
Dalfi nampak sedang serius berbicara dengan ayahnya.Suasana hening seketika tatkala Lisa dan Bu Rini masuk kerumah.Lisa duduk disebelah Dalfi berhadapan langsung dengan pak Andre dan Bu Rini.Seperti layaknya seorang narapidana yang duduk didepan hakim. Siap untuk menerima hukuman.
"Jadi,tentukan pilihanmu!" Pak Andre memberikan instruksi kepada Dalfi.
Lisa yang tak tahu menahu tentang masalah yang dibicarakan hanya bisa diam sambil terus mengamati.
"Kalian harus menikah secepatnya! Lebih cepat lebih baik. Kalau bisa dalam minggu ini! " ucap Pak Andre
"Apa!"
Ucapan ayah Dalfi bagaikan petir di siang bolong, Lisa yang terkejut mendengarnya kelabakan menanggapinya.
"Maaf, Tuan! tapi kan tidak harus secepat itu!"
Terdengar helaan nafas pak Andre "Maafkan ayah,Nak! Karena menuruti Dalfi, kamu sekarang harus berada di situasi seperti ini".
"Tapi.. "
"Ayah sangat setuju jika kamu mau tinggal disini. Tapi maaf,kalian harus ada status yang jelas jika ingin tinggal satu atap" imbuh Pak Andre.
Lisa yang tidak mengerti maksud dari pak Andre hanya bisa melirik Dalfi dengan sejuta pertanyaan.
"Tapi Tuan,saya tidak paham dengan maksud Anda. Saya disini hanya menuruti perintah Tuan Dalfi.Tapi jika anda tidak setuju, bolehkah saya kembali kerumah saya saja?" pinta Lisa sedikit memelas.Sedikit ada harapan untuk kabur, pikirnya.
" Tidak! Aku tidak mengijinkanmu kembali kerumahmu!"ucap Dalfi tegas. "Kita akan menikah tiga hari lagi".
" Tapi menikah tidak segampang itu, Tuan!".
"Persiapkan dirimu tiga hari lagi! Dan sementara ini, aku akan tinggal di apartemen" Dalfi berdiri hendak pergi.
"Tapi, tunggu dulu!" Lisa mencoba menahan dalfi.Semua yang terjadi akhir-akhir ini seakan membuatnya frustasi. Sama sekali tidak terlintas dalan benaknya bahwa semua akan menjadi seperti ini.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu merisaukan apapun. Sekretaris Kim akan menyelesaikan semuanya" tegas Dalfi sekali lagi.
Dalfi berlalu tanpa menoleh lagi. Ayah dan Ibu hanya bisa geleng kepala. Ibu yang seakan tahu kegundahan Lisa, segera menghampiri dan duduk disebelah nya.
" Maafkan Dalfi, Sayang! Ibu tahu kamu pasti kaget.kan.Kami pun sama terkejutnya saat pertama kali dalfi memberi tahu kami bahwa dia ingin menikahimu!".
Lisa mengernyitkan keningnya heran tapi tetap didengarnya perkataan Ibu tanpa dipotong.
"Ibu sudah menyukaimu saat pertama kali kita bertemu. Walaupun ibu tahu kamu pasti tidak mengingatnya" melanjutkan ucapannya,"Ayah dan ibu merestui pernikahan ini!".
"Tapi,Bu! Apakah anda tidak malu jika memiliki menantu orang miskin, yatim piatu seperti ku?" Lisa bertanya dengan hati-hati.
" Kita sama saja dimata Tuhan, Nak! Walaupun kamu terpaksa menikah dengan dalfi, tapi lambat laun seiring berjalannya waktu,kalian pasti bisa saling mencintai" nasihat Ibu pada Lisa.
Sebenarnya apa yang sudah dikatakan dalfi pada orang tuanya. Kenapa jadi begini. Ayah, Ibu! Aku mohon jangan terlalu baik padaku.Aku tidak pantas mendapatkannya.Lisa berperang dengan dirinya sendiri.
Senjata yang Ia gunakan, nyatanya berbalik mengenai dirinya. Niat hati ingin balas dendam pada Dalfi, akan tetapi perlakuan orang tuanya malah membuatnya merasa bersalah.
"Ayah sangat senang saat tahu kamu ada disini.Dan demi mencegah hal yang tak terduga,ayah segera menyetujui permintaan dalfi" ucap ayah.
"Terima kasih, Tuan!" Lisa serasa ingin menangis mendapatkan perhatian yang sebegitunya.
" Mulai sekarang panggil kami Ayah dan Ibu".
Tanpa mereka sadari, ada dua pasang bola mata yang sejak tadi ikut mendengarkan.Dia merasa tidak senang mendengar berita bahagia itu.Dengan mengepalkan jarinya kuat dan menghentakkan kakinya, Dia pergi meninggalkan tempat persembunyiannya dengan hati yang bergemuruh.
Sementara itu ditempat yang berbeda diwaktu yang hampir bersamaan.
Ardan terlihat sangat kesal. Dia yang sedang duduk didepan kemudi, mencengkeram kuat-kuat benda berbentuk lingkaran itu. Setelah mengantarkan ibunya pulang, dia berpamitan untuk pergi bekerja.Namun,akhirnya memutuskan untuk menepikan mobilnya.
Memilih berhenti sejenak didepan sebuah taman,hanya sekedar memadamkan amarah yang bergejolak dihatinya.Dia tidak mungkin bisa bekerja dengan kondisinya yang seperti itu. Bisa-bisa nanti karyawan atau bahkan pelanggannya yang akan terkena imbasnya.
__ADS_1
"Arghhh! Dasar sialan! " makinya sambil memukul kemudi. Ingin Dia meninju kaca mobil untuk melampiaskan emosinya. Tapi diurungkan nya, mengingat mobil itu didapatnya dengan kerja keras.
Dia merasa bersalah karena melepaskan Lisa begitu saja. Selama bertahun-tahun,dia selalu menjaga Lisa dalam keadaan dan situasi apapun. Walaupun sudah kesekian kalinya dia mendapatkan penolakan dari Lisa,dengan tekadnya yang kuat dia tetap harus bertahan.Perasaannya tidak pernah berubah,rasa sayang yang sudah ada sejak dulu akan tetap ada di hatinya.Selalu ada harapan selagi janur kuning belum melengkung. Begitu pikirnya.
Namun kini dengan seenaknya seorang pria asing datang memintanya untuk menjauhi Lisa.Dengan gampangnya mengatakan tidak perlu lagi ikut mencampuri urusan Lisa.
"Terima kasih karena selama ini sudah menjaga Lisa. Kedepannya Anda tidak perlu khawatir dengan kehidupannya. Aku akan menjamin, Lisa akan hidup bahagia bersamaku!" ucap Dalfi di lobby rumah sakit, saat mereka akan pulang.
"Tapi yang Anda lakukan ini adalah pemaksaan disertai ancaman. Saya bisa melaporkannya kepada pihak yang berwajib!" balas Ardan.
"Silahkan saja! Saya tidak keberatan!" ucap dalfi menantang.
Ardan hanya bisa mengepalkan tangannya.
"Baiklah,Jika Anda bersikeras! Anda bisa menjemputnya, tapi dengan syarat bawakan saya uang 50juta cash sebagai ganti rugi atas penyerangan yang dilakukannya" ucap dalfi sambil tersenyum miring.
Ardan yang mengetahui siapa lawannya, tentu saja tidak bisa berkutik.Uang sebanyak dari mana akan dia dapatkan.Walaupun dia tahu ini hanya akal-akalannya dalfi untuk menghalangi.Dia hanya bisa menatap Lisa yang berada didalam mobil seperti sedang meronta meminta pertolongan. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.Bagaikan perang yang belum dimulai, tetapi sudah dapat dipastikan siapa yang akan menang.
" Dan satu lagi, ini surat pengunduran diri Lisa. Mulai sekarang dia bukan lagi karyawan JuniMart!" ucapnya sambil menyerahkan amplop coklat yang sudah dipersiapkan oleh sekretaris Kim. "Terima kasih,selama ini Anda sudah menjadi supervisor yang baik untuknya".
Ardan yang kembali mengingat percakapannya tadi siang, merasa seperti ada api yang berkobar dimatanya. Hanya bisa meninju keras udara yang tidak bersalah.
*
*
*
Dalfi yang sekarang berada di apartemen,sedang merebahkan tubuhnya dengan senyuman yang merekah, secerah mentari di pagi hari. Bergulingan kesana kemari seperti anak kecil. Walaupun sementara harus berjauhan dengan Lisa, setidaknya dia merasa tenang karena Lisa aman dibawah pengawasan ayah ibunya.
Semula Dia yang pertama kali menolak keras dengan syarat yang diajukan Lisa tapi sekarang Ia malah lebih antusias untuk segera menjadikan Lisa sebagai istrinya.
__ADS_1
Hatinya yang sakit karena Vania,terasa terobati dengan kehadiran Lisa. Hanya dengan sekedar menatap matanya, hatinya bisa berdegup kencang dan membuatnya salah tingkah.
Apakah aku terlalu jahat padanya? tidak, kan. Aku hanya membuat keinginannya segera terwujud.Bukankah dia yang mengajakku menikah.Dan juga apa itu, aku sama sekali tidak suka melihatnya ditatap oleh pria lain.Rasa kasihan yang ada entah sejak kapan menghilang, berubah menjadi rasa cinta yang menggebu.