Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 49 Semakin panas


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaannya dan mengembalikan berkas kepada staff yang meminta pertolongannya tadi. Kini dengan berat hati, Lisa melangkahkan kakinya masuk kedalam lift yang mengantarkannya menuju keruangan Dalfi.


Bu Mirna mendapatkan pesan dari Sekretaris Kim untuk membelikan makan siang, dan secara khusus menyuruh Lisa untuk mengantarkannya.


Walaupun sedikit tidak enak hati kepada Bu Mirna, akan tetapi, mau tidak mau Lisa harus menuruti perintah atasannya. Terlebih lagi Sekretaris Kim sendiri yang memberikan perintah.


Akan bertambah lagi gosip yang beredar mengenai dirinya, begitu yang berada dibenak Lisa. Bahwasanya dia sangat diistimewakan. Hingga membuat pikiran beberapa orang jika koneksi orang dalam akan sangat berpengaruh pada pekerjaan kita.


Setelah sampai dilantai tempat ruangan CEO berada, Lisa langsung saja mengetuk pintu dan masuk sebelum ada jawaban dari dalam. Tentu saja beberapa pasang mata memperhatikannya dengan tatapan sinis.


"Lihatlah OG cantik sudah datang, pasti dia menggunakan segala cara agar bisa mengambil hati Tuan Dalfi," bisik-bisik seorang staff kepada temannya.


"Tak kusangka dibalik wajahnya yang cantik, dia rela mengorbankan tubuhnya demi bisa menggoda Tuan Dalfi, ckckck sungguh miris sekali," berdecak kesal menjawab pernyataan kawannya.


"Hei, kalian!" bentak Ria spontan, "Jika sampai Sekretaris Kim mendengar kalian sedang menggunjing Tuan Dalfi apalagi sampai menyebarkan berita buruk, pasti kalian berdua akan langsung dipecat olehnya," sarkas Ria.


"Kami tidak membicarakan Tuan Dalfi!" bantah orang itu, "Tapi kami hanya tidak rela jika sampai Tuan Dalfi terkena bujuk rayu karyawan baru itu. Lihat saja nanti, berapa lama dia akan berada didalam sana," ucapnya sambil memperhatikan daun pintu didepannya yang tertutup rapat.


"Sudahlah, biarkan saja! Jika kamu tidak suka, kenapa tidak kamu tegur saja langsung OG baru itu," protes Ria sambil kembali ke tempat duduknya.


Kedua orang tadi tampak sedang memikirkan ucapan Ria. Mungkin ada benarnya juga, daripada gosip terus merebak dan bisa berpengaruh negatif bagi citra CEO dan juga perusahaan. Begitu yang berada dibenak mereka.

__ADS_1


Sedangkan itu didalam ruangan CEO, Dalfi sedang dipusingkan oleh mood Lisa yang beberapa hari ini sering tiba-tiba berubah. Setelah meletakkan makanannya dimeja, Lisa memilih langsung duduk disofa dengan wajah yang ditekuk dan kedua tangan terlipat.


"Sayang, kenapa wajahmu cemberut begitu? apakah ada masalah?" Dalfi bangkit dari kursinya dan menghampiri Lisa.


"Boleh tidak jika besok jangan hanya aku saja yang ditugaskan diruangan ini?" tanya Lisa ragu.


"Tidak boleh!" ketus Dalfi singkat.


"Pipi..." Lisa merengek, mencoba membujuk Dalfi.


Sudah kesekian kalinya, Lisa mencoba membujuk Dalfi. Karena inilah yang menjadi penyebab utama mulai timbulnya gosip itu.


"Tidak mau!" sungut Lisa.


Dengan terpaksa Dalfi menarik tangan Lisa, dan membawanya duduk diatas pangkuannya. Kini keduanya berada di jarak yang sangat dekat, dengan posisi yang cukup intim. Lisa mengalungkan kedua tangannya di leher Dalfi, sedangkan Dalfi membawa tubuh Lisa kedalam pelukannya dengan erat. Mulai membenamkan wajahnya keceruk leher Lisa.


"Pipi.. jangan," ******* sukses keluar dari mulut Lisa, saat bibir Dalfi berhasil mendaratkan sebuah kecupan.


"Aku tidak mau ada orang lain yang seenaknya keluar masuk kedalam ruanganku ini. Apakah kau tidak tahu jika suamimu ini sangat tampan? Apakah kau tidak takut jika ada wanita yang menggodaku?" tanya Dalfi seraya tangannya tidak berhenti bermain dengan tubuh Lisa. Hingga tanpa disadari oleh Lisa, beberapa kancing bajunya sudah terlepas.


"Ah.." Lisa kembali mendes*h ketika bibir Dalfi sukses membuat stempel cinta dibeberapa bagian tubuh depannya itu. "Pipi.. Sudah!" tangan Lisa spontan memukul bahu Dalfi, saat merasakan sensasi bibir yang menjelajahi tubuhnya.

__ADS_1


"Aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya!" ucap Dalfi yang sudah mengubah posisinya, membawa Lisa dibawah kungkungannya.


"Masalah ap.." belum sempat Lisa menyelesaikan ucapannya, Dalfi sudah membungkamnya dengan mulutnya.


Lisa dibuat mabuk kepayang dengan setiap sentuhan tangan Dalfi. Makan siang yang diawali dengan olahraga jantung, yang membantu mengeluarkan hormon bahagia, melepaskan stress yang sejak tadi membuat kepalanya pusing.


Hingga jam makan siang telah usai, Lisa belum juga nampak keluar dari ruang kerja Dalfi. Beberapa orang yang tidak menyukainya, menjadi semakin panas karena itu. Hingga persaingan antara panas memanasi terjadi didalam dan diluar ruangan.


"Tidurlah, kamu pasti lelah!" mengecup kening Lisa dan membantu menghapus keringat yang menetes di dahinya, setelah keduanya menyelesaikan pergulatan mereka disofa tadi.


"Tapi.." jawab Lisa.


"Tidak ada orang yang berani masuk kesini jika aku tidak meminta," perintah Dalfi sambil mengenakan bajunya, mengerti kerisauan istrinya.


"Hmm, baiklah," Lisa menganggukan kepalanya tanda setuju, sembari membetulkan jas milik Dalfi yang menyelimuti tubuhnya.


"Hari ini tidak ada jadwal kuliah kan?" tanya Dalfi.


" He'em," suara Lisa menjadi berat, tidak lama kemudian hanya terdengar suara hembusan nafas dari hidungnya.


"Tidurlah, Sayang! Kau pasti sangat lelah, kenapa kamu suka menyimpan masalah mu sendiri," ucap Dalfi sambil membelai wajah mulus Lisa.

__ADS_1


__ADS_2