
Dalfi nampak terburu-buru, berlari kecil menuju teras rumah. Langsung menuju garasi mobil, kemudian mengendarainya keluar dari halaman rumah.
Ratna segera membereskan meja makan dengan cepat, saat melihat Dalfi yang sudah keluar dari rumah. Dengan cekatan membawa tumpukan piring kotor kedapur, dan menyimpan sisa lauk kedalam lemari pendingin. Kemudian segera menuju kamar Lisa, setelah memastikan jika meja makan sudah dilap bersih.
Tok
Tok
Tok
Ratna mengetuk pintu kamar Lisa. "Maaf, Non! Ini saya Ratna. Apakah saya boleh masuk?" tanyanya meminta ijin terlebih dahulu sebelum masuk kekamar Lisa.
"Masuk saja, Rat!" teriak Lisa dari dalam kamar.
Lisa sudah berpindah posisi dari balkon, masuk kedalam kamar, dan sekarang sedang duduk disofa dengan menyelonjorkan kedua kakinya.
Ratna masuk dan langsung menghampiri Lisa.
"Maaf, apakah Nona sudah membaca berita hari ini?" dengan terbata-bata, sedikit ragu mengutarakan pertanyaannya.
"He'em!" jawab Lisa sambil menganggukan kepalanya.
"Tadi saya nampak, Tuan Dalfi turun dari kamar atas dengan tergesa-gesa," Ratna sudah duduk bersimpuh di lantai yang beralaskan karpet. Kedua tangannya diletakkan diatas meja, menghadap kearah Lisa.
"Hmm, katanya Dia akan segera menyelesaikan masalah ini," ucap Lisa malas.
"Apakah Nona tahu kemana Tuan Dalfi pergi?" Ratna semakin penasaran.
"Tidak! Aku malas menanyakannya!" ungkap Lisa sambil memijit salah satu kakinya.
__ADS_1
"Kenapa tidak Nona tanyakan?" risau Ratna.
Lisa menjawab pertanyaan pelayan yang sudah dianggap menjadi temannya itu, hanya dengan mengangkat kedua bahunya.
"Maaf, Nona! Apakah Nona mempercayai ucapan Tuan Dalfi?" telisik Ratna lagi. Menggeser tubuhnya, tangannya mulai ikut membantu memijit kaki Lisa.
"Entahlah, aku tidak tau! Aku bingung, entah siapa yang harus aku percayai ucapannya!" Lisa menghela nafasnya kasar.
"Sebaiknya, Nona! Jangan terlalu mempercayai ucapan Tuan Dalfi," sahut Ratna yakin.
Lisa menegakkan kepalanya, yang sejak tadi bersandar. Melihat Ratna dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Memangnya kenapa aku tidak boleh mempercayai ucapan Tuan Dalfi?" Lisa berbalik bertanya, dengan sedikit mengernyitkan dahinya.
"Tapi maafkan, jika sebelumnya mulutku ini terlalu lancang!" ragu ingin melanjutkan kata-katanya.
"Nggak apa-apa! Katakan saja apa pendapatmu!" Lisa membenarkan posisi duduknya, menatap layar hpnya yang mati.
"Lalu?" tanya Lisa yang masih belum mengerti arah pembicaraan Ratna.
"Jika saya menjadi anda, Saya tidak akan mudah kembali mempercayai Tuan Dalfi!" sungut Ratna.
"Kenapa?"
"Coba Nona pikir! Diibaratkan saja, seperti seekor kucing yang kelaparan, walaupun hanya diberi sisa tulang ikan, dia akan bersorak kegirangan menerimanya, dan tetap saja akan memakannya. Karena kucing itu menyukainya!" ucap Ratna sambil terus memperhatikan raut wajah Lisa. Takut jika Nona Mudanya ini akan marah.
Karena Lisa hanya diam saja, Ratna memberanikan dirinya untuk melanjutkan ucapannya.
"Sedangkan sekarang ini yang terjadi, yang diberikan untuk kucing ini adalah seekor ikan segar, yang dagingnya lembut dan hampir tidak berduri. Yang langsung disajikan ketempat makannya tanpa harus sibuk mengeong-ngeong dulu. Siapa yang coba yang tahan dengan godaan sehebat ini? Sudah dapat dipastikan, hampir setiap kucing pasti menginginkannya," ucap Ratna mencoba mempengaruhi pikiran Lisa.
__ADS_1
"Hahahahha!" Lisa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ratna. Menepuk Lengan Ratna dengan keras, sangking gemasnya dengan tingkah Ratna barusan.
"Aduh!" pekik Ratna. "Kenapa Nona malah tertawa?" tanyanya.
"Kau ini lucu sekali, hahaaha!" masih tertawa senang.
"Nona, anda ini aneh sekali!!" tukas Ratna.
"Hei! Aku suka dengan perumpamaanmu. Tapi jangan kau samakan Tuan Dalfiku dengan kucing jalanan, yang rakus dengan semua makanan! Dia itu termasuk dalam ras The Ashera, ras kucing termahal didunia yang tiada duanya. Bahkan lebih mahal dari kucing anggora. Dia itu termasuk dalam kucing yang tidak bisa makan makanan sembarangan!" ucap Lisa lagi sambil terkekeh.
"Ya, Saya kan, hanya bermaksud mengingatkan Anda saja, Nona! Jangan mudah terbedaya dengan bujuk rayu lelaki," ikut menyelonjorkan kakinya yang sudah mulai kesemutan.
"Iya, ya, ya! Aku ucapkan terimakasih atas perhatianmu, Na!" ucapnya sambil menyeka airmata disudut matanya. " Terima kasih karena sudah membuatku tertawa, hahahah!" lanjutnya.
"Baiklah, Nona! Aku permisi dulu, pekerjaan ku masih belum selesai tadi. Yang terpenting keadaan Anda sekarang baik-baik saja," beranjak berdiri, dan bersiap akan keluar.
"Eh, bolehkah aku minta tolong!" kata Lisa.
"Tentu saja, Nona! Itukan memang tugas saya dirumah ini. Untuk melayani para majikan yang tinggal dirumah ini!"
Lisa hanya tersenyum mendengar penuturan Ratna, "Bolehkah ambilkan segelas jus yang dingin dan juga air mineral. Tenggorokanku sangat kering karena ulahmu."
"Baik, Nona! Akan segera aku buatkan," Ratna undur diri, berjalan menuju pintu kamar.
"Ada-ada saja perumpamaan yang dia pakai. Tapi, perkataannya ada benarnya juga. Aku tidak boleh begitu saja, mempercayai ucapan Mas Dalfi."
"Tapi kan Dia suamimu. Jika kau saja tidak bisa mempercayai suamimu, lantas kau mempercayai perkataan siapa?"
"Benar kata Ratna, Laki-laki itu makhluk yang penuh dengan tipu muslihat. Kau harus mencari tahu dulu kebenaran. Jangan asal percaya!"
__ADS_1
Suara hati Lisa saling beradu pendapat, berputar-putar mengisi pikirannya, membuat perasaan galau timbul lagi dihatinya.
Sedangkan Ratna yang sedang berdiri didepan pintu kamar, mengembangkan senyuman smirk nya. Berbalik menuju dapur, membuatkan pesanan Lisa.