
"Mas, aku turun disini saja ya!" kata Lisa menunjuk sebuah helte bus yang tidak jauh dari kantor.
Seperti yang sudah dijanjikan oleh Dalfi seminggu yang lalu, hari ini Lisa sudah siap untuk mulai bekerja. Lisa mengenakan kemeja berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam, dan sepatu flat berwarna hitam juga. Mengikat rambutnya sedikit keatas seperti ekor kuda dan sedikit merapikan poninya agar terlihat tidak berantakan.
"Sekalian saja, Sayang! Kan kita turun dikantor yang sama!" tolak Dalfi sambil memperhatikan Lisa yang sedang memoleskan sedikit lip balm ke bibirnya.
"Mas, kita bisa sama-sama terlambat jika terus berdebat tentang masalah ini!" Lisa masih kekeh dengan pendiriannya.
Pagi tadi mereka sudah sempat berdebat saat sedang sarapan. Lisa ingin memulai bekerja dengan usahanya sendiri, mulai dari mengajukan lamaran kepihak HRD diperusahaan Dalfi. Akan tetapi Dalfi malah memberitahu jika semuanya sudah diatur oleh Sekretaris Kim.
Lisa menghela nafas kasar, "Memang sampai kapanpun aku tidak pernah menang jika harus beradu argumen denganmu, Tuan!" gumam Lisa lirih.
Dalfi merasa gemas melihat istrinya yang terlihat cemberut.
"Pokoknya aku turun disini saja! Kalau tidak, ya sudah sampai malam kita akan disini terus!" ucap Lisa mencoba mengancam Dalfi.
"Oke! Mas setuju denganmu! Walaupun Mas tidak kerja sebulan pun, Mas masih sanggup untuk membiayai rumah tangga kita," ucap Dalfi menyombongkan diri.
"Mas!" sungut Lisa karena ancamannya tidak mempan.
__ADS_1
"Sayang, kita kan sekantor, perusahaan itupun perusahaanku sendiri. Kamu malu ya jika ketahuan semobil denganku!" kata Dalfi.
"Bukan begitu! Aku hanya sadar diri dengan kemampuan yang aku miliki. Akupun tidak mau dituding macam-macam jika mereka tahu jika aku ini istrimu! Aku tidak mau jika sampai berita buruk dariku ikut mempengaruhi citra Mas diperusahaan!" Lisa mencoba menjelaskan alasannya.
"Macam-macam bagaimana?" tanya Dalfi bingung. "Jika ada yang berbuat jahat kepadamu, dan menggosipkanmu, langsung saja bilang kepadaku, Mas tidak akan segan untuk memecatnya!" lanjut Dalfi.
"Hah, bisa panjang ini dramanya!" batin Lisa.
"Sudah, kalau Mas tidak mau menurunkan ku disini, jangan harap Mas dapat jatah lagi nanti malam!" ketus Lisa dengan melipat kedua tangannya didepan dada.
"Sayang? Kenapa jadi merembet ke masalah ranjang?" rengek Dalfi sedikit memelas.
Lisa hanya diam saja, tanpa mau mengalihkan pandangannya. Malas menjawab pertanyaan Dalfi.
Lisa tersenyum penuh kemenangan, kemudian menengadahkan tangannya kearah Dalfi.
"Apa?" tanya Dalfi heran.
"Uang?"
__ADS_1
"Hah, buat apa? Mas kan sudah memberikanmu 2 buah kartu," ucap Dalfi.
"Sudah, sini mana dompet Mas!" pinta Lisa sambil menggoyangkan telapak tangannya naik turun.
Dalfi mengambil dompetnya yang tersimpan di dashboard mobil, dan menyerahkannya kepada Lisa.
"Maaf Mas, aku belum terbiasa mengunakan kartu-kartu itu, lagipula aku juga tidak tahu cara menggunakannya. Jadi kartunya aku simpan saja dirumah!" kata Lisa menyerahkan kembali dompet Dalfi setelah mengambil beberapa lembar uang berwarna merah darinya.
Belum sempat Dalfi menjawab, Lisa sudah menyambar tangan Dalfi dan menciumnya. "Terima kasih, Sayang! Aku berangkat dulu ya!" hendak membuka pintu mobil. "Eh, lupa!" berbalik badan dan mencium bibir Dalfi sekilas.
Dalfi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan memilih tetap berada di dalam mobil sambil memperhatikan Lisa sampai masuk ke area perusahaan.
Sedangkan Lisa yang sedang berjalan, mencoba menahan tawanya agar tidak dikira ODGJ oleh orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya. Membayangkan tingkahnya barusan dan ucapan Dalfi yang terngiang ditelinganya pagi tadi.
"Pokoknya nanti setelah datang, langsung saja temui kepala HRD, dan juga ini jadwal kuliahmu!" kata Dalfi yang sedang mengoles selai coklat diatas roti tawar.
"Mas aku kan bisa pergi melamar sendiri!" balas Lisa.
"Kamu harus mau menurutinya, Sekretaris Kim sudah susah payah menyusunnya. Kalau tidak, lebih baik kamu dirumah saja, tidak perlu bekerja lagi!" tegas Dalfi.
__ADS_1
"Iya, iya, aku mau!" sahut Lisa cepat.
"Huffttt, aku tidak boleh menyia-nyiakan usahaku merayu Mas Dalfi. Aku tidak boleh terus menerus mengandalkannya, bukan? Ayo, semangat Lisa! Kamu sudah lama menunggu hari ini kan? batin Lisa menyemangati dirinya sendiri, saat pertama kali menapakkan kakinya kedalam gedung perusahaan.