Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 25 Bertengkar


__ADS_3

Setelah membanting pintu kamar hotel dengan kuat, Vania keluar dari kamar Dalfi dengan wajah sedikit ditekuk. Suara dentuman pintu, memantik perhatian beberapa pelayan yang sedang lewat.


"Kurang ajar, sialan kau Fi! Ini sudah yang kesekian kalinya aku mendapatkan bentakan darimu," umpat Vania lirih. Berjalan dengan langkah cepat menyusuri lorong, menjauhi kamar Dalfi.


Sella dan Lulu yang bersembunyi tidak jauh dari kamar Dalfi, langsung berlari menghampiri Vania.


"Gila ya! Kan sudah aku bilang tadi, cepetan pakai bajumu dulu," sungut Sella. Kesal dengan tingkah laku temannya. Gara-gara penampilan Vania, dia harus menundukkan kepala saat berpapasan dengan orang.


"Makanya cari pacar, biar kau tahu bagaimana rasanya pelukan hangat dari seorang lelaki," ejek Vania tak kalah ketus.


Tangan kanannya memegang selimut agar tak melorot, sedangkan tangan satunya lagi menenteng baju dan sepatunya.


Sella hanya bisa mendengus kesal. "Ini semua juga karena jadwalmu yang membuatku selalu sibuk," batin Sella memaki.


Lulu yang dari tadi melihat interaksi kedua temannya, hanya bisa menggelengkan kepalanya, pasrah. Dibukanya jaket yang sedang dia kenakan, dan dibentangkan kepundak Vania. Menutupi sebagian tubuhnya yang terekspos.


Selimut yang membelit tubuhnya, menyapu sebagian jalanan dilorong kamar. Seperti gaun pengantin yang mempunyai ekor yang panjang. Berhasil membuat tamu yang sedang lewat, harus menyingkir ke pinggir sejenak. Karena takut akan menginjak kain panjang itu.


"Bodo amat! Yang penting aku sudah mendapatkan fotonya!" batin Vania tanpa melirik orang-orang yang dari tadi memperhatikannya.


Begitu pula saat memasuki lift, tatapan penuh tanda tanya, juga dilayangkan para pengunjung hotel kearah Vania. Bisik-bisik suara orang sedang menggosip dibelakangnya, santer terdengar ditelinga Vania.


"Bukankah dia seorang model terkenal?" ucap wanita yang mengenakan gaun warna merah.


"Iya, Kenapa berpakaian seperti itu? Mungkin habis kena grebek polosi," sahut teman wanita itu, sambil mendekatkan mulutnya ketelinga temannya itu setengah berbisik.


Keduanya terkekeh lirih seperti sedang mengejek.


Vania memutar bola matanya malas. "Hei,Jika kalian penasaran dan ingin tahu, kalian bisa langsung bertanya padaku, tidak perlu berbisik-bisik seperti itu," tutur Vania lugas. Berkacak pinggang, dengan angkuhnya.


"Dasar wanita tak tahu malu!" balas wanita itu tak kalah sengitnya. Dengan senyuman mengejek yang berkembang di bibirnya.


"Kau..!" baru saja hendak menjambak rambut lawan bicaranya, pintu lift sudah terbuka.

__ADS_1


Sella dan Lulu yang selalu waspada, sudah memegangi tubuh Vania. "Sudah, Van! Malu!" ucap Sella sambil menarik tangan Vania yang terjulur kedepan.


"Apa! Dasar kau wanita panggilan!" pekik wanita bergaun merah. Sama halnya dengan Sella, temannya pun sudah menarik tangan wanita untuk segera keluar dari lift.


Sepasang tamu hotel yang akan masuk kedalam lift, terperangah kaget menyaksikan adegan perkelahian secara langsung didepan mata mereka.


Bergegas mengangkat telapak tangannya, dan menutupi mata suaminya. Wanita itu tidak rela, jika suaminya menikmati pemandangan gratis yang tersaji didepan matanya.


"Maaf, maafkan Kami!" Terpaksa Lulu harus memasang senyumannya yang paling ramah, menganggukan kepalanya dan memencet tombol tutup pada lift itu.


"Hhuaaa, Kenapa harus dijam makan malam seperti ini sih! Saat orang ramai keluar dari kamarnya!" teriak Lulu yang sedari tadi diam saja.


Amarahnya kini ikut meledak sangking malunya. "Kamu harus bersiap, besok namamu pasti jadi headline berita gosip."


Vania dan Sella sama-sama diam tak berkutik.


****


Setelah menceritakan semua yang telah terjadi pada Sekretaris Kim, kini Dalfi sudah berada didalam mobil milik hotel.


Terpaksa dia harus melimpahkan sisa pekerjaan yang belum selesai kepada Sekretaris Kim. Awalnya Sekretaris Kim bersikeras akan mengantarkan Dalfi pulang, dan akan kembali lagi ke kota S keesokan harinya. Akan tetapi, Dalfi menolak mentah-mentah ide itu.


Pasti akan sangat melelahkan, jika harus melakukan perjalanan bolak-balik. Terlebih lagi yang ditempuh itu perjalanan jarak jauh dan pasti akan merasa jenuh jika mengendarai mobil sendirian.


Akhirnya Sekretaris Kim memesankan mobil dari hotel beserta sopirnya. Jam ditangannya sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dalfi menyandarkan kepalanya di kursi belakang, sambil memijit pelan pangkal hidungnya.


"Lebih baik anda istirahat, Tuan! Nanti akan saya bangunkan jika sudah sampai ketempat tujuan!" kata pak sopir dengan sopan. Sekilas melihat Dalfi dari balik spionnya.


"Hmmm, Terima kasih!" gumam Dalfi.


Setelah satu jam perjalanan, Dalfi baru bisa memejamkan matanya. Dengan kepala yang berdenyut dan hati yang berkecamuk tak karuan.


Dalfi tiba didepan lobby rumahnya, saat waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Badannya yang lelah membuat tidurnya terlelap, hingga tiba didepan rumahnya pun, matanya masih terpejam.

__ADS_1


"Tuan, bangun Tuan! Kita sudah sampai!" kata pak sopir sambil menepuk-nepuk badan Dalfi pelan.


Dalfi tersontak kaget saat dibangunkan. Duduk sebentar sembari menunggu kesadarannya pulih. Pak Basuki sudah membuka pintu depan, dan masuk terlebih dahulu membawakan koper Dalfi.


"Terima kasih, Pak!" ucap Dalfi setelah turun dari mobil. "Anda jangan langsung balik, istirahatlah dulu, tunggu sampai esok," perintah Dalfi. "Nanti Pak Bas akan menunjukkan kamarnya."


Setelah berbicara pada pak sopir, Dalfi bergegas menuju lantai dua, tempat dimana kamarnya terletak. Dengan setengah berlari, agar cepat sampai keatas. Perlahan dia membuka pintu kamar, takut jika suara berisik akan mengganggu tidur istrinya itu.


"Kenapa gelap sekali!" batin Dalfi.


Dalfi sengaja tidak menghidupkan lampu utama. Dengan mengendap-endap, dia berjalan mendekati nakas, dipencetnya tombol untuk menyalakan lampu tidur.


Cahaya temaram seketika memenuhi kamar tidur, memudahkan matanya untuk mencari sesosok orang yang sangat dirindukannya.


Matanya menyapu keseluruh ruangan, saat melihat tempat tidur yang sangat rapi, sontak dia menyalakan lampu utama.


Blarrr


Sinar terang dari lampu, menyilaukan mata Dalfi. Seketika reflek menutup matanya menggunakan telapak tangan.


"Lis.. Lisa!" teriak Dalfi dengan perlahan. Karena merasa tidak ada sahutan, Dalfi bergegas menuju kamar mandi.


"Sayang, kamu didalam ya?" mengetuk pintu kamar mandi. Agak mengeraskan suaranya.


Sunyi, senyap, tidak ada bunyi gemericik air sama sekali, ketika dia menempelkan telinganya dipintu kamar mandi. Dan benar saja, kamar mandi itu kosong.


"Lis.. Lisa, Sayang kamu dimana?" pekik Dalfi frustasi. Dia lalu bergegas menuju ruang ganti, "Mungkin dia sedang ganti baju," Dalfi mencoba berpikir positif.


Dalfi semakin kalang kabut, saat melihat lemari baju Lisa agak berkurang isinya. Beberapa alat makeup pun tidak ada diatas meja rias.


"Lisa.. Sayang! Kamu dimana? Aku mohon jangan pergi!" raung Dalfi sekuatnya.


Dalfi tidak ingin jika orang yang disayanginya pergi meninggalkannya karena kesalahpahaman. Dengan langkah gontai, dan badan yang cukup letih, dia memaksakan kakinya untuk keluar dari kamar. Mencoba mencari diruangan lainnya.

__ADS_1


"Lisaaa!" teriak Dalfi cukup keras hingga suaranya menggema keseluruh ruangan.


__ADS_2