Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 23 Sedikit Rahasia


__ADS_3

Dirumah utama, diwaktu yang sama.


"Ayo, Non! Sedikit lagi. Nona pasti bisa!" sorak Kak Rika menyemangati Lisa yang sedang menjalani terapinya.


Dengan tertatih-tatih, Lisa menggerakkan kakinya, pelan tapi pasti. Kak Sita yang berdiri di belakang Lisa, selalu siap siaga jika tiba-tiba Lisa terjatuh.


Seperti seorang bayi yang sedang belajar berjalan, Selangkah, dua langkah, Lisa berusaha dengan sekuat tenaganya. Peluhnya yang menetes beradu cepat dengan nafasnya yang ngos-ngosan.


"Sudah, Non! Jangan terlalu dipaksakan dulu. Ayo, kita duduk, istirahat sebentar," lirih Kak Sita yang sedang memegangi tongkat.


"Sebentar lagi ya, Kak!" pinta Lisa.


"Wah, Nona Lisa memang sangat bersemangat jika menyangkut soal terapi," ucap Kak Rika memuji.


Sambil tersenyum, dan terus melangkahkan kakinya pelan. "Aku ingin segera bebas dari tongkat itu, Kak. Rasanya sungguh tak mengenakan jika terus menggunakan tongkat. Dan juga, aku sudah terlalu merepotkan banyak orang," gumam Lisa dengan wajah sendu.


"Siapa yang bilang jika kamu selalu merepotkan." Bu Rini yang tiba-tiba datang dari pintu samping, menyahut ucapan Lisa dengan nada sedikit ketus.


"Selamat siang, Nyonya!" ucap Kak Rika dan Kak Sita hampir bersamaan.


Bu Rini hanya tersenyum dan melirik sekilas, menanggapi ucapan salam dari para perawat.


"Ibu, tumben cepat sekali pulangnya. Sudah selesai arisannya?" tanya Lisa sopan.


Menghampiri Lisa dan mencium kedua pipinya. "Ibu pulang duluan tadi, bosan. Ayo, kita duduk dulu, Sayang!" sembari menggandeng tangan menantunya menuju tempat duduk.


"Bagaimana kemajuan terapinya?" tanya Bu Rini kepada kedua orang perawat, yang berdiri disamping Lisa.


"Kemajuannya berkembang sangat pesat. Biasanya untuk kasus seperti Nona Lisa, membutuhkan waktu sekitar 3-6 bulan baru bisa berjalan dengan normal," ucap Kak Sita menerangkan.


Seperti seorang karyawan yang sedang melaporkan hasil pekerjaannya kepada sang atasan. Kedua perawat itu, memberikan penjelasan secara gamblang dengan rincian sedetail mungkin.

__ADS_1


'Tapi baru beberapa minggu menjalani terapi, Nona Lisa sekarang sudah berani berjalan tanpa tongkat, walaupun masih sangat pelan," sambung Kak Rika.


"Jangan terlalu dipaksakan dulu, Sayang! Jika memang masih sakit untuk berjalan, istirahatlah dulu," nasihat Bu Rini sambil menggenggam tangan Lisa.


"Iya, Bu!" terharu karena mendapat kasih sayang yang luar biasa dari mertuanya.


" Lisa bisa, kan, ikut menemani Ibu pergi kesetiap acara? Tapi, nanti kalau kamu sudah benar-benar pulih. Pasti sangat menyenangkan jika mengajakmu," ucap Bu Rini senang. Membayangkan akan memamerkan menantunya kepada teman-temannya.


"Tapi, Maaf! Apakah Ibu tidak malu jika pergi denganku?" Lisa sedikit ragu dengan pertanyaannya.


"Kenapa mesti malu, Sayang?"


"Ibu kan tahu sendiri, bagaimana latar belakang keluarga Lisa. Saya berasal dari keluarga miskin, yang pendidikannya hanya tamat sampai SMA. Fisik saya pun, jauh dari kata cantik dan sempurna. Tidak ada yang bisa ibu banggakan dihadapan teman- teman ibu," ucap Lisa frustasi.


Lisa selalu mengingatkan dirinya sendiri tentang perbedaan status sosialnya itu. Bagaikan langit dan bumi, terlalu jauh untuk bisa disatukan.


"Ibu sudah menyayangimu, layaknya seorang ibu yang sayang dengan anak kandungnya sendiri. Entah mengapa sejak pertama kali melihatmu, ada perasaan aneh yang menyelinap dihati ibu. Rasa ingin bertemu, memeluk dan memandangi wajahmu setiap harinya." Ucap Ibu dengan mata berkaca-kaca, tak terasa bulir airmata menetes dipipi Ibu.


"Lho, Ibu kenapa menangis? Maafkan, Lisa, jika membuat Ibu sedih," Lisa merasa tak enak hati karena membuat mertuanya menitikkan air mata.


Lisa hanya menggelengkan kepalanya.


"Pertama Ibu merasa marah, karena Ibu kira Dalfi sudah berbuat macam-macam kepadamu," Ibu senyum-senyum sendiri mengingat kejadian waktu itu.


"Maksud Ibu?" sahut Lisa penasaran.


"Ya, Ibu mengira jika Dalfi sudah membuatmu hamil duluan," ucap Ibu sambil mengisyaratkan tangannya, menyuruh kedua perawat untuk ikut duduk.


"Hah, apa yang membuat Ibu berpikir seperti itu?" Lisa semakin penasaran.


"Ibu tahu betul bagaimana sifat Dalfi. Dia hanya akan melabuhkan hatinya pada satu wanita saja. Bisa dibilang, cukup susah kalau mau menaklukkan hati Dalfi. Dia itu tipe orang yang setia dan juga tidak mudah untuk jatuh cinta. Dan bagi kami, pernikahan itu adalah sakral, bukan ajang untuk permainan. Makanya Ibu agak heran saat Dalfi bilang akan menikahimu."

__ADS_1


Ibu mengangkat gelas teh, dan meminumnya perlahan.


Gestur yang ditunjukkan oleh Ibu, terlihat sangat anggun dan elegan. Dari cara berbicara dan juga sikapnya sangat tertata dengan rapi. Pakaian dan perhiasan yang dikenakan juga tidak tampak mencolok, tapi sangat terlihat mahal dan berkelas.


"Bagaimana aku tidak minder, dari cara Ibu menyeruput teh saja, sudah sangat berbeda level denganku," batin Lisa.


"Kalau Ibu boleh bilang, yang terpenting adalah hatinya. Kalau soal fisik dan pendidikan, gampang, itu semua bisa diatur," timpal Ibu sembari menjentikkan jarinya.


Dari tadi Lisa hanya tersenyum kikuk mendengar penjelasan Ibu. Ada sedikit perasaan yang mengganjal, hatinya diliputi rasa bersalah.


"Dalfi itu, dari remaja sampai sekarang, berpacaran hanya dengan Vania seorang, eh..," Ibu menutup mulut menggunakan telapak tangannya, ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Tidak apa-apa, Bu! Lanjutkan saja, Aku ingin mendengarnya juga," sahut Lisa.


"Dalfi adalah tipe yang disukai banyak wanita, selain ramah dan supel, dia juga pandai bergaul," Ibu melanjutkan ceritanya. "Dulu waktu masih kuliah, Ibu sampai kewalahan menolak kado yang diberikan oleh para fans nya."


"Fans?" selidik Lisa.


"He'em, Dia punya fansclub. Kalau nggak salah, apa ya namanya, Ibu sedikit lupa," sambil mencoba mengingat kembali. "Oh ya, kalau nggak salah namanya Fiata Lovely, Hahahaha," Ibu tergelak.


"Hahahahha, Fiata Lovely," Lisa ikut tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Kok sekilas mirip nama...."


"Iya, Ibu tahu, seperti nama apa, tidak usah kau teruskan," kelakar Ibu.


Apakah yang terlintas dibenak Lisa sama dengan apa yang dipikirkan Ibu? Entah, siapa yang tahu. (Hanya author yang tahu hihihi)


"Iya,makanya Lis, kamu jangan merasa tidak pantas ataupun tidak serasi bersanding dengan Dalfi. Dari sekian banyak wanita, tetapi nyatanya kamulah yang terpilih menjadi istrinya." Ibu mencoba meyakinkan menantunya.


"Tapi, bukankah dulu Ibu sangat menyukai Vania? Ibu pasti sudah mengenalnya, kan?" tanya Lisa penuh selidik. Dalam benaknya, tidak mungkin jika ibu tidak mengenal mantan calon mantunya itu.


"Tentu saja! Tapi dikeluarga kita, sangat menjunjung tinggi arti dari kesetiaan. Jangan sampai bayang-bayang pengkhianatan dimasa lalu, mengganggu masa depan kita yang belum dijalani." Kata Ibu.

__ADS_1


Lisa hanya mangut-mangut mendengarkan. Sangking banyaknya topik yang mereka bicarakan, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore.


"Ah, sial! Kenapa telingaku berdengung terus dari tadi!" kesal Dalfi didalam kamar hotel. Rencana tidur siangnya menjadi terbengkalai.


__ADS_2