Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 14 Kedatangan Vania part 2


__ADS_3

"Hallo, Om? Eh, maaf salah! Hallo, Mas? Lagi sibuk ya?".


Suara Lisa terdengar bahagia dari seberang sana. Nampak wajahnya berseri-seri saat kurir datang mengantarkan paket. Lisa menerima hadiah yang dikirimkan oleh Dalfi berupa HP keluaran terbaru. Yang menurutnya tidak akan pernah sanggup dibelinya walaupun bekerja tanpa libur selama setahun.


"Mas! Terima kasih ya HPnya!" nampak kedua matanya yang berbinar saat menerima hadiah. Layaknya seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru.


"Mas, kenapa? Kok diam saja! Kenapa tegang begitu mukanya? Apa ada sesuatu" tanya Lisa yang curiga saat pertanyaannya tidak dijawab oleh Dalfi.


"Ah, Aku baik-baik saja! Iya, sudah! Kamu suka,kan, dengan hadiahnya? Maaf aku lupa membelikannya kemarin!" sahut Dalfi.


"Lebih baik telat daripada lupa terus-terusan" canda Lisa.


"Pekerjaan ku masih banyak, nanti sambung lagi ya! Ingat, jangan terlalu capek! I love you. Bye" ucap Dalfi.


Perasaan Dalfi langsung campur aduk saat melihat Lisa. Didorong nya tubuh Vania agar menjauh darinya. Beranjak dari kursi, sedikit menjauh dari tempatnya duduk tadi.


" Oke, bye." Lisa menutup panggilan video.


Dalfi menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Moodnya berubah drastis menjadi berantakan. Kesadarannya yang sempat hilang, kini telah sepenuhnya pulih. Lagi-lagi rasa bersalahnya muncul setelah melihat wajah Lisa. Hampir saja dia terjatuh kedalam perangkap. Beruntung panggilan Lisa menyelamatkannya dari jeratan Vania. Tidak dipungkirinya,tadi dia juga menikmati ciuman panas yang sesaat itu. Masih ada sedikit rasa sayang yang terselip di hatinya.


"Kenapa, Sayang? Siapa itu yang menelepon mu?" tanya Vania dengan penuh selidik.


"Aku harap, kamu jangan datang lagi menemuiku. Hubungan kita sudah berakhir sejak malam itu!" tegas Dalfi memperjelas perkataannya.


"Bukankah kau sudah memaafkan ku? Buktinya kau tidak menolak semua sentuhanku?" ucap Vania dengan bangganya.


"Aku memang memaafkan mu! Tapi jangan berharap terlalu lebih!"


"Sayang, tidak kah empat tahun yang kita lalui bersama, sama sekali tidak membekas diingatanmu?" sahut Vania.


"Ck! Dimana *takmu Vania! Apakah kau sudah tidak punya malu! Apakah seperti ini pula caramu menggoda para lelaki diluaran sana!" ejek Dalfi.

__ADS_1


"Tidak! Aku bersumpah! Aku begini hanya ketika bersamamu!" tukas Vania.


"Pergi dari sini!" usir Dalfi.


"Aku mohon! Terima lah aku kembali, demi impian yang dulu pernah kita rencanakan bersama. Aku berjanji tidak akan mengulangi kebodohan ku!" rayu Vania.


Dalfi hanya sama sekali tidak menanggapi ocehan Vania. Baginya semua harapan dan cita-cita untuk membangun rumah tangga yang bahagia bersama Vania telah sirna setelah malam tragis itu.


"Oh, ini semua pasti karena wanita ****** itukan? Pasti wanita itu yang lebih dulu merayumu!" hina Vania.


"Tutup mulutmu! Kau tidak pantas menyebutnya seperti itu!" bentak Dalfi.


Vania terperanjat kaget, baru kali ini dia mendapat bentakan dari seorang Dalfi Winata. Dia yang mendapatkan perlakuan seperti itu, nyaris putus asa. Tanpa banyak pikir, langsung saja menghampiri Dalfi dan melingkarkan tangganya ke pinggang Dalfi. Terus mencoba membujuknya.


"Sayang" dengan manjanya mencoba merayu Dalfi


Dalfi yang mendapatkan sentuhan dari Vania merasa jijik. Dihempaskannya tangan Vania dengan kasar.


"Mulai sekarang jangan pernah datang menemuiku lagi!" tegas Dalfi. Menghadap keluar jendela, menatap kosong pemandangan didepannya.


"Kenapa? Bukankah kau masih mencintaiku?" tanya Vania.


"Cih! Aku tau bagaimana rasanya dikhianati. Jadi aku takkan pernah mengkhianati istriku!" tukas Dalfi penuh percaya diri.


"Istri? Hahaha, ini tidak lucu,Sayang!" tergelak saat mendengar apa yang dikatakan Dalfi. "Wanita mana yang mau kamu sewa untuk bermain sandiwara? Aku tahu, Sayang! Kamu pasti masih marah dengan kelakuanku waktu itu. Tapi, Aku sudah minta maaf dan sudah menerima hukamanku" seraya mendekat dan memeluk tubuh Dalfi dari belakang.


"Jaga sikapmu! Silahkan keluar dari ruangan ku!". Melepaskan pelukan Vania dan sedikit mendorongnya. " Aku sudah menikah! Dan aku sangat mencintai istriku!". Entah bagaimana lagi caranya agar Vania dapat menerima kenyataan.


" Enggak, Aku nggak mau! Kamu pasti berbohong. Kamu hanya ingin membuatku cemburu, kan?" tutur Vania dengan wajah memelas. "Aku tahu kamu sangat mencintaiku. Jadi, tidak mungkin kamu mau menikah dengan orang lain. Ini hanya caramu balas dendam".


" Cih! Setelah tahu apa yang sudah kamu lakukan, kamu masih berani bilang seperti itu?" senyum mengejek keluar dari bibir Dalfi.

__ADS_1


"Sayang, Aku mohon!" pinta Vania.


"Cepat keluar dari sini! Kamu sudah tahu pasti bahwa aku tidak akan menyakiti wanita. Jadi segera lah pergi, sebelum aku panggil security!". Datar nada suara Dalfi.


Kembali memeluk Dalfi dengan air mata yang berurai. "Aku ingin kembali bersamamu,Fi! Kau lihat bekas pukulan ini, lelaki itu sudah tega melukaiku. Aku sangat menyesal. Dan aku menganggapnya sebagai hukuman karena mengkhianatimu ". Isak Vania.


Dalfi sama sekali tidak mengindahkan perkataan Vania.


" Baiklah, Sayang! Mungkin kamu butuh waktu untuk bisa memaafkan ku. Aku akan datang menemuimu lagi" berpamitan pergi. Tak lupa satu kecupan mendarat di pipi Dalfi.


Dalfi diam tak bergeming, sama sekali tidak terkecoh dengan bujuk rayu sang mantan. Didalam benaknya, hanya ingin segera pulang dan membawa Lisa kedalam pelukannya.


"Arghh sialan!" batinnya.


Setelah Vania pergi, Dalfi berencana melanjutkan pekerjaannya. Tapi konsentrasinya sudah terpecahkan karena kejadian tadi.


"Panggilkan Sekretaris Kim!" perintah Dalfi kepada staffnya melalui sambungan telepon.


"Maaf, Pak! Tapi Sekretaris Kim sedang meninjau proyek didaerah S" ucap staff itu.


"Baiklah".


Dalfi menyandarkan kepalanya di kursi. Hanya senyuman Lisa yang sedang memenuhi pikirannya. Ingin dia segera pulang, menghambur kedalam pelukan Lisa. Akan tetapi dia juga tidak bisa seenaknya meninggalkan pekerjaannya.


Akhirnya,Dalfi lebih memilih membaringkan tubuhnya sejenak disofa dan memejamkan matanya. Mencoba untuk tidur. Dia berencana akan menelepon Lisa jika emosinya sudah mulai mereda.


Sedangkan itu, didalam mobil yang masih terparkir didepan gedung. Vania hanya bisa meluapkan amarahnya dengan berteriak sekencang-kencangnya. Harga dirinya merasa terinjak dengan penolakan yang diterimanya. Vania melepaskan kacamata nya yang sedari tadi menutupi luka lebam nya. Sekarang ditambah matanya yang juga sedikit sembab.


"Arghhh, Dasar j*lang sialan! Siapa wanita itu? Beraninya dia merebut Dalfi dariku. Hampir saja aku bisa kembali bersatu lagi bersama Dalfi. Aku harus bisa mendapatkan mu lagi, Sayang! Harus! Apapun caranya!" tersenyum menyeringai.


Vania menghidupkan mobilnya dan pergi meninggalkan area parkir perusahaan. Dia akan kembali ke apartemennya untuk beristirahat. Dia harus membuat perhitungan dengan lelaki yang memukulnya terlebih dahulu. Lelaki itu harus membayar semua yang sudah dilakukan terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2