Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 48 Kepo


__ADS_3

"Hei, Kamu baik-baik saja kan?" tanya Ria saat melihat Lisa yang sedang melamun didepan mesin fotokopi. Sesaat Lisa tersentak saat mendengarkan suara seniornya yang datang dari arah pintu.


"Ah iya mbak, Saya baik-baik saja." Jawab Lisa sambil terus merapikan beberapa lembar kertas yang sudah keluar dari dalam mesin fotokopi.


"Sini berikan kertas itu kepadaku, biar aku yang menyelesaikannya. Lebih baik kamu istirahat sebentar, wajahmu terlihat sangat lelah sekali," Ria berinisiatif menawarkan bantuan kepada Lisa, karena dia tahu seperti apa rasanya mondar mandir dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Melihat wajah Lisa yang sedikit pucat membuatnya sedikit merasa iba.


"Tidak apa-apa Mbak, Terima kasih atas tawarannya," imbuh Lisa.


"Sudah berikan itu padaku!"


Ria dengan sedikit ketus menyambar kertas yang sedang dipegang oleh Lisa, meletakkannya diatas mesin fotokopi, kemudian menarik lengan Lisa dan mendudukkannya dikursi.


"Istirahat saja dulu!" perintah Ria tanpa ada penolakan.


"Ah iya," hanya itu yang terucap dari mulut Lisa saat menerima kebaikan dari seniornya itu.


"Itu biar aku saja yang mengerjakannya, Kamu bisa duduk sebentar untuk mengistirahatkan tubuhmu. Dan ini minumlah dulu!" ucap Ria sambil menyerahkan sebotol air mineral.


"Terima kasih, Mbak!" kata Lisa kemudian meneguk minumannya.

__ADS_1


Akhir-akhir ini, entah kenapa tubuhnya sedikit merasa lebih cepat lelah daripada yang biasanya. Ditambah lagi dengan pekerjaan yang menuntutnya untuk lebih cekatan dalam segala hal. Pikirannya pun ikut tertekan dengan gosip tentang dirinya yang semakin marak berhembus.


Sudah dua minggu ini, gosip itu berseliweran di telinganya, dan berhasil membuatnya sering melamun.


"Kamu tidak perlu sungkan dengan orang lain atau tidak enak hati. Jika memang itu bukan tugasmu, lebih baik kamu tolak saja. Kamu tidak harus menuruti semua perintah orang, itu kan bukan kewajibanmu, bukan tugas utamamu dikantor ini!" Ria mencoba menasehati Lisa, yang notabene adalah karyawan baru. Seragam yang Ia pergunakan pun, terkadang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang dikantor ini.


"Tidak apa-apa, Mbak, ini kan juga salah satu tugas saya," ucap Lisa sambil memperhatikan Ria yang sedang sibuk memencet beberapa tombol di mesin dan membolak-balikan kertas dengan teliti.


Sedikit banyak Lisa dibuat kagum oleh kebaikan Ria, yang tanpa sungkan mau membantunya. Gadis dengan perawakan tinggi, langsing, berkulit sawo matang dan berpenampilan modis itu sebenarnya tidak kalah cantik jika dibandingkan dengan Vania.


"Mbak.. Mmmmm mbak Ria sudah menikah ya?" ragu-ragu Lisa mengajukan pertanyaan.


"Belum, kenapa?" jawab Ria singkat sambil terus memperhatikan tumpukan kertas yang menggunung.


Ria hanya tersenyum sekilas dan menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa dirinya seorang jomblo.


"Mbak pasti bohong, masak orang secantik Mbak Ria ini belum punya pacar?" entah sejak kapan jiwa kepo mulai muncul dalam diri Lisa. "Eh maaf, jika pertanyaanku lancang."


"Tidak apa-apa, santai saja. Sebenarnya aku sudah menyukai seseorang sejak dulu, akan tetapi sampai saat ini aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya," terang Ria yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, kemudian ikut duduk bersama Lisa. "Kalau kamu sendiri bagaimana? Kamu sudah menikah ya?" Ria balik bertanya.

__ADS_1


"Aku sudah menikah Mbak!" jawab Lisa jujur.


"Hah, benarkah? Wah aku kalah nih! Terus bagaimana dengan gosip yang beredar sekarang ini, apakah tidak mempengaruhi rumah tangga kalian?"


Ria sedikit merasa tidak enak hati, saat melihat ekspresi Lisa yang langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar dan merebahkan kepalanya diatas meja dengan salah satu tangannya Ia pergunakan sebagai tumpuan.


"Aku belum menceritakan tentang gosip ini. Aku hanya tidak ingin menambah beban pikirannya saja," ujar Lisa malas.


"Eh maaf, Aku tidak bermaksud menyinggungmu dengan gosip ini tapi belakangan ini namamu santer diperbincangkan. Kalau aku boleh tahu, gosip itu tidak benar kan? Bagaimana nanti jika berita ini sampai ke telinga suamimu, tentu dia akan merasa marah!" tanya Ria penuh selidik.


"Hah apanya yang marah, justru malah sebaliknya Dia akan merasa sangat senang." batin Lisa.


Lisa bingung hendak memberikan jawaban seperti apa. Dalam hatinya Ia hanya bisa mengumpat orang yang sudah tega menyebarkan berita itu, walaupun kenyataannya memang benar seperti itu adanya. Akan tetapi dia tidak terima jika dikatakan sebagai wanita penggoda yang sengaja merayu atasannya.


"Entahlah Mbak, Aku tidak tahu kenapa ada orang yang iri dengan seorang pegawai rendahan sepertiku!" kata Lisa sedikit acuh jika ditanya tentang rumor yang beredar.


"Tentu saja iri, bukan sembarang orang yang bisa keluar masuk keruangan Pak Dalfi, apalagi sampai berlama-lama berada didalamnya." Sahut Ria cepat.


"Ah sudahlah Mbak, Aku malas membicarakannya. Biarkan saja, terserah mereka mau mengataiku seperti apa. Ini sekali lagi Terima kasih ya, Mbak sudah mau repot membantuku. Aku duluan ya Mbak!" jawab Lisa dengan senyum yang mengembang, sembari mengangkat tumpukan kertas yang sudah tersusun rapi ditangannya. Kemudian bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Sama-sama, tidak masalah!" jawab Ria sambil memperhatikan Lisa yang sudah keluar dari ruang fotokopi.


"Sepertinya gosip ini sama sekali tidak mempengaruhinya." batin Ria dari dalam hati.


__ADS_2