuhmu lebih hangat! mau nambah lagi?" ucap Ardan saat melihat isi piring Ratna yang hampir habis.
Rona wajah Ratna berubah menjadi merah merona menahan malu. Entah karena nikmat atau karena lapar tanpa disadari dia sudah menghabiskan sarapannya tanpa tersisa sedikitpun.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu sekarang setelah perutmu kenyang?" lanjut Ardan. "Memang hal wajar kalau perut kosong itu memicu mood seseorang menjadi buruk!" timpal Ardan lagi, kali ini dengan senyuman yang menampilkan deretan giginya yang rapi.