Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 46 Aku Sakit


__ADS_3

"Kakak!" seru Lisa dengan jantung yang masih berdegup kencang karena sempat kaget tadi. "Kakak juga kenapa ada disini?" tanyanya.


"Sekarang kakak juga bekerja disini! Sudah hampir 6bulan!" jawab Ardan singkat sambil membantu Lisa berdiri.


"Benarkah?" ucap Lisa dengan mata berbinar. "Berarti kita sekantor lagi dong! Tapi, bukankah Kakak tidak menyukai Mas Dalfi?" ragu-ragu Lisa bertanya.


"Mmmm, itu.. "


Belum sempat Ardan menjawab, suara lantang Bu Mirna sudah terdengar menggelegar.


"Lisa, sedang apa kamu disini! Cepat kerjakan tugasmu, pantas saja dari tadi mereka menelepon terus, rupanya kamu masih disini!" Suara Bu Mirna sedang menghardik Lisa.


"Maaf, Bu!" jawab Lisa seraya menundukkan kepalanya.


Lisa mengambil tas plastik yang sempat terjatuh tadi, kemudian menjinjingnya dengan kedua tangannya. "Kak, aku kerja dulu ya!" pamit Lisa segera menghambur pergi.


Ardan menatap punggung Lisa sampai masuk kedalam lift, kemudian dia melangkah kembali menuju meja kerjanya.


****


"Maaf, Mbak, maafkan saya!" berulang kali Lisa menganggukan kepala, meminta maaf atas keterlambatannya.


Lisa sedang membagikan pesanan sesuai dengan nama yang tertera di botol, sambil menghafalkan satu persatu nama staff melalui papan nama yang tertempel disekat pembatas.


Didepan ruangan CEO hanya ada beberapa meja staff, yang dibatasi dengan sekat antara meja satu dengan meja disebelahnya. Tidak seperti diruangan lainnya, yang memiliki lebih banyak staff didalamnya. Diruangan ini hanya ada 6 buah meja, termasuk meja asisten Dalfi.


"Kamu OG baru ya? sepertinya aku belum pernah melihatmu!" kata salah seorang staff dengan sopan.


"Eh, iya Mbak! Saya baru bekerja hari ini. Perkenalkan nama saya Lisa!" ucap Lisa tersenyum memperkenalkan dirinya.


"Hai, nama aku Ria! dan itu namanya Reni dan yang itu Dina!" ucap Ria membalas senyuman Lisa.


"Pantas saja pesanan kami lama datangnya, lain kali jangan sampai terlambat lagi!" ucap Reni ketus, sekilas melemparkan lirikan kearah Lisa.


"Waktu kami sangat berharga disini, jangan sampai terulang lagi kejadian seperti ini!" Dina ikut menimpali, sambil membuka tutup botol kopi instan yang dibawa oleh Lisa tadi.


"Kalian ini kenapa sih! namanya juga anak baru jadi wajarlah kalau sedikit terlambat!" Ria sedikit memberi pembelaan kepada Lisa.


"Eh, tapi ngomong-ngomong jarang loh, ada anak baru yang langsung ditugaskan diruangan khusus CEO," Dina mengutarakan rasa penasarannya.


"Ehem!"

__ADS_1


Deheman Sekretaris Kim yang baru saja keluar dari ruangan CEO, membuat mereka langsung kelabakan.


"Sepertinya kalian sedang tidak ada pekerjaan. Nampaknya kalian memiliki banyak waktu senggang," ucap Sekretaris Kim datar.


"Maafkan kami, Tuan!" Dina dan Reni kompak melarikan diri kembali kemeja kerjanya. Sedangkan Ria kembali fokus dengan laptop di depannya.


Lisa merasa terselamatkan dengan kedatangan Sekretaris Kim, jadi dia tidak perlu menjawab pertanyaan julid dari para senior di kantornya.


"Tolong, bawakan air mineral untuk Tuan Dalfi kedalam!" pinta Sekretaris Kim ketika melihat Lisa yang hendak pergi.


"Baik, Tuan!" sahut Lisa cepat, kemudian pergi mengambil beberapa buah botol air mineral yang sudah tersedia di sudut ruangan itu.


"Sepertinya pekerjaan kalian harus ditambah, agar kalian tidak ada waktu lagi untuk bergosip," ucap Sekretaris Kim sambil melayangkan tatapan tajamnya, sebelum kembali ke ruangannya.


Sedangkan Lisa sudah masuk kedalam ruangan Dalfi, sambil membawa dua buah botol air mineral ditangannya.


"Selamat pagi, Tuan!" ucap Lisa setelah menutup pintu.


Wajah Dalfi langsung berbinar, setelah melihat istri tersayangnya masuk. "Kemarilah, Sayang!" kata Dalfi berdiri dari kursinya.


Tittt


Terdengar bunyi pintu terkunci otomatis setelah Dalfi menekan tombol diatas mejanya, bersamaan dengan Lisa yang melangkah mendekat kearah Dalfi.


Dalfi langsung menghampiri dan memeluk Lisa dengan erat, menghirup aroma wangi tubuh Lisa. Pikirannya yang kusut melihat berkas yang bertumpuk, sedikit terobati hanya dengan memeluk Lisa.


"Mas, lepaskan! Ini kan dikantor," Lisa mencoba mendorong tubuh Dalfi, merenggangkan pelukannya.


"Sebentar saja, Sayang! Kepala Mas sedang butuh obat sekarang!" ucap Dalfi masih tetap dalam posisi semula.


Lisa langsung mendongakkan kepalanya, terkejut saat Dalfi bilang sedang sakit.


"Tadi pagi sepertinya sehat-sehat saja, tapi kenapa sekarang mengeluh sakit."


"Kenapa? Apanya yang sakit?" tanya Lisa khawatir.


Dalfi mengambil botol ditangan Lisa dan meletakkannya diatas meja, kemudian menarik tangannya untuk duduk disofa.


"Kepalaku rasanya pusing sekali," Dalfi merebahkan kepalanya diatas paha Lisa. "Sepertinya aku butuh sedikit penyemangat agar sakit kepala ku sembuh!" lanjut Dalfi.


"Kalau sakit minum obat, bukannya mencari penyemangat," jawab Lisa polos. Tangannya memberi pijatan ringan diatas kepala Dalfi. "Biar aku ambilkan obat dulu!"

__ADS_1


Dalfi memiringkan kepalanya, memeluk erat perut Lisa, mencegahnya untuk tidak pergi dan dengan cepat Dalfi menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Aku tidak perlu obat. Aku hanya perlu kamu untuk menyembuhkan ku!" jawab Dalfi.


"Hah, Aku?" tanya Lisa dengan heran.


"He'em!" jawab Dalfi singkat. "Cium aku!" perintahnya tanpa basa basi.


"Tidak mau!"


"Kamu tega ya melihat suamimu ini sakit!" sungut Dalfi.


"Mas!" tolak Lisa dengan sedikit menjauhkan kepalanya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajah Dalfi.


"Kenapa?"


"Ini kan dikantor, Mas! Aku sudah terlalu lama berada didalam sini, dan juga ini hari pertamaku bekerja. Aku tidak mau ada kesan jelek di hari pertama ku!" tukas Lisa dengan cemberut.


"Baiklah! Jika kamu tidak mau mencium ku, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari ruangan ini!" ancam Dalfi dengan senyum menyeringai.


Lisa mendesah kesal menghadapi tingkah manja suaminya itu. Karena tidak mau terlalu lama berada diruangan itu, dengan terpaksa Lisa memenuhi permintaan Dalfi. Mencium bibir Dalfi sekenanya.


"Apa itu? Ini namanya bukan ciuman," Dalfi melayangkan protes, karena ciuman Lisa yang secepat kilat hanya sekedar menempel saja.


"Pipi sayang.. Aku harus segera kembali bekerja! Jika tidak aku akan kena marah nanti," Lisa memegang kedua pipi Dalfi, mencoba membujuknya.


"Pipi?" tanya Dalfi bingung.


"Iya, itu panggilan sayangku untuk suami tercinta. Kau suka kan?" rayu Lisa.


"Hmmmm, Tidak terlalu buruk!" kata Dalfi langsung.


"Aku merasa kalau sering memanggilmu dengan sebutan Mas, terasa sekali jika aku sudah menikah dengan om-om yang sudah berumur!" jelas Lisa sambil terkekeh.


Dalfi yang semula senang, langsung berubah merah padam seperti akan marah setelah mendengar ucapan Lisa. Menyadari perubahan yang drastis pada raut wajah suaminya, Lisa dengan cepat membujuknya kembali.


"Kita lanjutkan nanti malam dirumah!" bisik Lisa ditelinga Dalfi, kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan kearah pintu.


Dengan langkah gontai, Dalfi kembali ke meja kerjanya dan memencet tombol buka pada remote.


"I love you, Pipi!" ucap Lisa dengan senyuman manisnya, mengaitkan jempol dan jari telunjuk membentuk isyarat hati sebelum berlalu pergi.

__ADS_1


Dalfi hanya bisa mendesah kesal, meletakkan kepalanya diatas meja, setelah istrinya itu menghilang dari balik pintu.


__ADS_2