Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 22 Hari yang menyebalkan 2


__ADS_3

"Maaf, Tuan! Bagaimana dengan pelaku utama dari kasus korupsi ini?" dengan tergagap salah seorang memberanikan diri untuk bertanya.


"Kalian tidak perlu memikirkannya. Orang itu akan menerima hukuman yang setimpal," sahut Dalfi.


Sekilas melirik Sekretaris Kim yang berdiri disampingnya.


"Jika ada masalah lagi, silahkan ajukan pengaduan kepada Sekretaris Kim." Beranjak dari tempat duduknya dan segera meninggalkan ruang meeting tanpa berpamitan.


Kini rapat dipegang oleh Sekretaris Kim. Memilih tetap dalam posisi berdiri, karena tidak ingin berlama-lama diruangan itu. Badan serta otaknya sudah sama-sama ingin beristirahat.


"Silahkan angkat tangan jika masih ada yang keberatan dengan keputusan Tuan Dalfi," tukas Sekretaris Kim mengambil alih pembicaraan.


Semuanya nampak diam menundukkan kepala, tanpa ada yang berani mengangkat wajahnya.


"Saya rasa, kebijakan Tuan Dalfi dalam memutuskan masalah ini, sudah sangat tidak memberatkan kalian. Mengingat jika kasus ini dilimpahkan ke pihak yang berwajib, kemungkinan besar kalian akan mendekam dipenjara," lanjut Sekretaris Kim.


Matanya memandang satu persatu orang yang duduk dihadapannya dengan tatapan penuh selidik. Menghembuskan nafas kasar, sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Pihak perusahaan juga tidak akan menuntut ganti rugi. Kalian tahu sendiri berapa banyak dana yang sudah digelontorkan untuk proyek ini. Maka dari itu, tunjukkanlah dedikasi kalian pada perusahaan. Dengan kata lain, tebuslah kesalahan ini dengan meningkatkan kredibilitas perusahaan menggunakan prestasi kalian," ucap Sekretaris Kim.


Mengedarkan pandangan keseluruh ruangan.


"Baiklah kalau begitu, jika tidak ada lagi yang ingin disampaikan, saya pamit undur diri. Selamat siang!" membereskan peralatannya dan menuju keluar.


Baru saja pintu tertutup, terdengar desas desus ribut dari ruangan meeting. Persis suara tawon yang mengerubungi sarangnya.


"Ish, tadi ditanya nggak ada jawaban, nggak ada suara. Giliran sudah keluar pada ribut sendiri," batin Sekretaris Kim.


******


Dalfi yang sudah sangat lelah, merasakan kepalanya sedikit berdenyut. Bukan hanya karena urusan pekerjaan, tetapi juga karena cuaca panas yang sangat menyengat disiang hari ini.


Angin yang berhembus pun seakan tidak mengeluarkan hawa dingin, justru menebarkan hawa panas disertai dengan debu yang berterbangan.


Karena terlalu lama menunggu Sekretaris Kim di lobby, akhirnya Dalfi memutuskan untuk kembali ke hotel terlebih dahulu.


"Pak, bisa antarkan saya kembali ke hotel?" tanya Dalfi pada salah seorang security yang sedang berjaga.


"Oh, tentu bisa, Pak! Tapi maaf, Pak, kalau naik motor, boleh?" ucap security itu agak ragu.


"Nggak apa-apa, Pak! Malah lebih cepat sampai. Pakai motor kamu ya?" sahut Dalfi.

__ADS_1


"Iya, Pak! Atau kalau Bapak mau, saya bisa pesankan taxi online saja. Kasihan Bapak kalau naik motor, nanti kepanasan," security itu mencoba memberi penawaran.


"Sudah naik motor saja. Bawa sini helm nya!" perintah Dalfi.


Security itu mengambil helm dari laci dan menyerahkannya kepada Dalfi. Kemudian menghambur ke parkiran untuk mengambil motornya.


"Nanti tolong beritahu kepada Sekretaris Kim, kalau saya kembali ke hotel. HP saya habis baterai jadi tidak bisa memberi tahunya," ucap Dalfi berpesan pada security yang lainnya.


"Baik, Pak!" sambil menganggukan kepalanya.


Lima belas menit mengendarai motor, akhirnya tiba juga didepan lobby hotel.


"Terima kasih!" ucap Dalfi sambil melepaskan helmnya. "Ini untukmu, jangan lupa dibagi dengan temannya tadi," menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah kepada security.


"Wah, saya yang harusnya mengucapkan terima kasih, Pak!" wajahnya sumringah saat menerima uang.


"Saya permisi dulu," Dalfi berlalu masuk kedalam lobby hotel.


Saat akan melangkahkan kakinya menuju lift, tiba-tiba saja Dalfi mengurungkan niatnya itu.


"Ah, jika aku langsung masuk kamar, pasti nanti langsung tertidur." Batin Dalfi.


"Oh, tentu Pak, Silahkan!" jawab resepsionis dengan sopan sambil menyerahkan sebuah charger.


Dalfi memilih tempat duduk disebelah jendela yang dekat dengan colokan listrik. Setelah memasang charger, Dalfi menyandarkan dagunya diatas meja. Tangannya dipakai sebagai bantalan. Berniat ingin menghubungi Lisa.


Akan tetapi, sampai tiga kali Dalfi menghubungi Lisa, sama sekali tidak ada jawaban dari istrinya itu.


"Ah, mungkin dia sedang berada didalam kamar mandi. Baiknya, Aku kembali kekamar saja." Batin Dalfi.


Dalfi kemudian mencabut colokan charger, dan menggeser kursi dengan tanganya, beranjak dari tempatnya duduk. Tiba-tiba seseorang datang dan memeluknya dari arah belakang.


"Sayang, Aku kangen kamu! Ternyata kamu disini rupanya," ucap Vania sambil melepaskan pelukannya dan mencium pipi Dalfi.


Dalfi yang tersentak, spontan mendorong tubuh Vania agar menjauh darinya.


"Ngapain kamu disini! Kamu membuntuti aku!" cerca Dalfi.


"Tidak, Sayang! Kebetulan aku ada pekerjaan disini. Aku ada beberapa pemotretan dan juga fashion show untuk brand lokal," ucap Vania yang sudah melilitkan tangannya di lengan Dalfi. "Beberapa hari yang lalu, aku datang kekantor. Tetapi mereka selalu mengatakan bahwa kau tidak ada dikantor. Wah ternyata, memang kalau sudah jodoh tak akan lari kemana," ucap Vania manja.


"Kita sudah tidak ada hubungan apapun. Jadi jangan coba-coba mencariku lagi. Atau kau akan tahu apa akibatnya," ucap Dalfi dengan nada mengancam. Melepaskan lilitan tangan Vania secara paksa.

__ADS_1


Dalfi melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Vania, mengembalikan charger kemudian menuju lift.


"Sayang, tunggu dulu!" teriak Vania.


Suara Vania yang cukup keras, berhasil mencuri perhatian beberapa orang yang sedang lalu lalang di lobby. Sedangkan Dalfi yang tidak menggubris panggilan Vania, langsung masuk kedalam lift.


"Aku harus melakukan sesuatu untuk membuatmu kembali." Batin Vania sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.


Dengan tergesa-gesa Vania menghampiri meja resepsionis.


"Mbak, bisakah saya meminta nomor kamar Tuan Dalfi Winata?" tanya Vania sopan.


"Maaf, Nona! Itu sudah melanggar peraturan dari hotel kami," tolak resepsionis secara halus.


"Tapi saya ini tunangannya," cetus Vania berbohong.


"Maafkan kami, Nona! Jika memang anda tunangannya, mengapa Anda tidak menghubungi nomor ponsel Tuan Dalfi," resepsionis berusaha bersikap profesional.


Vania mendengus, ingin rasanya meluapkan amarah dengan menjambak wanita yang berdiri dibalik meja itu.


"Baiklah kalau begitu!" menghela nafasnya.


Vania mendekatkan tubuhnya kemeja resepsionis, dan memanggil petugas itu untuk mendekat.


"Mbak, sini dulu deh!" Vania membisikkan sesuatu ditelinga resepsionis.


Resepsionis yang mendengar dengan seksama, kembali mengernyitkan dahinya. Bergegas mengambil gagang telepon, dan menelepon managernya.


"Ini, Nona! Kunci cadangan kamar Tuan Dalfi, disitu sudah tertera nomor kamarnya," ucap resepsionis sambil menyerahkan sebuah kartu. Kartu tersebut digunakan untuk mengakses kamar hotel.


"Terima kasih atas bantuannya,Mbak!" ucap Vania tersenyum seraya berlalu dari hadapan resepsionis.


"Ayo, kita istirahat dulu." Vania memanggil temannya yang sedari tadi menunggu di kursi lobby.


Asisten yang mebawa kotak make up berangsur mendekat kearah Vania. Dan seorang temannya lagi, tampak menenteng beberapa baju yang masih terbungkus rapi didalam plastik laundry, ikut mengekor dibelakang Vania.


"Ngomong apa tadi barusan sama mbak-mbak resepsionis?" tanya asisten sella penasaran.


"Rahasia donk! Nanti malam ada tugas untuk kalian berdua," ucap Vania sebelum menghilang dibalik pintu lift.


Sekretaris Kim yang baru saja sampai di hotel, nampak memperhatikan gelagat mantan kekasih Tuannya dengan tatapan penuh tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2