Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 15 Barang Milik Ibu


__ADS_3

Saat Lisa sedang asyik menimang-nimang hadiahnya, terdengar suara deru mesin mobil berhenti didepan rumah. Bu Yayuk datang menjenguk Lisa ditemani oleh Ardan. Kebetulan hari ini Ardan sedang libur. Rencananya Bu Yayuk akan mengantarkan beberapa barang penting yang masih ada dirumah lama Lisa.


Setelah kecelakaan hingga saat ini, Lisa belum pernah pulang kerumahnya sama sekali. Sejujurnya rindunya sudah teramat sangat memupuk didalam dada. Jika menuruti egonya, tentu saja Lisa ingin pergi ke makam ibunya terlebih dahulu. Akan tetapi semua yang dikatakan oleh Dalfi pun tidak ada salahnya juga.


"Assalamu'alaikum, Lis? Bagaimana kabarmu hari ini?" sapa Bu Yayuk setelah dipersilahkan masuk oleh pelayan.


"Waalaikumsalam Baik, Bu!". Membalas pelukan Bu Yayuk. " Kak Ardan, Bagaimana kabarnya? Kemarin Kakak langsung menghilang kemana? Kenapa langsung tak nampak setelah akad selesai?". Lisa membombardir Ardan dengan sederet pertanyaan.


"Oh, itu! Aku hanya berkeliling disekitar rumah ini" jawab Ardan memberikan alasan. "Dimana, suami dan mertuamu?". Sambil celingukan melihat keadaan rumah. Meletakkan beberapa kardus kecil yang dibawanya diatas meja.


" Ayah dan Mas Dalfi pergi bekerja, Sedangkan Ibu ada acara dengan teman-temannya" ujar Lisa menjelaskan.


"Sayang sekali ya, Lis! Rumah sebesar ini nggak ada penghuninya. Kamu pasti kesepian!" ucap Bu Yayuk.


"Ah, nggak kok, Bu! Kan disini ada suster perawat, ada Ratna juga, ada mbak-mbak pelayan, jadi Lisa nggak merasa terlalu kesepian karena ada mereka". Tangan Lisa sibuk membuka bungkusan kardus yang dibawa Bu Yayuk.


"Kakak keluar dulu ya, Lis! Kamu lanjut ngobrol dulu aja sama Ibu!" ujar Ardan.


"Mau kemana, Dan? Hati-hati ini dirumah orang, jangan terlalu kepo!" sahut Bu Yayuk.


"Iya, Bu! Tenang saja! Paling Ardan cuma kedepan saja, Ngobrol sama pak security". Jelas Ardan sebelum berlalu keluar.


Ibu tahu benar jika putranya itu tengah patah hati. Gadis yang dicintainya selama ini, ternyata tidak pernah menaruh hati sedikitpun terhadapnya. Dan sekarang, malah lebih memilih menjadikan seorang pria asing yang baru saja dikenalnya sebagai suaminya.


"Lis, apakah kamu betul-betul bahagia menikah dengan Tuan Dalfi?" selidik Bu Yayuk.


Lisa menatap Bu Yayuk dengan penuh tanda tanya.


"Maaf! Ibu hanya khawatir tentang keadaanmu! Ibu tahu betul dengan sifatmu! Kamu setuju menikah dengannya bukan karena harta, kan?". Bu Yayuk berusaha merangkai perkataannya agar tidak menyinggung Lisa.


" Terima kasih Ibu sudah mengkhawatirkan Lisa! Tapi Lisa baik-baik saja, Bu!". Berusaha menyakinkan Bu Yayuk tentang pernikahannya. "Oh, iya Bu! Sekalian Lisa minta tolong lagi, boleh?"


"Tentu saja, Lis! Kamu sudah seperti anak Ibu, Tidak perlu sungkan seperti ini!" tegas Bu Yayuk.

__ADS_1


Lisa tersenyum bahagia mendengar perkataan Bu Yayuk. Matanya sudah mulai berkaca-kaca jika mengingat semua kebaikan yang sudah diterimanya. Bu Yayuk adalah orang pertama yang selalu ada disaat dia dan ibunya dalam kesusahan. Menolong dengan ikhlas tanpa ada embel-embel mengharapkan imbalan.


"Karena Lisa sekarang sudah tinggal disini, bisakah Ibu membantu mengurus rumah Lisa yang disana?" pinta Lisa.


"Maksudnya?"


"Ibu kontrakan atau sewakan saja rumahnya! Uang kontrakannya biar Ibu yang pegang. Tidak mungkin Lisa akan tinggal disana, sedangkan sekarang Lisa sudah tinggal dengan suami!" terang Lisa sambil menatap bingkai foto ibunya yang dipegangnya.


"Kenapa tidak dijual saja, Lis?"


"Jangan, Bu! Sayang! Rumah itu hasil kerja keras almarhum Ayah dan Ibu. Dirumah itu juga banyak kenangan sudah tercipta. Bila Lisa rindu dengan almarhum Ibu, setidaknya Lisa bisa pergi kerumah itu lagi, walau hanya sekedar bernostalgia!" ucap Lisa sedih.


"Ya sudah! kalau maumu begitu!" sahut Bu Yayuk


Saat sedang asyik mengobrol, datang pelayan membawakan nampan berisi camilan dan minuman. Dengan cekatan menghidangkan isi nampan diatas meja. Bu Yayuk terus memperhatikan pelayan yang memberikan tatapan sinis kepadanya. Sedangkan Lisa sibuk dengan barang-barang milik almarhum ibunya.


"Dasar orang miskin! Nggak pernah masuk rumah orang kaya ya! Baru juga kemarin kesini. Huh! Pasti ada maunya!" batin pelayan itu.


Bu Yayuk yang terus saja memperhatikan gerak gerik pelayan itu, merasa tidak enak hati.


" Lis, Apakah nanti kamu akan tinggal disini selamanya?" akhirnya Bu Yayuk memberanikan diri untuk bertanya.


"Hmm memangnya kenapa, Buk? Lisa juga kurang tahu. Nanti Lisa coba tanyakan sama Mas Dalfi!" sahut Lisa.


Lisa masih sibuk memilah-milah berkas surat-surat penting dihadapannya. Hingga dia menemukan sebuah amplop putih yang masih tertutup rapat bertuliskan namanya. Nampak berat dan sepertinya berisi beberapa lembar kertas didalamnya.


Rasa penasaran mencuat tiba-tiba.


"Apa ini ya? Kok Ibu ada menyimpan surat untukku? Apa mungkin Ibu pernah lupa memberikannya? Tapi, disini tidak ada nama pengirimnya. Siapa juga yang mau bersurat-suratan denganmu, Lis? Ah,lebih baik aku buka saja biar nggak penasaran." Senyum-senyum sendirian mendengarkan suaranya hatinya.


" Lis, kamu kenapa kok senyum-senyum sendiri gitu?" tanya Bu Yayuk sedikit bingung dengan perubahan raut muka Lisa.


"Ah, Maaf! Nggak apa-apa, Bu. Ayo, Buk! Diminum itu jus nya!" pinta Lisa mempersilahkan minum.

__ADS_1


Baru saja tangannya hendak merobek penutup amplop, Hpnya bedering mengeluarkan bunyi yang nyaring.


Tring.. tring


Baru deringan kedua, Lisa sudah menggeser simbol hijau kekanan.


"Hallo, Sayang?" suara Dalfi terdengar serak dari seberang telepon.


"Hallo, Mas! Kenapa? Kok suaranya Mas seperti itu?" tanya Lisa yang curiga dengan suaminya.


"Aku kangen kamu, Sayang! Aku baru saja bangun tidur" jelas Dalfi.


"Tidur? Mas lagi dihotel?" telisik Lisa penuh tanya.


"Nggak lah! Ngapain juga ke hotel, memangnya Mas kurang kerjaan apa?" sungut Dalfi. Dipencet nya ikon video untuk merubah menjadi panggilan video. "Mas lagi dikantor ini!" sambil memutarkan kameranya, memperlihatkan keadaan ruangannya.


"Eh, boleh ya tidur dijam kerja?"


"Kenapa nggak boleh? Ini perusahaan Mas sendiri, jadi suka-suka Mas lah!" ujar Dalfi lagi.


Eh,benar juga ya! Begitukah rasanya kalau bekerja tanpa ada atasan yang mengawasi. Tidak ada yang bisa memerintah kita seenaknya. Tidak ada yang berani memarahi kalau kita berbuat salah. Batin Lisa


"Sayang, kok jadi bengong sih! Lagi mikirin Mas ya?" canda Dalfi.


"Hah, Nggak kok! Lisa cuma pengen cepat-cepat kerja lagi!". Senyum nyengir menampakkan deretan giginya yang rapi. " Sudah ya! Sungkan nih sama Bu Yayuk!".


"Oke, Sayang! Bye!". Pamit Dalfi sebelum memutuskan panggilan.


Bu Yayuk yang melihat interaksi pengantin baru itu, hanya bisa cengar cengir malu sendiri.


" Kak Ardan kemana tadi, Buk? Apa mungkin kesasar?" tanya Lisa mencoba mengalihkan perhatian Bu Yayuk yang sedang menatapnya.


Sementara itu dipos security, Ardan yang tengah sibuk mengobrol dengan Pak Basuki tiba-tiba dikagetkan dengan suara orang yang memanggilnya.

__ADS_1


"Kak Ardan! Lagi ngapain disini?".


__ADS_2