
Sudah empat hari Dalfi berada di kota S, melebihi dari rencana yang dia prediksikan. Banyak kerusakan yang harus ditinjau ulang, belum lagi dia juga harus bisa meredakan emosi para buruh yang mogok kerja.
Jika para buruh terus mogok kerja, maka dapat dipastikan proyek ini akan menjadi proyek mangkrak. Ini semua karena ulah dari para kepala beberapa divisi yang mengkorupsi dana proyek.
Siang ini, ramai terlihat para buruh berkumpul didepan kantor cabang. Mereka berniat melakukan demonstrasi untuk memperjuangkan hak-hak meraka. Terutama masalah gaji yang belum dibayarkan.
"Panggilkan salah satu perwakilan para buruh, kita akan menemuinya diruang rapat!" perintah Dalfi kepada Sekretaris Kim.
"Baik, Tuan!" segera menghilang dari balik pintu.
Dalfi duduk diruang meeting, didampingi oleh wakil manager dan beberapa perwakilan staff dari masing-masing divisi. Semua para staff menampakkan raut wajah yang sama, pucat pasi, tidak berani memandang wajah CEO mereka.
Mulut mereka terasa kelu, membayangkan seperti apa kemarahan yang akan mereka hadapi. Dalfi yang duduk di posisi paling depan, terlihat sedang serius berpikir. Jarinya diketuk-ketukan diatas meja, hingga menimbulkan suara yang sedikit horor. Khususnya bagi mereka, yang akan segera dimintai pertanggungjawaban.
"Permisi, Tuan! Ini dua orang perwakilan dari para buruh!" ucap Sekretaris Kim sambil melihat Dalfi. Sekilas mengedarkan pandangannya kesemua staff.
"Mari, silahkan duduk!" ucap Dalfi sambil mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, Pak!" ucap Bapak itu sambil menjabat tangan Dalfi.
"Perkenalkan saya CEO dari Angkasa Group, Dalfi Winata," ucapnya sembari tersenyum. "Silahkan Anda utarakan semua tuntutan para pekerja." Dalfi agak meregangkan sedikit ikatan dasinya yang dirasa seperti mencekik lehernya.
"Sebelumnya kami ingin mengucapkan Terima kasih, karena Pak Dalfi mau menerima kami yang hanya sebagai kuli rendahan ini dengan tangan terbuka," menghela nafas sebentar. "Nama saya Pak Warno dan ini teman saya namanya Pak Mulyono," nafas Pak Warno sedikit tersengal, karena grogi. "Maafkan jika kami sudah mengganggu waktu Bapak yang sangat berharga."
"Tidak apa-apa, Pak! Itu sudah menjadi tugas saya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi diperusahaan saya. Silahkan, Bapak ajukan keinginan teman-teman di luar sana." Aura seorang CEO yang kental, berhasil membuat para karyawan terkesima.
__ADS_1
"Pertama, kami ingin gaji kami yang hampir beberapa bulan belum kami terima, mohon segera dibayarkan. Kedua, Kami minta tolong untuk hargai tenaga dan kerja keras kami selama ini, kami menuntut upah yang layak sesuai dengan tenaga yang telah kami keluarkan. Ketiga, perusahaan sebesar ini pasti ada tunjangan kesejahteraan untuk karyawannya. Walaupun kami disini hanya sebagai pekerja kontrak, akan tetapi bukankah kami juga sudah ikut andil dalam menjaga nama baik perusahaan, dengan cara memberikan yang terbaik dalam hal bekerja," ungkap Pak Warno panjang lebar.
Dalfi yang mendengar tuntutan para pekerja, hanya mangut-mangut mendengarkan sambil mengeryitkan dahinya. Tak lupa masih tetap mengedarkan tatapan tajamnya kepada para jajaran yang berwenang dikantor cabang.
"Baiklah, Pak Warno! Apakah ada lagi yang ingin anda sampaikan," tanya Dalfi. "Jangan ragu dan Anda tidak perlu takut untuk menyampaikan keluhan para pekerja. Saya sendiri yang akan menjamin, bahwa tidak ada yang akan berani mengancam anda kedepannya," tegas Dalfi.
Dalfi melihat ketakutan dimata Pak Warno, dan suaranya yang terdengar terbata-bata dalam menyampaikan keluhan, membuat rasa penasaran Dalfi mencuat.
"Hmmm, untuk sementara mungkin hanya itu, Pak!" sahut Pak Mulyono. "Bagi kami, yang terpenting untuk saat ini hanya mengharapkan agar uang hasil keringat kami, segera dibayarkan. Mungkin bagi Bapak-bapak sekalian, uang yang nominalnya tidak seberapa ini, tidak berharga sama sekali, tidak ada artinya. Akan tetapi, bagi kami uang receh ini cukup untuk bertahan hidup beberapa hari bahkan beberapa bulan kedepan."
Pak Mulyono mengutarakan pendapatnya dengan lantang. Terbayang dimatanya, bagaimana anak dan istrinya yang menunggunya pulang dari bekerja, berharap membawa uang hasil jerih payah walaupun tidak seberapa.
"Apakah semua pekerja disini adalah pegawai kontrak?" tanya Dalfi tanpa ragu.
"Tidak, Pak! Sebagian ada yang kontrak, sebagian lagi ada yang pekerja harian dan ada juga pekerja borongan," timpal Pak Warno.
"Ada yang langsung dari perusahaan, dan ada juga yang ikut subcont, Pak?" jelas Pak Mulyono. "Tapi, kalau pekerja harian seperti kami, hanya ikut dari ajakan Pak Mandor," lanjut Pak Mulyono.
Menganggukan kepalanya. "Baiklah, saya mengerti! Apakah ada lagi yang ingin disampaikan?" tukas Dalfi.
"Tidak, Pak! Itu saja sudah cukup!" terang Pak Warno lagi.
"Baiklah kalau begitu, bisakah anda membubarkan massa untuk pulang dulu. Saya berjanji, secepatnya akan memberikan berita yang baik untuk kalian semua," kata Dalfi.
"Kim, antarkan Bapak-bapak ini keluar dulu! Dan, tolong sebelum pulang, Bisakah kau membelikan mereka makan siang?" perintah Dalfi.
__ADS_1
"Baik, Tuan!" Sekretaris Kim menganggukan kepalanya perlahan.
"Terima kasih, Pak! Sudah mau mendengarkan keluhan kami. Kami undur diri dulu," ucap Pak Mulyono sambil mengulurkan tangannya.
Dalfi membalas jabatan tangan dari dua perwakilan buruh itu. Setelah kedua orang itu keluar, suasana ruang meeting kembali mencekam. Dalfi yang tidak mengeluarkan sepatah katapun, memasang raut wajah yang serius.
"Jadi selama ini gaji para karyawan pun ikut dikorupsi," Dalfi mengeryitkan dahi sambil berdecak kesal. "Berantakan sekali sistem organisasi disini."
"Ck.. hanya karena materi kalian sanggup memakan hak orang lain," lanjut Dalfi.
Sementara itu, Sekretaris Kim sudah kembali ke ruang meeting. Ikut marah dan kesal jika mengingat para demonstran tadi. Ia akui, kali ini dia juga sudah melakukan kecerobohan.
"Kim, bayarkan dulu gaji para karyawan yang belum mereka terima. Kemudian, kita akan membongkar kembali proyek jalan tol yang sudah jadi ini, lalu akan kita perbaiki lagi sesuai dengan prosedur. Kita akan menggunakan dana darurat perusahaan. Aku ingin, kau sendiri yang mengawasinya, dan berikan semua laporannya langsung kemeja kerjaku," tegas Dalfi masih dengan raut mukanya yang serius.
"Baik, Tuan!" sahut Sekretaris Kim.
"Dan juga, Aku ingin kau memberhentikan semua orang yang memegang wewenang dikantor ini. Dari jabatan yang paling tinggi sampai jabatan yang terendah. Ganti semuanya dengan orang-orang yang berkompeten. Pindahkan mereka dikantor cabang kita didaerah," ucap Dalfi tanpa basa basi lagi.
"Baiklah, Tuan." Sekretaris Kim mencatat semua yang dikatakan oleh Dalfi. Mata dan tangannya terfokus pada tablet yang dipegangnya.
"Dan satu lagi, aku ingin nama mereka dimasukkan dalam daftar hitam perusahaan. Sehingga, jika mereka mengundurkan diri dari perusahaan ini, maka tidak akan ada lagi perusahaan yang akan menerima mereka!" ucap Dalfi sambil memperhatikan para karyawannya yang duduk tegang dihadapannya.
"Maafkan kami, Tuan! Tapi kami disini hanya menuruti perintah atasan." Salah seorang dari mereka mencoba membela diri.
"Saya sangat menyayangkan kejadian ini. Kenapa bisa terjadi diperusahaan saya? Karena kalian adalah satu tim, maka resiko ditanggung bersama. Walaupun kesalahan sepenuhnya bukan dari kalian, seharusnya kalian segera melapor jika ada kejanggalan."
__ADS_1
Dalfi menghela nafas kasar, sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.
"Apakah ada yang merasa keberatan dengan keputusan saya?" ucap Dalfi dengan pandangan menyapu seluruh ruangan.