Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 38 First Dinner


__ADS_3

"Mas, kita mau kemana?" tanya Lisa penasaran.


Mereka bergandengan tangan keluar dari butik, menuju kearah mobil yang sudah terparkir didepan butik.


"Kencan!" singkat, padat dan jelas jawaban Dalfi. Tangannya membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Lisa untuk naik. Menutup pintu mobil dengan hati-hati, dan berlari mengitari kap mesin menuju pintu sebelahnya.


"Tapi ini kan nggak seperti orang mau pergi berkencan!" lanjut Lisa saat Dalfi sudah menutup pintu mobilnya. "Jika seperti ini, aku merasa kita seperti akan menghadiri undangan pesta pernikahan." Mengusap kain bajunya yang terasa lembut bersentuhan dengan telapak tangannya.


"Memang kalau berpakaian bagus hanya boleh untuk menghadiri pesta saja! Aku ingin membuat kencan pertama kita ini, sebagai moment yang tak akan pernah terlupakan untukmu!" ucap Dalfi sambil meraih punggung tangan Lisa dengan salah satu tangannya, menciumnya dengan lembut dan di genggamnya erat didepan dada.


Dengan senyuman yang masih mengembang, Dalfi menghidupkan mesin dan mengemudikan mobilnya meninggalkan area butik. Bersatu, membaur bersama para pengendara lainnya di jalan raya, menuju ke tempat berikutnya.


Setelah berperang dengan kemacetan, kini mobil Dalfi sudah sampai didepan lobby sebuah restoran mewah. Masih dengan menggandeng tangan Lisa, mereka berdua masuk kedalam restoran setelah menyerahkan kunci mobil pada petugas vallet.


"Mas.. " Lisa menyenggol lengan Dalfi. "Kapan Mas nyiapin ini semua?"


"Jika ada Sekretaris Kim, semua urusan pasti beres," menepuk-nepuk punggung tangan Lisa yang melingkar di lengannya.


Lisa sudah dibuat terpana, saat pertama kali menginjakkan kakinya didepan lobby. Pelayan dengan pakaian jas serba hitam nampak membungkukkan badannya memberi salam, kemudian mempersilahkan masuk dan langsung mengantarkan keruangan yang sudah dipesan terlebih dahulu.


Restoran mewah yang mereka kunjungi memiliki konsep fine dinning, yang menyajikan masakan khas italia. Lampu-lampu kristal nampak menggantung dilangit- langit restoran, mengeluarkan cahaya yang temeram. Meja makan yang dihiasi vas bunga dan cahaya lilin turut memberikan kesan yang romantis. Ruangan yang dipesan oleh Dalfi adalah ruangan private bernuansa semi indoor, dengan kaca jendela yang menjulang tinggi, dengan sangat jelas menampakkan keadaan hiruk pikuk jalan raya dari lantai 20.


Pelayan keluar dari ruangan, setelah menuangkan air putih kedalam gelas. Lisa yang tidak biasa makan di restoran mewah, hanya bisa terpaku sekaligus kagum dengan pelayanan yang didapatkannya. Pemandangan yang tersaji didepan matanya pun, tak kalah menarik perhatiannya.


"Mas, ini kenapa banyak sekali?" Lisa bertanya kepada Dalfi, saat melihat piring yang bertumpuk didepannya dengan berbagai jenis sendok yang tersusun rapi disamping piring.


Dalfi hanya tersenyum melihat Lisa yang keheranan. Belum sempat Dalfi menjawab, dua orang pelayan sudah masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan langsung menyajikannya kedalam piring.


"Silahkan Tuan dan Nona! Ini hidangan pembuka arancini spesial menu restoran kami!" ucap pelayan setelah mempersilahkan menikmati hidangan, kemudian undur diri.


Lisa hanya diam memperhatikan isi piring didepannya yang berisi dua buah makanan berbentuk bulat berwarna coklat yang digoreng garing seperti bakso.

__ADS_1


"Mas, apa ini?" Lisa bertanya.


Dalfi tidak menjawab pertanyaan Lisa, dia hanya mengambil garpu dan menyucuk makanan.


"Aaa.. " ucap Dalfi yang memegang garpu dan mengarahkan ke mulut Lisa. "Enak kan?" tanya Dalfi setelah makanan itu berpindah ke mulut Lisa.


"Eh'em enak," menganggukan kepala dengan mulut terus mengunyah. "Tapi kenapa pelit sekali! Kita hanya diberi dua biji saja ya?" tanya Lisa sedikit norak.


"Hahaha, kamu suka ya? Nanti kita akan pesan lagi untuk dibawa pulang!" tanganya mengambil makanan dan disuapkan ke mulut Lisa lagi.


Beberapa menit kemudian, pelayan kembali masuk beberapa kali dengan membawakan hidangan yang berbeda-beda. Mulai dari makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup.


Lisa yang mendengarkan penjelasan pelayan, hanya mangut-mangut dengan senyuman yang agak sedikit canggung. Karena nama makanan direstoran itu, agak terdengar aneh di telinganya.


"Hah,,apalagi ini, Piccota, risotto, Ricotta, rigatomi, panacotta. Ternyata banyak juga jenisnya," gumam Lisa dalam hati, sambil memperhatikan pelayan yang cekatan menyajikan makanan.


Diiringi alunan musik yang merdu, Dalfi dan Lisa menghabiskan makan malam dengan diselingi obrolan ringan dan tawa cekikikan mereka berdua. Terlebih Lisa yang menertawakan dirinya sendiri, karena malu dengan sikapnya yang tak tahu apa-apa tentang hal baru ini.


"Nanti Mas akan sering-sering mengajakmu makan malam diluar seperti ini," Dalfi mengusap saos yang tertinggal diujung bibir Lisa dengan tangannya.


"Boleh.. boleh.. tapi mungkin nggak perlu ke restoran mewah seperti ini. Enak sih tapi maaf, agaknya lidahku kurang cocok dengan makanan yang seperti ini," ungkap Lisa tersenyum.


"Nggak apa-apa, nanti kamu juga akan terbiasa!" jawab Dalfi.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Karena begitu menikmati suasana restoran dan alunan musik, waktu menjadi begitu cepat berlalu.


"Ayo kita pulang, sudah hampir tengah malam!" ajak Dalfi. Memanggil pelayan dan meminta bill tagihan.


"Ini Tuan tagihannya!" kata pelayan sambil menyodorkan bill.


Dalfi memberikan kartunya kepada pelayan tanpa melihat isi yang tertulis didalam kertas yang disodorkan oleh pelayan tadi. Setelah selesai menggesek kartunya, pelayan tersebut mengembalikannya kepada Dalfi.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan! Semoga Anda puas dengan pelayanan kami," ucap pelayan sambil membungkukkan badannya.


Lisa yang sekilas melirik bill tagihan yang berada di samping tangan Dalfi, melongo kaget dengan total tagihannya. "Ya ampun! Udahlah mahal, makanannya pun cuma sedikit," gumam Lisa dalam hati.


"Sayang!" ucap Dalfi sambil mengulurkan tangannya.


Lisa menganggukkan kepala dan menyambut uluran tangan Dalfi. Mereka keluar dari restoran diantar oleh salah seorang pelayan yang membawakan sebuah goodie bag, sampai kedepan pintu mobil.


"Terima kasih," Lisa tersenyum sambil menerima bingkisan yang dibawa pelayan tadi.


"Apakah kau senang?" Dalfi bertanya.


Karena sudah larut malam, jalanan yang mereka lewati tidak terlalu ramai seperti tadi. Tetapi juga belum terlalu sepi, untuk kota besar seperti kota X ini.


"He'em aku cukup senang. Ini pengalaman baru bagiku, makan ditempat mewah seperti tadi," menjawab ucapan Dalfi, akan tetapi matanya sibuk melihat ke sekitar jalan yang mereka lewati.


"Maaf jika aku membuat Mas malu dengan sikap norakku!" lanjut Lisa lirih.


Dalfi hanya terkekeh menanggapi ucapan Lisa, dengan salah satu tangannya, dia mengacak-acak rambut Lisa.


"Mas...!" panggil Lisa sedikit ragu.


"Hmm, kenapa sayang?"


"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Lisa sambil memeluk manja lengan Dalfi.


"Aku suka jika kamu mau bermanja-manja seperti ini! Tentu saja boleh, apapun yang kamu mau, sebisa mungkin akan Mas wujudkan!" ungkap Dalfi.


"Aku.. aku lapar! Ayo kita berhenti dulu!" sahut Lisa dengan cepat.


Dalfi tergelak melihat ekspresi Lisa yang sudah memegangi perutnya.

__ADS_1


__ADS_2