Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 57 Bahaya Mengintai


__ADS_3

Dalfi mendadak tidak bersemangat kala menyelesaikan pekerjaannya. Langit mendung, hujan gerimis dan udara yang dingin, ditambah Lisa yang tidak ada disampingnya, membuat Dalfi merasa jengah menghadapi berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya. Setelah kembali dari ruang meeting, Dalfi langsung saja merebahkan kepalanya diatas meja, menggunakan salah satu tangannya sebagai bantalan.


"Jika anda menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat, mungkin anda bisa segera menemui Nona."


Dalfi mengangkat kepalanya ketika mendengar ucapan Sekretaris Kim yang masih setia berdiri didepannya.


"Memangnya kemana Lisa? Bukankah dia sedang berada dirumah?" tanya Dalfi lagi.


"Tadi Nona mengirimkan pesan, meminta ijin pergi kerumah Nyonya besar, setelah itu ia akan pergi berbelanja," balas Sekretaris Kim sedikit menaikkan kacamatanya yang melorot agar tetap berada diatas hidung.


Tanpa banyak kata, Dalfi segera menyambar berkas yang bertumpuk rapi dihadapannya, memeriksa laporan satu persatu dengan cekatan.


"Hmmmm, cinta oh cinta, ternyata se mengerikan itukah kuasamu." Batin Sekretaris Kim, kemudian berlalu pergi meninggalkan Dalfi yang moodnya dapat berubah secepat kilat.


****


"Cepat sedikit, Kim!" bentak Dalfi yang berada dibelakang kursi kemudi.


Sekretaris Kim berusaha menjaga emosinya agar tidak ikut panik disaat genting seperti saat ini. Ratna yang duduk disebelahnya pun tak kalah pucat nya. Mobil yang dikemudikannya sudah berada diatas kecepatan rata-rata. Jika mengikuti keinginan Dalfi, tentu saja ia juga ingin segera sampai di rumah sakit.


"Sayang, aku mohon bertahanlah."


Dalfi terus meracau, tangannya dengan hati-hati membersihkan wajah Lisa menggunakan tissue basah, darah segar terus saja mengalir dari dahinya.


Setelah 20 menit, akhirnya mobil mereka sampai dirumah sakit terdekat. Tanpa menunggu lama, Dalfi langsung saja menggendong tubuh Lisa masuk kedalam ruang UGD. Beberapa perawat nampak berlari tergopoh-gopoh menyambut Dalfi, kemudian menuju brankar tempat Lisa dibaringkan.


"Maaf Tuan, sebaiknya anda menunggu diluar!" perintah dokter jaga yang memakai pakaian khusus, kemudian menutup pintu ruang UGD. Dalfi dengan nafas yang masih terengah-engah, hanya bisa menatap sayu pintu didepannya yang sudah tertutup rapat.


"Kim, aku ingin kau segera menyelidikinya!" ucap Dalfi sesaat setelah kepanikannya mulai menghilang.

__ADS_1


"Baik, Tuan! Saya akan laporkan hasilnya secepat mungkin," balas Kim yang langsung mengambil ponselnya dari saku celana, segera menekan sesuatu digawainya tersebut.


Sekretaris Kim tidak berani beranjak meninggalkan Dalfi seorang diri, dia khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan jika dirinya meninggalkan tuannya itu sendiri dengan pikiran yang kacau. Begitupun dengan Ratna yang masih setia duduk tidak jauh dari majikannya itu. Rasa bersalah dan penyesalan kian mengusik hatinya.


"Aku tahu kau pasti kuat, Sayang! Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berani menyakitimu!" batin Dalfi sembari mengusap wajah dan rambutnya dengan frustasi.


Masih terbayang senyuman Lisa yang penuh kebahagiaan saat menyambut kedatangannya tadi. Akan tetapi, baru saja Lisa melangkahkan kakinya turun kejalan, tiba-tiba sebuah mobil jeep hitam yang sedang terparkir, langsung saja tancap gas dengan kecepatan penuh, dengan sengaja menabrak tubuh Lisa hingga jatuh terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri. Mobil itupun kabur setelah berhasil juga menabrak pos security dan palang pintu.


"Apakah anda suami dari pasien yang berada didalam?"


Pertanyaan dari dokter yang baru saja keluar dari UGD berhasil memecah lamunan Dalfi.


"Iya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" jawab Dalfi dengan sigap.


"Pendarahan di kepalanya sudah dihentikan dan kami terpaksa memberikan beberapa jahitan untuk itu. Pasien termasuk kuat, karena tidak ada luka serius ditubuhnya, tidak ditemukan patah tulang atau yang lainnya, hanya ada beberapa luka lecet ditangan serta kakinya. Setelah ini pasien akan dipindahkan ke ruang inap, kita akan melakukan observasi lagi terkait benturan di kepalanya. Semoga saja tidak ada hal serius yang mengkhawatirkan," ucap Dokter jaga.


Dokter jaga berpamitan pergi, bersamaan dengan pintu yang terbuka, beberapa perawat mendorong tempat tidur Lisa menuju ruangannya.


Sekretaris Kim dan Ratna yang ikut mendengarkan penjelasan dokter, akhirnya bisa bernafas lega. Ratna mengikuti Dalfi dan perawat menuju ruang inap, sedangkan Sekretaris Kim memilih keluar menyelesaikan tugasnya.


Hati Dalfi terasa sesak saat melihat Lisa yang sedang terbaring lemah, wajahnya yang putih mulus kini terlihat pucat disertai dengan luka lebam yang membiru. Tak henti-hentinya dia menyalahkan dirinya sendiri karena lalai menjaga keselamatan istrinya.


"Maafkan Mas, Sayang! Maaf, Sebagai suami, Mas sangat tidak becus menjaga keselamatan mu," lirih Dalfi menggenggam erat jari jemari tangan Lisa.


Rasa iri di hati Ratna serta merta lenyap saat melihat kegelisahan hati majikannya itu. Betapa besar rasa cinta Tuan Dalfi untuk istrinya, sungguh sangat beruntung sekali nasibmu, Lis. Batin Ratna dalam hati.


Selang beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu diketuk. Sekretaris Kim masuk dengan membawa beberapa paper bag ditangannya.


"Maaf, Tuan! Sebaiknya anda bersihkan dulu tubuh anda," ucap Sekretaris Kim seraya meletakkan paper bag yang berisi beberapa pakaian ganti dan juga makanan diatas meja.

__ADS_1


Dalfi sama sekali tidak mengalihkan pandangannya, matanya fokus hanya tertuju pada Lisa seorang.


"Jika sudah sadar, Nona pasti bergidik ngeri melihat penampilan anda yang seperti ini. Apakah anda ingin membuat Nona menjadi trauma?" timpal Sekretaris Kim mencoba membujuk tuannya agar beranjak dari tempat duduknya. Penampilan Dalfi sungguh sangat berantakan dengan noda darah yang tampak sudah mengering mengotori kemeja putihnya.


Dalfi segera melayangkan tatapan tajam kearah Sekretaris Kim, walaupun kesal tetapi perkataan Sekretaris Kim ada benarnya juga. Dalfi menyambar paper bag dan segera pergi ke toilet dengan cepat. Dia ingin menjadi orang pertama yang dilihat istrinya ketika dia sadar nanti.


"Kau bisa pulang sekarang!" kata Sekretaris Kim kepada Ratna yang sedang duduk disofa dengan memeluk tasnya.


"Tapi-"


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, lebih baik kau pulang sekarang!" Sekretaris Kim menghampiri pintu dan membukanya, memutar sedikit kepalanya mengisyaratkan untuk segera keluar dari ruangan itu.


Ratna dengan berat hati membawa langkahnya keluar dari ruangan VVIP itu, berpapasan dengan Tuan dan Nyonya besar yang juga tak kalah khawatir dengan keadaan menantunya tersebut.


"Aku harus menanyakan peristiwa ini dengannya! Aku harap bukan dia pelakunya," lirih Ratna mantap sambil berlalu pergi.


Sedangkan itu didalam ruangan, Nyonya besar segera memberondong Dalfi dan Sekretaris Kim dengan berbagai macam pertanyaan. Perasaan cemas dan khawatir sudah menghantuinya kala mendengar Lisa menjadi korban tabrak lari.


"Apakah kalian sedang ada musuh?" ucap Ibu setelah mendengar semua penjelasan yang dikatakan oleh Sekretaris Kim. Dengan lembut membelai wajah Lisa yang belum sadar.


"Aku tidak tahu pasti,Bu! Ibu kan juga tahu bagaimana kejamnya dunia bisnis itu. Tapi sepertinya aku tidak pernah membuat rival bisnisku merasa sakit hati. Bagaimana pun caranya, Aku akan segera menemukan pelakunya!" jawab Dalfi yang duduk di sebelah ayahnya.


"Tapi jangan sampai gegabah, kamu tidak mau kan jika orang yang sudah mencelakai istrimu sampai lolos?" timpal ayah memberikan nasihat.


"Serahkan urusan ini kepadaku, Yah!" balas Dalfi mengepalkan kedua tangannya.


"Hati-hati, Nak! Kita tidak tahu sedang berurusan dengan siapa. Jangan sampai keselamatan mu pun ikut jadi taruhannya!" ucap Ibu yang kini terfokus dengan kalung yang melingkar dileher Lisa.


"Kalung itu-, Tidak mungkin, pasti ini hanya kebetulan," batin Ibu ragu-ragu.

__ADS_1


__ADS_2