
"Apa!" pekik Lisa geram dan marah mendengar ucapan Dalfi. Kupingnya tiba-tiba merasa panas, seperti mengeluarkan uap.
"Eh! Maksudnya bukan yang seperti itu, Sayang!" melambaikan tangannya didepan dada. "Hanya tidur biasa, nggak sampai menjebol gawang, nggak sampai tidur yang seperti layaknya dilakukan sepasang suami-istri!" Lagi-lagi Dalfi mencoba membela diri.
"Massssss!" pekik Lisa jengkel, tangannya kembali melayangkan cubitan maut ke lengan Dalfi. "Kamu nyindir aku, ya!"
"Maaf, Sayang! Aku hanya ingin jujur saja! Nanti kalau aku bohong, kamu mesti bakalan tambah marah. Ini namanya maju salah, mundur pun salah!" mengusap kembali lengannya yang sudah meninggalkan bekas lebam.
"Haisttt, Sialnya nasibku ini!" sungut Lisa lesu. Tangannya kembali bersedekah didepan dada.
"Lha kenapa sial? Kamu beruntung hlo bisa dapat suami sekeren dan seganteng aku!" Dalfi menyombongkan dirinya merasa hebat. "Dulu banyak cewek-cewek yang tergila-gila sama Mas, pernah juga ngejar-ngejar sampai kerumah. Tapi tidak ada satupun yang bisa berhasil merebut hati Mas!" timpal Dalfi yakin.
"Iya, hanya mbak mantan saja yang bisa mengambil hatimu, kan, Mas?" sekilas melirik Dalfi. "Tapi kalau dipikir-pikir, mana ada coba lelaki yang bisa menolak pesona kecantikan dari mbak mantan, mungkin orang buta saja yang mau menolaknya!" ucap Lisa yang membayangkan kemolekan Vania.
Lisa terkena sindrom cemburu tingkat dewa, hingga menyebutkan namanya saja dia enggan.
"Berarti malah orang buta itu yang beruntung, karena tidak terkena bujuk rayu tipu muslihatnya Vania!" meraih tangan Lisa dan menggenggamnya.
"Huh, pinternya kalau nge-les," menghembuskan nafas perlahan, mengambil nafas lagi sebelum melanjutkan ucapannya.
"Nggak sial dari mananya coba? Kenapa aku bisa dapat bekasnya orang sih! Padahal aku saja, setengah mati menjaga diriku untuk nggak bersentuhan dengan sembarang orang, agar hanya suamiku seorang nantinya yang boleh menyentuhku!" terang Lisa lugas.
"Sayang,maafkan atas kelakuanku yang telah lalu! Tapi untungnya saja aku masih bisa menahan diri dan hasratku. Kalau tidak, mungkin saja Vania bisa memakai alasan itu untuk menjeratku," merasa sedikit lega.
"Brarti kamu belum pernah pacaran sama sekali?" menoleh menatap mata Lisa.
Lisa menggelengkan kepalanya, "Belum!"
"Terus, sama Ardan!" lanjut Dalfi.
"Sudah aku bilang, aku hanya menganggapnya sebagai kakak, sebatas itu saja tidak lebih," jawab Lisa.
"Alhamdulillah Ya Allah!" pekik Dalfi tiba-tiba, keduanya tangannya menengadah keatas mengucap syukur.
__ADS_1
"Mungkin Kau telah mendengarkan dan mengabulkan doa dari kedua orang tuaku hingga aku mendapatkan istri seperti Lisa. Dan juga, terima kasih sudah menjauhkanku dari orang licik dan bermuka ganda seperti Vania!" mengusapkan tangannya ke wajah, sambil mengulas senyuman paling bahagia kearah Lisa dan menaik turunkan alisnya.
Plak!!
Lisa yang jengkel mendengar ucapannya, memukul lengan Dalfi agak keras. "Hah!! Dasarrrrrr! Kalau lagi begini nih, ingat sama Tuhan! Kalau lagi berbuat maksiat, Hmmmm...!!!
Membuka pintu mobil dan keluar, tertatih-tatih berjalan masuk kedalam lobby rumah sakit setelah menutup pintu mobil agak kuat.
"Oh istriku sayang! Apa yang diucapkan dari mulut bertolak belakang dengan isi hati dan pikiran. Bilangnya tak suka, tapi lihat foto-foto mesra, dia cemburu." Gumam Dalfi lirih mengikuti Lisa masuk ke dalam rumah sakit.
Sesampainya didepan ruang praktek dokter ortopedi, terlihat beberapa orang mengantri menunggu giliran namanya dipanggil. Lisa dengan nafas yang terengah-engah, mencari tempat duduk untuk mengistirahatkan kakinya yang terasa agak sedikit nyeri. Setelah berjalan dari tempat parkir menuju laboratorium, dan sekarang keruang praktek dokter.
"Sakit ya!" tanya Dalfi khawatir, membuka tutup botol air mineral dan menyerahkannya kepada Lisa.
Lisa menggelengkan kepalanya, "Hanya sedikit!" tersenyum melihat Dalfi.
Lisa menerima botol dan langsung meneguk airnya hingga tersisa setengah. "Terima kasih."
"Kan Mas sudah bilang, pakai kursi roda saja dulu! Kamunya malah tetep ngeyel!"
Belum sempat Lisa menjawab pertanyaan Dalfi, namanya sudah dipanggil oleh suster untuk masuk keruangan dokter.
"Hlo.. Mas, Kok cepat banget, kan kita baru datang, belum juga duduk?" Lisa tampak kebingungan.
Dalfi hanya tersenyum mendengar ucapan Lisa, "Ayo, sudah masuk saja!" ujar Dalfi menuntun lengan Lisa.
Lisa hanya menurut saja ketika Dalfi membawanya masuk ke ruang dokter. Dia hanya bisa menganggukan kepala dan tersenyum pasrah kepada orang yang sudah duduk berjajar di depan ruang praktek, sungkan dengan pasien dan keluarga yang sudah mengantri terlebih dahulu. Sedangkan Dalfi, dengan santainya langsung saja menyelonong masuk.
"Selamat sore, Tuan Dalfi! Bagaimana kabarnya?" sapa dokter Willy, dokter yang menangani Lisa dari awal pengobatannya.
"Selamat sore! Alhamdulillah sehat, Dok!" ucap Dalfi tersenyum, menjabat tangan Dokter Willy.
"Silahkan duduk! Eee, Nona Lisa langsung saja berbaring diatas ranjang kita akan cek sebentar kakinya!" ucap Dokter Willy sembari memberikan kode kepada suster untuk membantu Lisa.
__ADS_1
Lisa dengan kikuk mengikuti perintah dokter, ini pertama kalinya dia melakukan check up kerumah sakit. Karena biasanya Dokter Willy lah yang rutin mengunjunginya kerumah.
"Ini dokter hasilnya!" salah seorang suster membawa amplop coklat berisi 4 lembar foto hasil lab. kaki Lisa.
"Kita akan lihat dulu hasil rontgen kaki Nona Lisa! Jika nanti hasilnya bagus, Nona sudah tidak perlu lagi menjalani terapi dan melakukan check up!" ucap Dokter menjelaskan.
"Dok, Kenapa nggak sekalian dirumah saja pemeriksaan terakhirnya?" tanya Dalfi.
Dokter Willy hanya tersenyum mendengar pertanyaan Dalfi, "Kalau dirumah perlengkapannya terbatas, kita tidak bisa melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Kalau dirumah sakit, kan, peralatannya lengkap, kita pun tidak perlu repot memindahkannya."
Setelah melakukan pemeriksaan fisik pada kaki Lisa, kini Dokter mempersilahkan Lisa untuk duduk disamping Dalfi.
"Ini hasilnya rontgen bagus, retak pada tulang kakinya sudah mulai merekat sempurna," menjelaskan hasil rontgen yang sudah diletakkan didepan layar. "Saya lihat tadi Nona Lisa sudah tidak memakai tongkat lagi ya?" Dokter Willy bertanya pada Lisa sambil memperhatikan sekitar Lisa.
"Iya, Dokter! Sudah hampir dua minggu, saya tidak memakai tongkatnya lagi," jelas Lisa menganggukan kepalanya.
"Apakah masih ada yang dikeluhkan saat tidak memakai tongkat?" membenahi posisi duduknya.
"Agak sedikit nyeri saja jika terlalu lelah, dan juga ada rasa ngilu jika kaki saya kedinginan!" ujar Lisa menjelaskan.
"Itu efek dari operasi kemarin, nanti saya akan menuliskan beberapa resep obat dan vitamin lagi."
Lisa mendengarkan penjelasan Dokter dengan serius. Hingga dia tidak menyadari, salah satu tangannya sudah berada dalam genggaman Dalfi, dan diletakkannya diatas paha Dalfi.
"Tapi saya minta, untuk berhati-hati dulu, pelan-pelan saja kalau berjalan, jangan dibuat berlari terlalu kencang, dan jangan loncat-loncat dulu kalau bisa," canda Dokter terkekeh. Tangannya sibuk mencoret kan penanya diatas kertas.
"Wah, Pak Dokter ini seperti sudah tahu saja keinginan istri saya!" timpal Dalfi ikut terkekeh.
Lisa yang mendapatkan sindiran, hanya bisa menahan dirinya untuk tidak mencubit lengan Dalfi lagi.
"Saya sudah kangen, bisa bebas jalan-jalan, Dok!" gumam Lisa sambil melirik kearah Dalfi dengan mimik muka cemberut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Slow update dulu ya teman-teman. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan bathin. Selamat hari raya idul fitri 1444H