Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 42 Pindah Rumah


__ADS_3

"Ibu,, Aku meminta restumu, ijinkanlah aku mencintainya. Bantulah aku untuk menghapus dendam yang bersemayam dihatiku ini. Aku percaya pasti ada sebalik hikmah di setiap kejadian yang berlaku. Ikhlaskanlah hatiku untuk menerima kepergian Ibu. Aku sudah merelakan semuanya."


Lisa bertekad membuka lembaran baru, dia ingin memperbaiki niat awalnya ketika membangun rumah tangga. Kini didepan pusara ibunya, dia meminta restu kedua orang tuanya.


"Mas, Terima kasih untuk semuanya. Sejak kapan makam ayah dipindahkan kesini?" tanya Lisa sambil menyandarkan kepalanya kebahu Dalfi.


"Sejak ibu dimakamkan disini!" singkat Dalfi. "Ibu aku berjanji akan selalu membahagiakan Lisa, aku tidak akan pernah menyakitinya dan aku akan menjaganya sampai selamanya. Itu janjiku kepadamu Ibu, aku akan menebus kesalahan yang telah aku perbuat! Sekarang kita pamit pulang, Bu. Kita akan sering-sering datang kesini," mengenggam erat tangan Lisa, dan mengungkapkan janjinya didepan pusara Ibu.


"Ayo!"


Dalfi membantu Lisa berdiri, berjalan meninggalkan area makam Ibu. Ada sedikit kelegaan dihati Lisa, perasaan yang mengganjal selama ini sedikit demi sedikit mulai hilang dengan sendirinya.


"Mas kita mau kemana lagi! Kita langsung pulang saja ya!" pinta Lisa saat sudah beberapa menit didalam perjalanan. Rute yang tidak biasanya dilalui membuatnya melontarkan pertanyaan.


"Iya, kita kan juga mau pulang ini! Tapi pulang ke apartemen kita," kata Dalfi.


"Kenapa pulang ke apartemen?"


"Kan Mas sudah bilang kemarin, kita akan pindah ke istana kita sendiri, ya walaupun apartemen nya tidak semewah rumah ayah dan ibu," ucap Dalfi dengan santainya.


"Tapi Mas, ayah dan ibu...?"


"Tenang saja, seperti biasa, Mas sudah bilang kok," lanjut Dalfi memotong kalimat Lisa.


"Ih, Mas kebiasaan deh, nanti dikiranya Lisa ini anak yang tidak punya sopan santun. Keluar masuk rumah seenaknya sendiri tanpa pernah pamitan," marah Lisa.


"Kan tadi sudah pamitan!" tukas Dalfi cepat.


"Tapi kan bukan pamitan mau pindah rumah, Mas!" terang Lisa sambil matanya lurus kedepan.

__ADS_1


"Kan sama saja, Sayang! Sudah tidak perlu cemberut begitu, Ayah dan Ibu sudah tahu kok!" mengacak puncak kepala Lisa dengan lembut.


"Hufffttt!! sepertinya aku terkena culture shock!" dengus Lisa perlahan.


Perjalanan dari makam menuju apartemen tidak memakan waktu yang cukup lama. Semenjak mengenal dan menikah dengan seorang Dalfi Winata, kehidupannya berubah 180 derajat. Walaupun sudah sering dijamu dengan segala bentuk kemewahan oleh Dalfi, akan tetapi Lisa masih saja dibuat tertegun ketika masuk kedalam apartemen Dalfi.


"Mas, apartemenmu besar sekali!" ucap Lisa sesaat setelah masuk.


"Rumah kita, Sayang!" ucap Dalfi lagi. "Ayo, Mas tunjukkan semua sudut ruangan didalam rumah ini!" Dalfi mengajak Lisa berkeliling, sembari menjelaskan tentang semua isi ruangan didalamnya.


"Nah, ini kamar kita, Sayang?" ucap Dalfi saat memasuki ruangan yang paling luas di apartemen itu.


Kamar dengan desain minimalis bernuansa netral, terlihat sangat nyaman. Terdapat sebuah ranjang berukuran king yang berbalut sprei berbahan satin dan selimut berwarna pastel. Tak lupa sebuah sofa panjang diujung ranjang dan meja rias yang sudah lengkap dengan peralatan make up yang sudah tertata rapi. Nampak sederhana, tetapi mampu menciptakan kesan romantis.


"Hlo Mas, kok semua alat make up ku sudah ada disini semua? Dan ini bajunya, siapa yang membawanya kemari?" tanya Lisa saat menghampiri ruang ganti dan membuka salah satu lemarinya.


"Bagaimana kamu suka tidak?" Dalfi balik bertanya, tanpa mau menjawab pertanyaan Lisa.


Dalfi menghampiri Lisa dan memeluknya dari belakang. "Aku mencintaimu, Istriku Sayang" ungkap Dalfi sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Lisa. Menghirup aroma tubuh istrinya.


"Aku... " ucapan Lisa menggantung, tersendat ditenggorokan, seakan susah untuk mengungkapkannya.


Dalfi membalikkan tubuh Lisa, dan menunggu Lisa melanjutkan perkataannya dengan sabar. "Aku apa, Sayang?"


"Maafkan aku, Mas, jika selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik seperti yang kau inginkan," ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Sayang.. " meraih dagu Lisa dan mengangkatnya dengan lembut, hingga kedua tatapan suami istri itu bertemu. "Stok sabarku selalu tersedia banyak untukmu."


Dalfi mencium bibi* Lisa, namun perlahan tapi pasti, kini bibir keduanya sudah saling berpaut dan meluma*. Lisa yang selalunya diam saja, kini membalas ciuman suaminya. Setiap sentuhan lembut yang diberikan Dalfi, mampu membuatnya mabuk kepayang dan terbuai.

__ADS_1


"Sayang, kau sudah siap? Apakah aku boleh...?" tanya Dalfi sebelum melanjutkan aksinya.


Lisa yang sudah berbaring diatas ranjang, berada dibawah dekapan Dalfi, dengan wajah yang merona hanya bisa menganggukan kepala tanda mengiyakan. Seakan sudah mengerti, tanpa harus mendengarkan kelanjutan dari ucapan Dalfi. Pasrah dengan semua kenikmatan yang diberikan oleh suaminya itu.


Dan terjadilah apa yang memang seharusnya sudah terjadi sejak lama. Malam pertama mereka yang justru terjadi di siang hari.


*****


"Terima ksaih, Sayang!" ucap Dalfi sambil menyeka keringat di kening Lisa.


Setelah saling bergumul beberapa jam, saling menuntaskan hasrat yang sudah terpendam cukup lama. Kini mereka berdua sedang rebahan dengan berbagi selimut yang menutupi keduanya. Awalnya kamar yang terlihat rapi, kini nampak berantakan. Baju keduanya sudah terhambur sampai kemana-mana, bantal dan guling yang semula berada diatas kasur, kini sudah berpindah ke tempat yang tak beraturan.


"Aku yang seharusnya berterima kasih, Mas! Terima kasih sudah sabar menungguku selama ini," ucap Lisa. Sedikit bergeser membenahi posisi kepalanya yang berada diatas lengan Dalfi, yang dipakainya sebagai bantalan dan menarik sedikit selimut yang sudah melorot.


"Ayo, kita saling memperbaiki hubungan ini, Mas ingin membina rumah tangga yang memang berlandaskan cinta dan sayang. Mas tidak ingin ada kebohongan yang menyelimuti jalinan kasih kita. Mas ingin membuat suatu pengakuan kepadamu!"


Deg


Pikiran negatif mulai berseliweran dikepala Lisa. Dia belum siap jika harus mendengar sesuatu yang buruk, setelah dirinya baru saja menikmati sedikit kemajuan dalam hubungan rumah tangganya.


Dalfi menghirup nafas dan menghembuskanya perlahan.


"Sebenarnya, aku menerima tawaranmu menikah pada waktu itu, karena aku didesak oleh ayah dan ibu untuk segera mengakhiri masa lajang ku. Sedangkan kau tahu sendiri, kecelakaan itu terjadi, setelah aku memergoki Vania yang berselingkuh. Ada rasa benci yang harus aku lampiaskan karena rasa sakit hati yang ditimbulkan Vania. Dan juga, aku menyetujui pernikahan ini karena demi menjaga nama baik perusahaan. Masih ingatkah kamu saat kamu mau membawa masalah ini kepolisi?" Dalfi semakin mempererat pelukannya, dan berulang kali mencium kening Lisa.


"He'em!" jawab Lisa sambil menganggukan kepalanya


"Sebenarnya itu bukan masalah yang terlalu penting. Mengingat harta dan kekuasaan yang aku miliki, tentu saja itu menjadi hal yang sepele. Egois bukan? Aku jahat, kan?" tanya Dalfi lagi.


"Tapi aku akui dengan jujur sekarang, aku sudah tertarik denganmu saat pertama kali aku datang menemuimu dirumah sakit. Ada perasaan aneh menjalar dihatiku, saat aku menatap kedua bola matamu. Dan semakin aku mengenalmu, aku semakin dibuat jatuh cinta olehmu. Dan kau pun sudah tahu seperti apa niat awalku. Tapi jujur, aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang paling dalam," mengecup bibir Lisa dengan mesra.

__ADS_1


"Aku tahu itu! Dan sekarang, aku yang telah kalah!" ungkap Lisa malu.


__ADS_2