
Pagi ini, Dalfi sudah memeluk erat Lisa didepan teras rumahnya. Rencananya hari ini dia akan berangkat ke kota S bersama Sekretaris Kim. Mobil yang akan membawa mereka, sudah siap terparkir di lobby teras dari beberapa waktu yang lalu.
Setelah beberapa minggu menikah, ini pertama kalinya Dalfi akan meninggalkan Lisa dalam waktu yang agak lama.
Perjalanan kali ini, Dalfi memilih menempuhnya dengan mode transportasi darat. Selain lebih efisien, sekalian akan memudahkannya mengecek kondisi lapangan. Dan tentu saja, dengan Sekretaris Kim yang akan bertugas sebagai asisten yang merangkap sebagai sopirnya.
"Mas, sudah ya! Lisa malu dilihati orang-orang!" ucap Lisa mencoba mengendurkan pelukannya. Mendongakkan kepala agar bisa melihat wajah Dalfi
"Sebentar lagi, Sayang!". Menciumi kening Lisa berkali-kali dan semakin mempererat pelukannya.
Sekretaris Kim yang jomblo, pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan dua insan yang lagi kasmaran, hanya bisa berdecak kesal.
Ayah, ibu dan para pelayan pun sepertinya sepemikiran dengan Sekretaris Kim.
"Lihatlah anakmu, Yah! Mau keluar kota seminggu aja, udah kayak mau ditingal merantau selama setahun," kelakar Ibu dengan terkekeh. Ibu yang sedang merapikan dasi ayah, ikut tersipu malu melihat pemandangan pagi ini.
"Sudah nggak usah diganggu dulu!" tukas Ayah.
Lisa yang masih memakai tongkat sebagai peyangga berat badannya, pasrah menikmati pelukan suaminya. Lama kelamaan dia menyukai dan menikmati cara Dalfi memperlakukannya. Entah kenapa dirinya pun merasa berat untuk melepaskan kepergian Dalfi hari ini.
"Jika ini dikamar, mungkin aku juga tak akan mau jika harus melepas pelukan ini, Hihihi." Batin Lisa. Dengan senyuman yang sudah mengembang, membayangkan yang akan terjadi selanjutnya.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" menyentil dahi Lisa yang tidak sadar sudah senyum-senyum sendiri dengan wajah yang merona.
"Ah, tidak apa-apa! Sudah gih, kasihan Sekretaris Kim menunggu lama!" sahut Lisa.
"Cium dulu," sedikit melonggarkan pelukannya dan menatap kedua manik mata istrinya.
"Apa!"
"Ya, sudah! Aku tidak akan beranjak dari sini sebelum kamu menciumku. Disini, disini dan disini," mengarahkan jari telunjuknya kedahi, pipi dan bibir. Merenggangakan sedikit kakinya agar bisa sejajar dengan tinggi badan Lisa.
Hah! Sudahlah, bodo amat dengan malu, yang penting drama pagi ini cepat selesai. Bermonolog didalam hati.
Dengan agak sedikit berjinjit, menggunakan salah satu kakinya sebagai tumpuan, Lisa memberikan kecupan ringan di dahi, pipi dan bibir Dalfi.
__ADS_1
Cup
Ciuman yang ringan, sekilas nampak terpaksa dan terburu-buru.
"Ciuman apa ini? Aku nggak mau jika hanya seperti ini!" protes Dalfi sengaja memasang mimik muka cemberut.
"Terus, Mas maunya yang kayak apa?" Lisa terheran-heran dengan sikap manja suaminya pagi ini.
Dalfi menatap Lisa dengan menyunggingkan senyuman yang menggoda.
"Haduh, malu tau Mas!". Ucap Lisa yang seakan mengerti arti tatapan suaminya itu.
Tanpa aba-aba Dalfi sudah menyatukan bibirnya dengan bibir Lisa. Tentu saja Lisa gelagapan dengan serangan yang tiba-tiba, tetapi akhirnya ikut hanyut dalam ciuman panas yang semakin dalam. Dalfi yang mulai terbuai, sudah siap mengalihkan salah satu tangannya dibelakang leher Lisa. Dan menekannya untuk memperdalam ciuman.
Para penghuni lainnya dirumah itu, hanya dianggap sebagai nyamuk oleh keduanya. Dalfi tidak ambil peduli dengan tatapan orang-orang yang iri dengan keromantisannya, yang sedari tadi membuatnya sebagai objek tontonan.
"Ehem.. ehem!"
Deheman Ayah membuat Lisa tersentak, reflek tangannya mendorong tubuh Dalfi agar sedikit menjauh dan menggeser tubuhnya kesamping. Tapi, tanpa sengaja salah satu kakinya yang berada diujung anak tangga paling atas, tiba-tiba terpeleset.
"Aaaaa," pekik Lisa kaget. Pegangan tongkatnya sudah jatuh kebawah, berhenti tepat di hadapan kaki Sekretaris Kim.
Untung saja dengan cekatan, Dalfi menarik tangan Lisa dan membawanya kedalam pelukannya lagi.
Lisa yang terhuyung, tapi tidak sempat terjatuh, merasakan dadanya yang berdebar kencang. Seperti maling yang ketangkep basah mencuri oleh warga.
"Hati-hati, Nak!" Ibu yang cemas, mempercepat jalan menghampiri anak dan menantunya. "Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Ibu memastikan keadaannya Lisa.
"Ayah ini, bikin kaget saja!" marah Dalfi kepada ayahnya.
Raut muka Lisa sudah tidak dapat diartikan lagi, merah padam merah merona menjadi satu. Kaget karena tertangkap basah berciuman diteras rumah dan juga kaget karena hampir terjatuh.
Ayah yang terkena marah, hanya tersenyum pias. Kemudian menunjukkan pergelangan tangannya ke depan wajah Dalfi, dan mengetuk- ngetuk pelan jam tangannya.
"Sudah jam berapa ini? Cepat berangkat dan selesaikan pekerjaanmu dengan baik! Jika tidak jangan harap bisa mengambil cuti!" perintah Ayah.
__ADS_1
"Mari, Tuan! Kita berangkat sekarang!" ucap Sekretaris Kim yang sudah naik keteras dan menyerahkan tongkat Lisa.
"Iya, ya!" melirik tajam kearah Sekretaris Kim. Kau ini menganggu saja! begitulah jika diartikan tatapannya itu.
"Baiklah, Sayang! Mas berangkat dulu, Hati-hati dirumah!" ucapnya berpamitan. Tak lupa mencium istri dan ibunya.
Ayah dan Sekretaris Kim yang melihat adegan itu, hanya bisa berdecak kesal dengan kebucinan seorang Dalfi Winata.
****
"Kim, Apakah berkasnya sudah siap semua?" tanya Dalfi yang duduk dibangku penumpang sambil melihat benda kotak pipih ditangannya.
"Sudah, Tuan! Semua sudah siap." Pandangannya fokus mengemudi sambil sesekali melirik Tuannya dari spion atas.
"Aku ingin masalah ini cepat diselesaikan! Kalau bisa jangan lebih dari tiga hari!" tegas Dalfi.
"Itu semua tergantung anda, Tuan!" sahut Sekretaris Kim.
"Tolong, atur semua jadwal meeting dengan klien. Aku tidak mau ada yang dicancel ataupun diundur," tegas Dalfi.
"Siap, Tuan," jawab Sekretaris Kim.
Seandainya setiap hari, semangat anda seperti ini, tentu saja itu akan sedikit meringankan tugasku. Dan saya tidak perlu mendengarkan anda uring-uringan setiap harinya. Batin Sekretaris Kim dengan wajah sumringah.
"Baru beberapa menit pergi, kenapa aku sudah merindukan wajah istriku," gumam Dalfi menghela nafas panjang, sambil menyandarkan kepalanya di kursi dan menguarai pandangannya keluar jendela.
Sekretaris Kim yang mendengarnya menyunggingkan senyum miring, memutar bola matanya dengan malas.
"Hah, mulai lagi dramanya! Dunia hanya milik kita berdua! Saya tahu anda sedang dimabuk cinta. Makanya,ayoo cepat kita selesaikan pekerjaan ini.
Dalfi menjejakkan kakinya kekursi kemudi, menghentakkannya sedikit keras.
"Aku dengar kata-katamu, Kim! Kamu sedang mengumpatku,kan!" sindir Dalfi dari kursi belakang.
"Maaf,Tuan! Tapi dari tadi saya tidak mengatakan apa-apa! Itu hanya perasaan anda saja, Tuan," tukas Sekretaris Kim dengan tergagap.
__ADS_1
"Ah, sial! ternyata dari tadi Tuan Dalfi memperhatikanku."
"Cepatlah menikah! Kau akan tahu apa yang aku rasakan sekarang!" ungkap Dalfi lagi.