Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 32 Klarifikasi


__ADS_3

"Tenang, tenang, Saya mohon teman-teman untuk bertenang! Sabar sebentar, tolong beri kami jalan agar kita bisa menyingkir dari depan lift ini. Kalau seperti ini,kita akan menggangu penghuni yang lainnya!" Sella mencoba mengendalikan keadaan yang sudah tidak kondusif lagi.


Sella menarik tangan Vania, menuju meja yang tersedia di lobby. Mencoba menghindari kerumunan wartawan, yang berebut mengelilingi mereka. Setelah Vania duduk, tanpa ada yang menyuruh, para wartawan itu meletakkan mic satu persatu dan juga perekam suara milik mereka keatas meja.


Sebelum mulai berbicara, Vania menghirup nafas perlahan dan melihat para wartawan yang sedang serius menatapnya. Mereka sudah siap dengan peralatan tempurnya masing-masing. Ada yang memegang buku note kecil dengan pena, ada juga yang merekam menggunakan ponsel.


"Selamat siang, Teman-teman semua! Sebelumnya, Saya ingin meminta maaf kepada kalian semua karena telah membuat kekacauan ini terjadi. Dan juga sudah membuat teman-teman wartawan menjadi sibuk!" mengambil nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Saya akan memberi klarifikasi tentang berita yang simpang siur, dan tidak jelas ini. Yang telah membuat beberapa pihak, menjadi terkena imbas yang negatif setelah berita ini dirilis. Saya hanya akan sekali berbicara, dan tidak akan menjawab lagi sembarang pertanyaan dari para teman-teman sekalian!" mengedarkan pandangan menyapu seluruh ruangan.


"Iya, memang benar! Saya dulu sempat bertunangan dengan Tuan Dalfi Winata, CEO dari Angkasa Group."


Vania baru mengeluarkan salah satu statmentnya, para wartawan sudah sibuk memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.


"Maaf, teman-teman! Tolong diam dulu, kita dengarkan lagi penjelasan dari Vania," Sella yang bertindak sebagai manager Vania, mencoba menenangkan para wartawan.


"Heh! Bukankah sudah aku katakan tadi! Aku tidak akan menjawab sembarang pertanyaan lagi," batin Vania yang berdecak kesal.


Setelah para wartawan dapat ditenangkan, Vania kembali fokus melanjutkan ucapannya.


"Tapi sekarang, kami telah bersepakat untuk mengakhiri hubungan ini secara baik-baik. Kami sudah tidak menjalin asmara sejak beberapa bulan yang lalu. Dan mengenai foto yang beredar, saya tekankan sekali lagi bahwa itu bukan foto saya dan mantan tunangan saya!" Vania mencoba berkilah, sembari melirik salah satu wartawan yang sedang duduk berjongkok dihadapannya. Mereka saling melemparkan pandangan, dan yang dapat mengartikannya hanya mereka berdua saja.


"Mungkin ada pihak-pihak yang tidak menyukai keberadaan saya didunia industri hiburan ini, dan sengaja merekayasa foto tersebut untuk menjatuhkan nama baik saya. Saya tekankan sekali lagi, Saya dengan mantan tunangan saya, tidak pernah melakukan adegan seperti yang kalian lihat difoto tersebut. Saya juga berharap, teman-teman berhenti menulis berita dengan menambahkan cerita yang tidak semestinya. Saya rasa sudah cukup dan sangat jelas pernyataan saya ini. Saya ucapkan Terima kasih kepada teman-teman semua, dan sekali lagi saya minta maaf, karena telah membuat kalian membuang waktu kalian yang sangat berharga."


Setelah menyelesaikan ucapannya, dengan terburu-buru Vania segera meninggalkan lobby apartemen. Tanpa memberikan kesempatan kepada para wartawan untuk mengajukan pertanyaan. Mereka langsung saja mengerumuni Vania sampai ke depan pintu lift.


Sella berkali-kali hanya bisa menganggukan kepalanya dan meminta maaf kepada para awak media. Vania sengaja tidak mau menerima sembarang pertanyaan lagi, karena pasti akan berbuntut panjang merembet ke masalah yang lainnya.


"Kau, gila ya!" bentak Sella didalam lift. "Bukankah pernyataanmu itu, akan menimbulkan banyak berita lain yang lebih heboh!" sungut Sella sangking kesalnya.

__ADS_1


"Biarkan saja! Lagipula Aku kan sudah menuruti kemauan Dalfi, untuk turun menemui para wartawan, dan menyangkal berita yang timbul karena foto itu. Dalfi juga tidak menyuruh ku memberikan alasan yang spesifik, kan? Jadi biarlah sisanya menjadi urusan Dalfi!" ucap Vania dengan santainya, sambil melenggangkan kakinya menuju apartemennya setelah pintu lift terbuka.


"Lalu bagaimana dengan wartawan yang sudah kita bayar kemarin?" ucap Sella lagi.


"Sudahlah, kamu tenang saja! Dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya!" Vania memencet password pintu rumahnya.


Langsung saja menerobos masuk menuju dapur, untuk mengambil satu botol air mineral dingin. Dan meneguknya sampai habis. "Akh, segarnya!"


"Buang-buang uang saja kalau begitu! Seharusnya aku nggak menuruti permintaanmu, Aku pun juga tidak perlu menanggung malu karena kejadian malam itu," sesal Sella.


"Hei, bukankah kamu senang jika aku semakin terkenal! Kan, Kamu juga yang nantinya akan kebanjiran job!"


"Iya! Tapi aku nggak mau!" sahut Sella datar.


"Kenapa?" tanya Vania heran.


"Aku nggak mau mengurusi job artis yang terkenal karena tercemar!" ucap Sella merebahkan badannya di sofa.


****


Dalfi masih berada didalam mobil, saat Vania turun kebawah menemui para wartawan. Dia hanya ingin memastikan, jika Vania benar-benar akan menuruti perintahnya. Tapi bukannya mengakui kesalahannya, Vania justru malah melimpahkan hasil perbuatannya, dengan menuduh orang merekayasa foto-foto itu.


"Dasar wanita licik!" Dalfi berdecak kesal sambil mengemudikan mobilnya kembali kerumah.


Diwaktu yang bersamaan, dering ponsel Dalfi berhasil memecah suasana hatinya. Nampak nama sekretaris Kim dilayar ponsel. Dengan sekali menekan tombol, panggilan telah tersambung ke earphone yang terpasang di telinganya.


"Ya, apakah semuanya sudah beres?" tanpa basa basi Dalfi langsung bertanya.


"Sudah, Tuan! Berita yang sudah beredar sebelumnya sudah tidak ada lagi di media. Berita klarifikasi pun hanya akan tayang beberapa jam saja. Saya sudah memberitahu para petinggi seluruh stasiun TV dan channel di sosmed untuk tidak mengeluarkan berita itu lagi." Sekretaris Kim menjelaskan hasil kerjanya secara detail.

__ADS_1


"Kapan kau akan kembali kemari?" tanya Dalfi.


"Sekarang saya sudah berada diperjalanan untuk kembali kekota X, semua masalah disini sudah ditangani dengan baik," jawab Sekretaris Kim.


"Hmmm, besok kau tidak perlu masuk kantor dulu! Ambillah libur sehari, kau pasti lelah. Terima kasih atas bantuannya," perintah Dalfi.


"Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan!"


Dalfi langsung mematikan ponselnya, menambah kecepatan laju mobilnya agar segera sampai rumah. Kondisi jalanan yang sepi, tidak terlalu membuatnya sering menyalip mobil yang juga sedang melaju.


Setelah tiba dirumah, langsung saja Dalfi berlari masuk kedalam rumah. Dan tujuan utamanya tentulah kamar istri tersayangnya.


"Sayangg....," teriak Dalfi senang saat membuka pintu kamar.


Sunyi, senyap tidak ada suara Lisa yang terdengar menjawab panggilannya.


"Hah, kemana lagi sih! Sejak kapan dia punya hobi menghilang secara mendadak!" batin Dalfi yang berjalan menyusuri setiap ruangan dikamar itu.


Setelah lelah mencari ke setiap sudut ruangan, Dalfi memutuskan untuk keluar dari kamar.


"Dimana Lisa?" tanyanya pada salah seorang pelayan yang kebetulan sedang membersihkan hiasan vas bunga.


"Nona ada dikolam samping rumah, Tuan!" ucap pelayan seraya menunduk.


Tanpa mengucapkan terima kasih, Dalfi segera berhambur, pergi menyusul Lisa. Berlari kecil mendekat kearah Lisa, yang tengah duduk membelakangi dirinya.


"Pantas saja aku tidak menemukanmu dikamar, ternyata kamu berada disini rupanya," ucap Dalfi yang langsung duduk disebelah Lisa.


Lisa yang sedang memberi makan ikan di kolam hanya diam saja, malas menyahuti pertanyaan Dalfi.

__ADS_1


"Sayang, kenapa diam saja sih?" tanya Dalfi dengan lembut.


"Apa ini, Mas? Tolong jelaskan padaku!" ucap Lisa datar.


__ADS_2