Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 35 Perdebatan kecil


__ADS_3

Setelah kejadian viral beberapa minggu yang lalu, Vania masih saja sering mengganggu Lisa. Dia terus menerus meneror dengan cara mengirimkan foto-foto mesra saat masih bersama Dalfi.


Yang dilakukan Vania sekarang, memang sudah direncanakannya dan itu juga sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya terhadap Dalfi. Semenjak klarifikasi saat itu, banyak brand ternama yang sudah bekerjasama dengan Vania, memutuskan kontraknya secara sepihak.


Karena ulah Vania itu, Lisa sering mengalami perubahan mood yang mendadak. Dan tentu saja, yang terkena imbasnya pertama kali adalah Dalfi. Walaupun sering menjadi sasaran kemarahan Lisa, justru Dalfi sangat bersyukur. Dengan adanya kejadian ini, sekarang sedikit demi sedikit, Lisa mulai menunjukan perubahan perasaannya kepada Dalfi, yang Lisa sendiri pun tak menyadarinya.


Seperti yang sedang terjadi saat ini. Mereka sedang berada didalam mobil, dalam perjalanan menuju rumah sakit. Lisa sedari tadi hanya diam saja menekuk wajahnya, dengan kedua tangannya dilipat didepan perut. Baru satu jam yang lalu suara Lisa terdengar sangat bersemangat, ketika Dalfi meneleponnya.


Hari ini Dalfi berjanji akan mengantarkan Lisa check up kerumah sakit setelah pulang dari kantor. Tetapi, sesampainya didepan rumah, Dalfi disuguhi dengan raut wajah Lisa yang sama sekali tak menampakkan senyuman.


"Sayang, Are you okay?" tanya Dalfi sambil memasangkan sabuk pengaman Lisa, setelah masuk kedalam mobil.


"Hmmm," lirih Lisa melirik sepintas kearah Dalfi. Meletakkan beberapa helai baju ganti milik Dalfi ke jok belakang.


Tanpa turun dari mobil, Dalfi langsung saja melajukan mobilnya menuju rumah sakit


"Huffftth, ada drama apa lagi hari ini!" batin Dalfi.


Perjalanan selama tiga puluh menit menuju rumah sakit, terasa sangat lama sekali. Walaupun jalanan sore itu bisa dibilang tidak macet tetapi tidak juga lengang. Baik Lisa maupun Dalfi sama-sama hening dan senyap, larut dalam pikirannya masing-masing.


Hingga saat sampai diparkiran rumah sakit pun, Lisa masih memilih untuk diam.


"Sayang, kenapa lagi sih?" tanya Dalfi lembut. Setelah memarkirkan mobil dan memastikan mesinnya sudah mati.


"Nggak ada, Mas! Ayo, kita turun!" Lisa menekan tuas pada pintu mobil.


"Tunggu, Sayang! Aku nggak mau turun jika kamu masih cemberut seperti itu!" tangan Dalfi mencegah Lisa yang sudah membuka pintu mobil. "Ini pasti karena ulah Vania lagi, kan?" Dalfi mencoba menebak, apa yang membuat istrinya marah.

__ADS_1


Lisa hanya menganggukan kepalanya, menutup kembali pintu mobil. Menyandarkan tubuhnya ke kursi, merilekskan badannya sejenak. Matanya jauh melihat kedepan dari balik kaca mobil, orang berlalu lalang keluar masuk kerumah sakit. Ada yang menampakkan wajah sedih, tak sedikit pula yang menampakkan raut wajah gembira.


Kemudian Lisa mengambil ponselnya, dan menunjukkan foto Vania yang bergelayut manja di lengan Dalfi. Ada juga video saat Dalfi bercum*u saling menautkan bib*r dengan mesra.


"Hah, Sejak kapan Vania mengambil foto-foto ini. Kenapa aku tidak pernah menyadarinya sama sekali," batin Dalfi marah.


"Sudah! Mulai besok kita akan mengganti nomor ponsel!" tegas Dalfi setelah melihat adegan apalagi yang membuat istrinya cemburu.


"Kita?" mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Iya! Sekalian Mas juga akan membeli ponsel baru. Kamu juga!" perintah Dalfi.


"Tapi untuk apa harus ganti ponsel? Kalau Mas ganti ponsel, nanti file dan kontak penting orang perusahaan gimana ?" tanya Lisa.


"Mendingan ganti ponsel baru daripada aku harus melihatmu setiap hari terus-terusan diteror sama Vania. Kalau untuk masalah perusahaan, Sekretaris Kim bisa menanganinya. Lagian Kan, Mas sudah bilang, serahkan urusan Vania padaku! Mas, bisa membuatnya berhenti menerormu dan mengirimnya jauh dari kehidupan kita!" Dalfi mengomel memarahi Lisa.


Dalfi hanya tersenyum miring mendengar ucapan Lisa. "Kau kasihan dengan orang yang salah, Sayang!" gumam Dalfi dalam hati.


"Terus maunya kamu Mas mesti gimana?" tanya Dalfi kesal.


"Ya, sudah biarkan saja! Pasti dia akan merasa jenuh sendiri nantinya!" jawab Lisa.


"Baiklah! Jika itu hanya sekedar menerormu. Mas akan membiarkannya saja tetapi, jika dia sampai berbuat lebih dari itu, apalagi sampai berani menyakitimu, Mas sendiri yang akan membuat perhitungan dengannya tanpa meminta persetujuan darimu dulu!" Dalfi yakin dengan keputusannya.


"Iya, iya! Terserah Mas saja! Nggak perlu ganti ponsel, cukup ganti nomor baru saja!" tukas Lisa tak mau kalah dengan Dalfi. "Sayang hlo Mas! Ponselku kan masih baru juga ini!" mendekap erat ponselnya didepan dada.


"Nggak! Kita akan membuang semuanya yang berhubungan dengan Vania. Dan juga mulai besok, kita akan pindah ke apartemen Mas yang baru!" terang Dalfi. "Ingat, Mas tidak mau lagi melihatmu memasang muka cemberut, terlebih lagi jika itu ada hubungannya dengan Vania."

__ADS_1


"Walaupun kita sudah mengganti semuanya dengan yang baru, tetapi semua yang sudah masuk dalam memori kita, kan, tidak bisa begitu saja dihilangkan!" protes Lisa.


"Setidaknya bantu aku untuk menciptakan kenangan indah yang baru bersamamu! Agar kamu tidak perlu mengingat terus tentang masa laluku yang selalu membuatmu uring-uringan terus!" ucap Dalfi dengan senyuman menggoda.


Lisa yang sudah mulai reda emosinya, terpaksa menahan diri agar tidak tertawa saat melihat wajah Dalfi.


"Lagian Mas juga nih! Baru juga berstatus pacaran, tetapi mesranya...,!" mencubit lengan Dalfi. "Melebihi orang yang sudah sah jadi suami istri!" sindir Lisa cemburu.


"Aww sakit, Yang! Ya namanya juga lagi dibutakan oleh cinta!" canda Dalfi, mengusap lengannya yang panas terkena cubitan.


"Makanya kalau pacaran itu setidaknya tahu batasan untuk diri sendiri!" ejek Lisa dengan mata setengah melotot. "Kalau sudah begini siapa yang rugi, yang pastinya bukan Mas Dalfi!" tukas Lisa.


"Kok bisa? Ya, Kan waktu itu kita sama-sama suka, jadi nggak ada yang merasa dirugikan dong?" ucap Dalfi mencoba membela diri.


"Akulah yang rugi!" cetus Lisa sedikit galak.


Dalfi terhenyak mendengarkan ucapan Lisa. Bingung.


"Bisa dibilang, Aku mendapatkan suami yang sudah menjadi bekas orang! Tangan ini, tubuh ini, apalagi mulut ini!" jarinya menunjuk kearah bagian tubuh Dalfi, yang disebutkannya tadi.


"Tangan ini, sudah berapa kali diglendoti manja sama Mantan Mas, sudah berapa kali meraba-raba tubuh mbak mantan itu, terus mulut Mas juga, sudah berapa kali melakukan ciuman panas!" cerocos Lisa.


"Nggak terhitung!" potong Dalfi tanpa perasaan bersalah. "Upsss!" menutup mulutnya setelah memikirkan apa yang baru saja diucapkannya.


"Atau jangan-jangan, Mas sudah pernah tidur bersama dengan mbak mantan itu?" selidik Lisa penasaran.


"Pernah!" sahut Dalfi.

__ADS_1


Bola mata Lisa, seperti mau terlepas karena melotot kaget. Mendengar pengakuan Dalfi barusan.


__ADS_2