Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 17 Pulang Lebih Awal


__ADS_3

Dalfi menatap hampa meja kerjanya. Yang dirasakannya sekarang hanya ingin cepat-cepat menemui Lisa. Kedatangan Vania dan imajinasinya yang sedang membayangkan Ardan menatap Lisa, membuatnya semakin malas melanjutkan pekerjaannya.


Sekretaris Kim pun kewalahan menghadapi Dalfi yang uring-uringan dari tadi. Baru saja pulang dari meninjau proyek, sekarang sudah harus menghadapi atasannya yang dibuat sibuk dengan masalah wanita.


"Maaf, Pak! Tapi anda harus segera memeriksa laporan-laporan ini secepatnya, Klien kita sudah sangat bersabar selama ini." Kim sudah tak tahu lagi harus memberikan alasan apa agar bosnya itu tetap tinggal dikantor dan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.


"Hari ini saja, Kim! Kepalaku berdenyut melihat berkas-berkas itu." Dengan posisi masih berbaring disofa dan sedikit memijit kepalanya.


Kim menghela nafasnya panjang.


"Ini semua juga gara-gara kamu! Kenapa kau tidak memberi tahu security dibawah untuk melarang Vania masuk kekantor ini lagi." Dalfi melanjutkan ucapannya.


Dengan seenaknya Dalfi melontarkan kesalahan kepada Sekretaris nya.


"Aku bisa mengandalkanmu, Kim!" beranjak bangun dari sofa untuk mengambil jas dan tas kerjanya. Kemudian menepuk bahu Sekretaris Kim dan melenggang pergi meninggalkan ruangannya.


Sekretaris Kim yang selisih beberapa tahun dibawah Dalfi, mau tak mau harus bisa berpikir lebih jernih dan lebih waras ketimbang bosnya.


Sudah lama melayani Dalfi, sedikit banyak dia tahu bagaimana sifat dan peranagi tuannya itu. Akan timbul lebih banyak masalah jika dia terus memaksanya bekerja.


Dengan cekatan Sekretaris Kim mengumpulkan semua berkas yang berserakan diatas meja.


"Baru ditinggal beberapa jam saja sudah acak-acakan begini" lirih Sekretaris Kim.


Jalanan yang sedikit lenggang, memudahkan Dalfi mengendarai mobilnya. Tidak sampai setengah jam, mobil Dalfi sudah sampai didepan gerbang rumahnya.


Tin


Dalfi menekan klaksonnya karena tidak ada yang membukakan gerbang untuknya.


"Hah, kemana orang-orang ini! Mau kena pecat apa!" batin Dalfi.


Tin


Tin


Ketiga kalinya klakson dibunyikan, baru nampak Pak Supri yang berlarian keluar dari arah pintu dapur. Dengan terengah-engah, mendorong pintu pagar dengan kedua tangannya.


"Siapa yang menyuruh membiarkan pos kosong?" tukas Dalfi dari dalam mobilnya.

__ADS_1


"Maaf, Tuan! Saya lagi makan," ucap Pak Supri sambil membungkukkan badan dan menganggukan kepalanya.


"Ingat! Ini yang terakhir kalinya!" tegas Dalfi.


Dalfi berlalu pergi, malas menanggapi alasan yang dilontarkan karyawannya itu. Mobil berhenti di lobby depan rumahnya, ditinggalkannya masuk begitu saja.


"Lis.. Lisa! Sayang." Membuka pintu dan langsung saja mencari keberadaan istrinya.


Matanya langsung tertuju ke ruang tamu, dimana Lisa dan Bu Yuyun sedang asyik mengobrol. Sorot matanya pun tak luput melihat sosok Ardan yang duduk di sofa sebelah Lisa.


"Hlo,Mas! Kok sudah pulang jam segini?" tanya Lisa saat melihat kedatangan suaminya itu.


"Iya, aku kangen sama kamu." Menghampiri Lisa dan merangkul pinggangnya. Mencium kening dan pipinya agak lama.


Sengaja mengumbar kemesraannya didepan ibu dan anak itu. Dalfi tersenyum tipis saat melirik ekspresi Ardan yang sedang menahan amarah. Ardan mengepalkan kedua tanganya, sampai terlihat semburat garis biru menonjol keluar dari punggung tangannya.


"Apaan sih, Mas! Malu tau." Menepuk lengan Dalfi agak keras.


"Awww! Kenapa harus malu, nyium istri sendiri kok! Iya, kan Bu?" tanya Dalfi sambil melihat Bu Yuyun.


Bu Yuyun tersenyum sungkan melihat pemandangan yang disuguhkan kedua pengantin baru itu. Situasi mendadak berubah menjadi canggung.


"Ya, sudah Lis! Ibu pulang dulu ya, kasihan itu suamimu udah kangen banget kayaknya. Sampai dibelain pulang cepat," sindiran halus keluar dari mulut Bu Yuyun.


"Lhah baru juga sebentar. Kita makan siang dulu yuk?" ajak Lisa setengah memohon.


"Nggak usah, Lis! Ibu bisa makan diluar aja nanti. Kasihan Ardan, sepertinya dia juga harus pulang cepat, biar Ardan juga bisa istirahat," mencoba menolak permintaan Lisa secara halus.


"Lis, Kakak pulang dulu ya! Jangan ragu hubungi Kakak jika orang ini berani berbuat macam-macam." Ardan melayangkan tatapan tajam kearah Dalfi.


"Tenang saja,Kakak! Akan aku buat banyak macam dengan istriku. Kakak tidak perlu khawatir," kelakar Dalfi yang juga sudah melayangkan tatapan sinis.


Lisa hanya memperhatikan tingkah laku dua orang pria dewasa dihadapannya yang seperti kekanak-kanakan.


"Ibu pamit ya, Lis! Sudah duduk saja, tak perlu mengantar kedepan!" ucap Bu Yuyun, menarik lengan Ardan keluar.


"Sayang, Mas kangen."


Tangannya masih setia melingkar dipinggang Lisa. Dalfi menempelkan bibirnya di ceruk leher Lisa, hembusan nafasnya yang hangat sukses membuat bulu kuduk Lisa merinding.

__ADS_1


"Mas!" sentak Lisa.


Ujung kedua jarinya mendorong kepala Dalfi agar sedikit menjauh dari lehernya. "No kontak fisik!" bebel Lisa. "Sudah sana, sudah nggak ada orang lagi. "Dasar tukang ambil kesempatan!"


Dalfi yang jarang menerima penolakan merasa sedikit kesal. "Sayang, dosa hlo jika menolak permintaan suami. Aku kan cuma mau peluk aja, masak itupun nggak boleh juga!" protes Dalfi.


Dalfi yang tak mengindahkan larangan Lisa, terus saja memeluk pinggang istrinya. Bibirnya terus menyusuri bawah telinga Lisa, menjalar kerahang dan memberikan kecupan yang ringan dipipi.


Hingga tanpa sadar, bibir mereka sudah saling bertemu dan bertaut. Lisa yang tidak pernah mendapat sentuhan dari lelaki hanya diam mematung. Gerakan tubuh Lisa yang kaku tidak menyurutkan niat Dalfi untuk menghentikan ciumannya.


Bibirnya terus memberikan kecupan lembut keseluruh wajah Lisa. Dan kembali lagi menautkan bibirnya. Lisa yang sudah terbuai dengan cumbuan Dalfi, tak terasa sudah meletakkan tangganya dipundak Dalfi dan sedikit meremasnya. Lisa mulai pintar mengimbangi dan membalas sentuhan dari suaminya. Lisa yang semula menolak ciuman Dalfi kini mulai menikmatinya secara perlahan.


Tangan Dalfi yang semula berada dipinggang sudah berpindah berada dibelakang leher Lisa. Menekannya lembut agar semakin memperdalam ciuman mereka.


Ketika Lisa mulai terengah-engah, Dalfi berhenti sejenak untuk menatap Lisa dan memberikannya ruang untuk mengambil nafas.


"Sayang, ambil nafas! Kan jadi lucu, kalau kamu sampai pingsan karena ciuman" ledek Dalfi sambil terkekeh. "Aduh." Dalfi meringis karena cubitan Lisa di perutnya.


Tanpa menunggu persetujuan Lisa, Dalfi sudah sibuk melanjutkan kegiatannya yang terhenti tadi. Lisa yang juga menikmatinya kini hanya pasrah dengan setiap belaian manja suaminya.


"Mas, sudah hentikan!" Lisa mendorong tubuh Dalfi.


"Kenapa?"


"Malu kalau ada yang melihat" ucap Lisa dengan wajah semerah buah tomat.


Sesaat seperti tersadar, pikirannya mengatakan tidak tetapi hatinya mengiyakan setiap sentuhan Dalfi. Dilema melanda, saat bibir suaminya berhasil membuatnya mendesir.


"Kalau begitu kita lanjutkan dikamar saja!" ucap Dalfi sambil mengedipkan matanya menggoda Lisa.


Dalfi yang sudah berdiri, bersiap menggendong Lisa naik keatas.


"Mas, turunkan! Aku bisa jalan sendiri!" sahut Lisa.


"Biar cepat sampainya" tukas Dalfi.


Disaat mereka sedang berdebat, suara deheman berhasil membuat keduanya menoleh.


"Ehem.. ehem! Kalian ini! Ini masih siang, Fi" sindir Ibu yang baru saja masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2