Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 12 Rencananya


__ADS_3

Pagi hari ini, Ayah dan Ibu sudah di suguhkan pemandangan yang romantis dari pasangan pengantin baru. Dalfi yang baru saja keluar dari kamar, turun kebawah untuk sarapan dengan menggendong Lisa. Tentu saja dengan rona wajah yang tidak dapat diartikan.


"Terima kasih" ucap Lisa setelah Dalfi mendudukan nya dikursi. Wajahnya tertunduk malu saat pandangan mata Ayah dan Ibu tertuju padanya.


"Selamat pagi,Ibu!" Dalfi menyapa Ibunya. Tak lupa mencium kedua pipi sang Ibu. Senyuman penuh kebahagiaan tak pernah lepas dari wajah Ibu.


"Ayah, Sepertinya hari ini cuaca akan sangat cerah, iya kan!" sindir Ibunya.


Ayah hanya tersenyum menanggapi celoteh Ibu.


Dalfi yang disindir tengah sibuk menuangkan lauk ke piring Lisa. Sedangkan Lisa sudah merona tak karuan.


"Ibu ini seperti tidak pernah muda saja!" balas Ayah.


"Ehem.. Ayah,sementara ini aku akan mengajukan izin cuti!" sahut Dalfi memotong pembicaraan Ayahnya.


"Tentu saja! Ambilah cutimu!" ujar Ayah.


"Aku akan menetap beberapa bulan diluar negeri!". Sambil menyendokkan sesuap nasi ke mulut Lisa.


"Apaan sih! Sok-sok romantis! Tuan, apa yang kamu lakukan? Sana aku bisa makan sendiri". Lisa bermonolog dalam hati, dengan tatapan tajam yang siap menghunus Dalfi.


"Apa, Sayang? Kamu mau yang ini?". Seolah-olah dibuatnya tak mengerti arti tatapan Lisa. Dalam hati, Dalfi hanya bisa terkekeh melihat tingkah Lisa.


" Sudah, Mas! Terima kasih!". Terpaksa tersenyum didepan mertua. Tetapi satu cubitan berhasil mendarat sempurna dipinggang Dalfi.


Dalfi hanya bisa meringis menahan sakit.


"Kenapa, Nak?" tanya Ibu.


"Ah, tidak! Sepertinya masakan ini terlalu pedas". Ucap Dalfi berbohong.


"Berapa lama kamu akan menetap?" tanya Ayah.


"Sampai Lisa bisa berjalan lagi. Lisa akan menjalani pengobatan disana!" terang Dalfi.


"Mas, kenapa harus jauh-jauh sampai luar negeri? Rumah sakit disini pun tak kalah bagus dengan di rumah sakit luar negeri!" tukas Lisa.


"Kita kan juga perlu bulan madu, Sayang!". Dengan santainya menjawab pertanyaan Lisa. "Ibu sudah tidak sabar ingin menggendong cucu. Iya, kan, Bu?" sambil mengedipkan mata kearah Lisa.


"Sudah! jangan kamu goda istrimu lagi! Lihatlah wajahnya sudah seperti udang rebus". Ibu yang sudah paham betul dengan kelakuan anaknya hanya geleng-geleng kepala.


" Terserah kau saja,Fi! Perusahaan kita sedang stabil. Sekretaris Kim dapat diandalkan jika ada masalah nantinya. Pilihlah negara yang ada cabang bisnis kita, sekalian kamu bisa membantu mengelolanya!" ucap Ayah.


"Baiklah!"


Obrolan sementara terhenti, hanya dentingan sendok yang terdengar. Setelah menyelesaikan sarapannya, Dalfi segera bangkit dan berpamitan.

__ADS_1


"Baiklah, Sayang! Aku berangkat dulu! Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum kita pergi bulan madu!".


Lisa langsung meraih tangan Dalfi dan menciumnya. Begitupun Dalfi yang tak segan mencium kening Lisa.


Ayah dan Ibu ikut senang melihat keromantisan anak dan menantunya.


*


*


*


Setelah selesai sarapan, kini Lisa sedang sibuk menjalani terapinya. Dibantu oleh dua orang perawat yang sudah siap siaga berada di sampingnya. Dokter yang sengaja datang dari rumah sakit sudah pamit undur diri dari tadi. Dokter selalu rutin memantau kemajuan Lisa beberapa hari terakhir.


"Hati-hati,Non! Anda tidak perlu tergesa-gesa!". ucap Rika. Perawat itu dengan telaten memperhatikan gerakan Lisa.


Jadwal terapi Lisa,rutin setiap hari selama satu jam. Tapi baru beberapa menit latihan, rasanya sudah lelah sekali. Ini sudah sesi yang keempat. Nafasnya sudah ngos-ngosan dibarengi keringat yang mengucur deras.


" Aku ingin istirahat dulu Kak, Boleh?" pinta Lisa.


"Baik, Non!". Segera kedua perawat membantu Lisa duduk di kursi.


" Maaf, Kak! Aku sudah menyusahkan kalian!".


"Nggak apa-apa,Non! Pelan-pelan saja, tidak usah dipaksakan!" ucap Kak Rika


" Aku ingin cepat bisa berjalan normal lagi. Aku sudah terlalu banyak menyusahkan orang. Rasanya sungguh tidak enak, aku tidak bisa bergerak bebas. Semua aktifitas ku jadi terhambat". Perasaan sedih selalu datang saat melihat kakinya yang terbalut perban.


"Sudah, Non! Jangan sedih. Nanti kalau anda sudah bisa berjalan. Aku akan menemanimu jalan-jalan ke mall seharian!". Ratna yang baru saja datang ikut nimbrung. Membawa camilan dan minuman untuk majikan barunya.


" Hahaha Aku akan tagih nanti janjimu" Lisa senang banyak orang yang menemaninya.


"Nona, kami permisi dulu! Sepertinya terapi hari ini cukup" ucap Kak Rika berpamitan.


"Iya, terima kasih!"


Setelah kedua perawat undur diri, kini hanya Ratna yang menemaninya.


"Duduklah sini!" menepuk-nepuk bangku disebelahnya, mempersilahkan Ratna untuk duduk. "Tidak apa-apa, Aku kan yang menyuruhmu!" lanjut Lisa setelah memperhatikan raut wajah Ratna.


"Saya takut kena marah, Non!" ucap Ratna celingukan.


"Siapa yang akan memarahimu? kemarilah!".


Bergerak duduk di bangku sebelah Lisa, celingukan melihat kekanan kiri.


"Kok kamu bisa masuk kerja disini, gimana ceritanya?" tanya Lisa setelah Ratna duduk disebelah nya.

__ADS_1


"Ibuku bekerja disini juga! Karena uang kuliah dan biaya sekolah adik-adikku lumayan mahal, jadi aku inisiatif mencari tambahan. Untung saja Nyonya baik orangnya. Beliau menawari ku bekerja paruh waktu dirumah ini. Nyonya juga tau kalau ibuku kesulitan ekonomi, ya walaupun tidak dipungkiri kalau gaji disini cukup besar. Tapi masih kurang untuk biaya hidup kami berlima" Ratna mulai bercerita kisah hidupnya.


"Ada berapa adik-adikmu?" tanya Lisa.


"Ada tiga! yang satu SMP dan duanya lagi masih Sekolah Dasar" jelas Ratna.


"Ayahmu?"


"Ayahku sudah meninggal lima tahun yang lalu" jawab Ratna.


"Ternyata nasib kita tidak terlalu beda jauh. Wah pasti rame ya! Punya banyak saudara, tidak seperti ku" mata Lisa mulai berkaca-kaca membayangkan kehidupannya.


"Kamu sendiri, kenapa bisa kenal dengan Tuan Dalfi dan menikah dengannya. Maaf ya! Setahu kami disini, Tuan Dalfi sudah memiliki pacar,namanya Nona Vania" selidik Ratna penuh tanda tanya.


"Mantannya selingkuh! " jelas dan singkat Lisa menjawab.


"Hah! Terus kenapa Tuan bisa menikah denganmu, kamu enggak dihamili kan?" rasa penasaran Ratna semakin menggebu.


"Enggak lah! Gila apa ya! Sejauh ini aku masih bisa menjaga kehormatanku" tegas Lisa


"Iya,kan, aku pikir seperti banyak kisah novel yang aku baca. Prianya patah hati lalu mabuk-mabukan, terus dijalan ketemu cewek miskin yang nolongin. Karena pengaruh alkohol si cewek diperkosa karena dikira itu kekasihnya,terus dimintai pertanggungjawaban" terang Ratna. " Eh maaf! Aku enggak bermaksud menghina kamu miskin" ucap Ratna sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


"Ah! Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa kok! Aku memang miskin dan itu kenyataannya. Yah..Ceritanya hampir mirip tapi aku tidak hamil duluan, dan juga saat itu tidak dalam keadaan mabuk" jawab Lisa tersenyum


"Terus- terus gimana kenalannya?" sela Ratna


"Ihh Dasar kepo!" ucap Lisa sambil tertawa melihat ekspresi Ratna.


Disaat yang bersamaan, datang seorang pelayan dari dalam rumah membawa telepon.


"Maaf, Non! Tuan Dalfi menelopon!" seraya menyerahkan telepon yang dibawanya.


"Iya, hallo?"


"Hah, sekarang"


" Kenapa mendadak sekali"


"Iya.. iya.. tahu"


"oke, bye"


Lisa menyerahkan kembali teleponnya kepada pelayan.


"Kenapa, ada apa, mau kemana?" cerocos Ratna tak mau kalah. Pelayan yang datang tadi hanya mendelik melihat kelakuan Ratna.


"Dasar Kepo! Haahaha" ucap Lisa seraya masuk kedalam.

__ADS_1


__ADS_2