
"Aku ingin memberitahumu sesuatu, dan hal ini cukup mengganggu pikiranku beberapa hari terakhir!" Dalfi mengulangi perkataannya.
Lisa tidak mengalihkan pandangannya sekalipun dari wajah Dalfi. Ditatapnya wajah suaminya, yang terlihat ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Lisa yang tak tahu tentang apa itu, mendadak merasakan jantungnya berdegub dengan sangat cepat.
"Apaan sih, Mas! Kenapa jadi serius banget!" Lisa mencoba mengatur irama detak jantungnya, yang seperti sedang mengadakan parade drum band didalam tubuhnya.
"Memang aku ingin menyampaikan sesuatu yang serius! Aku ingin, kamu mendengarkannya langsung dari mulutku, aku hanya tidak ingin jika orang lain mendahului terlebih dulu. Agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi nantinya!" Dalfi tidak melepaskan genggamannya barang sedetik pun.
Keduanya sama-sama diam sejenak, hanya gemericik air mancur dari pompa kolam ikan yang terdengar di telinga mereka.
"Vania sebelumnya juga pernah datang menemuiku dikantor!" berhenti sejenak, memerhatikan raut wajah Lisa.
"Dia datang untuk meminta maaf dan memintaku menerimanya kembali. Waktu itu dia menciumku, dan aku sempat terbuai dengan cumb*annya. Tapi, untungnya panggilan darimu berhasil menyelamatkan ku dari godaan Vania."
" Panggilan dariku, kapan itu?" potong Lisa heran.
"Saat kau menerima hadiah ponsel dariku!" jawab Dalfi jujur.
Dibenak Lisa langsung terbesit wajah Dalfi yang sedang pucat saat itu.
"Oh,jadi karena itu alasan Mas pulang lebih awal saat itu!"
__ADS_1
"Sebenarnya bukan itu saja, Aku dari awal sudah berniat ingin pulang lebih cepat. Karena aku cemburu melihat lelaki lain memandangmu!" ungkap Dalfi lantang.
"Maksudnya lelaki lain? Kak Ardan?" Lisa tersenyum tipis mendengar pengakuan Dalfi.
Dalfi menganggukan kepalanya.
"Aku minta maaf! Karena saat itu, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak tergoda dengan bujuk rayu Vania." ucap Dalfi memelas
"Mas, kau mau cari mati ya! Ini namanya Mas menggali lubang kubur mu sendiri!" ucap Lisa sengit.
"Maksudnya?" Dalfi bingung mengartikan ucapan Lisa.
"Bukan itu maksudku, Sayang! Aku tahu bagaimana rasanya sakit hati karena dikhianati. Aku hanya tidak ingin kamu memiliki perasaan curiga terhadapku. Aku tidak mau jika aku sampai kehilangan dirimu. Aku berani bersumpah, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya. Mungkin saat itu, aku hanya terbawa suasana!" jari telunjuk dan jari tengah Dalfi sudah terangkat membentuk huruf V.
Lisa mendengus kesal, mendengarkan penjelasan Dalfi.
"Alasan! Bilang saja jika Mas memang menikmatinya!" wajah cemberut kembali terukir.
"Jika seperti itu, Aku tidak menyalahkan Ratna jika dia menyamakanmu dengan kucing jalanan," batinnya.
"Aku berjanji padamu, Aku bisa membuktikan semua ucapanku!" mengambil ponsel Lisa dan membukanya. "Kau lihat ini! Tidak mungkin, kan, jika Vania sendiri yang mengambil foto ini. Jika kamu mau, aku akan mencari orang itu dan menyuruhnya mengatakan apa saja yang sudah terjadi di apartemen Vania!"
__ADS_1
Lisa memperhatikan dengan seksama foto itu. Dilihat dari sudut pandang pengambilan gambar dan posisi mereka berdua berada, memang tidak memungkinkan jika foto diambil oleh Vania seorang.
"Ya Tuhan! Istri macam apa aku ini! karena terlalu dikuasai perasaan cemburu, aku jadi tidak mempercayai perkataan suamiku sendiri! Dan aku juga sudah gegabah menuduhnya!" sesal Lisa dalam hati.
"Jika kau masih tidak percaya, aku akan memperlihatkan video pengakuan dari resepsionis hotel itu!" Dalfi meletakkan ponsel Lisa dan merogoh kantong celananya.
"Tidak perlu, Mas!" Lisa menahan tangan Dalfi yang akan mengambil ponsel. "Aku percaya dengan ucapan mu! Seharusnya Mas tidak perlu mengkhawatirkan aku, yang perlu Mas Dalfi khawatirkan seharusnya dampak buruk berita itu pada perusahaan!" sahut Lisa.
"Kalau masalah perusahaan, kamu tidak perlu khawatir, Kim masih bisa diandalkan. Tapi, Aku akan sangat khawatir kalau dampak buruknya berkaitan dengan kelangsungan kehidupan rumah tangga kita. Aku akan lebih terpuruk bila kau pergi!" tukas Dalfi.
"Dasar gombal!" ucap Lisa tersenyum. "Tapi ingat Mas, aku masih marah kepadamu!" masih gengsi untuk mengakui jika hatinya sudah luluh.
"Ah, tidak masalah jika kamu masih marah kepadaku. Yang terpenting untukku, kamu harus selalu percaya ucapanku, dibandingkan ucapan orang lain!" Dalfi merasa lega setelah mengatakan semuanya kepada Lisa.
"Terima Kasih, Mas! Dari pertama aku mengenalmu, aku sudah sangat menyukai kejujuranmu!" Lagi-lagi senyuman Lisa mengembang.
"Terus kapan kamu bisa menyukai orangnya? Sayang sekali, orang tampan seperti ku disia-siakan!" ucap Dalfi manja.
Lisa tersenyum getir mendengar ucapan Dalfi, "Capek aku mikirin orang ganteng yang banyak ulahnya, mending aku makan seblak aja, biar tenaga buat marah kembali full lagi," kelakar Lisa sambil membuka bungkusan.
"Silahkan, Tuan Putri! Pelan-pelan saja makannya, ini memang spesial khusus hanya untukmu. Aku tidak akan memintanya!" ucap Dalfi tak henti-hentinya memandangi Lisa yang sedang makan.
__ADS_1