
"Hah, Lamanya.. kenapa mesti mengantri?" gerutu Dalfi didalam hati.
Dalfi dan Lisa sedang duduk didepan apotek rumah sakit, menyerahkan resep dan menunggu giliran nama Lisa dipanggil oleh apoteker untuk mengambil obatnya.
"Mas, senyum dong! Nggak ikhlas ya?" goda Lisa. Menoel dagu Dalfi dengan jari telunjuknya, sambil tertawa terkekeh menutup mulut.
Setelah tiga puluh menit menghabiskan waktunya untuk berkonsultasi dengan Dokter Willy, kini Dalfi sedang menunggu racikan resep obat yang diberikan dokter tadi. Duduk bersama dengan beberapa pasien yang lainnya, yang sama-sama sedang mengantri.
"Ikhlas, ikhlas!" sahut Dalfi lirih, mengusap dada, dan memaksakan bibirnya untuk tersenyum lebar.
Lisa cekikikan, karena berhasil mengerjai Dalfi. Ditambah lagi melihat Dalfi yang meradang menahan emosi, karena sudah lebih dari satu jam nama Lisa belum juga dipanggil.
"Sayang, Ayo kita pulang saja! Kita kan bisa memakai jasa delivery seperti biasanya," rengek Dalfi membujuk Lisa. Menyandarkan kepalanya dipundak istrinya.
"Aku kan memang sengaja, Mas! Sudah lama aku nggak pergi jalan- jalan keluar rumah," tangan Lisa mengusap puncak kepala Dalfi, yang bersandar di bahunya. "Ini sudah termasuk cepat hlo, Mas! Dulu waktu Lisa nemenin Ibu berobat, kadang bisa sampai berjam-jam kita berada dirumah sakit, mulai dari awal mendaftar sampai mengambil resep obat."
"Iyaaa, tapi Mas bosan!"
"Mas bosan ya nemenin aku?" sahut Lisa cepat.
Dalfi yang kaget mendengarkan perkataan Lisa, cepat-cepat mendongakkan kepalanya. Takut jika Lisa salah menafsirkan ucapannya tadi, dan berujung pada perubahan mood Lisa.
"Bukan itunya, Sayang! Mas nggak akan pernah bosan bila itu bersamamu. Tapi Mas bosan kalau harus menunggu lama, terlebih lagi dirumah sakit. Belum lagi bau obatnya ini, huffttt." Protes Dalfi.
Dalfi mencurahkan segala keluh kesahnya, kepalanya agak terasa pusing karena mencium bau rumah sakit yang memiliki wewangian yang khas.
"Sebentar lagi, Anggap saja ini kencan pertama kita, aku ingin menghabiskan banyak waktu berdua bersamamu," ucap Lisa malu. Menautkan kedua tangannya ke lengan Dalfi.
"Ya Ampun, Sayang! Tapi kan nggak harus dirumah sakit juga!"
Lisa hanya bisa tertawa terbahak, "Sama aja, Mas! Yang penting kan sama kamu!"
__ADS_1
Dalfi serasa terbang ke awan mendapatkan gombalan dari Lisa. Perasaan bosan yang memenuhi isi kepalanya, Tiba-tiba menguar menghilang ke udara. Wajahnya kini merona merah, seperti seorang anak gadis yang baru saja, menerima pernyataan cinta.
"Khalisa Almira?" namanya di panggil petugas yang berada dibalik kaca.
Dalfi berdiri, melangkahkan kakinya kedepan. Dengan senyuman lebar tanpa beban lagi, mendengarkan penjelasan apoteker tentang dosis dan tata cara aturan meminumnya. Sesekali menoleh kebelakang, melihat kerah Lisa yang juga sedang memperhatikan dirinya.
Melemparkan senyuman bahagia, sebelum kembali fokus dengan obat yang dibawanya. Setelah selesai, Dalfi mengeluarkan kartu untuk membayar tagihan. Sambil menunggu kartunya dikembalikan, Dalfi nampak membuka ponselnya, mengetikkan beberapa balasan pesan singkat.
"Ayo, Sayang! Ini vitamin dan obatmu!" ucap Dalfi, mengulurkan salah satu tangannya, membantu Lisa berdiri.
"Terima kasih, Mas!"
Cup
Dengan sedikit berjinjit, Lisa mencium lembut pipi Dalfi sebagai ungkapan rasa sayangnya. Sedangkan Dalfi yang mendapat kecupan mendadak, langsung tersipu malu. Pasalnya interaksi keduanya tak luput dari pandangan beberapa pasien yang melihat tingkah keduanya.
"Kok Mas merinding ya kalau kamu jadi agresif begini!" setengah berbisik ke telinga Lisa.
Lagi-lagi Lisa hanya bisa mengulum senyuman malunya, sambil melingkarkan tangannya ke lengan Dalfi, berjalan menuju ke tempat parkir.
"Katanya mau menghabiskan waktu berdua," Dalfi mengerlingkan matanya menatap Lisa.
"Tapi, Mas, Inikan udah masuk jam makan malam. Kasihan Ayah dan Ibu kalau terlalu lama menunggu kita?" Jam menujukan hampir pukul tujuh malam ketika mereka keluar dari rumah sakit.
"Nggak apa-apa! Aku sudah memberitahu Ibu tadi kalau kita akan pulang terlambat!" masih fokus mengemudikan mobilnya.
Selang beberapa menit kemudian, mobil Dalfi berhenti didepan sebuah butik ternama. Cahaya lampu yang terang, menyinari beberapa patung didalam etalase. Patung-patung itu dipakaikan baju koleksi hasil dari rancangan designer mereka. Seorang pegawai wanita terlihat berlari kecil, menyambut kedatangan Dalfi dan Lisa yang baru saja turun dari mobil.
"Selamat malam, Tuan! Silahkan ikuti saya!" sapa pegawai itu menganggukkan kepalanya. Kemudian menuntun Dalfi dan Lisa untuk masuk kedalam. "Kami sudah menyiapkan pesanan anda."
Lisa hanya menurut saja, mengikuti langkah Dalfi yang menggandeng tangannya untuk masuk. Didalam ruangan terdapat beberapa rak gantungan baju, dan lemari kabinet yang memajang tas dan sepatu dari berbagai merk, tak lupa aksesoris dan pernak pernik juga tersedia lengkap ada didalamnya.
__ADS_1
"Ini Tuan! Beberapa model baju seperti yang Anda minta tadi, sesuai dengan size yang Anda sebutkan!" pegawai itu menunjukkan beberapa potong baju yang tergantung di hanger.
Dalfi mendekat kearah stand hanger, tangannya sibuk memilah dan memilih beberapa potong baju, dan dipas kan ke badan Lisa.
"Aku mau yang ini, ini dan ini!" Dalfi memberi perintah kepada pegawai wanita itu. Menunjuk beberapa potong baju untuk dibawa.
"Silahkan, Nona! Kita keruang ganti!" mengajak Lisa untuk mengikutinya. Baju yang ditunjuk Dalfi tadi, kini sudah berpindah ketangannya.
Dalfi hanya mengibaskan tangannya ketika Lisa melirik kearahnya. Sudah ikuti saja pegawai itu, begitu Dalfi mengartikan isyarat tangannya.
Lisa mengganti pakaiannya dengan baju yang dipilih Dalfi tadi. Setelah beberapa kali bolak balik ke ruang ganti, hingga lima kali Lisa berganti baju, baru baju keenam Dalfi mengacungkan ibu jarinya tanda setuju. Setelah merasa cocok dengan dengan model bajunya, serta aksesoris yang digunakan Lisa.
"Tolong rias dengan make up yang tipis saja!" kata Dalfi sambil menunjukkan foto didalam majalah yang dipegangnya. Dalfi ingin istrinya dirias seperti model di majalah itu.
"Baik, Tuan!" jawab pegawai itu patuh.
"Mas, kita mau kemana sih?" tanya Lisa akhirnya setelah lelah dengan drama ganti baju. Dan sekarang harus menuruti perkataan Dalfi untuk merias wajahnya.
"Sudah ikuti saja! Aku nggak suka bau rumah sakit, makanya kita harus ganti baju sesegera mungkin!" terang Dalfi sedikit berbohong.
"Tapi kan bisa ganti dirumah saja, dan juga ini..!" menunduk menunjuk baju yang sedang dipakainya. "Terlalu mahal harganya," bisik Lisa ditelinga Dalfi.
"Ssssttt, sudah sana!" menempelkan jari telunjuknya kemulut Lisa, mendorongnya untuk segera mengikuti pegawai wanita yang sejak tadi menunggu.
Lagi-lagi Lisa hanya pasrah menuruti kemauan suaminya. Lisa pergi ke ruang make up, sedangkan Dalfi pergi ke ruang ganti untuk bertukar baju.
Para pegawai dengan cekatan merias wajah Lisa, memoleskan bedak dan lipstik dengan warna tidak terlalu mencolok. Satu orang bertugas merias nya dan dua orang lainnya menata rambutnya.
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk merias wajah, akhirnya Lisa keluar dari ruang make up. Lisa yang memakai dress selutut warna gold khaki dengan rambut yang disanggul modern, merasa sedikit kikuk saat Dalfi menatapnya tanpa mengedipkan matanya sedikit pun.
"Mas, aku malu jika kau terus menerus menatapku seperti itu . Ada yang aneh ya?" tanya Lisa ragu.
__ADS_1
"Kau cantik sekali, Sayang!" ucap Dalfi menempelkan bibirnya ke telinga Lisa, berbicara dengan setengah berbisik ditelinga.
Kembali tersenyum menatap Lisa, kemudian membuka kotak perhiasan, dan memasangkan seuntai liontin keleher Lisa.